Friday, August 31, 2012

Ku namakan dia Embun. Ya, Embun… sebuah nama yang berarti kesejukkan. Sebuah nama yang pernah menyisipkan damai dalam gersang jiwa yang berkepanjangan.

Ku namakan dia Embun. Entah bagaimana mulanya, tapi yang ku ingat adalah sebuah kalimat indah yang keluar dari bibirnya malam itu, “Aku merasakan hal yang lebih dari jatuh cinta, ketika aku bersama kamu.” Aku nyaris tak percaya dengan apa yang diucapkannya. Ini seperti petir dipetala siang atau mentari yang muncul tiba-tiba digelap malam. MUSTAHIL.

Ya, Ku katakan mustahil, karena dia yang aku kenal bukanlah pribadi yang terbuka dan mudah percaya kepada orang lain. Tapi, kali ini ada yang lain, ada binar-binar indah dimatanya. Ada simpul senyum pelangi dibibirnya yang aku lihat setiap hari.

Ku namakan dia Embun. Mulanya memang biasa, tapi semakin lama, ada rasa yang tak biasa. Diam-diam kita lalui bersama, menjauh dari keramaian. Mulanya aku memandangnya biasa, tapi dia memandangku luar biasa. Ya, itu yang Ku tau dari ceritanya tentang kekagumannya padaku hari itu. Dia ceritakan tentangku yang sering membuat dia dan yang lainnya tertawa. Dia ceritakan tentang kegigihanku untuk menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh. Dia ceritakan tentang antusiasme aku di dalam kelas. Dia ceritakan tentangku yang bersinar dimalam LDKM (Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa), ketika aku terpilih menjadi Mahasiswa terbaik, memenangkan perlombaan drama dan membuat surat cinta. Dia ceritakan tentangku yang supel dan mudah bersahabat dengan siapa saja. Ya, Dia ceritakan semuanya, semua hal yang menurutku biasa saja. Mulanya memang biasa, tapi lama-lama semakin tak biasa, karena aku dan dia pernah berkorban dan saling mengorbankan. Ya, Ku lihat airmatanya disepanjang pagi, tatkala dia terpilih dihari itu. Ada rasa bersalah dan penyesalan Ku lihat dimatanya. Hatinya memang terlalu lembut , hingga ia mampu mengurai kata-kata yang tak aku ucapkan. Awalnya, dia memang tak dilibatkan dalam pemilihan ketua angkatan Himpunan Mahasiswa Manajemen, namun aku menyertakannya kemudian, hingga pada akhirnya aku dan dia harus mulai menerima kenyataan bahwa kita mulai bersaing. Aku terlalu percaya diri kala itu. Ya, para senior memang menilai intelektualitasku yang paling menonjol diantara semua kandidat, akan tetapi ada satu hal yang membuatku kalah darinya, yaitu tentang kedewasaan. Aku memang menang dalam hal voting dan sisi intelektualitas, namun nyatanya dia yang terpilih sebagai ketua angkatan yang baru, dengan alasan bahwa dia dewasa dan mampu merangkul teman-teman sekelasnya. Bahagiakah dia?? Entahlah. Yang aku tahu, dia tiba-tiba memberikan sebuah lilin kepadaku. Aku sempat bingung, tapi menurutnya lilin itu berharga, karena dia mau mengorbankan dirinya untuk menerangi orang lain. Aku terharu, tapi keegoisan dalam diri semakin tidak menerima bahwa aku telah KALAH dari seorang kandidat yang aku calonkan sendiri. Lucu memang, tapi itulah yang terjadi. Jadilah dia melihat kemurunganku dihari-hari berikutnya, tapi tak lama, karena dia mampu menciptakan kebahagiaan-kebahagiaan kecil tak terduga. Ku namakan dia Embun. Mulanya memang biasa, tapi semakin lama, kita menyadari bahwa kita terus bersaing, lepas dari sebutan bahwa kita bersahabat. Mereka selalu mengatakan bahwa aku lebih unggul darinya ketika berada di dalam kelas. Tapi nyatanya, dia yang mendominasi dalam hal melatih emosi dan kesabaran. Namun, di tahun-tahun berikutnya, aku kembali bertepuk tangan karena cahayaku mulai bersinar dan dia kalah dalam persaingan. Ya, ada beberapa babak yang aku menangkan ditahun itu. Pertama, ketika aku terpilih menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Manajemen yang baru, mengalahkan dua kandidat yang merupakan senior tingkat tiga dan empat, namun, yang tak aku percaya, dia tampak lebih bahagia dariku. Dia merangkulku penuh kehangatan dan malamnya kita bersenang-senang. Aku pun baru mengetahui bahwa malam itu dia menyelimutiku dan memandangku terus menerus, ketika aku tertidur disampingnya. Aku juga sangat berbahagia ketika pagi harinya, dia bersikap bak malaikat, menyediakan makan untukku, dll, hingga aku melihat satu hal yang terpancar dimata dia.. CINTA..

