Monday, August 6, 2018

SENIN



    11.00, aku tiba juga dikantor setelah sebelumnya menahan rasa mulas dan mual sepanjang jalan. Aku melewatkan meeting mingguan pada pukul 09.00-10.00 dan aku kehilangan satu jam di kelas MDRT pertemuan kedua. Pagi ini aku diare terus menerus disertai rasa mual. Sepertinya itu gejala masuk angin atau mag, entahlah. Aku sering begadang hampir setiap hari, tapi baru kali ini rasanya badan tidak fit pada pagi harinya. Karena telat dan kondisi badan seperti ini, aku memutuskan untuk naik transportasi umum untuk datang ke kantor.

    Aku tak ingin melewatkan satu pertemuan pun dikelas MDRT. Selain karena kelas ini berbayar dan pesertanya terbatas, trainer di kelas ini juga merupakan orang yang luar biasa, dia adalah mantan presiden MDRT di Indonesia, selain itu dia juga penulis best seller di Gramedia. Pencapaiannya didunia asuransi sudah tidak bisa diragukan lagi.

    Pertama kali membuka pintu kelas, Mr D langsung menyapaku dengan menyebutkan nama.

    “Indri ya?”

Aku malu bukan main karena Mr D ternyata mengenaliku, padahal kita baru bertemu dua kali dengan hari ini. Dan dia biasanya tidak mudah mengenali banyak orang, karena dia sering menjadi pembicara dimana-mana, dan dikelas inipun, dia belum mengenali semua pesertanya.

    “Saya ingat Indri karena dia punya ide kreatif yang dia sampaikan pada pertemuan pertama.”
   
Ucap Mr D kepada para peserta yang hadir hari ini. Pada pertemuan pertama di kelas MDRT, aku memang sharing tentang cara menjual asuransi dengan cara yang unik yang tidak bisa aku jelaskan di sini. Caranya simple, mudah membuat orang bertanya lebih banyak dan membuat janji untuk bertemu dengan kita. Selain karena hal itu, di kelas ini baru aku seorang yang sudah menerapkan teknik NLP dalam melakukan penjualan, maka dari itu Mr D dengan mudah mengingat namaku.

    Beberapa menit sebelum jam makan siang, aku juga diminta sharing kembali oleh Mr D di depan kelas. Dan karena hal inilah, para peserta mulai mendekatiku dan bertanya lebih banyak tentangku, mulai dari kehidupan pribadi sampai hal-hal yang berkaitan dengan cara menjual yang kreatif, padahal para peserta di kelas ini rata-rata adalah para senior yang usianya jauh lebih tua dariku, tapi mereka tidak gengsi untuk bertanya dan belajar dari orang yang jauh lebih muda.

    Jika ditanya apa kelebihanmu? Maka, aku akan menjawab bahwa kelebihanku atau daya tarikku muncul saat aku berbicara, dan lebih seringnya adalah saat melakukan public speaking. Entahlah, tapi yang pasti kita memang harus sudah mengetahui kelebihan dan kekurangan kita sebelum melangkah untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita selama ini.
Tapi, karena daya tarik inilah kadang-kadang jadi bumerang tersendiri untukku. Seperti ketika aku berada di perusahaan lama, gara-gara orang kagum saat aku berbicara di depan umum, selain karena prestasi dalam penjualan, maka saat itu namaku mulai dikenali oleh banyak orang. Dan menjadi terkenal itu tidak selamanya menyenangkan, karena ketika prestasi kita turun, orang-orang dengan mudah mengungkapkan kekecewaannya, selain itu, ketika ada berita negatif tentang kita, maka beritanya dengan mudah tersebar luas dan menjadi bahan gosip.
Karena sebab itulah, pada perusahaan baru ini, aku tidak ingin dikenali oleh lebih banyak orang. Aku tidak ingin saat aku berprestasi, maka orang-orang mulai kagum dan ingin belajar lebih banyak dariku. Aku tidak ingin seperti itu. Aku justru ingin lebih banyak belajar dari orang lain. Aku ingin mendengar, memahami dan menerapkan apa yang perlu aku terapkan dalam hidupku. Aku tidak ingin terkenal.

    KALENDER
Tandai tanggal-tanggal dikalender.
Tanggal dimana hasrat lebih kuat dibanding iman.
Jangan berbohong, tak usah berpura-pura!
Dimana tanggal itu berada?
Tanggal-tanggal yang tanggal tatkala baju ditanggalkan.
Dan nafsu meluap-luap seperti dosa yang hendak dituliskan.

