Selimut Berbulu Angsa
Jingga, mengenalmu Dipersimpangan malam adalah sebuah mukzijat paling istimewa. Bagaimana tidak, kau lihat aku kala itu terdampar tanpa busana, menggigil kedinginan dipuncak musim dingin dan sekarat tanpa ada separuh kehangatan cinta.
Jangan kau katakan bahwa aku berlebihan, karena ini adalah bisikan suara hatiku yang mengendap dibilik hujan. Pernah Ku miliki selimut-selimut tebal sebelum kau, hangatnya memang bisa mencairkan kutub yang tengah membeku, tapi ada satu hal yang tak mereka miliki, yaitu kelembutan..
Jingga, Kau terlalu indah bila harus aku sematkan diantara butiran salju yang turun pagi ini. Kau berbeda dengan selimut-selimut tebalku ku dimasalalu, selimut-selimutku dari kulit macan, gagah dan mampu membawaku pada pusara keberanian. Kau berbeda dengan selimut-selimutku yang selalu mengaum tatkala gerimis datang dipermulaan senja. Itulah mengapa kau Ku panggil “Jingga”.
Jingga, tahukah kau, kenapa aku merasa damai menatap bias matamu kala itu?? Rasanya ada milyaran partikel bahagia mengendap dihatiku. Ahh, entah apa yang terjadi, tapi sekumpulan kupu-kupu merah jingga tengah bersemayam diperutku… menunggu kapan tiba saatnya mereka terbang menghampirimu.
Jingga, sulit aku uraikan tentang kegilaanku saat ini padamu.. Mungkin baumu masih membekas di sehelai kenangan yang Ku bawa, hingga kini aku terhipnotis oleh kerlingan mata sipit itu.. haha, ya mata yang menatapku tanpa malu, sedang aku masih menari diantara bahasa keraguan.
Jelaskan padaku jingga.. kenapa aku jadi menggilaimu?? Padahal kau yang mula-mula menyodorkan selimut itu, selimut berbulu angsa.. baunya harum, teksturnya lembut, penampilannya menawan dan dia mampu menghangatkanku dengan seribu keindahan.
Ahh, aku ingin mengatakannya lagi, mengatakan bahwa kini aku tak waras dan semua itu karenamu Jingga.. haha
Kau memang lain Jingga, bahasamu mampu mengurai diamku disudut pilu itu. Bahasamu mampu mengurai diamku tatkala bercucuran airmata. Diamku adalah bahasamu dan bahasamu adalah diamku.. ahh, sama saja memang, tapi nyatanya berbeda..
Kau adalah kata-kata dalam sajakku dan aku adalah sajak dalam bahasa mimpimu. Indah, ya tampaknya begitu.. tapi cemburu kadang mengusik helaian lembut itu.. membakar bulu-bulu angsa yang tengah merona. Dan lalu, kita menjadi abu, untuk kembali bersatu.
Jingga, kalau memang boleh, aku hanya ingin kau..
Kau yang aku pilih diantara antrian panjang sang penyamun
Kau yang aku istimewakan diantara selimut-selimut macan itu
Apa kau tau?? Kenapa begitu?? Karena kau spesial..
Kau yang pertama membangunkan nyawa duniaku..
Memelukku diantara ribuan mil jalan yang tertinggal..
Dan kau adalah malaikat jiwa yang tak lelah menunggu..
Jangan kau katakan lagi bahwa aku berlebihan… bukankah kau yang membuatku begini?? Kau yang menumbuhkan rasa diantara hidupku yang hambar.. Kau yang menyeka airmata tatkala aku terluka karena kepergian.. Kau yang mengisi hari-hari bernama Jingga..
karena itulah, Kau Ku panggil Jingga.
“Jingga, kenapa kau memilihku?? Kenapa kau rasakan cinta yang tiba-tiba padaku?? ” Tanyaku malam itu.. dan kau hanya menatapku... lalu.. muncullah kupu-kupu..
Sederhana memang, bilamana harus aku ceritakan tentangmu Jingga.. tapi, ada bahasa yang tak aku mengerti dari kerlingan matamu yang memudar.. ada rasa yang tiba-tiba hambar tatkala kau membaginya dengan sepoi angin kenangan dimasalalumu yang kau simpan.
Kau masih berahasia hingga detik ini Jingga.. Dan aku terkungkung diruang tanda Tanya.. tentang percaya.. tentang setia..
Sama dengan kerinduan tatkala pertama aku pandangi sosokmu diruas jalan itu.. Tentang kebersamaan tiba-tiba tanpa jeda, hingga tak aku lepaskan genggaman tangan itu.. dan aku berjalan bersama.. ke kotamu…
Ingatkah kamu?? Kau pernah menawanku dalam sunyi..
Tapi kemarin, Ku lihat sorot sendumu tampak lain.. selimut berbulu angsaku tak sehangat ketika pertama kali aku memeluknya.. Kau berubah…
Suhumu tampaknya tengah labil.. padahal jauh-jauh aku menghampirimu tanpa takut.. padahal jauh-jauh aku kendarai labirin rindu ini, hanya untuk satu hal.. menemuimu…
Tapi kau tengah bersiap dengan masalalu itu.. dengan gumpalan kenangan yang kembali menetas.. dan mungkin, kau akan memulainya lagi..
Lalu aku?? Kau tau rasaku mulai tak tentu arah, ada gelisah berpapasan dengan gundah… dan tampaknya tangisku pecah, tatkala kau urai sajak tentang dia.. tatkala kau katakan tentang kebahagiaaan-kebahagiaan kecil tak terduga.. dengannya..
Jingga, tolong raba asaku.. di sini ada bahagia dan gulana.. di sini ada rindu dan cemburu..
Tolong mengerti bahasaku… bahasa tanpa kata-kata..
Tolong lihat dermagaku.. di sana ada satu kata merah jingga..
Satu kata.. yang aku namakan “CINTA”
******
(Untuk Jingga… ditulis kala senja) 16 Agustus 2012 pukul 17:1
No comments:
Post a Comment