Saturday, April 1, 2023

SURI (Bagian 29)

 


Sudah dua minggu aku tidak keluar dari ruangan berwarna putih tempat aku mengisolasi diri dan hanya fokus untuk menulis. Aku sudah mulai bosan setiap kali mataku melihat jarum jam yang selalu berputar pada angka yang itu-itu saja dan telingaku hanya mendengar suara keyboard laptop yang aku tekan untuk merangkai setiap kata yang akan aku satukan untuk menjadi sebuah tulisan. Aku juga harus membiasakan diri kembali untuk shalat dengan mengenakan mukena di dalam kamar, dengan pintu yang harus aku kunci rapat karena takut kalau-kalau ada yang melihatku memakai mukena tanpa sengaja.


“Aku lelah kalau harus terus bersembunyi seperti ini dan mengatakan kepada semua orang bahwa aku terkena covid.”


Suri tidak menggubris ucapanku. Dia seperti pura-pura tidak mendengarkan semua keluhanku. Tangannya malah sibuk untuk menyiapkan baju yang akan aku pakai, lengkap dengan binder bra yang sudah dia beli agar dadaku kembali rata seperti seorang laki-laki.


“Kapan aku bisa ke kantor?”


Tanyaku kepada Suri yang kini tengah memakaikan binder bra yang terasa sesak itu. Dia lalu menatapku dengan mata berkaca-kaca dan senyuman yang tampak seperti dipaksakan. Suri kini sudah tidak seceria dulu. Wajahnya seperti menyimpan banyak beban. Dia masih takut kehilangan.


“Sampai keajaiban itu datang lagi! Nanti setelah aku selesai haid, kita pergi ke makam itu lagi. Siapa tahu kamu bisa kembali menjadi laki-laki.”


Suri kini sudah kehilangan logikanya dan berpikir bahwa kelaminku berubah karena berkunjung ke makam keramat, padahal aku sudah mengatakan berkali-kali kepadanya bahwa yang mengubah kelaminku adalah Allah yang telah menciptakanku dan bukan makam keramat. Tapi, aku tidak ingin banyak berdebat lagi dengan Suri, karena sekarang dia tampak depresi.


“Sayang, aku pengen nemenin kamu ke kantor!”

“Ga usah! Kamu bereskan dulu aja menulis buku. Aku ga mau kalau kamu ke kantor, kamu harus repot-repot berbohong dan menutupi perubahan tubuh kamu. Kamu tahu sendiri kan kalau kamu di kantor, kamu selalu shalat berjamaah di masjid. Ini bisa berabe karena kamu harus pakai mukena. Dan kalau kamu ga shalat dimasjid, karyawan juga bakal ngomongin kamu dan ngira kamu udah jarang shalat. Sekarang kita ambil jalan terbaik, yaitu kamu diem dulu di rumah dengan dalih terkena covid.”


“Tapi, sampai kapan?”


Aku menghela nafas panjang dan mulai merebahkan tubuhku di atas kasur dengan perasaan bosan yang semakin menjadi-jadi.


“Sampai kamu menyelesaikan bukumu! Aku janji bakal ngajak kamu keluar.”


“Kita harus ngomong tentang masalah ini kepada orangtua aku dan juga orangtua kamu, biar kita bisa mendapatkan solusi.”


“Baiklah! Tapi, kita berbicara dengan mereka setelah kamu selesai menulis bukumu!”


Aku hanya mengangguk dan menyetujui ucapan Suri. Dia mengecup bibir dan memelukku sebelum dia pergi.


“Kamu harus betah-betahin diri dulu di sini ya. Aku bakal pulang cepet hari ini. Nanti aku bawain es krim coklat kesukaan kamu deh biar mood kamu kembali bagus.” 


Suri lalu pergi dari hadapanku. Aku hanya tertunduk lesu karena harus berjibaku dengan tugasku untuk menyelesaikan buku. 


“Sungguh membosankan!”


Gerutuku yang kemudian menarikan jari-jemariku di atas kotak-kotak kecil berwarna hitam itu. Aku kembali menulis.

***


Tuhan, diantara semua bahasa senja yang menguras airmata, aku ingin bertanya kepada-Mu, apa itu cinta?

Apa arti mengasihi, jika hati tak Kau biarkan memiliki?

Apa arti buncahan-buncahan kebahagiaan, jika memang tak Kau selipkan keridhoan?

Apa arti ikatan, jika Kau ancam dengan penderitaan?

Apa arti pertemuan, jika akhirnya Kau beri judul perpisahan?

Apa arti pernikahan, jika ujungnya Kau katakan perceraian?

Apa arti keabadian, jika kelak Kau buat aku merasakan kehilangan?


Tuhan, aku belum siap untuk melepaskan kemelekatan! Untuk utuh mencintai-Mu tanpa gaduh yang membuat imanku rapuh. Tuhan, aku sulit melepas apa yang sudah mengendap dalam endapan malam. Melerai namanya dalam abjad-abjad tanpa kata yang membuatku sengsara.


Tuhan, bawa dia kembali dalam sunyi yang aku namakan puisi!

Ubah apa yang salah dan membuat-Mu marah!

Ubah aku menjadi ulat dan bukan kupu-kupu!

Ubah aku menjadi lebah dan bukan madu!

Ubah aku menjadi tulang punggungnya dan bukan tulang rusuknya!

Ubah aku kembali dengan Kun Fayakun-Mu!

