“Apakah kamu sudah siap untuk melewati batas bersamaku?”
Tanya Suri yang kini sudah berdiri di depanku dengan mengenakan baju yang transparan. Aku jadi teringat kembali pada momen saat pertama aku melihatnya memakai pakaian seperti itu, yaitu ketika kita baru pertama kali menikah. Hari dimana aku merasakan kebahagiaan yang tak terkira karena adanya sebuah keajaiban dari Tuhan. Tapi, kini dia berdiri di depanku sebagai seseorang dengan status yang berbeda. Dan aku pun berdiri di depannya sekarang bukan lagi sebagai pasangan, tapi sebagai perempuan.
“Suri, maaf aku ga bisa!”
Aku lalu berpaling dari hadapan Suri dengan perasaan sedih, karena aku tidak bisa seleluasa dulu lagi. Hatiku goncang ketika harus memilih antara mengikuti birahi atau hati nurani. Aku malu jika harus mengkhianati Dia yang sudah ada untukku sampai detik ini. Aku tidak bisa melakukannya lagi dengan Suri, walaupun aku sangat menginginkannya.
“Jangan bohongi diri sendiri!”
Suri kini memelukku dari belakang, sehingga membuatku tidak berkutik. Tapi, aku kemudian teringat lagi kepada Tuhan yang mencintaiku, bahkan sebelum aku mengenal Suri. Aku lalu teringat lagi ketika hanya Tuhan yang masih merangkulku ketika tak ada seorangpun yang mau mengakuiku saat aku terpuruk. Aku tidak akan pernah lupa ketika Tuhan memberikan keajaiban dengan mengubahku menjadi seorang laki-laki, sehingga aku bisa menikahi Suri. Aku tidak akan pernah lupa, ketika Tuhan membuatku terbebas dari lilitan hutang dan membuatku menjadi seorang jutawan. Aku tidak akan pernah melupakan semua kebaikan Tuhan.
Aku kemudian melepaskan tangan Suri dan berlari keluar dari kamar.
Langkahku gontai dan aku tak kuasa untuk menahan tangis ketika harus menolak dan meninggalkan seseorang yang paling aku cintai, hanya karena aku lebih memilih Tuhan.
Aku juga mendengar tangis Suri yang masih berada dalam kamar.
“Kalau kamu pergi, aku anggap hubungan kita benar-benar berakhir dan aku ga mau kenal sama kamu lagi!!”
Teriakkan Suri membuat aku sulit untuk melanjutkan langkahku. Aku merasa berat jika harus berpisah selamanya dengan dia. Tapi, aku juga tidak bisa mengikuti kemauannya untuk melakukan kontak fisik disaat pengadilan sudah membatalkan pernikahan kita, karena aku kembali menjadi seorang perempuan.
“Suri, aku menolak untuk melakukan ini bukan karena aku tidak mencintai kamu lagi. Tapi, aku hanya ga mau melanggar aturan Tuhan. Rasa sayangku sama kamu ga ada yang berubah sama sekali. Aku juga masih berada di samping kamu setiap hari. Aku cuma ga bisa melakukan kontak fisik layaknya hubungan suami istri. Itu saja! Apa aku salah? Aku merasa udah bersalah waktu tadi kita terbawa suasana saat dibioskop. Jadi, sekarang tolong kita kembali kepada komitmen awal bahwa kita akan terus menyayangi tanpa harus melewati batas yang sudah dibuat Tuhan. Aku tahu ini pasti sangat sulit bagi kita karena kita memiliki kebutuhan biologis sebagai seorang manusia. Tapi, kita belajar mengendalikannya pelan-pelan agar nanti jadi terbiasa. Kita bisa melakukan masturbasi kalau mau.”
Tangis Suri kini berhenti ketika aku menyebut kata masturbasi di depannya. Dia lalu tersenyum dan merebahkan badan di atas kasur. Tangannya lalu meraih handphone dan Suri kemudian mulai menonton. Aku tidak tahu film apa yang sedang Suri tonton. Aku lalu menghampirinya dan merebahkan badanku di sampingnya.
“Nonton apa?”
Suri hanya tersenyum dan menunjukkan handphonenya kepadaku.
“Film lesbian?”
Suri mengangguk dan mulai menonton film lesbian “Bellow Her Mouth” yang memang banyak memperlihatkan adegan seks sesama perempuan. Aku hanya menelan ludah melihatnya, seraya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah laku mantan istriku itu.
“Kamu nonton film begitu nanti makin menjadi-jadi pengen melakukan. Nanti kamu kesiksa sendiri!”
Ucapku yang tidak habis pikir dengan Suri yang bukannya mengambil air wudlu dan langsung tidur agar hasrat seksualnya menurun, tapi dia malah menonton film yang justru akan membuat dia semakin terangsang.
