Nama Suri kini terpajang di mana-mana. Di billboard, dilayar televisi, dan disemua media periklanan yang sedang mempromosikan film yang berjudul sama dengan namanya, “SURI”. Mataku berkaca-kaca setiap kali menyadari bahwa aku tidak sedang bermimpi. Aku tidak menyangka bahwa akhirnya aku bisa mewujudkan impianku selama ini, yaitu bisa mengangkat kisah hidupku ke layar lebar.
“Sayang, apa kamu udah siap?”
Suri terlihat sangat anggun, ketika mengenakan gaun merah maroon malam ini. Matanya bersinar seperti bulan purnama yang masih menyinari hatiku. Rambut panjangnya terurai indah di atas kulitnya yang putih terang. Tubuhnya ramping dan menawan seperti model-model yang tengah berjalan di atas catwalk. Dia sangat cantik dan memang sempurna sebagai seorang wanita. Dan aku masih tersihir oleh kecantikan sang bidadari yang kini sudah bukan istriku lagi.
Aku lalu memegang tangan lembutnya yang sudah wangi dengan aroma bunga-bunga yang menyegarkan. Aku kemudian mengecup tangan indah itu, sehingga membuat Suri tersenyum malu-malu saat mendapat perlakuan romantis dariku yang kini sudah memiliki jenis kelamin yang sama dengannya.
“Ayo!”
Aku menggandeng tangan Suri menuju mobil. Malam ini aku mengenakan baju tuksedo layaknya seorang pria, karena aku tidak suka memakai gaun, meskipun sekarang jenis kelaminku adalah perempuan.
“Kamu masih tampan seperti dulu sayang!”
Puji Suri yang kini sudah berada di dalam mobil bersamaku. Wajahnya terus menatapku dan wajahku terus menatapnya, sehingga kita terbawa oleh suasana romantis malam ini dan ingin berciuman. Bibir Suri kemudian mendarat di atas bibirku singkat. Aku sangat terkejut, namun aku sangat menikmati ciuman singkat itu.
“Kita ga bisa seleluasa dulu ya!”
Ucap Suri dengan raut wajah sedih. Sepertinya Suri merasa terbebani ketika dia harus menahan hasratnya untuk tidak bermesraan denganku. Aku lalu memegang tangannya dan memeluknya sesaat.
“Belum waktunya sayang. Insyaallah kalau waktunya tiba, kita bisa melakukannya kapan saja.”
Suri mengangguk, seraya tersenyum ke arahku, sehingga aku merasa lega saat melihat wajahnya tidak kembali bersedih.
Selama dalam perjalanan, aku terus menggenggam tangan Suri, hingga kita sampai di bioskop, tempat gala premiere film berlangsung. Aku sudah tidak sabar untuk menonton film hasil karyaku sendiri untuk pertama kalinya.
Sesampainya dibioskop, kita sudah melihat banyak wartawan, kru film, tamu undangan dan para penonton yang sudah antusias untuk menyaksikan perdana film yang berjudul Suri. Aku dan Suri kemudian diserbu oleh para wartawan yang ingin mewawancarai kita. Mataku kemudian menjadi silau karena terkena cahaya dari blitz kamera dari orang-orang yang mengabadikan foto aku dan Suri.
“Apakah benar film Suri ini adalah kisah hidup anda sendiri?”
“Apakah nama Suri itu nama istri anda?”
“Bagaimana perasaan anda ketika kisah hidup anda berhasil diangkat ke layar lebar?”
Para wartawan terus memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit aku jawab, karena suasana terlalu gaduh dan ruangan tempatku berdiri menjadi sangat sesak. Dalam situasi seperti itu, untunglah Pak Joko, sutradara dari film ini kemudian menghandle para wartawan yang masih terus melontarkan pertanyaan kepadaku dan Suri.
“Tenang-tenang! Nanti ada konferensi pers setelah film selesai diputar. Jadi, sekarang tidak ada sesi wawancara dulu ya.”
Jelas Pak. Joko kepada para wartawan yang terlihat sedikit kecewa karena belum bisa melakukan sesi wawancara.
Aku dan Suri kemudian berjalan menuju spot yang telah ditentukan oleh panitia untuk melakukan pemotretan sebelum film dimulai. Aku merasa canggung saat diambil gambar bersama Suri, karena dia selalu berpose seperti layaknya pasangan-pasangan kekasih yang terlihat begitu intim dan romantis.
“Aku masih menganggap kamu suami aku, apapun jenis kelamin kamu sekarang.”
Bisik Suri disela-sela sesi pemotretan. Aku merasa bahagia ketika Suri dengan yakin mengatakan hal itu. Sepertinya perasaan kita berdua memang tidak berubah sedikitpun meskipun status kita berubah.
“Aku sangat bangga bisa dicintai oleh wanita cantik seperti kamu. Kamu juga tidak hanya cantik secara fisik, tapi juga hati.”
Wajah Suri memerah mendengar pujian dariku. Dia tersenyum malu-malu dan tangannya kemudian mencubit pinggangku.
“Kamu udah pintar muji sekarang ya, hehe!”
Melihat Suri yang tersenyum malu-malu, membuatku merasakan lagi kupu-kupu dalam perutku. Ingin rasanya aku merasakan lagi bibir lembutnya yang dulu tidak pernah absen untuk aku kecup, Aku juga ingin merasakan lagi bagaimana mencumbu dia dengan penuh gairah, seperti seorang pengantin yang tidak sabar menunggu pasangannya untuk naik ke atas ranjang.