Ingatkah harinya?
Dimanakah bulannya?
Tanyakan saja!
Itu dosa..
           
            
          

Sunday, August 5, 2018

PASSION


    Kesempatan tidak pernah datang dua kali, itu yang sering dikatakan oleh orang-orang selama ini, termasuk sahabatku yang masih membujukku untuk menjadi model pakaian muslimah. Aku menolak bukan karena harus menjalani proses mulai dari sekolah modeling, dll, tapi lebih dari itu, aku tidak ingin menjadi orang lain. Aku tidak mau memakai apa yang tidak mau aku pakai, aku tidak menyukai aturan dan keteraturan. Itu hal terbaik dan terburuk yang ada dalam diriku. Aku menyukai kebebasan.

    Dari jaman ketika badanku masih sekurus triplek dan belum berkerudung, aku sempat ditawari untuk menjadi model, namun aku menolak dengan tegas, selain merasa tidak percaya diri, tidak suka difoto dan tidak suka keramaian, keluarga juga tidak mengijinkan, karena model selalu memiliki konotasi negatif dimata mereka, seperti harus mengumbar aurat,dll.
Namun, kali ini fashion islami tengah mendunia dan kesempatan itu datang lagi. Peluang datang disaat aku tengah belajar untuk fokus. Dengan iming-iming penghasilan, karier dan jalan-jalan ke luar negeri untuk fashion show, dengan tidak harus mengumbar aurat, siapa yang tidak mau? Tapi, intinya kita harus melihat passion kita lagi, apakah sudah tepat dibidang itu atau belum. Apa itu yang kita mau? Apa itu yang membuat kita berhasrat dan menggebu-gebu untuk melakukan sesuatu? Jika bukan, lebih baik tinggalkan.

    Relasi dan jaringan memang mempermudah semuanya. Aku mendapat kemudahan untuk bisa masuk didunia modelling, tapi sepertinya aku belum bisa mengambil peluang itu. Aku tidak mau susah payah menurunkan berat badan, mempertahankannya dan ah entahlah sepertinya aku tidak berbakat dibidang itu. Jika tujuannya hanya uang, aku rasa segala sesuatunya tidak akan bertahan lama.

    Aku tidak suka memakai gamis. Aku tidak suka memakai apapun yang tidak aku inginkan. Aku menyukai fashion, tapi aku bukan orang yang fashionable. Aku sering mengadakan acara-acara besar yang berkaitan dengan fashion, salah satunya adalah fashion show yang memanfaatkan sampah non organik untuk menjadi gaun atau baju apapun. Lomba ini pernah diselenggarakan dengan bantuan dari dinas pariwisata dan salah satu mall di Bandung. Aku menyukai seni dan kreativitas. Fashion adalah salah satu wadah untuk menyalurkan seni dan kreativitas.

    Aku masih ingat ketika mendapat hadiah “Glamour Camping” dan malam harinya ada acara fashion show, aku tampil sangat total dan tidak ada rasa malu. Malam itu temanya adalah fashion era 70an. Aku memakai celana kulit cutbray, leather boots high heels (5cm), kemeja putih berenda, rompi, topi, syal dan kacamata hitam dan syal dengan hiasan berkilau yang aku ikatkan dipinggang. Tanpa rasa malu, aku berlenggak lenggok di depan penonton yang rata-rata adalah senior-seniorku. Saat itu banyak yang memujiku dan mereka mengatakan bahwa ide aku kreatif dan sesuai dengan tema.
Malam itu aku masuk lima besar yang terpilih sebagai yang terbaik. Aku senang, bukan karena lombanya, tapi karena aku senang melakukannya. Apakah ini yang disebut passion?

    Juli 2017, aku juga menang saat fashion show dengan tema colorful. Aku tampil out of the box, begitu yang disampaikan oleh salah satu Agency Director.
Aku senang berkreasi, aku cinta dunia kreatif, jiwaku ada dalam seni. Dan jika seperti itu, aku lebih suka menjadi perancang busana dibanding modelnya.

    Menulis, melukis, mengarang lagu, merancang busana, mendesign sepatu dan membuat ide-ide bisnis, itulah passion aku dan jika boleh dirangkum, semua adalah berkaitan dengan kebebasan berekspresi. Aku tidak suka sekat. Aku tidak ingin didikte. Aku ingin orang tahu apa yang aku rasakan, apa yang meluap-luap dihatiku, apa yang menguras air mataku, apa itu kebahagiaanku, apa kesedihanku. Dan media untuk meluapkan semuanya adalah seni.

