Saturday, October 29, 2022

OKTOBER 2022

 



    Dan air kemudian menjadi sunyi yang diterbangkan oleh semilir angin. Pada rintikannya dihari kesepuluh bulan sepuluh, resah lalu mengudara pada bias harapan yang terkotak-kotak diujung bilangan senja.

Ada yang berdebat disela kisruh malam. Ego yang lalu merangkak menjadi cerita baru pada akhir hitungan bulan. Tarian jarum jam dan angka-angka dikalender yang selalu bermuram durja, seperti putus asa akan hari esok yang dipenuhi sarang laba-laba.


    Dan siluet tidak akan pernah bertanya lagi tentang apa dan kenapa. Tentang “bagaimana” yang seakan terpenjara pada batasan norma-norma. Tentang “diam” yang seakan menjadi makhluk bisu yang tidak bisa bergerak maju. Tentang kata “perempuan” yang seringkali diharuskan “ayu” dan penurut.


    Namun, air kemudian meruntuhkan semua aturan itu. Sebab hidup terlalu keras bilamana kita diharuskan bertarung dengan mendayu-dayu. Sebab dunia terlalu licik bilamana kita harus tunduk dan diam pada aturan-aturan yang mengekang sayap-sayap kebebasan perempuan. Sebab hierarki kini tidak bisa berdiri dengan dua kaki. Semua tumpang tindih pada keadilan yang tidak bisa lagi berlaku adil.


    Aku tidak ingin menyimpan lagi tisyu disakuku dan mengamini betapa banyak air mata yang kelak turun di atas pipi. Aku akan berhenti mempersiapkan kesedihan yang aku ciptakan sendiri sebagai perisai diri. Sebab ternyata setiap hari adalah keajaiban yang kerap bersembunyi di balik rasa syukur. Sebab hari ini adalah anugerah terbaik dari momentum kebahagiaan yang belum tentu datang esok hari. 


    Sebab hanya “Dia” yang senantiasa ada dimanapun kita berada. Sebab hanya “Dia” yang selalu hadir disaat kita berada pada titik nadir. Sebab hanya “Dia” yang masih memberikan nyawa disaat kita berada dipuncak rasa putus asa. Lalu, kenapa kita bisa lupa dan terus berpura-pura?

Untuk hanya bersandar kepada-Nya, bukan kepada makhluk-Nya.

Saturday, July 23, 2022

Kado Termanis 2022 (Anggrek dan Melati)

 


    Dua bunga tumbuh di pekarangan rumah yang baru saja diterjang badai, Anggrek dan Melati. Dua bunga yang datang pada saat bersamaan, mengisi ruang kosong yang sudah mulai tertutup debu. Bunga-bunga yang mekar di saat dedaunan menjadi layu dan mati kekeringan. Bunga yang kemudian menjadi penghidup jiwa, namun ada pula yang lalu menjadi luka lain pada senja yang masih berselimut duka.


    Kepada Anggrek, aku ingin bercerita tentang kehilangan. Tentang rasa yang tidak bisa dihapus begitu saja ketika kita salah menggoreskannya. Tentang makna sebuah keberadaan yang tidak bisa digantikan oleh ego yang kemudian menghilangkan arti kasih sayang. Tentang kata “bersuara” yang tidak akan pernah sama dengan kata “diam”. Tentang arti sebuah “ kehadiran” yang kerap berbeda dengan arti “kehilangan”.

    Anggrek adalah kado termanis di Bulan Ramadhan yang tidak akan pernah bisa dilupakan. Ketegarannya adalah akar dari harapan yang lalu membuatku bisa berdiri lagi dengan tegak ketika dilanda rasa putus asa. Kelembutannya adalah kasih yang menopang sepiku akan beban masalalu. Dan perhatiannya adalah nyawa yang membuatku kembali hidup dari mati suri panjang yang melumpuhkan semua mimpi dan harapan.

    Namun, kemudian Anggrek pun hilang, sebab lelahnya telah berakhir pada kata maaf yang dia selesaikan seusai lebaran. Selesai, tapi rindunya masih saja tertinggal di batas senja, menyisakan tanda tanya akan kata “Apa kabar? Dan selamat malam”.

