Jingga dan Kenanga
Jingga panggil aku Kenanga..
Rasanya aneh, bila pagi ini rindu tak mengembun..
Dan hingar bingar suaramu masih menyapu guguran gelisahku..
Ah, malamku tlah kau rajut dalam ruas keyakinan..
Ya, detik ini aku percaya padamu Jingga..
Percaya bahwa kuntum yang membawamu pada tarian kebisingan..
Percaya bahwa akulah air yang mengisi gelas kosongmu..
Hanya aku..
Aku tersanjung, Jingga..
Hampir saja aku tertelan tawa renyahmu di batas kelana..
Haha,
sekali lagi, Jingga.. panggil aku Kenanga
Jadilah tungku bagi dinginku yang menyala..
Dan berpijarlah..
Aku terpesona oleh pijaran mata itu
Aku terpenjara oleh gelombang abu-abu disenyummu..
Sungguh tersipu malamku dalam kungkungan metamorfesa
Jadilah malamku tak terlelap,
ada tarian mimpi tertidur detik ini..
Karena rindumu tlah menjadi candu
Dan candu kini berbulir madu..
Kita bercengkrama diruang waktu..
Jauh, jauh, jauh memang jauh..
Jarakku, jarakmu, jarak kita..
Tapi kita berpijak dibumi yang sama..
Merengkuh titian manis dijendela rasa..
Aku terpukau oleh parasmu Jingga,,
Dan kau tertegun oleh anggunku Kenanga..
Ya, ini memang tentang aku dan kau..
Jingga dan Kenanga,
Dipermulaan masa…
(Ditulis tgl 19 Agustus dini hari)
No comments:
Post a Comment