    Model dan perancang busana jelas berbeda. Model hanyalah orang yang memperagakan, sedangkan perancang busana adalah otak dari semuanya. Aku mau menjadi model, jika apa yang harus aku pakai sesuai dengan yang aku mau. Aku mau menjadi model, jika apa yang harus aku tampilkan selaras dengan jiwaku.

    Kita tidak bisa mengejar dua merpati secara bersamaan dan berharap dua-duanya bisa kita dapatkan, karena yang ada justru kita akan kehilangan semuanya.
Itu pulalah yang harus aku terapkan juga dalam pekerjaan. Sekarang, Aku tengah menjalankan usaha dibidang kuliner dan disaat bersamaan juga menjadi agen asuransi. Baru melakukan dua hal ini saja, kadang aku tidak bisa membagi waktu dengan seimbang, karena aku lebih dominan menjalankan tugas sebagai agen asuransi. Bukan tanpa alasan, hal ini aku lakukan karena resiko sebagai agen asuransi jauh lebih kecil, tanpa modal dan uang bisa didapatkan lebih cepat dengan kenaikan yang drastis, berbeda dengan usaha kuliner yang sudah aku jalani selama ini, resikonya jauh lebih besar dan keuntungan berbanding lurus dengan modal dan tenaga yang sudah kita keluarkan. Saat kita tidak beraktivitas, maka penghasilan juga ikut terhenti, itulah yang aku alami saat berbisnis kuliner. Lain halnya saat menjadi agen asuransi, saat mendapatkan satu nasabah, aku menerima komisi selama 5 tahun, terlepas dari aku sering datang ke kantor atau tidak, sehat atau sakit, komisi masuk terus menerus.

    Aku tahu bahwa passion aku memang didunia seni, tapi saat berkecimpung didunia asuransi, aku juga tengah berkecimpung didunia seni, diantaranya adalah seni untuk menjual, seni untuk menyentuh hati orang lain, sehingga mereka membeli karena keinginannya, bukan karena paksaan atau karena kasihan kepada kita.

    Bersyukur adalah cara paling mudah untuk menemukan kebahagiaan dalam diri. Apapun yang belum bisa kita capai hari ini, jangan dijadikan alasan untuk berhenti melangkah dan menemukan tentang siapa diri kita yang sebenarnya.

    Kadang-kadang kita ingin tinggal pada hari ini dan tidak mau menemui hari esok. Kadang-kadang kita begitu takut dengan sesuatu yang kita ciptakan sendiri, dengan bayangan-bayangan dan imajinasi yang belum tentu terjadi.

    “Hadapi, hayati, nikmati!”

Itu adalah salah satu pesan yang pernah aku lihat dari cuplikan film motivasi. Dan aku setuju bahwa cara untuk membuat hati damai saat dilanda masalah besar adalah menghadapinya, lalu hayati prosesnya dan nikmati apapun hasilnya, maka dengan begitu kita bisa merasakan kebahagiaan.
Bukankah apapun yang kita lakukan saat ini, tujuan akhirnya adalah untuk bahagia? Jadi, lakukanlah sekarang juga, HADAPI SEMUANYA DAN TEMUKAN KEBAHAGIAAN KITA!

Biarkan tangan-tangan Tuhan yang bekerja, tapi kita jangan diam. Terus bergerak, lakukan apa yang bisa kita lakukan, berikan yang terbaik!
Bissmillah, sertakan Dia dalam segala urusan.


Saat menjadi model Makeup Artist 

Saturday, August 4, 2018

4 Agustus 2018



   
    Di Gedung Bank Jabar Banten, Bandung. Seperti biasa, hari ini aku harus menghadiri acara Asosiasi Home Industri Indonesia yang terbatas hanya untuk 50 orang peserta yang sudah daftar jauh-jauh hari. Kali ini aku memilih warna hitam, mulai dari jaket kulit, baju, jeans, hingga sepatu docmart.
Selain sesi tentang permodalan UMKM dari AHINDO dan sosialisasi produk BJB, ada juga sesi motivasi yang dibawakan oleh perancang busana muslim, Indri Albis, hingga terakhir adalah fashion show dari karya-karya Indri Albis sendiri.
   
