Ada yang merangsak masuk ke dalam hati, meruntuhkan harapan dan mencabik-cabik kata bahagia yang baru saja dicicipi. Kau tahu rasanya ketika belahan jiwamu masih memperhatikan seseorang dimasalalunya hingga dia memberikannya hadiah di luar sepengetahuanku dan hadiah itu dia beli dariku. Kau tahu rasanya ketika dia menjanjikan sepotong cokelat dihari ulang tahunmu, namun dia tidak menepatinya dan malah kau yang memberikannya hadiah karena merasa tidak enak menemuinya dengan terlambat. Kau tahu apa itu kepura-puraan? Kepalsuan yang diciptakan hanya untuk merekatkan sebuah hubungan bisnis?
Pernahkah kau menangis terisak-isak dan mengasihani dirimu sendiri? Pernahkah kau merasa menjadi seorang pengemis kasih sayang? Pernahkah kau merasakan ketidak adilan hidup? Kesuraman dan rasa sakit hati yang terus menggerogoti hari-hari.
Pecahan-pecahan kaca masih berserakan di depan altar doa. Tatapan kosong dan perasaan tidak berharga terngiang-ngiang di dalam gendang telinga. Tawa telah pupus oleh rangkaian duka ketika kau selalu menjadi orang nomor dua yang kerap kalah dari medan pertempuran. Waktu terlalu mudah mentertawakanku yang selalu dianggap cadangan di dalam sebuah hubungan.
Enyahkan saja semua sandiwara jahat itu! Aku tidak butuh pelukan hangat untuk menenangkan diri. Aku tidak perlu kata-kata sayang sebagai ungkapan perhatian. Aku tidak butuh semua kepura-puraan tanpa tindakan nyata dan pengorbanan. Aku tidak butuh raga tanpa hati. Aku bukan salah satu dari daftar nama-nama yang akan kau beri kecupan mesra. Aku masih punya nilai yang terbungkus oleh balutan komitmen dan harga diri. Aku tidak suka kebebasan. Aku bukan barang obral yang bisa dimiliki oleh siapa saja. Silahkan bermain sesukamu, dengan kata “bebas” yang kau puja setiap saat. Silahkan beri senyuman manis kepada siapapun yang akan kau peluk hari ini. Satu bagimu tidak pernah cukup untuk berjalan lebih cepat dalam hidup. Kau selalu menginginkan ada banyak nama di dalam selimut tidurmu. Sungguh memilukan.
Hidup telah lebih dari cukup mengajarkan kepadaku bahwa “setia” hanyalah bualan dalam dongeng sang pengkhayal. Tak pernah ada yang benar-benar setia dan merekatkan janjinya dalam jalinan komitmen untuk melangkah maju menuju hari esok. Sebuah hubungan tidak lagi semenarik yang aku bayangkan. Semua hanya akan berjalan dengan saling menyakiti. Keegoisan telah menjadi tuan rumah bagi siapapun yang serakah dalam menampung perhatian dan kebahagiaan. Cukup sudah kali ini aku mencicipi lagi pahitnya duri dalam keindahan. Kesemuan adalah racun yang tengah kau teguk pelan-pelan hingga kau sekarat dan meregang nyawa. Sadis, seperti drama percintaan yang dipenuhi oleh iblis.

No comments:
Post a Comment