Saturday, April 1, 2023

SURI (Bagian 30)

 



Sudah genap dua bulan berlalu sejak aku kehilangan penisku, aku dan Suri terhitung sudah dua puluh kali bolak balik berziarah ke makam Mahmud. Suri masih percaya jika aku bisa kembali lagi menjadi laki-laki, namun ternyata hasilnya tidak ada sama sekali. Aku masih berjalan dengan tubuhku sebagai seorang perempuan yang terpaksa didandani untuk menjadi laki-laki. Sampai hari ini kemudian datang, tepat diangka sembilan belas, tanggal dimana kita melangsungkan pernikahan, pengadilan kemudian membatalkan statusku kelamin laki-lakiku dan kembali menetapkan aku sebagai perempuan. Pernikahan kita lalu dianggap tidak sah. Dan aku resmi tidak lagi menjadi suami Suri. Semua media kemudian heboh memberitakan dan karyawan-karyawan dikantor juga tidak kalah ramai membicarakan.


“Aku mau mati saja!”


Itu perkataan yang aku dengar dari mulut Suri, sebelum akhirnya dia sakit dan tidak pernah sadarkan diri. Suri koma, yang entah apa penyebabnya. Aku menunggunya siang dan malam dipinggir ranjang rumah sakit yang menidurkan Suri sepanjang hari. Matanya masih terpejam dan hatiku seperti dihujam ujian yang bertubi-tubi setelah ini. Semua hilang begitu saja, termasuk senyum indah sang bidadari bernama Suri.


Tanganku masih mengetik di atas laptop untuk menyelesaikan buku yang selalu diminta oleh Suri agar cepat selesai dan bisa diangkat ke layar lebar. Dia sudah tidak sabar untuk menunggu hari itu tiba. Hari dimana aku bisa mewujudkan satu mimpi yang masih tertunda, walaupun kini aku menganggapnya sia-sia, sebab Suri sudah terlanjur putus asa.


Dialog Senja,


Ratusan purnama bercahaya di balik senja. Menidurkan bidadari berpita emas yang masih saja menawanku dalam cinta. Dia terbaring hening, namun hatiku berdering nyaring. Aku panggil namanya berkali-kali, dalam resah yang tidak bisa diajak berkompromi, namun sepi.


Lalu hujan datang sekali lagi. Pada dini hari yang panjang dalam untaian-untaian kalimat perpisahan. Rintik-rintik yang menyulam sunyi menjadi batu nisanku sendiri. Aku seperti mati, dalam detakan jantungnya yang masih berdegup pagi ini. Menjadikan dialog senja sebagai pemanis dalam pahitnya secangkir kopi. 


Aku kesepian! Dalam nama perempuan yang membuatmu tertawan luka. Meretas sebilah kenangan yang membuatku kini kehilangan. Aku tidak mau sendirian! Menjejali sesaknya duri-duri kota yang kau namakan ketakutan. Dan berjalan merayap, meniduri kardus-kardus bekas dijalanan yang kau namakan kebebasan. Aku butuh tanganmu untuk memangku sejumput rasa yang kini terlantar sia-sia. Aku butuh bibir lembutmu untuk berucap rindu yang kini sudah menjadi masalalu.


Suri, jangan biarkan aku memilin lilin-lilin tanpa api. Aku takut terlelap dalam gelap! Sebab gelap pernah menyulap kumbang menjadi kupu-kupu dan membiarkannya terbang tanpa arah yang dituju.

Suri, beri aku waktu untuk meminangmu menjadi lagu!

Menjadi melodi dalam diri yang kini bukan laki-laki!

Menjadi sebait senja tanpa riak-riak airmata.

Beri aku sedikit cara untuk mengucap janji setia tanpa upacara!

Jadikan aku pengantinmu dalam noktah biru tanpa bulan madu!

Dan ajak aku bercinta sebagai wanita yang kini tengah jatuh cinta!

Suri bangunlah!

Dan ajak aku menjelajah!

Tanpa buku nikah..

***


Suri terbangun tepat dihari ketujuh setelah aku selesai menulis buku. Tatapan matanya kosong dan wajahnya pucat pasi. Bibirnya kering dan terlihat pecah-pecah. Aku lalu mencium tangannya yang terasa dingin seperti sudah disimpan berhari-hari dalam lemari pendingin. Suri tersenyum dalam senyum kecut yang dia paksakan untuk menutupi kesedihan.


“Apa aku sudah mati?”


Lagi-lagi hanya kata mati yang diucapkan oleh Suri. Tak ada lagi namaku yang dia sebut sebagai penawar rindu, sebab hanya mati yang dia inginkan untuk mengubur semua rasa malu.


“Jangan pergi! Aku ga mau kehilangan bidadari berpita emas yang selalu membuatku tertawa sepanjang hari. Suri, ayo kita mulai lagi! Kita masih bisa berjalan bergandengan tanpa harus berdiri berdampingan dipelaminan. Kita masih bisa saling mencintai tanpa harus penetrasi. Kita masih bisa menua bersama tanpa harus bercinta sepanjang masa. Kita masih bisa melakukan apapun yang kita mau! Kamu jangan putus asa!”


Suri tersenyum mendengar kata-kata manisku yang menggebu-gebu. Aku seolah-olah tengah mengajaknya berlari dan kembali mengejar mimpi. Tangannya mengelus tanganku lembut dengan mata yang berkaca-kaca.


“Makasih sayang!”


Aku lalu mengecup keningnya dan mengusap airmata yang perlahan menetes diujung mata Suri.