    Acara dimulai pada pukul 10.30, setelah sebelumnya para peserta terlebih dahulu registrasi pada pukul 10.00. Aku datang bersama Ibu Linda dan ketika sampai ditempat seminar, kita memilih duduk dikursi paling depan. Dan karena duduk dikursi paling depan dengan penampilan seperti ini, ada sebagian peserta yang salah kaprah dan mengira bahwa aku adalah Indri Albis. Pantas saja rasanya sedikit aneh, ketika salah satu peserta yang tak lain adalah pengusaha sepatu yang sudah senior di Cibaduyut, Pak S tersenyum dan menghampiri aku serta Bu Linda, seraya menanyakan sesuatu yang membuat aku dan Bu Linda ingin tertawa seharian,

    “Ini dari Albis?”

Mendengar hal itu, sontak aku menjawab bukan. Bu Linda lalu cekikikan mendengar itu, lalu berbisik kepadaku,

    “Pantes ya daritadi rasanya aneh. Mungkin orang-orang mengira kamu itu Indri Albis dan aku asistennya, hahaha.”

Ada-ada saja memang. Terutama dengan Pak S ini. Dia bukanlah orang sembarangan, dia bahkan menjadi sponsor yang menyediakan tempat di Cibaduyut untuk para peserta AHINDO agar bisa memasarkan produknya, selain itu, Pak S juga merupakan pemilik saham dibeberapa perusahaan properti. Para peserta hari ini memang kebanyakan adalah pengusaha dan usianya juga rata-rata sudah tidak muda lagi. Hadir pula salah satu pemilik radio di Bandung, Jendral dan beberapa politisi dari partai politik. Ini adalah kesempatan emas bagiku untuk menjalin kerjasama, salah satunya adalah kerjasama dengan Pak A yang akan mencalonkan diri menjadi anggota DPRD dan proposal kerjasamanya sudah aku berikan tadi.

    Indri Albis hadir agak telat memang dan sebagian orang yang mengira bahwa aku adalah Indri Albis, akhirnya bisa melihat orangnya langsung. Aku dan Bu Linda masih cekikikan saat sesi motivasi dengan Indri Albis dimulai.
   
    “Indri Albis yang asli udah datang tuh, hahaha.”

Bu Linda masih saja mengingat kejadian sebelum ini dan senyum-senyum tidak jelas. Namun, ketika Indri Albis mulai bercerita tentang kisah jatuh bangunnya didunia bisnis, semua terdiam dan bahkan ada yang ikut menangis.
Dia bercerita bahwa usahanya didunia fashion sempat mengalami kejayaan hingga dia membuka 30 cabang diseluruh kota di Indonesia dengan omset milyaran rupiah. Saat itu, dia sangat sibuk sekali dan tidak memiliki banyak waktu untuk keluarga. Ketiga orang anaknya memiliki baby sitter masing-masing. Dan dia seringkali meninggalkan keluarganya untuk pergi keliling kota di Indonesia untuk memantau cabang-cabang bisnisnya, selain itu, dia juga harus melakukan fashion show hingga ke luar negeri.
   
    Namun, roda tak selamanya di atas. Indri Albis juga sempat berada pada titik terendah dalam hidupnya, hingga 30 cabang usahanya sebagian ditutup. Pada titik itu, dia sempat berpikir untuk mundur dari usaha fashion, namun berkat suami dan mertuanya, dia memutuskan untuk bertahan. Hutang dimana-mana dan tekanan demi tekanan dari relasi bisnisnya mulai berdatangan satu persatu, namun hal itu tak membuat Indri Albis putus asa.
Dalam perenungan yang panjang, dia kemudian menyerahkan semua kepada-Nya. Dia berusaha memperbaiki kesalahan-kesalahannya dimasalalu. Dia memulai untuk belajar ikhlas dan tawakal. Dari situ, dia perlahan-lahan bisa bangkit. Dia sadar bahwa selama ini yang dia kejar adalah uang, bukan ridha-Nya.