     Anggrek, bunga paling tegar yang tidak akan pernah kompromi ketika dia dilukai. Dia akan pergi dan tidak akan menengok lagi.


    Sedang Melati adalah kata “Ikhlas” yang tidak bisa aku pahami selama ini. Tentang malaikat tak bersayap yang menyuruhmu untuk bangkit ketika kamu tidak bisa berdiri lagi. Dia adalah pijaran api yang kemudian hadir untuk membakar kembali semangatku. Menampar putus asa itu dengan pedang kata-kata yang kerap menghunus jiwa. Melati ibarat sutra yang begitu lembut, namun caranya merangkul jiwa-jiwa yang terkapar tak berdaya ibarat pahlawan yang datang tiba-tiba dimedan perang. Menyelamatkan apa yang seharusnya diselamatkan dengan ketegasan, dengan tidak memberikanmu kesempatan untuk membrikan alasan.

Melati yang kemudian mengingatkanku akan tujuan hidup, tentang perjalanan yang harus segera diselesaikan. Dan tentang mencintai diri sendiri melebihi mencintai orang lain.

Melati yang masih bertahan ketika aku tidak memiliki apa-apa untuk bisa dibanggakan. Melati yang masih percaya bahwa aku bisa bangkit dan menggapai mimpi setinggi langit.


    Dua kado terindah ditahun ini seakan menjadi bekal bagi jalan terjal yang harus aku lalui dengan hati-hati. Dua jiwa penyemangat yang membuatku sadar tentang waktu yang terus bergerak maju. Dua jiwa yang memberiku kesadaran untuk menghargai diri sendiri, untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang aku miliki saat ini.

Dua jiwa, Anggrek dan Melati, meskipun Anggrek sudah tidak ada komunikasi lagi, tapi aku masih merasakan doanya yang tulus hingga detik ini. Bukankah doa adalah kasih paling murni untuk menyayangi satu sama lain tanpa berharap untuk memiliki?


    Terimakasih Anggrek untuk kenangan manis yang masih aku bingkai rapi sebagai pondasi untuk melangkah maju dan menjadi yang terbaik. Terimakasih untuk pelajaran hidup yang membuatku paham bahwa hidup memang sebuah medan perang tempat kita berjuang habis-habisan untuk menjadi seorang pemenang dan bukan pecundang. Terimakasih untuk sebuah pelukan hangat yang membuatku percaya bahwa aku bisa menghadapi semuanya. Terimakasih, semoga suatu hari kita bisa bertemu lagi.


    Untuk Melati, aku juga ingin mengucapkan terimakasih untuk semua kebaikan dan kepercayaannya selama ini. Untuk kesabarannya menuntunku agar bisa berubah. Terimakasih untuk percaya bahwa “kura-kura” itu bisa mencapai garis finish jika mau berusaha dengan lebih keras dan fokus dalam mencapai tujuan. Terimakasih masih membimbingku hingga detik ini. Mendengarkan aku bercerita tentang hal-hal yang mungkin sudah muak kamu dengar. Terimakasih untuk setiap pengorbanan yang belum bisa aku balas satupun. Terimakasih banyak, semoga aku bisa membalas pengorbananmu dengan kata “sukses” yang bisa aku capai tahun ini. Aamiin.


    Dan aku ingin bertanya sekali lagi kepada senja yang telah membuatku banyak berubah dengan kehadiran Anggrek dan Melati. Bagaimana cara mencintai diri sendiri? Apakah ketika aku merasa bahagia ketika bisa berkorban untuk orang lain, itu bisa dikatakan aku telah mencintai diri sendiri? Atau malah aku sedang menyiksa diri sendiri?


