Friday, April 7, 2023

SURI (Bagian 33)

 



Aku masih tidak menyangka ketika nama “SURI” disebutkan sebagai nama film terbaik tahun ini. Tepuk tangan dan ucapan selamat aku dengar dimana-mana, sehingga membuatku menitikkan airmata, karena rasa syukur dan bahagia yang tak terkira. Aku dan Suri saling bertatapan dengan mata berbinar. Kita tidak percaya bahwa imajinasi yang kita lakukan sewaktu di Bali, kini menjadi kenyataan.


Dreams come true!


Ucap Suri sambil memeluk dan mengecup pipiku. Tanganku lalu menggandeng tangannya untuk berjalan bersama menuju panggung. Jantungku berdebar-debar, tanganku terasa dingin dan sekujur tubuhku terasa berkeringat, padahal ruangan ini ber AC. 

Saat aku dan Suri berjalan menuju panggung, aku merasa kita seperti tengah berjalan menuju altar pernikahan. Berjalan berdua untuk mengucapkan janji setia sehidup semati. 


“Assalammualaikum, Wr, Wb. Alhamdulilah, terimakasih banyak saya ucapkan kepada Allah. SWT, mantan istri saya Suri, keluarga, kru film, panitia FFI,  dan para penonton yang sudah mendukung film ini. Saya benar-benar tidak menyangka bahwa mimpi saya kini menjadi kenyataan. Saya menulis buku “Suri”, ketika saya dan Suri masih berstatus sebagai suami istri. Saat itu kita sedang berbulan madu di Bali. Suri adalah orang yang selalu mendukung mimpi-mimpi saya. Dia adalah bukti keajaiban dalam hidup saya. Ada banyak yang ingin saya ceritakan tentang Suri, namun saya pasti tidak akan cukup waktu untuk menjelaskannya di sini. Intinya, Suri masih saya anggap sebagai belahan hati yang tidak akan tergantikan sampai kapanpun. Dari Suri, saya belajar apa itu ikhlas. Apa arti mencintai tanpa harus memiliki. Apa itu kasih, tanpa harus ada ikatan suami istri. Terimakasih Suri, yang sampai detik ini masih membuatku jatuh hati.”


Aku lalu memeluk dan mengecup kening Suri dengan berlinang airmata. Tepuk tangan dan sorak sorai semua pemirsa yang hadir, membuatku tak kuasa untuk terus menangis sesenggukan dalam pelukannya. Dan disaat seperti itu, Suri tiba-tiba melepaskan pelukanku. Dia lalu mengambil sesuatu dalam tasnya dan menunjukkannya kepadaku.


“Maukah kamu menjadi teman hidupku? Sampai rambut kita memutih, kulit keriput dan kita sudah tidak punya gigi lagi? Maukah kita terus bersama, meskipun jenis kelamin kita tidak memungkinkan kita untuk hidup bersama? Maukah kamu tetap di sampingku selamanya, meskipun banyak halangan dan rintangan yang hendak memisahkan? Maukah kamu menjadi pengantinku malam ini, dengan restu dari semua yang hadir di sini? Maukah kita menikah, meski tanpa buku nikah?”


Aku terharu dan kaget mendengar ucapan Suri yang sangat berani untuk berterus terang tentang perasaannya, di tengah-tengah masyarakat yang sangat anti terhadap hubungan seperti ini.

Suri masih menunggu jawabanku, sedang aku masih bingung dengan apa yang harus aku katakan di tempat ramai seperti ini. Aku lalu menghela nafas panjang dan berusaha untuk tidak terganggu oleh sorak sorai dan tepuk tangan dari semua orang yang hadir di sini.