    Sekarang, Indri Albis hanya memiliki 5 cabang usaha, namun semua terasa menguntungkan dibanding ketika dia memiliki 30 cabang, karena sekarang yang dia tekankan adalah bisnis yang lilahita’ala, yang tujuannya adalah mencari ridha-Nya. Karena hal inilah, Indri Albis mulai memprioritaskan kegiatan sosial. Dia berpesan bahwa hidup tidak selamanya hanya untuk mencari keuntungan duniawi, karena tujuan sebenarnya yang ingin kita capai bukan melulu soal materi. Dia juga berpesan bahwa saat kita berada dititik terendah dalam hidup dan sudah ikhtiar semaksimal mungkin namun tidak ada hasil, jangan pernah mengeluh, karena ketika kita mengeluh dengan mengatakan bahwa kita sudah ikhtiar mati-matian, tapi hasilnya nol besar, sebenarnya saat itu kita tengah menuhankan ikhtiar, bukan Tuhan. Maka dari itu, saat kita terpuruk, yakinlah bahwa Tuhan akan menolong kita dan semua hanyalah masalah waktu. Dia tahu kapan waktu terbaik untuk menyelesaikan semuanya.
   
    “Aku adalah sesuai prasangka hamba-Ku!”

Jadi, teruslah berpikir positif dan lakukan apa yang kita bisa lakukan dengan sebaik-baiknya, karena hasil tidak akan mengkhianati ikhtiar dan ikhtiar tidak akan sia-sia jika kita ikhlas melakukannya dan tawakal dengan hasil apapun yang kita terima.






With Indri Albis (Kerudung Cokelat)








Friday, August 3, 2018

LAGU


Lagu lama..
Dan ia memutarnya berulang-ulang.
Rima yang mulai tak seirama,
Melodi yang perlahan-lahan pergi,
Dan not-not yang tak bisa terbaca lagi.

Lagu apa?
Apa yang sedang kau mainkan dalam kepalamu?
Jemari dan suara tak seharusnya bertentangan.
Apa yang kau pikirkan?

“TERIMAKASIH”
Judulnya terimakasih, tapi isinya adalah tanda tanya.
Apa yang mau kau tulis pada bait bertama?
Ah, mungkin tak pernah ada lagi bait-bait selain judul.
Kadang-kadang judul adalah isi pada bait pertama dan terakhir.

Apa yang kau pikirkan kali ini?
Lagu ini tengah aku putar dalam hati.
Aku tak bisa menghentikannya!

Datanglah sekali lagi!
Akhiri buncahan ini!

Thursday, August 2, 2018

Suaranya


Debaran itu, dan getar yang melintas begitu saja. Rasanya seperti jatuh di atas langit,  melayang, mengawang-awang.
Suaranya merengkuh peluhku hari ini.
Berdebar-debar dan masih terasa asing.
Dan frekuensinya menarikku hingga sampai pada gelombang yang pernah menari diantara pusara hati.

Lembut,  lembut, begitu lembut..
Suaranya memukau gendang telingaku!

Ah,  rasanya begitu membuncah..
Aku teringat lagi!

Wednesday, July 25, 2018

DAILY ACTIVITY




Sabtu, 21 Juli 2018

    Dari sekian orang yang aku undang untuk hadir dalam acara ZMS (Acara untuk merekrut agen), akhirnya aku berhasil membuat Ibu L dan Pak R datang. Ibu L adalah salah satu nasabahku, sedangkan Pak R adalah seorang senior yang sudah melanglang buana ke mana-mana. Dia sering mendapatkan trip ke luar negeri dan dia sering mendapatkan closing besar di Perusahaan B (Kerugian). Aku mengenal Pak R sudah cukup lama, yaitu pada tahun 2010 saat aku masih kuliah dan bekerja di salah satu perusahaan Trading Valas, hingga kemudian pada akhir 2017, kita bertemu lagi di perusahaan B, dan dia adalah Suvervisor RC di situ.
Satu kebanggaan tersendiri untukku yang kemudian bisa merekrut Pak R menjadi agenku di Perusahaan Z (Life) tanpa paksaan, padahal menurut Pak R, sebelumnya Ibu H (Agency Manager) dan Ibu N (Agency Director) sudah membujuknya berkali-kali untuk menjadi agen mereka.
Ibu N juga cukup kaget ketika dia masuk ke kelas ZMS dan melihat Pak R sudah berada di salah satu kursi di dalam kelas. Ibu N juga menceritakan bahwa susah sekali membujuk Pak R untuk menjadi agen. Mendengar hal itu, aku jadi ingin tertawa sepanjang hari, alasannya adalah sederhana, karena sebenarnya pada hari jumat, aku mengajak beberapa orang datang tanpa memberitahukan bahwa aku akan merekrut mereka di perusahaan Z. Aku tahu beberapa hal yang bisa memancing Ibu L dan Pak R datang menemuiku, dan aku memakai cara itu. Aku memakai cara tersebut hanya agar mereka datang terlebih dahulu tanpa paksaan dan mendengarkan trainer menjelaskan tentang perusahaan, produk, jenjang karier, komisi dan bonus-bonus yang akan diberikan jika calon agen bergabung di sini. Alhasil, mereka kemudian mulai tertarik, meskipun masih ragu-ragu untuk masuk.