“Biarin! Kan tadi kamu bilang, aku bisa masturbasi. Nanti aku mau masturbasi di depan kamu.”
Suri kembali menonton dan tidak menghiraukan ucapanku. Aku lalu tertidur membelakangi dia. Aku kemudian menutup telingaku dengan bantal agar tidak mendengar suara desahan-desahan dari film yang sedang Suri tonton.
Beberapa menit kemudian, aku merasakan seperti ada gempa. Ranjang tempat tidurku terasa bergoyang. Sontak aku langsung berbalik ke arah Suri dan aku sangat terkejut ketika melihat Suri kini sudah telanjang bulat di sampingku. Bukan hanya itu, tangan Suri kini tengan menggesek-gesek kemaluannya. Dia benar-benar melakukan masturbasi. Aku langsung membalikkan badan kembali dan memaksakan diri untuk tidur, meskipun celanaku juga mulai basah dan libidoku naik seketika.
“Astaghfirullahaladzim, gimana aku bisa kuat kalau begini!”
Gumamku dalam hati yang terus dipancing oleh Suri sehingga membuatku birahi.
***
Sudah beberapa bulan sejak filmku tayang dibioskop-bioskop. Kini aku menerima surat undangan dari panitia Festival Film Indonesia untuk menghadiri acara malam bergensi tersebut. Aku tidak menyangka bahwa film Suri yang sampai detik ini sudah menembus angka 10.000.000 penonton itu, kini akan bersaing dengan film-film lain yang tidak kalah bagus dan sangat memotivasi diajang FFI.
“Sayang, masih ingat ga dulu sewaktu di Bali, aku pernah meminta kamu untuk pura-pura menjadi MC dalam acara FFI? Lalu kamu menyebut film “SURI” sebagai film terbaik tahun ini dan aku berjalan ke atas panggung untuk menerima penghargaan. Kamu masih ingat ga?”
Suri lalu menguap mendengar aku yang nyerocos daritadi, padahal dia baru saja terbangun.
“Ngomong apa sih pagi-pagi?”
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala karena Suri ternyata tidak mendengarkan ucapanku dari tadi.
“Ngomongin pantat, kenapa bisa bolong?"
Ucapku kesal karena merasa tidak didengarkan. Suri hanya tertawa dan memelukku manja.
“Hahaha, apaan sih! Kamu kenapa juga pagi-pagi udah sensian gitu?
“Ya habisnya aku nyerocos dari tadi, ternyata kamu ga denger.”
“Ya udah coba jelasin lagi. Sekarang aku bakal dengerin baik-baik.”
Suri kini tampak memasang wajah serius dihadapanku. Aku kemudian menjelaskan kepadanya perihal surat undangan dari panitia FFI. Aku juga mengingatkan kepada Suri tentang akting kita sewaktu di Bali, ketika aku pura-pura memenangkan piala FFI dalam kategori sebagai film terbaik. Dan kini, tanpa disangka-sangka aku kemudian diundang untuk menghadiri acara malam anugerah FFI, walaupun aku tidak tahu siapa yang akan memenangkan penghargaan sebagi film terbaik, namun aku sudah sangat bersyukur bahwa film berjudul “SURI” bisa masuk nominasi.
“Berarti kepura-puraan pada akhirnya bisa menjadi kenyataan?”
Tanya Suri seperti masih terkejut karena imajinasi ternyata bisa menjadi kenyataan.
“Iya, itulah yang dimaksud oleh Neville Goddard dalam bukunya The Law of Assumption. Kita hanya perlu menganggap imajinasi sudah terjadi, sehingga hal itu bisa benar-benar terjadi.”
Suri mengangguk-angguk mendengar penjelasanku. Dia lalu tersenyum dan mendekatkan wajahnya kepadaku.
“Kalau begitu, aku akan mencoba satu hal yang sangat aku inginkan selama ini. Semoga saja dengan berpura-pura sudah mewujudkannya, suatu hari apa yang aku impikan itu benar-benar bisa terwujud.”
Aku mengerutkan keningku dan merasa penasaran dengan apa impian Suri selama ini yang belum terwujud.
“Apa itu?”
“Kita pura-pura menjadi suami istri lagi bagaimana? Biar nanti bisa benar-benar terjadi!”
“Bagaimana caranya pura-pura untuk menjadi suami istri yang kamu maksud? Kita pura-pura menikah lagi di pelaminan?”
“Bukan!”
“Lalu apa?”
Suri hanya tertawa dan berbisik mesra.
“Kita bercinta!”
***
Bersambung…

No comments:
Post a Comment