“Suri, aku tahu sejak aku kembali lagi menjadi perempuan, ini sangat berat untuk kita. Kita bahkan harus membatalkan pernikahan yang sebelumnya aku anggap sebuah keajaiban. Kita harus rela melihat buku nikah yang tidak lagi ada kata sah di dalamnya. Kita harus berjibaku dengan kenangan dan foto nikah yang membuat kita berpisah. Suri, jujur itu adalah saat paling menyakitkan dalam hidupku, karena aku harus melepaskan apa yang sudah melekat dalam hati. Melihatmu setiap malam dalam tangis yang terasa begitu mengiris. Aku bahkan harus menahan diriku, saat nafsu bergejolak ingin menyentuhmu, namun itu tidak memungkinkan karena kita sekarang adalah sesama perempuan. Suri, aku memang mencintaimu, tapi aku juga lebih mencintai-Nya yang masih memberiku kehidupan hingga saat ini. Tapi, aku pernah bilang kepadamu bahwa aku juga ingin menua bersamamu. Aku ingin selalu ada di sisimu dan mengucapkan selamat pagi setiap hari. Aku tidak ingin berpisah hanya karena status yang tidak lagi berkata sah. Aku mencintaimu bidadariku. Selalu dan selamanya aku masih tertawan rindu. I love you.”


Tepuk tangan kini terdengar semakin meriah, terutama ketika aku memakai cincin yang diberikan oleh Suri. Suri menangis haru, ketika dia selesai memakaikan cincin dijariku dan aku memakaikan cincin dijarinya. Kita lalu saling berpandangan dengan rasa cinta yang menggebu-gebu. 


“Cium! cium! cium!”


Suara dari semua orang yang hadir membuatku tersipu malu, karena mereka terus meneriakki aku dan Suri dengan kata cium. Mereka sudah tidak sabar untuk melihat kita berciuman di atas panggung. Tapi, aku tidak menggubris ucapan-ucapan itu, karena aku masih merasa tabu. Aku lalu mencium kening Suri dan kemudian berpelukan.


“GEMPAAA!!”


Semua orang tiba-tiba panik dan berlarian menuju pintu darurat.


“ARRRGGGGHHHH!!!!”


Pandanganku kemudian menjadi kabur dan aku tidak mengingat apa-apa lagi.

***


Aku masih terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit, dengan luka berat karena gempa berkekuatan 4,3 skala ricthter yang melanda Kota Jakarta tadi malam. Kepalaku masih terasa sakit dan sekujur tubuhku sulit untuk digerakkan. Samar-samar aku hanya melihat ibuku yang kini duduk di sampingku dengan mata sembab dan terus memanjatkan doa.


“Mah, Suri dimana?”


Tanyaku dengan suara terbata-bata. Aku hanya ingin memastikan bahwa Suri baik-baik saja. Aku sangat merindukan dia yang mungkin sedang mengalami rasa sakit yang sama dengan yang aku rasakan, karena kita banyak tertimpa reruntuhan bangunan.


“Mah, Suri dimana?”


Ulangiku sekali lagi. Namun ibuku hanya membisu dan tidak menggubris ucapanku. Dia hanya mengambil air putih yang sudah dibacakan doa dan meminumkannya kepadaku.


“Suri baik-baik aja.”


“Tapi, dia dimana?”


“Diruangan lain!”


Aku menghela nafas lega, karena mendengar bahwa dia baik-baik saja. Hanya saja, aku masih khawatir karena belum bisa melihat kondisinya secara langsung. Aku sangat merindukan Suri, terlalu merindukannya, sampai aku menitikkan airmata. Rindu yang tidak biasanya dan datang dengan tiba-tiba.


“Mah bisa video call ke orang yang nungguin Suri? Yang jaga dia siapa? Aku mau liat kondisi dia saja sebentar saja.”


Ibuku menggeleng dan berusaha menahan tangisan. Sikapnya yang tidak biasa seperti itu membuatku curiga. Ibu seperti tengah menyembunyikan sesuatu dariku. Namun, belum sempat aku berbicara lagi, kepalaku terasa semakin berat dan mataku berkunang-kunang. Aku tidak ingat apa-apa lagi.