    Juli terindah bagi Melati, Aku dan Anggrek yang lahir dibulan ini. Semoga hal-hal indah bisa hadir untuk kita semua dibulan ini. Semoga perjuangan kita berbuah keajaiban berkat tangan-tangan Tuhan yang tidak bisa kita lupakan. Semoga kasih itu masih menjadi penawar bagi duka yang masih bersarang pada marah dan penyesalan. Semoga kita bisa terus bercengkrama dalam doa dan dalam kebaikan-kebaikan yang diiringi ketulusan. Dan semoga Tuhan kembali mempertemukan apa yang bagi manusia sulit untuk dipertemukan.


Monday, January 10, 2022

Benang Waktu

 


Senja menjadi kusut mengingat pelangi tak lagi nampak selepas hujan. Dan bayangan-bayangan kelabu yang jatuh di atas kelopak mata menjadi awal dari Januari yang menguning lebih cepat.


    Ketika yang nyata menjadi fana oleh waktu dan yang bias lalu menjadi begitu jelas. Aku tengah menukik bentuk lain dari sebuah kesadaran. Realitas rindu yang memutar di balik awan.

Lagi-lagi ini adalah soal hujan yang turun tidak tepat waktu. Tentang rintikannya yang menjadikan basah sunyi mengendap di balik remang-remang cahaya malam.


    Ada yang sendiri, menyendiri diantara banyak kehilangan. Mengurai helai demi helai kenangan. Dan tertegun memahat resahnya pada kalimat-kalimat pengandaian.


    Kau adalah kegelisahan. Bahasa-bahasa lain dari tarian hujan yang telah tercampakkan. Mengubur lelah dan peluhnya pada ilalang yang tak paham akan kata “hilang”. Kau adalah lukisan pada sepertiga malam yang kabur menjadi embun di atas keraguan.


    Aku tengah menaruh senja pada gelas purnama. Menamakan dirinya genangan yang bercahaya. Aku suka bulan, cahaya samar yang tidak memiliki suhu. Aku suka redup, seperti kamar temaram tempat manusia mengubur rahasianya. Aku suka berlabuh, pada hitamnya tinta tanpa warna. Sebab monokrom kadang lebih hangat daripada warna yang penuh sandiwara.


    Kau tahu apa itu memiliki? Sebuah kata yang menjadi batas bagi apa yang telihat oleh mata, namun tidak bagi hati. Sebab hati terlalu rumit untuk memiliki batas dari rasa yang tidak pernah mengenal kata cukup. Sudahkah bahagia cukup memiliki tempatnya sendiri? Pada status yang tercatat pada pada selembar kertas yang membatasi kata bebas. Sudahkah bahagia mengikuti prosedur yang seharusnya? Atau mungkin dia pernah tidak seirama? Tidak mudah, maka bicaralah!


    Kali ini aku hanya ingin menulis, bukan untuk siapa-siapa dan bukan untuk apa-apa. Hanya saja benang waktu tengah terurai dari jahitannya. Membuat mataku terbelalak dan ingin sedikit bercengkrama dengan pinangan-pinangan rasa yang masih berahasia. Entahlah, hanya saja jubah malam tengah merasuki jiwa sang penyair yang telah lama tidur dari rasa sakitnya. Dan kini ia ingin sebentar saja berpesta, mengingat luka dan kenangan-kenangan tentang perjalanan dari airmata. Itu saja!


Tuesday, December 21, 2021

Desember 2021

 


    Tahun baru sudah di depan mata dan di akhir tahun ini banyak sekali cerita yang ingin aku tuliskan. Mulai dari ketika aku menghadiri ulang tahun kakaknya Nike Ardilla bersama Dea. Lalu membuka toko di Buah Batu dan banyak lagi yang aku alami yang tidak pernah aku kira sebelumnya.


    Setelah dua tahun aku membatasi komunikasi dengan Dea, aku kemudian mengajak dia ke acara ulang tahun, karena acaranya malam dan sodara-sodaraku sedang sibuk di acara siraman sepupu yang akan menikah. Ini adalah kali pertama aku mengajak lagi Dea, setelah aku menjauhinya. Aku sudah memaafkan dia, meskipun mungkin tidak akan sama lagi seperti dulu. Sekarang mungkin akan ada banyak batasan yang aku lakukan dan aku tidak akan terlalu intens bertemu dengan dia.


