Di Gedung Bank Jabar Banten, Bandung. Seperti biasa, hari ini aku harus menghadiri acara Asosiasi Home Industri Indonesia yang terbatas hanya untuk 50 orang peserta yang sudah daftar jauh-jauh hari. Kali ini aku memilih warna hitam, mulai dari jaket kulit, baju, jeans, hingga sepatu docmart.
Selain sesi tentang permodalan UMKM dari AHINDO dan sosialisasi produk BJB, ada juga sesi motivasi yang dibawakan oleh perancang busana muslim, Indri Albis, hingga terakhir adalah fashion show dari karya-karya Indri Albis sendiri.
Acara dimulai pada pukul 10.30, setelah sebelumnya para peserta terlebih dahulu registrasi pada pukul 10.00. Aku datang bersama Ibu Linda dan ketika sampai ditempat seminar, kita memilih duduk dikursi paling depan. Dan karena duduk dikursi paling depan dengan penampilan seperti ini, ada sebagian peserta yang salah kaprah dan mengira bahwa aku adalah Indri Albis. Pantas saja rasanya sedikit aneh, ketika salah satu peserta yang tak lain adalah pengusaha sepatu yang sudah senior di Cibaduyut, Pak S tersenyum dan menghampiri aku serta Bu Linda, seraya menanyakan sesuatu yang membuat aku dan Bu Linda ingin tertawa seharian,
“Ini dari Albis?”
Mendengar hal itu, sontak aku menjawab bukan. Bu Linda lalu cekikikan mendengar itu, lalu berbisik kepadaku,
“Pantes ya daritadi rasanya aneh. Mungkin orang-orang mengira kamu itu Indri Albis dan aku asistennya, hahaha.”
Ada-ada saja memang. Terutama dengan Pak S ini. Dia bukanlah orang sembarangan, dia bahkan menjadi sponsor yang menyediakan tempat di Cibaduyut untuk para peserta AHINDO agar bisa memasarkan produknya, selain itu, Pak S juga merupakan pemilik saham dibeberapa perusahaan properti. Para peserta hari ini memang kebanyakan adalah pengusaha dan usianya juga rata-rata sudah tidak muda lagi. Hadir pula salah satu pemilik radio di Bandung, Jendral dan beberapa politisi dari partai politik. Ini adalah kesempatan emas bagiku untuk menjalin kerjasama, salah satunya adalah kerjasama dengan Pak A yang akan mencalonkan diri menjadi anggota DPRD dan proposal kerjasamanya sudah aku berikan tadi.
Indri Albis hadir agak telat memang dan sebagian orang yang mengira bahwa aku adalah Indri Albis, akhirnya bisa melihat orangnya langsung. Aku dan Bu Linda masih cekikikan saat sesi motivasi dengan Indri Albis dimulai.
“Indri Albis yang asli udah datang tuh, hahaha.”
Bu Linda masih saja mengingat kejadian sebelum ini dan senyum-senyum tidak jelas. Namun, ketika Indri Albis mulai bercerita tentang kisah jatuh bangunnya didunia bisnis, semua terdiam dan bahkan ada yang ikut menangis.
Dia bercerita bahwa usahanya didunia fashion sempat mengalami kejayaan hingga dia membuka 30 cabang diseluruh kota di Indonesia dengan omset milyaran rupiah. Saat itu, dia sangat sibuk sekali dan tidak memiliki banyak waktu untuk keluarga. Ketiga orang anaknya memiliki baby sitter masing-masing. Dan dia seringkali meninggalkan keluarganya untuk pergi keliling kota di Indonesia untuk memantau cabang-cabang bisnisnya, selain itu, dia juga harus melakukan fashion show hingga ke luar negeri.
Namun, roda tak selamanya di atas. Indri Albis juga sempat berada pada titik terendah dalam hidupnya, hingga 30 cabang usahanya sebagian ditutup. Pada titik itu, dia sempat berpikir untuk mundur dari usaha fashion, namun berkat suami dan mertuanya, dia memutuskan untuk bertahan. Hutang dimana-mana dan tekanan demi tekanan dari relasi bisnisnya mulai berdatangan satu persatu, namun hal itu tak membuat Indri Albis putus asa.
Dalam perenungan yang panjang, dia kemudian menyerahkan semua kepada-Nya. Dia berusaha memperbaiki kesalahan-kesalahannya dimasalalu. Dia memulai untuk belajar ikhlas dan tawakal. Dari situ, dia perlahan-lahan bisa bangkit. Dia sadar bahwa selama ini yang dia kejar adalah uang, bukan ridha-Nya.
Sekarang, Indri Albis hanya memiliki 5 cabang usaha, namun semua terasa menguntungkan dibanding ketika dia memiliki 30 cabang, karena sekarang yang dia tekankan adalah bisnis yang lilahita’ala, yang tujuannya adalah mencari ridha-Nya. Karena hal inilah, Indri Albis mulai memprioritaskan kegiatan sosial. Dia berpesan bahwa hidup tidak selamanya hanya untuk mencari keuntungan duniawi, karena tujuan sebenarnya yang ingin kita capai bukan melulu soal materi. Dia juga berpesan bahwa saat kita berada dititik terendah dalam hidup dan sudah ikhtiar semaksimal mungkin namun tidak ada hasil, jangan pernah mengeluh, karena ketika kita mengeluh dengan mengatakan bahwa kita sudah ikhtiar mati-matian, tapi hasilnya nol besar, sebenarnya saat itu kita tengah menuhankan ikhtiar, bukan Tuhan. Maka dari itu, saat kita terpuruk, yakinlah bahwa Tuhan akan menolong kita dan semua hanyalah masalah waktu. Dia tahu kapan waktu terbaik untuk menyelesaikan semuanya.
“Aku adalah sesuai prasangka hamba-Ku!”
Jadi, teruslah berpikir positif dan lakukan apa yang kita bisa lakukan dengan sebaik-baiknya, karena hasil tidak akan mengkhianati ikhtiar dan ikhtiar tidak akan sia-sia jika kita ikhlas melakukannya dan tawakal dengan hasil apapun yang kita terima.
![]() |
| With Indri Albis (Kerudung Cokelat) |







No comments:
Post a Comment