Saturday, June 19, 2021

19 JUNI

 


    Pernah ada yang menikam ulu hati dimusim hujan. Angka sembilan belas yang bertengger pada barisan kalender lama. Juni yang meradang bak bayangan pengulang ingatan. Bilangan-bilangan yang baru saja menetas di angka 2012. Masih ingatkah waktu? Akan buncahan-buncahan yang kini sudah mulai menjadi debu.


    Aku pernah menamainya senja. Jingga yang kemudian menjadi penanda akan hati yang mulai terbuka. Hari-hari yang kemudian menjadi liar tak terkendali. Aku pernah menjadi waktu. Menjadi kilas balik yang tak pernah dijumpai rindu.


    Ada tahun-tahun yang hilang sejak Juni datang berkenalan. Usia yang kerap berlalu seperti tiupan lilin di atas kue ulang tahun. Secepat itu, seperti hilir mudik rasa yang tak bisa lagi berkata-kata. Hai Jingga, masihkah ada nama “kita” diantara lalu-lalang rahasia? 


    Sembilan tahun yang lalu, sejak badai mengamuk dalam pertarungan yang tak usai. Sejak cincin melingkar pada kalimat tersembunyi. Sejak aku menjatuhkan hati pada pilihan yang tak bisa aku pilih hati-hati. Sejak saat itulah aku berjalan atas nama kerinduan. Atas nama kesedihan yang kemudian dinamakannya kehilangan.


    Hai Jingga, sudah terlalu lama ternyata. Dan aku masih berselimut sepi dalam abu yang mulai larung di lautan. Tak ada lagi yang bisa aku kenali dari gerimis atau basahnya air hujan. Tak ada lagi yang bisa aku eja dari panasnya kemarau atau redupnya musim gugur.

Aku terkungkung di balik lukisan tanpa coretan. Bingkai yang kini renta oleh waktu dan menjadi butiran debu.


    Aku kembali mengingat angka sembilan belas yang telah tertiup angin malam. Perjalanan mendaki bukit ego untuk bisa tahu bagaimana cara memeluk sunyi. Kau ingat bagaimana kupu-kupu bertebaran di atas ranting harapan? Kau ingat bagaimana aku bisa menaklukan jarak pada pertarungan yang tak mudah? Kau tahu betapa lelahnya aku mengenalmu? Betapa letihnya aku ketika jarak mulai memecah hatimu menjadi racun?

    Ada kenangan di balik saku bajuku. Di antara selimut-selimut berbulu angsa yang belum sempat aku rapikan lagi. Aku ingin menyulam benang kenangan dan memajangnya di rumah masalalu. Aku ingin bertegur sapa dengan bayangan yang tak bisa lagi bertatap muka. Aku ingin menyalakan lilin doa diantara nama-nama yang aku beri judul “Jingga”. Aku ingin kembali berahasia, tanpa ada lagi yang menganggapnya sia-sia.  

Sunday, June 13, 2021

JUNI 2021

 




    Tak ada lagi hujan di bulan Juni, sebab semua hujan telah dipayungi Tuhan dengan indah. Semua bentuk air mata, gerimis dan genangan perjuangan kerap Dia perhitungkan. 

Dia tidak pernah salah menuliskan jalan cerita bagi kita. Jalan yang menurut kita berliku, curam dan terjal ternyata adalah jalan menuju suatu pemandangan yang indah yang tak pernah bisa kita raih jika kita hanya berjalan lurus tanpa tantangan.


    Bulan Juni kali ini adalah babak baru bagi CV Indriani Sukses untuk mengepakkan sayap di dunia bisnis. Setelah orderan seragam dan sepatu satpam dari anak perusahaan Bank Sentral, aku kemudian mendapatkan orderan karpet untuk gedung seluas 900 m2, lalu baru beres pemasangan karpet, semalam aku baru saja melakukan pemasangan karpet juga untuk tempat fitness seluas 207 m2. Aku sampai diam di tempat fitness hingga pukul 00.00 sampai pemasangan karpet selesai. Setelah ini ada orderan towl dan linen untuk hotel (sedang dalam proses), lanjut orderan selimut bulu untuk hotel, bedong bayi dan karpet bayi untuk rumah sakit anak. Senin juga aku harus survey lokasi bersama tante aku yang ingin menyewa gedung yang aku tawarkan untuk wedding sepupuku. Semua orderan besar terus masuk di bulan Juni.


    Semua kemudahan ini tidak lepas dari rahmat Allah yang begitu besar, ibu yang terus mendukung dan mendoakan, ayahku juga yang sekarang memberikan dukungan, serta saudara dan sekretarisku yang mau berkorban untuk kesuksesan CV ini.


    Aku sudah berencana membuka kantor untuk CV ini di Bandung kota, selain di Bandung Timur, karena tidak bisa dipungkiri, client dan timku rata-rata berdomisili di Bandung Kota, sehingga aku berencana membuka kantor di sana dan direktur salah satu perusahaan rekananku sudah menyiapkannya.


    Aku selalu ingat bahwa nama adalah doa. Aku berharap, nama CV Indriani Sukses bisa menjadi doa bagiku. Aku ingin bisa memiliki kebebasan finansial agar bisa total dalam membahagiakan orang tua dan orang-orang yang membutuhkan.

Perjuanganku memang sangat melelahkan, tapi Allah selalu mengajarkan umatnya agar tidak putus asa dan terus berjuang.


    Alhamdulilah semoga lelahku kali ini bisa menjadi lilah. Targetku saat ini adalah selain membuka kantor di Bandung Kota, aku juga masih ingin membeli mobil double cabin impianku, entah itu dari Ford (sudah tidak produksi lagi), atau Hilux, semoga keinginanku bisa terwujud. Aamiin.


    Special thanks to Ayu, sekretaris yang luar bisa mau berkorban dan mensupport semua rencanaku. Semoga kita bisa membangun CV ini menjadi besar dan bisa bermanfaat bagi orang-orang di sekitar. Aamiin YRA.