Monday, August 20, 2018

Biru, ini Rindu!


    Selepas suaranya menghilang di balik telepon, kebingungan menyergapku tiba-tiba. Biru dan Jingga, masih saja tentang mereka. Mereka datang bersama-sama, meski nyatanya Jingga lebih dulu menautkan hati, tapi Biru selalu ada mengiringi. Jingga, tak ada kata lain selain mengingatnya sebagai yang “pertama”, sedang Biru selalu aku kukuhkan dengan rasa rindu.

    Jingga sudah lama menghilang dalam debar-debar yang menggelitik dalam dada, padahal mulanya hanya Jingga yang mampu memporak-porandakan isi kepala, tapi kemudian Biru mengangkatku. Biru kerapkali menjadi sandaran tatkala Jingga menjatuhkan.
Jingga adalah debaran, sedang Biru adalah rasa nyaman.
Jingga tahu tentang Biru dan Biru mengenal siapa Jingga. Hingga kini, tiba-tiba semua tak ada. Hingga kini, yang tersisa adalah nama-nama yang tak bernama.

    Jingga, dialah yang orang katakan sebagai kegilaan cinta pertama, sedang Biru adalah ketenangan diantara lagu-lagu yang berujar akan pilu.
Jingga lalu hilang dan Biru baru saja tiada. Langit menjadi rapuh dan penyangganya berjatuhan.

    Kalau saja Jingga datang sekali lagi, aku ingin berkata bahwa dia istimewa. Kalau dia datang sekali lagi, aku ingin mengatakan bahwa aku kecewa. Bahwa sakit yang dia tinggalkan masih saja berkobar-kobar tak padam. Bahwa kenangan-kenangan yang telah susah payah dibingkai, baru saja menjadi bangkai. Jingga, satu kata yang disematkan dalam namanya, dusta.

    Kalau Biru kembali lagi suatu waktu, aku ingin berbisik padanya tentang kata terimakasih. Kalau biru datang lagi, aku ingin berteriak bahwa dia adalah bunglon dan aku tak bisa mengenali warna aslinya. Aku tak bisa mencerna kata-kata yang ia eja terbata-bata.
Aku mengenalnya, dia mengenalku, namun lidahnya selalu menyangkal bahwa aku mengenalnya.

    Biru, kalau saja Jingga masih di sisiku, kau akan menjadi malaikat penjaga yang menemaniku setiap waktu. Kalau saja Jingga masih menetap dalam pusaran-pusaran rindu, kau selalu setia sebagai pencinta yang menggaungkan kata tulus. Kalau saja Jingga ada, kau selalu menjadi yang paling tangguh diantara semuanya. Tapi, setelah tak pernah ada lagi nama Jingga yang aku sebut. Setelah Jingga lenyap bagai cerita yang tak bermula, kenapa kau mulai terasa beda? Apakah kau hanya ingin berebut piala dengannya? Apakah kau hanya ingin tahu rasanya memenangkan piala itu, meskipun setelah dia?

    Denganmu, aku mengerti tentang kata menghargai. Denganmu aku paham tentang ikatan yang tak hanya berupa debaran-debaran. Denganmu yang tak sama dengannya. Denganmu yang sekejap namun terasa begitu lama dan dengannya yang lama tapi terasa tak nyata. Dia adalah buncahan, sedang kau adalah kasih sayang.

    Aku bukan sebuah piala, camkan itu! Bisakah Biru masih sebiru yang dulu? Tak usah menjadi biru tua atau biru muda, tapi aku hanya ingin Biru. Biru yang pasti aku cari kapanpun sedih dan bahagia menyergapku. Biru yang siap sedia tatkala aku harus mengangkat senjata. Biru yang salalu ada mendampingi meski secara tak sadar aku menyakiti berulangkali. Masih adakah Biru yang seperti itu?

Warna adalah pemikat yang memiliki batas waktu. Batas di mana pendaran warnanya kelak menenggelamkan nama-nama dari keindahan. Jingga, langit tak akan lupa bagaimana mulanya aku terpana. Terpana yang akhirnya tertusuk panah cinta.
Biru, langit selalu tahu bagaimana dulu aku terpikat dengan tangguhmu. Tangguh yang lalu menikam dan membunuh.

Warna tak lain adalah rahasia. Rahasia di mana rahasia lainnya diletakkan. Kalau sudah begitu, maka sebenarnya mataku tidak sedang melihat warna yang berwarna.
Seperti ketika melihat Jingga yang tidak benar-benar berwarna Jingga, atau melihat Biru yang sebenarnya hitam kelabu dan abu-abu.

Untuk Biru, beri aku waktu!
Aku masih rindu..

No comments:

Post a Comment