    Selesai kelas ZMS, aku mengajak mereka ke Jl Braga. Tadinya kita akan makan siang disalah satu Cafe milik teman aku, namun ternyata sebelum jam 12, makanan masih belum ready. Kemudian, kita memutuskan untuk makan di Upnormal yang tidak jauh dari situ. Pak R tampak tak punya banyak waktu saat di Cafe, karena dia harus menjemput anaknya, namun dia menyempatkan minum kopi hangat karena aku terus membujuknya. Aku juga tidak berhenti meyakinkan Pak R untuk jadi agen. Dia kemudian setuju dan akan mengirimkan persyaratannya setelah sampai di rumah.
Hari itu, aku juga memiliki janji dengan H (agen Ibu N yang sedikit memiliki perbedaan mental dengan teman-teman lainnya) yang selalu ingin belajar dariku. Aku kemudian meminta dia datang ke Upnormal.
Hari itu, aku menghabiskan waktu bertiga di Cafe. Aku mencoba mengajarkan teknik kanvasing kepada Ibu L dan H. Berhasil, kasir di tempat itu kemudian mau menjadi nasabah. Selesai dari Upnormal, kita datang lagi ke Cafe temanku, meskipun temanku tidak berada di situ, namun aku bertemu managernya dan kemudian menjelaskan kerjasama untuk mengelola kesejahteraan karyawaan dalam bidang kesehatan (pengganti BPJS) dalam bentuk tabungan. Dan manager tersebut menyambut hangat kerjasama itu dan dia akan mendiskusikannya dalam meeting dengan owner dan karyawan.

    Selesai coaching dan kanvasing dengan agenku, aku menemui teman lama yang suaminya baru saja meninggal pada Bulan Februari 2018, namanya Ibu T. Sebelumnya, aku sudah datang ke tempatnya, namun dia tidak berada di sana. Aku lalu menitipkan kartu namaku pada orang yang sedang duduk di OP Warnet (Temanku ini memiliki usaha warnet dan rental mobil).
Dan hari ini, saat aku ke tempatnya, dia bercerita bahwa laki-laki yang waktu itu aku berikan kartu namaku, tak lain adalah bandar ayam dan dia mau daftar jadi nasabahku. Aku senang bukan main, karena aku tidak menjelaskan apa-apa kepada orang itu, namun dia mau menjadi nasabah, mungkin temanku yang punya andil di sini, karena setidaknya dia pasti menjelaskan tentang aku kepadanya. Selain bandar ayam itu, temanku T juga masuk menjadi nasabah pada hari ini. Dia bercerita bahwa saat ini dia sungguh merasakan beratnya menjadi tulang punggung, terlebih lagi suaminya tidak meninggalkan apapun untuk dia dan keempat orang anaknya. Dia menyesal, seharusnya dulu sebelum suaminya sakit, dia sudah sadar tentang asuransi. Sekarang, warisan satu-satunya yang ditinggalkan suaminya adalah hutang bekas berobat. Karena hal itulah, Ibu T kemudian membuka polis asuransi.

Minggu, 22 Juli 2018
   
    Hari ini aku harus datang pada acara kopi darat pertama, Asosiasi Home Industri Indonesia di Cafe temanku di Jl. Braga. Pagi harinya, seperti biasa aku memproduksi susu kedelai, selain untuk dikirim ke toko-toko, aku juga membawa sample dan pesanan beberapa peserta Asosiasi Home Industri Indonesia.
Sebelum berangkat, aku meminta sepupuku untuk memakaikan makeup sederhana untukku. Namun, berbeda dengan makeup salon pada acara dinner, kali ini wajahku terlihat jadi lebih gelap. Mulanya aku tidak sadar dengan hal itu, dan berangkat seperti biasa.
Aku menjemput Ibu L terlebih dahulu, hingga akhirnya datang terlambat ke acara karena Ibu L sangat lelet (dandannya sangat lama).
   