    Pada bulan ini juga, sepupu aku menikah. Acaranya cukup unik, karena dia konsepnya adalah pesta kebun, padahal sedang musim hujan, alhasil banyak tamu yang mengeluh karena sepatu jadi kotor, dan bahkan ada yang terpeleset.


    Di bulan ini juga aku bolak balik ke Buah Batu untuk membuka toko baru dan saat itu kebetulan sedang ada turnamen badminton se-Jawa Barat, sehingga yang beli lumayan ramai.

Aku juga mengajak Dea ke toko baru aku pada hari sabtu kemarin untuk bantu beres-beres terakhir sebelum ada pegawai baru pada hari senin.


    Bulan ini cukup melelahkan memang. Tapi, aku bersyukur karena satu persatu mimpiku bisa terwujud. Dan tahun depan aku berencana membuat PT, agar bisa ikut tender yang lebih besar, selain itu aku ingin suatu saat PT itu menjadi besar, sehingga keluarga dan orang-orang terdekat bisa mempunyai saham di perusahaan aku.


    Itu saja mungkin yang terjadi di bulan Desember ini. Aku juga punya pegawai baru. Pegawai yang lumayan gesit, meskipun hanya lulusan SMP. Dia aku tempatkan di Buah Batu. Usianya 28 tahun, tapi sudah memiliki dua orang anak dan sudah dua kali menikah. Dia menikah pada usia 17 tahun. Aku sempat menyarankan dia untuk mengambil paket C, dan aku juga akan mengajarkan dia komputer, dll agar dia tidak terlalu gaptek. Pegawai-pegawai aku sebelumnya rata-rata sarjana, namun sebagian besar tidak jujur dan sulit diatur. Semoga pegawaiku yang polos seperti sekarang bisa bekerja dengan lebih baik.


    Dan untuk Dea, aku belum bisa terbuka kepada keluarga saat aku mengajak dia ke luar atau ke toko, karena beberapa anggota keluarga aku masih tidak suka aku berteman lagi dengan Dia. Tapi, ya sudahlah. Aku tidak ingin memutuskan tali silaturahmi, tapi aku juga tidak ingin terlalu intens dengan dia. Jadi, semua biasa-biasa saja, seperlunya, sewajarnya.


Pada langit terbuka,

Bintang-bintang menari tanpa batas

Ada cahaya, namun ada juga luka

Senar-senar putus yang tak bisa lagi dipetik dengan halus

Tapi, tak mengapa..

Desember tlah lupa akan kisahnya

Desember tlah lupa akan akan namanya

Semua mengalir bak sunyi dalam birama

Hening, namun masih bersuara

Resah, tapi masih mengundang tanya

Ada apa?

Tak apa-apa..



Dea

Ultah Syifa


Kakak dan ponakan

Saat akan ke pesantren









Sunday, November 28, 2021

Kejutan Manis

 


Akhir November yang penuh dengan perjuangan, Allah kemudian mulai membuka jalan lebar dengan sinar yang begitu terang, membuatku semakin yakin tentang janji-Nya yang mengatakan bahwa “Bersama kesulitan ada kemudahan.” Allah bahkan mengulang-ulangi kalimat itu sampai tiga kali.


    Aku tak kuasa meneteskan airmata ketika kasih-Nya terasa begitu nyata. Ketika Dia menyelamatkanku berkali-kali dari ujian berat yang aku rasakan semakin tidak mudah. Sisa orderan hotel bisa selesai juga di akhir November, padahal sebelumnya sisa kainnya begitu sangat susah didapatkan, bukan hanya itu, aku sekarang mulai membuka dua cabang baru, di Buah Batu dan di Pasar Baru (Buah batu mulai besok atau tanggal satu, tapi kuncinya sudah aku pegang, sedangkan di Pasar Baru mulai Desember atau Januari).


    Aku juga masih bekerjasama dengan keluarga almarhum Nike Ardilla. Kakaknya juga memesan handuk dan sprai dengan gambar almarhum yang sedang aku kerjakan.

