Saturday, April 6, 2019

NYANYIAN BIRU



Tadi malam tiba-tiba aku merindukan dia yang memanggilku “Biru”. Hingga kemudian aku tertidur dan kemudian memimpikan dia. Aneh memang, padahal kemarin seharian aku sibuk dan tidak terlintas apapun tentang dia. Apalagi sudah lumayan lama kita tidak berkomunikasi lagi. Dan semalam, tiba-tiba terasa seperti ada kupu-kupu dalam perut. Rasanya aku sedang bernostalgia ketika masih menjalin hubungan dengan dia. Karena kejadian semalam yang aneh itulah, kali ini aku akan sedikit menjelaskan tentang dia selama aku mengenalnya.

Mengenalnya pada tahun 2012, hingga kemudian aku menjalin hubungan dengannya pada tahun 2017, membuatku sedikit mengenal tentang siapa dia.
Diantara dua mantan aku yang lain, orang ini memiliki minat yang sama denganku dibidang seni. Dia menyukai seni dan sastra. Dan awal mula kita bisa berteman, karena dia seringkali membaca puisi-puisiku diblog. Sejak saat itulah, kita mulai intens berkomunikasi.

    Hingga kemudian aku menjalin hubungan dengan Jingga, hubunganku dengan dia tetap terjalin dengan baik, karena aku menganggapnya seperti saudara sendiri. Meskipun tidak dapat dipungkiri, selama aku pacaran dengan Jingga, dia beberapa kali merasa cemburu. Tapi, lepas dari semua itu, dia adalah sahabat yang baik. Dia berkorban banyak hal untukku, meskipun aku menjalin hubungan dengan orang lain.

    Biru, sebut saja dia begitu, aku menganggap dia orang yang spesial ketika aku pacaran dengan Jingga. Dia juga pahlawan yang selalu berkorban apapun dengan tulus, meskipun kadang-kadang aku tidak mengerti dengan dia. Dia adalah orang yang tidak bisa to the point jika bercerita tentang perasaannya. Dia bisa mengatakan A padahal yang dia rasakan adalah B. Dia adalah orang dengan mood yang berubah-ubah. Dia bisa bersikap sangat baik, namun beberapa menit kemudian jutek tiba-tiba. Ini yang kadang membuatku kesal terhadapnya, karena aku lebih suka jika dia berterus terang dengan apa yang dia rasakan, entah itu kesal, marah, cemburu atau rindu.

    Hal lain yang aku anggap tidak biasa adalah sikapnya terhadapku ketika aku memiliki pacar dan ketika aku single. Ini sangat kontras sekali. Dia akan sangat baik dan mengejarku mati-matian ketika aku tengah menjalin hubungan  dengan Jingga, namun ketika aku putus dengannya, dia tampak biasa-biasa saja. Bahkan ketika kemudian aku pacaran dengannya, dia tidak sebaik ketika aku pacaran dengan Jingga. Hingga kemudian kita putus, dia jarang berkomunikasi denganku dan terlihat masa bodo. Lalu kemudian aku menjalin hubungan lagi dengan seseorang pada tahun 2018, dia mau berkomunikasi lagi denganku. Dan dia lalu berubah lagi, ketika aku putus dengan orang itu. Dari sini aku bisa mengira-ngira kalau dia adalah orang yang lebih suka tantangan. Dia menyukai sesuatu yang lebih sulit untuk didapatkan. Dia memiliki ketertarikan terhadap apa yang sudah menjadi milik orang lain, tapi ketika dia kemudian memiliki kesempatan untuk memilikinya, dia sudah tidak antusias lagi, karena tidak ada tantangan untuk itu.

    Dalam hal yang berkaitan dengan seni, dia adalah orang yang dominan dengan otak kanan. Perasaan memiliki andil yang cukup besar dalam hidupnya, namun dalam hal uang, menurutku dia adalah orang yang dominan dengan otak kiri. Aku salut memang dia memprioritaskan keluarga dan dirinya sendiri, namun untuk hal-hal lain selain itu, dia agak sedikit perhitungan dan selalu menggunakan logikanya. Dia juga orang yang tidak berani mengambil resiko. Dia memang cocok untuk menjadi karyawan, bukan entrepreneur. Untuk masalah seni, kita memang sama, namun untuk masalah uang dan karier, kita berbeda. Aku jarang sekali perhitungan untuk masalah uang, meskipun aku tahu bahwa hal ini tidak selamanya bagus, tapi aku memiliki alasan tersendiri untuk itu. Aku juga sering mengambil resiko, terutama saat berbisnis. Aku lebih suka menjadi wirausaha dibanding menjadi karyawan, meskipun tidak dipungkiri bahwa aku juga sekarang bekerja, tapi aku tidak datang ke kantor setiap hari dan aku bekerja sambil membuka usaha.

