![]() |
| With E memakai kacamata gold |
Pagi tadi frame kacamata ibuku patah. Ia lalu memintaku untuk ke optik mengganti framenya saja. Aku dengan senang hati pergi ke optik sendiri dan mengganti frame kacamata ibuku dan tidak menunggu hingga lima menit, kacamatanya sudah bisa dipakai. Aku sekaligus mengganti dua frame milik ibuku sebagai cadangan kalau-kalau yang satu patah.
Berbicara tentang kacamata, akhir-akhir ini aku beberapa kali mengganti kacamata, padahal dari dulu aku jarang mengganti kacamata dan kalaupun aku membeli kacamata baru, itu bukan karena rusak framenya, tapi karena minusnya bertambah, namun kemarin-kemarin aku membeli beberapa kali kacamata karena framenya patah dan itu pun E yang tak sengaja membuatnya patah.
![]() |
| Kacamata black n white yang awet dari 2014. With T Devi 2017, tembem banget tahun ini 😆 |
2014 saat aku masih menjalin hubungan dengan Jingga, aku membeli kacamata dengan frame hitam putih. Ini adalah kacamata yang paling aku sukai dan kacamata ini lumayan bertahan lama. Kemudian pada awal tahun 2018, aku membeli kacamata bulat yang sedang trend, namun aku tidak suka frame plastik berwarna hitam atau corak leopard untuk model kacamata bulat kekinian, maka dari itu aku memilih frame dengan bahan titanium berwana silver. Aku sangat menyukai kacamata ini, namun pada akhir tahun 2018, saat aku memasukan kacamata ke dalam saku blazer, E menariknya karena dia khawatir patah, dan bukannya berhasil, tapi malah patah karena frame titanium itu tipis. Aku sempat kesal, tapi aku diam saja. Mulanya aku mengira hanya lepas bautnya saja, tapi ternyata ada bagian dari ujung sudutnya yang hilang.
Aku dan E kemudian berburu kacamata di Jl ABC Bandung yang terkenal dengan pusat kacamata murah. Aku dan E kemudian memilih satu kacamata bulat, tapi semi oval, dengan double frame segilima dan dengan paduan warna gold dan violet. Harganya tidak murah juga, namun tidak semahal di optik langgananku. Aku kemudian mengganti kaca untuk frame yang hitam putih sekalian untuk cadangan kalau-kalau yang satu patah.
![]() |
| Kacamata silver yang patah |
| Saat di Subang dengan T linda dan Lilih |
Saat memakai helm, aku tidak memakai kacamat gold itu karena takut patah, tapi aku memakai kacamata hitam putih yang sudah aku ganti kacanya. Namun, tak berlangsung lama, karena ketika aku shalat di masjid Tionghoa yang berada di dekat jalan Braga, tanpa sengaja E mendudukinya ketika aku sedang shalat, sehingga framenya patah dan kacanya lepas.
Lagi-lagi aku kesal karena dua kacamata yang patah oleh dia adalah kacamata yang lumayan mahal. Tapi, mau diapakan lagi, aku kemudian pulang memakai kacamata gold yang sebetulnya kurang membuatku PD, entah kenapa aku kurang percaya diri memakai kacamata itu, padahal menurut semua orang kacamata itu bagus.
![]() |
| Kacamata gold. With T Linda |
Karena kacamataku tinggal satu yang gold itu, maka aku kemudian membeli lagi kacamata plastik warna hitam dengan bentuk kotak yang ujungnya bisa dilipat untuk aku pakai sehari-hari saat berkendara, sedangkan kacamata warna gold aku simpan sebagai cadangan. Dan tadi juga aku memperbaiki kacamata silver yang patah oleh E, karena ternyata di optik tadi bisa diperbaiki. Begitulah aku, saat menyukai satu benda, aku tak bisa begitu saja menggantinya. Seperti kacamata silver yang rusak, aku memilih memperbaikinya lagi, sedangkan kacamata gold yang juga mahal dan teman-temanku bilang bagus, aku jarang memakainya karena kurang percaya diri, dan aku memakainya sekali-kali saja atau ketika kacamata yang lain sudah tidak layak pakai.
Memakai kacamata memang kadang melelahkan. Dikeluarga, hanya aku dan ibuku yang memakai kacamata. Aku memakai kacamata ketika kelas satu SMP dan sampai sekarang minusnya bukannya berkurang tapi malah bertambah. Sempat mataku ingin dioperasi lasik, tapi aku belum yakin, selain minus aku belum terlalu besar, aku juga takut dengan operasi. Minus aku sekarang adalah dua dan mata kanan entah kiri ada silindrisnya, sedangkan ibuku sudah minus 11. Solusi lain selain lasik atau kacamata, adalah memakai softlense, tapi lagi-lagi aku takut memasukan sesuatu ke dalam mata, apalagi aku adalah orang yang pelupa, berbeda dengan adikku, walaupun matanya tidak minus, dia seringkali memakai softlense sejak SMA.
Aku seharusnya bersyukur dengan keadaan mataku sekarang. Aku masih bisa melihat dengan normal, tidak buta. Aku masih bisa membeli kacamata yang aku mau. Memang ketika kita bisa bersyukur dengan apapun yang kita miliki sekarang, maka kita tidak akan mengeluh sedikitpun, tapi justru kita akan merasa bahagia dan berterimakasih pada-Nya atas semua yang Dia berikan hingga saat ini
“Jika kalian mau bersyukur, maka Aku sungguh akan menambah nikmat bagi kalian.”
(QS. Ibrahim: 7) (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 4: 124)





No comments:
Post a Comment