Selain itu, aku sedang gencar untuk menjual tanah milik keluarga seluas 3520 m2 yang sedang aku tawarkan ke BI dalam bentuk proposal. Semoga menjelang akhir tahun ini banyak kejutan-kejutan lainnya menanti.


    Aku masih ingat sewaktu aku bertanya-tanya tentang kejadian almarhum Nike yang kemudian hadir dalam hidup aku sejak akhir 2020 hingga sekarang aku dekat dengan keluarganya. Aku baru menemukan jawabannya sekarang. Mungkin selain almarhum ingin agar aku menyampaiakan pesan kepada keluarganya (sudah beberapa kali tawasulan), tapi almarhum juga ingin agar aku meneruskan kegiatannya dibidang sosial yang tidak mungkin bisa dia lakukan lagi.


    Sekarang aku menjadi salah satu orangtua asuh di Pesantren gratis milik adik tiri ibu aku. Aku merasa bahagia ditengah berbagai macam problematika yang muncul dalam hidupku. Aku sudah merencanakan untuk mendirikan pesantren gratis juga plus panti asuhan, semoga Allah segera mengijabah doa aku. Selain itu, jika aku sudah kaya, aku ingin mendirikan lembaga untuk orang-orang yang terlilit hutang, dimana di di sana aku bisa membantu mereka bukan hanya secara materi, tapi juga rohani, sehingga mereka bisa hidup dengan lebih berkualitas. Dan terakhir, aku juga ingin mendirikan lembaga untuk membantu oang-orang yang memiliki kelainan psikologis. Aku ingin agar mereka yang selama ini merasa berbeda, bisa konsultasi dan menemukan jalan keluar, tanpa harus mengeluarkan biaya ke psikolog dan psikiater.


    Sekali lagi terimakasih Ya Allah atas semua nikmat yang telah Engkau berikan dibulan ini. Orderan baru Rp. 150.000.000,00, toko-toko baru, dan yang paling utama adalah hati yang sedang berproses untuk kembali fitrah, semoga Allah mempermudah aku untuk terus membersihkan dan memperbaiki diri.


    November tinggal dua hari lagi dan aku sadar bahwa di Bulan Desember ada banyak target dan pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Semoga Allah membantu semuanya, sebab jika Dia berkehendak, Dia hanya mengatakan “Kun!”, maka “Jadilah!”.


Hujan reda,

Dan jingga kembali terlihat di angkasa..

Suara tasbih bergema di petala langit..

Aku memuja-Nya..


Sunyi adalah jalanku menuju fitrah..

Peta untukku kembali menjadi “Aku” yang tanpa nafsu

Likuan untuk aku sampai pada titik akhir yang seharusnya berakhir..


Aku terlahir lagi!

Dari proses,

Dari rasa sakit yang lalu menjadi kemudi untuk bangkit


Aku hidup lagi!

Setelah merangkak tertatih-tatih

Pulih dan terlatih

Tak bersedih!







Toko di Buah Batu (Sport Center)


Toko di Pasar Baru


Monday, November 15, 2021

BADAI

 


    Banyak yang menyukai hujan, namun tak sedikit yang mengutuk banjir. Banyak yang takjub dengan ombak, tapi lebih banyak yang takut akan tsunami. Manusia memang banyak menyukai banyak hal, selama itu tidak berdampak buruk dan merugikan dirinya sendiri.

Ketika ada gula, maka tak jarang banyak semut mengelilinginya, namun ketika gulanya habis, maka semut-semutpun berlalu begitu saja.


    Sekarang aku tidak percaya lagi dengan persaudaraan, pertemanan, atau bahkan sahabat sejati. Semuanya bullshit, sebab semua akan menjadi baik ketika ada keuntungan bagi mereka, namun ketika mereka tidak mendapatkan apa-apa, maka mereka akan pergi tanpa permisi.

Dunia luar ternyata sangat kejam, seperti hutan rimba, dimana kita melakukan kesalahan dan menjadi lemah, maka siap-siap saja kita akan menjadi mangsa.