    Saat sampai di Cafe, acara berlangsung di lantai dua. Singkat cerita, hari itu aku cukup memberikan kesan yang baik tentang produkku saat diberikan waktu untuk mengenalkan diri, padahal peserta yang hadir adalah para senior yang rata-rata usianya lebih tua dariku, dan sebagian peserta sudah memiliki perusahaan besar yang rutin mengekspor produk ke luar negeri.
Aku berusaha agar bisa berbicara lantang ketika mengenalkan diri dan mengenalkan produk. Aku tidak ingin saat aku berbicara, masih ada peserta yang ngobrol ke sana kemari. Alhasil, saat aku berbicara, suasana menjadi jadi hening.
Usai acara, banyak peserta menghampiriku dan memuji packaging dan keunggulan lain dari produkku. Mereka kemudian meminta nomor telepon. Dan saat aku memberikan kartu nama, mereka kemudian bertanya, “Di Asuransi juga?”. Aku hanya nyengir dan tidak menjelaskan apa-apa. Dulu aku selalu gengsi menunjukkan kartu nama itu, namun sekarang mindsetku berubah. Kenapa harus gengsi? Merry Riana saja bisa sukses dibidang itu. Hingga kemudian salah peserta dari Subang bercerita bahwa dia juga nasabah di perusahaan ini. Jadilah kita ngobrol panjang lebar.
    Selesai dari Cafe temanku, aku mengajak Ibu L untuk makan di Cafe sebelahnya, karena aku suka dengan menu-menu western dan live music di sana. Jadilah kita makan di sana hingga pukul 19.30. Dan saat hidangan penutup tiba, aku melihat rombongan bule masuk. Diantara mereka ada Pak I (teman Pa X yang sama-sama pengusaha). Aku memanggilnya, dan ternyata Pak I datang dengan Pa X. Kemudian kitapun bergabung dalam satu meja.
Aku dan Ibu L yang mulanya bersiap akan pulang, harus duduk kembali, terlebih saat Pa X menelpon temannya yang akan mencalonkan diri menjadi anggota legislatif agar datang ke Cafe. Temannya tersebut yang akan membuat kartu asuransi kecelakaan diri untuk para kadernya, dll. Pukul 21.00, Pa D datang dan akhirnya deal membuat kartu, namun dia akan masuk pada bulan September, karena nomor urut Caleg akan diumumkan pada bulan September. Walau sedikit kecewa karena harus menunggu hingga September, namun aku bersyukur karena bisa closing besar.
Hari ini aku sampai di rumah pukul 22.30, dan ayahku sedikit marah pada ibu dengan tuduhan-tuduhan yang negatif, karena hampir setiap hari aku pulang malam, namun kali ini cukup larut sekali dan aku memakai makeup (padahal sangat tidak PD karena makeup nude, wajah jadi berwarna cokelat tua).

Senin, 23 Juli 2018

    Hari ini meeting pukul 09.00 hingga pukul 10.00, setelah itu ada kelas MDRT (Kelas khusus dan berbayar bersama ex Presiden MDRT Indonesia, tujuannya adalah agar peserta cepat menjadi MDRT/penghasilan agen asuransi yang mencapai millyaran dan kelas ini diadakan beberapa bulan). Dan lagi-lagi aku terlambat karena menjemput Ibu L dan dia dandan sangat lama, sedangkan hari ini aku sudah tidak ingin memakai makeup lagi (ribet). Kita tiba pukul 10.00 saat meeting sudah selesai dan akhirnya kita masuk kelas MDRT, padahal sebelumnya aku tidak daftar untuk masuk kelas itu. Namun, aku tidak menyesal saat masuk kelas MDRT. Hari pertama di kelas ini, Pak D mengajarkan tentang NLP (neuro linguistic programming) dan aku sangat menyukai topik itu. Dan di kelas ini ternyata baru aku seorang yang sudah tahu dan menerapkan NLP dalam kehidupan sehari-hari, hingga kemudian aku diminta untuk sharing.
   
