Friday, August 28, 2020

Perjalanan Spiritual

 



    Berawal dari rasa ingin tahu yang mendalam tentang ilmu Makrifat, lalu saya mendapat wejangan dari nenek tentang dzikir yang selaras antara mulut, hati dan pikiran, kemudian saya ikut ziarah ke makam leluhur di Sumedang, dan terakhir puasa dari mulai kemarin, hari ini dan besok (puasa Asyura), rasanya saya mendapat sebuah pelajaran yang sangat berharga tentang spiritual dalam kehidupan saya.


    Dulu, meskipun saya shalat tahajud dan dluha setiap hari bersama ibu saya, namun saya sadar bahwa shalat-shalat sunat yang saya kerjakan tersebut hanya sebatas gerakan dan ucapan dimulut saja, namun tidak menyentuh hati saya. Shalat yang sesungguhnya bisa mencegah perbuatan keji dan munkar, malah tidak mengena sama sekali. Ibadah jalan, namun maksiat juga jalan. Hidup seakan hanya mempertuhan hawa nafsu. Sedih dan bahagia yang dulu saya rasakan hanya karena urusan dunia, tidak lebih. Akan tetapi, ketika saya sedikit saya belajar tentang ilmu makrifat, saya merasakan tabir itu mulai terbuka secara pelan-pelan.


    “Allah itu lebih dekat dari urat leher kita. Siapa yang mengenal dirinya, maka dia dapat mengenal Tuhannya.”

Kalimat itu terus terngiang-ngiang dalam telinga. Apakah selama ini saya sudah mengenal Allah? Sepertinya belum. Jangankan mengenal Allah, mengenal diri sendiri juga belum. Lantas terbesitlah sebuah penyesalan di dalam diri tentang waktu yang selama ini disia-siakan begitu saja.


    Apa yang kita kejar selama ini? Uang? Jabatan? Orang yang kita cintai? Dan semua hanyalah fatamorgana dunia yang menipu. Sebuah kesemuan yang kemudian menjerumuskan kita ke dalam jurang kesengsaraan. Dunia yang manis, namun mengandung racun yang mematikan.


    Pernahkah kau mencintai seseorang? Mungkin sebagian besar orang akan menjawab iya. Cinta yang tidak lain adalah jelmaan hawa nafsu belaka. Membuat kita tunduk patuh dan rela berkorban demi orang yang kita cintai, namun ujung-ujungnya mereka menyakiti kita. Tapi, Allah, Dzat yang selama ini kita lupakan, akan selalu membuka pintu untuk siapa saja yang mau bertaubat dan kembali kepada-Nya. Allah yang akan menyayangi kita sekalipun kita sering lupa dan tidak patuh akan perintah-Nya. Berbeda dengan manusia yang akan senantiasa baik kepada kita saat mereka mendapat beberapa keuntungan dari kita, tapi Allah tidak demikian. Dia adalah Dzat yang paling tulus menyayangi kita tanpa pamrih dan tidak pernah hitung-hitungan.


    Semoga kali ini saya dapat istiqomah berjalan di jalan-Nya, tanpa ada lagi godaan dari kanan dan kiri. Saya belajar pelan-pelan untuk memperbaiki diri dan menebus kesalahan di masalalu. Alasan saya berubah bukan karena sakit hati oleh manusia, karena sejak saya dekat dengannya pun, saya sudah mempunyai keinginan untuk hijrah. Semoga kali ini Allah mempermudah jalan saya untuk bisa bertaubat dan memulai hidup dalam keridhoan-Nya, Aamiin Ya Rabbal Alamin.







No comments:

Post a Comment