Hingga tanpa terasa, kini wajahku semakin mendekat ke arah Suri dan hendak melumat bibirnya, namun Suri buru-buru menghentikannya karena kita sedang berada dikeramaian, selain itu kita juga sekarang sama-sama berjenis kelamin perempuan, sehingga sangat tabu jika harus berciuman di depan umum.
“Kalau mau ciuman, nanti aja dirumah! Kita bisa ciuman sepuasnya, hehe.”
Suri berbisik ke telingaku seraya menggodaku. Aku hanya menggelengkan kepala dan merasa malu dengan apa yang tidak sengaja aku lakukan tadi, yaitu ketika aku hampir mencium bibir Suri dihadapan semua orang.
“Aku cuma terbawa suasana saja, jadi ga usah dianggap serius, hehe.”
“Kalau serius juga ga apa-apa!”
Timpal Suri yang memang sudah lama ingin berciuman dan bercinta denganku.
***
Lampu Bioskop kemudian dimatikan, ketika aku dan Suri mulai berpegangan tangan dengan perasaan deg-degan, karena sebentar lagi aku akan menyaksikan kisah hidupku dirangkum dalam sebuah film.
“Rasanya seperti orang pacaran ya!”
Celetuk Suri yang tampak antusias untuk menonton film, karena selama kita menikah, kita belum pernah menonton film berdua dibioskop.
“Kita kan sekarang lagi pacarana, hehe.”
Suri tersenyum mendengar ucapanku. Bibirnya lalu mengecup tanganku yang kini menggenggam tangannya. Kita lalu menonton sambil bergandengan tangan.
Film diawali dengan adegan saat aku tengah mengendarai sebuah motor sport untuk melakukan transaksi cod barang. Aku kemudian nyasar ke makam keramat yang menjadi awal mula kelaminku berubah secara tiba-tiba.
“Semoga kamu bisa mendapatkan keajaiban itu lagi ya.”
Suri tiba-tiba membuka pembicaraan, ketika film masih berlangsung. Dia ternyata masih berharap agar aku bisa menjadi seorang laki-laki, agar kita tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi ketika kita ingin bermesraan dan berciuman dihadapan semua orang, selayaknya sepasang kekasih yang tengah kasmaran.
“Aamiin.”
Ucapku singkat agar Suri tidak banyak berbicara lagi, sehingga kita bisa fokus untuk menonton.
Sepanjang film berlangsung, aku merasakan sesuatu yang menggelitik di dalam perut, terutama ketika tanganku menyingkap belahan pinggir dari gaun yang dipakai oleh Suri dan tanganku mulai lincah meraba-raba pahanya yang mulus. Tidak berhenti sampai disitu, tanganku lalu masuk diantara kedua pahanya dan mulai bermain-main dengan sesuatu yang terasa mulai basah. Jariku terus bergerak diatas vaginanya yang masih tertutup oleh celana dalam. Tangan Suri lalu mencengkram tanganku, karena dia mulai terangsang dengan perlakuanku. Wajahnya dengan cepat menoleh ke arahku dan melumat bibirku dengan sangat bernafsu. Kali ini aku tidak menghentikannya, karena aku sudah sangat menginginkannya.
“Akhirnya!”
Ucap Suri sambil mendesah, ketika hasratnya yang selama ini dipendam bisa tersalurkan. Sedang aku masih merasa bersalah dengan apa yang aku lakukan barusan, karena sebelumnya aku sudah berjanji bahwa aku tidak akan melakukan hal ini, sebab aku dan Suri bukan lagi suami istri. Aku masih dibayang-bayangi dosa karena telah menyalahi aturan.
“Maafin aku Suri, harusnya aku bisa lebih mengendalika diri!”
“Ga usah minta maaf! Kita manusia normal yang punya kebutuhan biologis!”
Aku tertawa mendengar ucapan Suri, karena ternyata aku masih ingin menyalurkan kebutuhan biologisku kepada Suri hingga pagi.
“Kita lanjutin nanti dirumah!”
“Tapi, aku takut dosa!”
Suri terdiam mendengar aku menyebut-nyebut kata dosa. Dia lalu mengelus tanganku dan mengecup bibirku kembali.
“Nanti aku minta sama Tuhan biar bisa memaafkan! Soalnya aku udah ga tahan!”
Aku lalu tertawa mendengar ucapan Suri. Ada-ada saja memang dia, mana mungkin kita melakukan dosa dengan sengaja, lalu berniat minta maaf setelahnya.
“Ngaco kamu!”
Suri hanya cekikikan dan kembali menonton, sedang aku sekuat tenaga tetap mengendalikan diriku agar tidak lagi terbawa nafsu.
***
Seseorang pernah bertanya kepadaku tentang apa itu jodoh? Apakah jodoh adalah sepasang laki-laki dan perempuan yang ditakdirkan untuk mengucap janji di atas pelaminan? Apakah jodoh hanya terpaku pada pertanyaan, apakah kamu memiliki penis atau vagina? Apakah jodoh hanya diperuntukan bagi pria dan wanita? Tapi tidak untuk wanita dan wanita? Apakah jodoh hanya terbatas pada kisah yang berakhir di dalam buku nikah? Apakah hanya itu arti jodoh yang sesungguhnya? Hanya terbatas pada alat reproduksi yang kemudian dijadikan alibi untuk memperpanjang keturunan? Lalu bagaimana dengan cinta? Apa itu cinta? Apakah jodoh adalah cinta? Apakah hidup bersama dalam pengakuan negara itulah cinta? Apakah harus selalu pria dan wanita yang boleh berterus terang perihal cinta? Lalu, bagaimana dengan wanita dan wanita?
Bersambung...

No comments:
Post a Comment