Ku namakan dia Embun. Kompleks memang kisah antara aku dan dia. Tapi yang aku tau, dia orang yang sangat menarik. Usianya lebih tua satu tahun dariku. Mulanya dia kuliah diperhotelan dan sempat magang satu tahun di salah satu hotel berbintang di Malaysia. Ya, dia cerita banyak tentang pengalaman dia di Malaysia, termasuk tentang pacarnya. Aku senang mendengar semua yang dia ucapakan, karena mulanya memang tak ada rasa yang akhirnya kita namakan CEMBURU. BIJAK. Itulah satu kata yang aku sematkan untuknya. Bagaimana tidak, ketika aku dan dia dipilih untuk menjadi perwakilan dari semester tiga yang mengikuti kompetesi manajemen se Indonesia, ternyata Dekan Fakultas Ekonomi lebih memilihku. Dia meneteskan air mata, seraya tersenyum.. namun dia berkata bahwa aku lebih berbakat di bidang itu.. dan dia akan terus mendukungku. Bijak, dewasa dan penuh pengertian… itulah dia. Nyaris berbeda denganku yang terlalu kekanak-kanakkan. Lagi, lagi dan lagi, Ku lihat kedewasaan itu. Dalam organisasi, aku yang dipercaya untuk mengikuti acara Debat Mahasiswa disalah satu radio di Bandung dan dia hanya tersenyum bangga. Banyak sekali mungkin kepribadian indah yang Ku lihat dalam dirinya yang tak dapat aku jabarkan dengan jelas. Namun, yang tak akan pernah aku lupakan adalah awal mula kita merasa tak ingin berpisah sama sekali, awal mula ketika ada rindu yang membuncah-buncah, awal mula ketika ada sarang kupu-kupu dalam perut dan awal mula ketika kita merasakan CEMBURU yang berlebihan. Dinamakan apakah, jika yang aku pikirkan hanya dia dan yang dia pikirkan hanya aku. Dinamakan apakah, jika kita bersemangat untuk pergi ke kampus, karena hanya ingin bertemu dengannya. Dinamakan apakah, jika kita saling berkirim pesan romantis, dengan panggilan ‘sayang’ atau ucapan ‘I love u’. Dinamakan apakah, jika salah satu dari kita dekat dengan orang lain, maka ada kata cemburu. Dinamakan apakah, jika ada rindu yang tidak terbendung satu sama lain, namun ketika bertemu hanya diam dan salah tingkah. Dinamakan apakah, jika setiap bertemu ingin berpegangan tangan dan kemudian merasakan getaran-getaran aneh. Dinamakan apakah ketika kita tengah tertidur, lalu dia menatap dalam, mengelus kening, lalu memeluk erat seperti takut kehilangan. Dinamakan apakah, jika ada sepasang sahabat yang mengenakan liontin couple?? Dinamakan apakah semua itu?? Bukankah itu CINTA?? Tapi, patutkah terjadi diantara kita?? Entahlah, kita tak ingin mengatakan bahwa yang terjadi diantara kita itu adalah cinta. Kita selalu menyangkalnya dan mengatakan bahwa kita adalah SAHABAT SEJATI. Benarkah sahabat sejati?? Berlebihankah yang terjadi?? Berlebihankah, ketika aku memberikan potongan pertama kue ulang tahunku hanya kepadanya, hingga sahabat-sahabat dekatku yang lain cemburu?? Berlebihankah, ketika aku tiba-tiba membatalkan acara ke suatu tempat bersama teman-teman dan pacar masing-masing, hanya karena dia tak punya pacar, lalu kemudian aku justru berlibur ke rumahnya. Berlebihankah, ketiaka kita kemana-mana berdua hingga ke acara pernikahan kakak kelas dan pulangnya kita ke kebun binatang?? Haha, ya sore-sore kala itu, kita pergi ke kebun binatang berdua dan penjaga kebun binatang mengira kita sudah janjian dengan orang lain yang telah menunggu di dalam. Dan kita akhirnya tau, sore hari kebun bintang sepi dan justru lebih banyak orang yang pacaran daripada rekreasi. Ku lihat kita salah tingkah berada di sana berdua. Haha. Berlebihankah, ketika kita mengikuti seminar di hotel itu dan aku hanya intens dengannya, hingga teman kita yang bernama ‘S’ menangis karena aku mengabaikannya?? Berlebihankah, jika aku putuskan pacarku dan mengabaikan lelaki yang jatuh cinta setengah mati hingga rela berkorban apa saja buatku dan semua hanya untuk dia?? Ya, aku tahu jawabannya sekarang. Aku tahu jawabannya ketika malaikatku tak bisa lagi membawaku terbang. Aku tahu. Ya, aku tahu mulanya dia berubah. Aku tahu, ketika sore itu aku pulang dengan wajah cemberut, lalu malam harinya dia menelpon dan ibuku yang mengangkatnya. Ya, aku tahu kesedihannya karena ibuku mengatakan bahwa aku sedang berada di rumah sakit karena sesuatu. Ya, aku tahu. Aku tahu, semenjak itu dia bersandar kepadanya. SAKIT. Memang sakit ketika hati terbagi dan dia tak pernah mengakuinya. Dia selalu bilang “Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya” Bullshit. Kata hati kadang sangat tajam. Aku sendiri yang akhirnya mengetahui sms-sms itu di HP nya sepulang aku dari rumah sakit. HANCUR.. KECEWA.. CEMBURU.. MARAH.. semua berbaur menjadi DIAM seribu bahasa. Aku pergi kemudian dan dia selalu tahu tentang apa yang tak aku ucapkan. Seribu kali dia menjelaskan bahwa dia hanya menjaga perasaanku. Katanya Aku lebih penting baginya daripada orang baru itu. Dia hanya bersandar kepadanya ketika dia bersedih karenaku. BENARKAH ITU?? Bullshit.. Dia selalu bisa untuk menjaga perasaan orang lain, tapi aku tak menyukai caranya yang menutupi itu dengan kebohongan. Kemudian dia katakan, dia tlah melepasnya.. dan ternyata itu BOHONG. Diam-diam namun tak diam, mereka terus menyembunyikan semuanya. Aku selalu mengatakan, apa salahnya jika JUJUR?? Walau menyakitkan, tapi tak akan sesakit ini. Dan perjanjian kita untuk mencari pasangan hidup setelah lulus kuliah, ternyata hanya isapan jempol. Aku yang terlalu bodoh untuk menamakannya Embun.