    Aku tahu, ada banyak kesalahan yang telah aku lakukan dalam hidup. Ada banyak kekecewaan yang telah aku torehkan selama nafas masih bisa aku hirup. Namun, aku sadar bahwa aku tidak boleh kehilangan harapan, meskipun tidak ada satupun yang paham dan mengerti tentang posisi aku saat ini. Aku bersyukur, ibuku tidak berubah sedikitpun dan terus membantuku untuk bangkit.


Aku selalu percaya bahwa ketika kita berbuat baik kepada orang lain, maka kebaikan itu akan dibalas walaupun bukan dari orang yang bersangkutan. Dan begitupun sebaliknya. 

Hanya saja kadang-kadang kita tidak cukup bersabar untuk memanen apa yang telah kita tanam. Bukan hanya tidak sabar, mungkin aku juga belum mengerti tentang ilmu ikhlas yang sesungguhnya.


    Ada banyak badai dimusim hujan, dan kebanyakan orang tidak akan mau menemani kita turun menembus hujan dan membantu kita untuk meraih apa yang ingin kita tuju. Kebanyakan mereka tidak ingin basah dan celaka oleh badai, dan memilih diam ditempat hangat dan melihat kita berjuang sendirian di balik kaca jendela.


    Kadang aku sudah muak dengan hidup dan merasa ingin mengakhirinya, tapi aku sadar bahwa mati bukanlah jawaban, bukan solusi dari semua persoalan. Aku harus menghadapi apapun yang memang harus aku hadapi, meskipun harus seorang diri. Terimakasih Tuhan telah menguatkan aku hari ini dan tetap membuatku tegar untuk bisa melewati pagar-pagar berduri dan tekanan dari manusia yang kadang membuat rasa menjadi semakin gila.

Aku baik-baik saja, semoga Tuhan segera turun tangan dan membantuku untuk bisa menelusuri kembali jalan kehidupan yang penuh rintangan dan ujian.


Jendela waktu,

Mereka mengunci rapat semua pintu!

Lalu berteriak tentang kata “menunggu”

Dan aku terbujur kaku..

Berjalan tertatih-tatih menembus hujan

Demi payung yang harus segera aku kembalikan


Hujan deras dan petir terus menyambar-nyambar

Aku ketakutan!

Badanku basah dan tubuh menggigil parah

Tapi, mereka tak peduli!

Mereka hanya ingin payung itu kembali

Sebab mereka mau berjalan di bawah hujan,

Tanpa perlu kedinginan…


Aku basah,

Pasrah..


Saturday, November 13, 2021

19

 


Mendung, langit berduka sekali lagi. Kilatan cahaya, petir yang merangsak masuk mengusik kedamaian. Aku lelah menuliskan judul tentang kesedihan. Merangkai not-not yang bersenandung tentang pekatnya airmata. Hidup selalu memberikan peran tanpa mau berkompromi. Menikam tawa pada gelapnya realita.


Aku tak pernah punya pilihan untuk kembali. Untuk sejenak membayangkan bahagianya menjadi seorang anak kecil. Tak ada yang lebih baik, entah itu masa kanak-kanak atau sekarang ketika menginjak dewasa. Kadang-kadang aku mendengar orang lain selalu ingin kembali ke masa kecil karena tidak ada beban pada masa itu. Tapi aku? 

Aku tidak ingin kembali kepada masa dimana aku diperkenalkan dengan ketidak bahagiaan dan pahitnya derita hidup. Aku tahu, kesedihanku saat ini juga merupakan warisan masa kecil dimana aku tidak tahu tentang apa itu kebahagiaan.


    Sekarang, aku tahu bagaimana buasnya dunia luar yang dulu aku kira indah. Aku pun jadi tahu bahwa kita tidak akan bisa lari dari ujian hidup selama kita masih bernyawa. Padahal, waktu kecil aku ingin segera menjadi dewasa. Aku ingin bisa mewujudkan cita-cita. Cita-cita yang kadang berubah-ubah, dari mulai ingin menjadi guru, dosen, lalu pengusaha.