***


Dua minggu sejak kejadian gempa yang membuatku sekarang duduk dikursi roda, aku baru bisa lagi menghirup udara segar. Aku sudah tidak sabar untuk menemui Suri, Tissa dan Arka yang kini menjadi keluarga kecilku. Aku ingin segera memeluk Suri dan mengatakan kepadanya bahwa aku sangat merindukan dia. Aku ingin memeluk Suri dan mengatakan bahwa kondisiku sekarang baik-baik saja. Aku ingin segera menemui Suri untuk mengatakan rencana berlibur ke Bali bersamanya, seperti ketika kita menikah dan berbulan madu di sana. Aku sudah tidak sabar untuk segera keluar dari mobil dan melompat untuk memeluk dia dan mengatakan bahwa aku tidak bisa jauh darinya walau sebentar saja. Dan kini, saat aku keluar dari mobil, aku hanya melihat tempat asing yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Sandiego Hills Memorial Park, aku tidak mengerti kenapa aku berada di sini.


“Kita ngapain ke sini?”


Tanyaku kepada ibuku dan kepada semua yang ikut bersamaku dalam mobil. Aku bahkan melihat banyak orang di luar, termasuk orang tua Suri, anak-anak angkatku, mantan-mantanku dan pegawai-pegawai yang kini memakai baju hitam sedang duduk tidak jauh dari tempatku berada.


“Suri mana? Kenapa ga kelihatan?”

***


Suri, namanya kini aku lihat di atas batu nisan. Nama yang baru kemarin sore aku lihat saat aku menerima penghargaan. Nama yang baru kemarin sore aku lihat dipapan-papan iklan. Nama yang baru kemarin sore melekat dalam ingatan karena sebuah kecupan. Nama yang baru kemarin sore memakaikan cincin pernikahan. Dan sekarang aku harus rela namanya di pahat di atas batu nisan.


“Suri?”


Semua orang lalu memeluk dan menenangkan aku yang masih diam tak percaya dengan apa yang aku lihat. Rasanya aku ingin mati saja. Aku tidak mau berada dihari ini untuk menghadapi kenyataan pahit ini. Kehilangan dia untuk selamanya.


“Suri? Apa benar itu Suri?”


Aku masih diam ditempatku. Aku sulit untuk bisa berkata-kata lagi. Hatiku terlalu sakit untuk bisa percaya. Aku belum bisa berlapang dada.


“Kamu ingkar janji! Kenapa kamu pergi Suri? Kita udah janji, kita mau hidup sampai tua. Kenapa kamu ninggalin aku sendiri Suri?? Kenapa??”

***


Rasa sakit berkenalan denganku secara tiba-tiba. Dia berjalan terluka dan memakai baju duka. Inikah yang dinamakan kehilangan? Perasaan yang tidak pernah menunggu sebuah kesiapan. Perpisahan yang kadang datang ditengah tawa dan suka cita. Merenggut bahagia dengan seketika. Oh, aku hampir gila dibuatnya!


Andai aku tahu bahwa aku akan kehilanganmu dengan begitu cepat, maka aku tak akan membiarkan satu detikpun berlalu tanpa mengucapkan “I love you”. Akan aku hirup wangi tubuhmu sampai aku sesak dan tidak bisa untuk bernafas. Akan aku peluk tubuhmu sampai pagi, sehingga kamu tidak bisa untuk beranjak kemana-mana.


Sekarang kau tiada dan aku bisa apa? Mengendus baumu pun aku sudah tidak bisa, apalagi memeluk dan menatap wajah cantikmu untuk terakhir kali. Aku hanya bisa menatap batu nisan dan gundukan tanah yang menidurkanmu tanpa aku. Sendirian, dan kau pun sendirian.


Aku tidak bisa berandai-andai lagi. Tugasmu memang sudah selesai. Tapi, gerimis dihatiku baru saja dimulai. Dan aku harus bersiap dengan hujan, dengan basah yang tak bisa aku bagi dua. Inikah ternyata akhir kisah kita? Berpisah dalam duka.

Suri, satu nama yang mengandung banyak arti. Tentang keajaiban, kebahagiaan, dan kesedihan. Tapi, lebih dari itu aku jadi mengerti apa arti mencintai. Memiliki yang mustahil untuk dimiliki. Dan berakhir dalam puisi-puisi yang kau bawa mati.


Selamat jalan, Suri!

Namamu abadi,

Sebagai pelangi dan bidadari,

Dalam hati..

***



No comments:

Post a Comment