Ya, pada mulanya Ku namakan dia Embun.. namun pada akhirnya aku tak tahu lagi nama yang pantas bagi dia.. Karena aku tlah kehilangan diriku, kehilangan rasa akan hidup. Aku kehilangan airmata yang deras mengalir setiap harinya. Aku kehilangan pribadiku di tempat itu. Aku kehilangan kupu-kupuku. Aku over dosis akan rindu. Aku kehilangan semangat yang membuncah. Aku kehilangan banyak hal yang membuatku membeku di kamar itu. Diam, kosong dan hampa. DEPRESI Baru dua bulan setelahnya, aku memang bisa mengepakkan sayapku akan mimpi. Ya, aku aktif di lingkungan masyarakat. Prestasi dan karier justru berkembang, tapi hati?? Jujur, selama hampir tiga tahun hatiku mati. Ya mati, ya karena hatiku tlah menjadi makam kupu-kupunya dan tak ada lagi yang membuncah di sana.

Ku namakan dia Embun. Semuanya tlah berakhir.

Kisah kita tlah menjadi sejarah. Hidup harus terus berlanjut. Tapi hingga detik ini, aku belum bisa menjadi diriku. Ya definisikan sendiri apa maksudnya. Aku hanya butuh babak untuk mengakhirinya dengan baik.. hanya satu babak dalam balutan satu kata.. MAAF.. ***

Edcoustic Cinta Berkawan Seutas tali memadu simpul tawamu duhai kawan Simpulnya jatuh dipelupuk nurani yang tertambat cinta Cinta berkawan bersama nikmati semusim masa Disela kehangatan berkawan adalah aku pandang Satu persatu garis wajah duhai kawan penuh harapan Andai saja slalu bersama setiap masa sehati Reff : Suratan Tuhan kita disini menapaki cerita bersama Cinta berkawan karna sehati dalam kasih Illahi Tepiskan hal yang berbeda agar kisahmu teramat panjang Simpan rapi harapan berkawan selamanya..

No comments:

Post a Comment