    Selain NLP, ada sesi menarik saat Pak D menyuruh para peserta memilih simbol yang kita sukai, diantaranya kotak, piramida, huruf Z dan terakhir adalah lingkaran. Hanya aku sendiri yang mengacungkan tangan saat memilih huruf Z yang aku sukai, sedangkan semua peserta di kelas memilih lingkaran. Pak D kemudian menjelaskan arti dari masing-masing simbol. Orang yang memilih kotak adalah orang pintar dan tegas dalam mengambil keputusan. Orang yang memilih piramida adalah orang yang bijaksana, menyukai kedamaian,dll. Orang yang memilih Z adalah orang yang kreatif, memiliki imajinasi tinggi dan cocok untuk menjadi leader, sedangkan orang yang memilih lingkaran adalah orang yang kecanduan SEX. Sontak semua peserta tertawa mendengar bahwa mereka adalah orang-orang  yang kecanduan SEX. Pak D kemudian menjelaskan bahwa SEX di sini adalah Smile, Enthusiasm, dan Xcitement. Mendengar hal itu, para pesertapun mulai bertepuk tangan.
Hanya untuk diketahui, aku memilih simbol Z karena aku ingat cuplikan di film Korea “Painter of The Wind”, saat semua peserta magang yang tak lain adalah para pelukis diberikan tugas untuk menghubungkan tiga baris titik-titik tanpa terputus dan Shin Yoon Bok berhasil memecahkannya dengan membentuk huruf Z. Dia kemudian menjelaskan tentang sesuatu yang tanpa batas dari huruf Z tersebut dan sesuatu tanpa batas itu seperti sebuah lukisan karena kita bebas untuk mengekspresikan apa saja dan arti dari lukisan juga tanpa batas karena setiap orang akan memiliki perbedaan dalam menafsirkan lukisan itu.
Dan karena aku memilih simbol ini, aku diartikan sebagai orang kreatif, memiliki imajinasi tinggi dan cocok untuk menjadi leader, aku sependapat.hehehe.

Selasa, 24 Juli 2018

    Hari ini aku banyak menghabiskan waktu di BCA karena harus mencetak rekening koran untuk mendapatkan bukti setor asuransi nasabah baruku. Dan antrian ke Customer Service itu sangat panjang. Tak ingin membuang-buang waktu, aku kemudian menjadikan situasi tersebut untuk prospek kepada orang-orang yang duduk di sebelahku. Alhasil  di BCA aku prospek 5 orang, dua mau jadi nasabah dan satu orang yang sedang hamil mau menjadi agen. Seperti biasa, aku kemudian posting status di whatsapp dengan menceritakan pengalaman prospek di BCA. Salah satu temanku dari Asosiasi Home Industri Indonesia (orang Subang), kemudian mengomentarinya. Aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku kemudian mengajak dia untuk menjadi agen dan berhasil, dia dengan sangat antusias mengirimkan persyaratannya dan transfer ke perusahaan untuk membayar ujian AAJI. Luar biasa, dia bahkan membatalkan acara bakti sosial hari minggu agar bisa ujian AAJI di Bandung. Dulu dia adalah seorang pengusaha maju, hingga kemudian bangkrut dan sekarang dia sedang merintis lagi. Dia adalah seorang kristiani yang taat dan sosialnya juga tinggi. Aku sangat bersyukur bisa merekrutnya. Semua kemudahan ini karena-Nya yang membolak-balik hati mereka, Ibu L, Pak R dan Ibu Lam.

Rabu, 25 Juli 2018
   
    Kita memang tidak bisa selalu mengandalkan orang lain dalam beberapa hal. Hari ini seharusnya aku pergi ke beberapa sekolah yang deal akan membuat kartu untuk siswa, namun Spv ku di Perusahaan B (Kerugian) sakit. Aku kemudian followup beberapa sekolah itu via telp. Selesai melakukan tugas itu, Aku mengantar D untuk survey lokasi di salah satu properti milik Ibu L (Ceritanya panjang, jadi tidak perlu dijelaskan). Aku seharian bersama D dan pulang sore hari, tadinya mau langsung fitness, tapi ternyata masih banyak yang harus aku kerjakan (urusan administrasi nasabah-nasabah dan agen baru), jadi aku memutuskan untuk pulang.
Seharian ini, pikiranku juga masih tertuju pada orang yang jauh di sana. Aku kemudian misscall dia tanpa alasan. Dan tanpa aku duga, saat aku melihat grup, aku melihat video dari temanku tentang apa yang terjadi di Kotanya. Aku kemudian sangat khawatir, namun tidak bisa berbuat apa-apa.

    HARAPAN

Garis cahaya dalam arah vertikal.
Dan awan-awan putih meliuk-liuk ibarat gelombang.
Sinarnya akan tertutup gelap, pelan-pelan, perlahan.
Tak panas dan tak terlalu dingin.
Anginnya sepoi dan ranting pohon menjulang diantara ruas jalan.
Ranting tak berdaun..
Ini senja?
Dan pikiranku tanpa waktu, tak ada batas waktu.
Tak bergulir..