Aku masih ingin memeluk rindu, tanpa terjerumus nafsu!”


Tanpa terasa airmataku menetes begitu saja, melihat buku nikah yang entah akan bagaimana nasibnya setelah ini. Aku lalu mengelus foto pernikahan yang masih terpajang di dinding kamar. Tampak wajah Suri bak bidadari yang kelak tak bisa lagi aku miliki. Tanganku kemudian melihat cincin yang melingkar dijari tangan, yang kelak mungkin hanya akan menjadi kenangan. Satu penanda pahit bahwa aku akan segera kehilangan.

Airmataku kini tidak bisa terbendung lagi. Aku menangis sesenggukan, membayangkan betapa dekatnya aku dengan kata perpisahan. Aku belum bisa menerima kenyataan.


Dan disaat seperti ini, aku sangat merindukan Suri. Aku rindu bercinta dengannya sampai pagi. Aku rindu tertawa dan bergandengan tangan dengannya dimana-mana. Aku rindu ketika semua orang menundukkan kepalanya dan memanggil kita ibu dan bapak. Aku rindu ketika anak-anak merengek manja dan memanggil kita mama dan papa. Aku rindu keterbiasaan yang kini harus berubah tiba-tiba hanya dengan sekejap mata.

***

“Sayang, aku kangen sama kamu!”


Suri terkejut ketika mendapatiku sudah berada di depan pintu kantor tempat dia kini sedang menjamu tamu. Aku lantas memeluknya tanpa berpikir dua kali. Aku tidak peduli lagi pada setiap pasang mata yang kini tertuju pada kita. Aku sudah tidak peduli lagi, karena aku hanya ingin memeluk Suri, sebelum aku tidak diberi kesempatan lagi.


“Kamu apa-apaan ke sini seperti ini?”


Suri berbisik ditelingaku dengan raut wajah marah dan sedikit terkejut. Aku lalu melepaskan pelukanku dan menatapnya dari dekat dengan mata berkaca-kaca.


“Aku hanya ingin bilang rindu selagi aku ada waktu. Aku hanya ingin memelukmu selagi aku bisa untuk memeluk. Aku hanya punya hari ini, detik ini, di sini, karena besok entah apa yang akan terjadi, aku ga pernah tahu. Aku hanya ingin memanfaatkan kesempatan, sebelum aku kehilangan!”


Semua orang kini bertepuk tangan karena melihat romantisme pasangan yang kini memimpin sebuah perusahaan. Aku memeluk Suri dalam riuhnya tepuk tangan dan sorak sorai orang-orang yang berlalu Lalang. Aku memeluk Suri dalam batas rasa takut yang aku runtuhkan tadi pagi. Aku memeluk Suri dan enggan lagi bersembunyi hanya untuk mencintai.


“Kamu nonton apa tadi pagi? Sampai jadi kebawa perasaan begini?”


Tanya Suri yang masih protes dengan apa yang aku lakukan tanpa kompromi


“Aku nonton video pernikahan kita! Aku melihat buku nikah kita dan aku memandang foto pernikahan yang masih kamu pajang! Aku ga mau kehilangan kamu sayang!”


Suri kini menangis dan memelukku seperti sebuah adegan romantis dalam film-film yang sering aku tonton secara gratis.


“Sayang, kamu tembus!


Mata Suri terbelalak melihat darah yang merembes keluar dari celana putihku. Tangannya dengan spontan menutup pantatku dengan kedua tangannya. Suri juga tidak melepaskan pelukannya.


“Gawat, jadi kita harus bagaimana?”


Aku dan Suri kebingungan untuk bisa menghindar dari hadapan semua orang. 


“AWAS ADA RAMPOK BAWA SENJATA!!”


Aku tiba-tiba berteriak dan menunjuk ke ruangan gelap di dekat receptionist. Semua orang panik dan berhamburan keluar, bahkan ada yang sampai bertiarap. Tanganku lalu menarik tangan Suri dan berlari menuju ruanganku.


“AMAN!!”


Ucapku mengelus dada dengan nafas ngos-ngosan ketika aku dan Suri sudah berada diruangan.


“Apanya yang aman? Nanti security bisa cek melalui ccvt!”


Suri kini berkacak pinggang dan membuatku menjadi serba salah.


“Kita tinggal bilang aja kalau aku sedang berhalusinasi. Gampang!”


Aku tertawa dan menghampiri Suri yang masih berdiri seperti seorang puteri.


“Pakai dulu pembalutnya, sebelum ada yang ngetuk pintu dan nanyain nama kamu!”


Aku nyengir dan mengambil pembalut dari tangan bidadari.


“Celananya ganti sekalian. Untung tadi Pak Doni ngasih sample celana olahraga buat acara hari minggu. Kamu sih, apa-apa itu harus dipikirkan, jangan melulu pakai perasaan. Begini nih kalau kamu kecanduan drama-drama percintaan, jadinya baperan!”


Aku tertawa melihat Suri yang masih ngambek karena aku selalu terbawa perasaan.


“Udah dong marahnya, nanti kamu ga cantik lagi!”


Ujarku sambil cekikikan dan mencubit pipinya yang menggemaskan.


“Aku emang udah ga cantik lagi, soalnya yang cantik sekarang itu suamiku!”


Kita lalu tertawa dan mulai lagi menikmati senja yang baru saja muncul diam-diam di balik jendela.

***


Bersambung…






No comments:

Post a Comment