“Aku tidak butuh penis untuk bisa menyayangi kamu! Aku tidak butuh penis untuk membuatmu bahagia sepanjang waktu! Aku tidak butuh semua yang terlihat oleh mata! Aku hanya ingin bisa melihatmu selalu, setiap kali aku rindu untuk mengatakan cinta ketika aku membuka mata. Suri, kamu jangan putus asa! Kita masih punya doa sebagai jembatan untuk terus memohon kepada-Nya. Kita masih bisa berdoa agar Dia kembali menunjukkan Kun Fayakun-Nya!”


Suri mengangguk dan kini dia bisa tersenyum lebar dengan wajah yang kembali berbinar. Aku senang melihatnya. Bidadariku kini sudah pulih kembali dan bersiap untuk mewarnai mimpi dalam goresan indah sang pelangi.

***


Aku sudah lima kali mencetak ulang bukuku dalam satu bulan, sejak buku itu terbit pertama kali. Novel yang juga diterjemahkan ke dalam Bahasa inggris itu, kini bertengger dalam jajaran buku-buku best seller ditoko buku dan di online store. Aku dan Suri sudah memperkirakan bahwa novel ini akan laris manis, karena media terus memberitakanku yang mengalami perubahan kelamin secara ajaib selama dua kali dan aku juga menjadi milliarder muda yang dinikahi anak konglomerat hanya karena sebuah mimpi. Jadi, karena berita-berita dari media yang terus menerus gencar sampai pernikahanku kemudian dibatalkan itulah, menjadikan masyarakat antusias dan semakin penasaran. Sehingga ketika aku kemudian menuliskan kisah nyataku dalam sebuah tulisan, penerbit tidak perlu lagi bersusah payah untuk memasarkan, karena bukunya langsung ludes terjual dan malah dicetak lagi berkali-kali. Masyarakat memang selalu antusias dengan hal-hal berbau misteri, seperti kisahku yang tiba-tiba menjadi laki-laki, namun kemudian menjadi wanita kembali.


Aku merasakan bahagia tak terkira, terutama ketika tanganku harus menerima cek satu juta dollar pertamaku dari sebuah rumah produksi yang ingin mengangkat novelku menjadi film.

“Sebetulnya kita bisa membuat rumah produksi sendiri dan mengeluarkan biaya sendiri untuk membuat film!”


Ucap Suri yang tidak setuju ketika karyaku harus dibeli oleh salah satu rumah produksi film.


“Biarkan aku berjuang sendiri dulu sayang! Jangan biarkan aku terus menerus berjalan di bawah ketiakmu. Aku ingin bisa membuktikan kepada semua orang yang menuduhku parasit dan hanya memanfaatkan kamu. Mereka harus tahu kalau aku juga bisa berhasil dari usahaku sendiri.”


Suri tersenyum dengan manis ke arahku seraya mengecup pipi.


“Ooops, kalau pipi masih boleh, tapi kalau yang lainnya, kita tunggu tanggal mainnya ya!”


Ucapku kepada Suri yang hampir saja mengecup bibirku dengan sangat bernafsu.


“Kenapa? Dan kapan aku boleh nyium bibir kamu?”


“Karena sekarang ramuan ajaibanya belum bereaksi! Kamu tunggu saja sampai aku menjadi pangeran lagi dan bisa memuaskanmu dengan penetrasi, hehehe.”


Suri lalu memonyongkan mulutnya ke arahku dan mencubit pahaku dengan malu-malu.


“Aku ga butuh lagi penetrasi! Aku pengen saling gesek dan jilat saja deh sepertinya bakal mengasyikan, hehe.”


Aku lalu tertawa saat mencerna arah pembicaraan Suri yang kini menjurus ke masalah hubungan intim yang memang sudah lama tidak kita lakukan, karena banyaknya persoalan kehidupan yang harus kita pecahkan.


“Sayang, apakah dalam sebuah hubungan romantis harus selalu ada sentuhan-sentuhan yang membuat kita tertawan oleh perasaan, hingga lupa pada aturan-aturan Tuhan? Apakah menyayangi tidak cukup hanya dengan tinggal bersama, lalu menyeduh kopi dan mengucapkan selamat pagi? Apakah aku harus selalu mengecupmu, hanya untuk menjabarkan bahwa aku rindu? Apakah kita harus saling memuaskan, hanya untuk memperkuat ikatan dan memperjelas bahwa kita adalah pasangan? Apakah sesempit itu arti cinta dan kasih sayang?”


Suri terdiam mendengar ucapanku. Dia hanya mengangguk dan memeluk, tanpa banyak bertanya lagi apa dan mengapa.


“Aku hanya ingin menua bersama. Aku tidak masalah jika dalam hubungan ini tidak ada sentuhan-sentuhan dan cumbuan yang memang sudah menjadi kebutuhan biologis manusia. Aku akan sabar menunggu, sampai ramuan ajaib itu bekerja dan membuat kita menjadi halal dimata Tuhan. Aku percaya keajaiban! Aku tidak akan berhenti berdoa.”


Aku tersenyum melihat Suri yang kini sudah belajar untuk tidak memaksakan kehendak kepada Sang Maha Kuasa. Aku bahagia melihat bidadariku kini berharap dalam doa dan berjalan beriringan untuk menjalani skenario-skenario yang sudah ditulis Tuhan dalam rangkaian- perjalanan yang tidak pernah terjadi dengan kebetulan. Aku dan Suri percaya keajaiban, sehingga semua yang kita panjatkan terasa memungkinkan untuk tetap diaminkan. 

***


Bersambung…

No comments:

Post a Comment