Aku sudah mewujudkan  beberapa cita-cita itu dan yang terberat adalah menjadi seorang pengusaha. Banyak sekali rintangan dan tantangan yang aku hadapi didunia usaha. Rintangan dan tantangan yang seringkali membuatku berpikir ulang tentang tujuan hidupku sebenarnya. 


    Ada banyak PR yang harus aku selesaikan secepatnya. PR yang membuat aku tidak boleh menjadi seorang yang cengeng dan rapuh. Aku yakin, Allah akan memberikan kado terbaik atas semua ujian kesabaran yang kita alami. Aku tahu itu, meski kadang-kadang aku perlu untuk memotivasi diriku sendiri agar tetap bisa semangat dan optimis dan tidak terpengaruh oleh hal-hal lain yang bisa meruntuhkan keyakinan untuk bisa bangkit dan meraih sukses.


    19, aku tidak tahu kenapa aku memberi judul dengan angka ini, namun aku masih penasaran dengan misteri di balik angka 19 yang kerap terjadi kepadaku. Angelina Yofanka berusia 19 tahun ketika meninggal dunia di Sungai Cikandang pada tahun 2012 (aku menjadi media perantara untuk kemudian mendoakannya di sana), 19 Juni 2012 pertama kali aku jadian dengan orang Jakarta yang merupakan kesalahan terbesarku, Nike Ardilla berusia 19 tahun ketika meninggal dunia (akhir 2020 dan awal 2021 almarhum datang lewat mimpi, dll dan aku menjadi media perantara untuk datang kepada keluarganya dan mengadakan tawasullan di sana), dan hari ini aku batal puasa dalam rangka puasa Nabi Musa (40 hari), karena menstruasi, sehingga total aku puasa hanya 19 hari (dari tanggal 25 Oktober 2021). Entahlah, banyak sekali yang aku alami dan semua berkaitan dengan angka 19.


    Dan kali ini, di saat suasana hatiku sedang tidak menentu, aku memberi judul tulisan ini dengan angka 19. Angka yang aku pikir menjadi ujung kebahagiaan terbaik saat aku berusia 19 tahun, sebab ketika aku berusia 20 tahun, ujian-ujian hidup mulai datang satu per satu.


    Sore ini, hujan masih turun dengan deras. Aku menulis sambil mendengarkan alunan piano yang indah yang sangat aku sukai sejak aku balita. Kadang-kadang hanya musik seperti itu yang bisa menggerakkan intuisi aku sehingga menjadi lebih peka terhadap apapun. Musik yang kali ini seakan tengah mewakili suasana hatiku yang begitu kusut.


Harapan


Dia yang duduk menggenapkan doanya,

Pada letupan amarah yang berapi-api

Sunyi yang menjadi genderang pada gentingny hari

Ranting-ranting patah yang tak bisa disatukan lagi

Aku bertanya kepada hujan,

Mengapa langit menjadi begitu basah?

Mengapa waktu tidak bisa menunda putarannya meski hanya satu detik?

Mengapa semua bisa berkelana, namun aku tersesat pada dunia maya?

Mengapa??

Mengapa lilin-lilin itu padam, di saat aku butuh cahaya?

Mengapa kuda-kuda itu pergi, di saat aku butuh untuk mengejar mimpi?

Mengapa peta itu hilang, disaat aku tengah mencari jalan pulang?

Tak ada satu pun yang tersisa,

Seperti setia yang hanya bualan kata-kata..

Semua menjauh,

Sebab hujan baru saja turun dan mereka tidak ingin menjadi basah..


Sendiri menjadi rumah paling setia untuk kita tahu apa itu “mandiri”. Seperti “harapan” yang akan terus memotivasi meski kita tengah berada di dasar jurang kematian.

Tak usah bergantung kepada siapapun yang akhirnya bisa pergi dan menyakiti. Sebab pada akhirnya, hanya Dia saja yang bisa mencintai, bukan menghakimi atau bahkan pergi dan membenci.