Pada hari ini, pada apa yang bisa aku tulis namun sulit aku ucapkan. Apa yang menjadi rahasia di bibir bulan. Apa yang menjadi perih di ujung pelita matahari. Jelaskan, jelaskan sekali lagi Tuhan, apa itu kebebasan? Jelaskan, apa lebih baik memakai topeng bahagia untuk bersanding dengan ribuan luka? Apa lebih baik seperti dia yang kerapkali bersembunyi dari suara hatinya sendiri?
Bukan, bukan karena dia kelak akan “dimiliki”. Bukan, bukan karena tinggal menghitung hari dia akan berucap janji sehidup semati. Bukan, bukan karena itu air mata lantas turun berjatuhan. Bukan, sekali lagi bukan karena itu rasanya bumi tak sama lagi. Tapi, karena dia hendak memutuskan tali, tatkala kapalnya mulai berlayar pergi. Ada apa? Apa dia terlalu takut jika ada yang masih tertinggal di belakangnya, lalu dia teringat lagi? Ah entahlah, aku tak pernah mengerti bahasanya. Dia selalu berkata tentang kejujuran dihadapan semua mata, tapi tidak di depan mataku.
Salah siapa, jika denganku kau masih mengeja debar-debar jantung itu? Salah siapa jika beriringan tak bisa membuatmu tenang menggandeng tangannya? Salah siapa? Ya, semua mungkin salahku yang hadir sebagai kata “dosa”, bukan kata “ibadah”.
Gandenglah tangannya! Biarkan aku melihatmu bergandengan. Biarkan aku mendengar kelak ada suara-suara suci dari sang bayi. Biarkan aku berada di sana sebagai penonton, pendengar dan penikmat rasa bahagia yang tak sempat aku rasa. Biarkan aku! Tak perlu menguburku..
Aku tak akan melepaskan tanganmu darinya! Aku tak akan mengungkit-ungkit siapa namamu dimasalalu. Aku tak akan seperti itu.
Salahkah aku jika aku hanya ingin melihatmu dengannya? Kalau begini, siapa yang sebenarnya tak kuat? Kau ataukah aku?
Aku tak pernah paham bagaimana alur pikiranmu dari dulu. Apa yang selalu kau sembunyikan di ruang itu? Aku tak mengerti. Teriakkan padaku sekali lagi, kenapa kau mau menguburku setelah kapal itu datang menjemputmu? Bahkan kucing-kucing liar pun tak pernah bisa berlari dari sosok yang pernah menyentuhnya dalam hati. Kenapa? Kenapa kau begitu mudah memberi hati lalu menghempaskannya untuk mati?
Daun-daun berjatuhan dari langit. Nama-nama menggurita mencengkaram kemarahan. Sang pendosa mengadu pada Tuhan, betapa dia merindukan dosa yang pernah ia lakukan. Sang pendosa marah, kenapa hatinya ia sebut sebagai dosa. Kenapa? Kenapa semua semakin menyudutkannya di balik jeruji kebahagiaan yang kini menguncinya?
Ah, sudahlah.. karena dia adalah sayap-sayap patuh yang kini ingin tahu rasanya terbang. Karena dia tak bisa terbang dengan kura-kura yang hanya bisa membuatnya merayap. Mungkin dulu dia yang tergila-gila dengan kura-kura dan tempurungnya yang keras, tapi setelah dia tau rasanya berjalan dengan kura-kura, dia tak lagi punya rasa penasaran. Dan kini dia ingin terbang berasama elang, menjelajahi langit-langit biru dengan anak-anak yang kelak akan memanggilnya dengan sebutan malaikat waktu.
Aku tak ingin begitu, tak pernah mau seperti itu. Aku ingin berjalan ketika kakiku ingin berjalan. Aku ingin berlari ketika hatiku mengajaknya berlari. Dan aku tak akan kemana-mana, selama namanya masih bersemayam di sana.
Gajah, beruang, harimau, macan, semua tahu dimana hatiku bersemayam. Aku tak pernah bisa bersandiwara dengan hati. Aku tak bisa beramain teka-teki. Tak bisa, tak pernah bisa.
Sebut aku pendosa! Sebut aku rumput liar! Sebut aku apa saja, selain kata “PATUH”. Sebut aku, sebut apapun itu! Aku tak peduli.
Dari rambutnya, jembatan-jembatan dibangun sebagai pengingat masa lajang. Panjang, terurai, tergerai, tak ada batas, tak bersekat. Dia bisa berlari ke mana-mana. Mungkin dia akan mampir sekali-kali saat bosan. Mungkin dia akan lupa selamanya, saat dia mengukir bahagia di sana.
Patuh, dia selalu mengangguk saat harus berjalan ke depan. Dia tahu kapan harus berpetualang dan kapan harus pulang. Dia tahu, dia mengerti, dia patuh.
Sedang aku tak ingin segera kembali. Aku masih ingin bermain di sini. Aku mengingat namanya seringkali saat sepi. Aku rindu suaranya setiap pagi.
Aku resah kali ini. Aku kacau. Aku.. aku pergi!

No comments:
Post a Comment