    Dia memiliki kepribadian yang unik. Kadang dia seperti teka-teki yang sulit dipecahkan. Aku sulit menebak apa maunya. Dulu, dia adalah orang yang sangat menyenangkan. Dia adalah pendengar yang baik. Aku senang sharing apapun dengan dia, tapi lambat laun dia berubah karena perasaannya sendiri. Aku lebih nyaman dengan dia yang dulu pada awal-awal aku mengenalnya. Kita bisa berbicara apapun tanpa beban. Kita bisa tertawa, bercanda atau apapun itu dengan sangat menyenangkan. Namun, sejak dia sering pusing dengan perasaannya sendiri, hubungan kita menjadi tidak stabil.

    Aku butuh waktu sangat lama untuk akhirnya memiliki perasaan “kupu-kupu dalam perut” atau “cinta” terhadapnya. Pada awal-awal aku mengenal dia, sampai aku dekat dengannya, aku selalu mengatakan bahwa aku hanya “sayang” seperti saudara kepadanya, dan bukan perasaan lain. Tapi baginya, hal itu sungguh menyakitkan, padahal menurutku rasa sayang seperti kepada saudara itu lebih murni dan lebih bertahan lama, karena tidak ada nafsu di dalamnya.
Hingga kemudian kita bertemu untuk pertama kalinya,  aku juga belum memiliki perasaan apa-apa terhadapnya, terlebih saat itu aku sedang patah hati oleh Jingga.
Namun, sebuah kejadian tak terduga, mengubah perasaanku secara tiba-tiba terhadap dia, sampai beberapa tahun kemudian aku menjalin hubungan dengan dia, perasaan itu  masih melekat dalam hati. Aku kemudian bisa merasakan cemburu untuk pertama kalinya terhadap dia. Dan itu butuh waktu kira-kira 5 tahun sejak aku mengenalnya untuk aku benar-benar suka dan cemburu terhadap dia.
Aneh memang, aku membutuhkan waktu selama itu untuk menumbuhkan perasaan. Tapi yang pasti dan yang paling utama adalah aku merindukan dia sebagai sahabat dan pengagum rahasia seperti di awal-awal aku mengenalnya. Aku seperti kehilangan sosok dia yang dulu yang begitu mirip denganku dan sangat menyenangkan.

    Dia lebih menyenangkan ketika berada didunia maya, dibandingkan saat bertemu, karena ketika bertemu, dia kadang-kadang tidak bisa menjadi dirinya sendiri, karena ada banyak hal yang dia sembunyikan, terutama tentang perasaannya.

    Dan kini, aku merindukan dia yang sedang tidak berada di pulau yang sama denganku. Rasanya begitu jauh, padahal sebelum inipun jarak kita memang tidak dekat. Tapi, kali ini aku merasa dia benar-benar sulit untuk dijangkau, hingga membuat perasaanku menjadi hampa.
Namun, dari jauh, aku selalu menyebutnya dalam doa, karena hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini, tak ada yang lain. Aku hanya ingin dia bahagia dimanapun dia berada sekarang.

 Birunya langit dan tanah basah selepas hujan kini bersenandung,
 Katanya, hijaunya rumput masih saja sama...
Geraknya cepat atau lambat hanyalah tergantung angin yang meniupnya.
Dan senja akan memanjakan lelahmu,
tatkala mendung berulangkali
merisaukanmu dengan resah.

Hai..
Pulau yang lain bercerita tentang jarak
Tentang laut yang berbisik dan mengatakan
bahwa kita masih berada di bawah langit
yang sama.

Tentang tarian kehilangan
dan senandungnya
yang menyayat hati,
Itu hanya ilusi yang dibawa angin
berkelana menuju pusara rindu.

Hai..
Kuharap rasa kini baik-baik saja!
Seperti “Hai” dan “Apa Kabar”
yang seringkali
aku tanya.
Namun tak dinyana..

No comments:

Post a Comment