Sunday, April 21, 2019

Pilpres 2019 dan Sentimen Anti Cina



    “Jokowi atau Prabowo?”
    Sebelum menjawab pertanyaan di atas, aku ingin menjelaskan sedikit perjalananku ketika awal mula mengagumi sosok Pak Jokowi. Berawal ketika Pak Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta dan memimpin dengan cara yang berbeda, dari situ aku mulai kagum dengan sosoknya. Hingga pada tahun 2014, ketika sedang berada di Jakarta, aku berbincang-bincang dengan seorang sopir TAXI ketika dalam perjalanan menuju Kampus BINUS. Yang kita bicarakan adalah tentang sosok Pak Jokowi. Semua yang dibicarakan oleh sopir maupun olehku adalah tentang hal-hal positif ketika beliau memimpin Kota Jakarta. Bahkan aku dan Bapak sopir berandai-andai kalau saja Pak Jokowi menjadi Presiden, tentu akan membawa banyak perubahan bagi negeri ini. Saat itu aku benar-benar iri dengan warga Jakarta yang sudah dipimpin oleh sosok seperti Pak Jokowi.

    2014, Harapan aku dan Bapak sopir itu jadi kenyataan, Pak Jokowi kemudian menjadi presiden. Aku bersyukur bukan main, terlebih lagi ketika Pak Jokowi memimpin, banyak sekali kemudahaan yang didapatkan oleh para pelaku UMKM sepertiku untuk mengurus legalistas usaha atau bahkan mendapatkan bantuan usaha tanpa syarat yang sulit.

    Hingga kemudian aku bergabung dengan perusahaan Z, Agency Director, Bu Nisa dan beberapa orang dalam timku sangat anti terhadap Pak Jokowi, bahkan yang paling fatal, Bu Nisa sangat anti dengan orang-orang bermata sipit, padahal dia sendiri berkulit putih dan bermata sipit, meskipun dia bukan keturunan tionghoa, tapi dia adalah orang Palembang. Menurut penuturannya, dia pernah mengalami pengalaman pahit dengan orang tionghoa, hal ini berkaitan dengan karier suaminya dulu di perusahaan yang lama. Tapi, apapun alasannya, aku tidak membenarkan sama sekali sikap rasis seperti itu, apalagi setiap kita bertemu, dia seringkali menjelek-jelekan sikap orang-orang keturunan tionghoa di Indonesia.
Sikap Bu Nisa, sangat bertolak belakang dengan sikap Bu Heni (orang yang membawaku ke Perusahaan ini). Di dalam tim Bu Heni, ada orang tionghoa dan beragama budha dan Bu Heni lebih bisa menerima perbedaan apapun dari anggota timnya.

    Hingga suatu ketika , aku membawa E ke perusahaan ini. Sikap Bu Nisa sangat berbeda sama sekali. Di depan E, dia antusias untuk merekrut E masuk ke dalam timnya. Menurutnya, orang tionghoa banyak yang sukses dengan lebih cepat di perusahaan ini yang memang rata-rata lebih banyak orang tionghoa.
Aku sempat kecewa saat itu, terlebih ketika dia membicarakan aku kepada E mengenai sikap aku yang kurang tegas dan mudah kasihan kepada orang lain. Bu Nisa mulai menaruh harapan besar kepada E, karena E terlihat sangat tegas.
Sebagai orang dekat aku, E tidak mau menusuk dari belakang. E kemudian menceritakan hal itu kepada aku. Sontak aku marah dan menegur Bu Nisa meskipun E melarangnya. E tidak ingin bergabung di perusahaan ini jika dia hanya dijadikan rival aku, karena dia hanya ingin hubungan dengan aku baik-baik saja, tidak lebih. Karena terpancing emosi, aku kemudian keceplosan kepada E bahwa Bu Nisa itu anti orang cina. Namun, kemudian aku meralatnya, tapi dia terlanjur mempercayainya. Dia bilang bahwa dia tahu dan dia tahu kalau keberadaannya diharapkan di perusahaan tersebut hanya untuk sebuah kepentingan saja.
Karena hal ini, aku sempat marah kepada Bu Nisa, meskipun akhirnya kita saling memaafkan karena aku tidak tega melihatnya menangis.

    Masalah aku, E dan Bu Nisa yang aku kira selesai, ternyata belum selesai. Ketika aku dan E sedang mengikuti pelatihan Shopee di Universitas Kristen Maranatha, E sempat mengadu kalau Bu Nisa hanya memanfaatkan dia. E terlihat emosi, namun saat aku tanya alasannya, ternyata tidak seperti yang aku bayangkan. Bu Nisa hanya menanyakan kabar neneknya, karena seminggu sebelumnya saat E harus mengikuti ujian (aku sudah membayar ujian untuk dia), namun E tidak datang karena neneknya jatuh di kamar mandi dan harus dirawat. Dan setelah E menjawab bahwa neneknya sudah baikan, maka Bu Nisa menjawab alhamdulilah dan mengatakan kalau E sudah bisa beraktivitas seperti biasa lagi.
Dari percakapan ini, aku tidak bisa menyimpulkan kalau Bu Nisa memanfaatkan dia. Aku pikir sangat aneh kalau E mengira Bu Nisa memanfaatkan dia hanya dari percakapan sederhana ini. E sampai begitu emosional dan mengatakan kalau neneknya bukan orang sembarangan, dll. Aku yang saat itu mengatakan bahwa anggapan dia salah, dia malah berbalik marah kepadaku dan menganggap aku membela Bu Nisa. Dan inilah awal mula dia pulang sendiri untuk datang ke rumah produksi di Lembang pertama kalinya, sedangkan aku pulang dan tidak menggubris dia yang marah tanpa alasan yang jelas.

    Kembali pada topik di atas, sentimen anti cina yang terjadi dengan Bu Nisa atau sebagian besar orang-orang di Indonesia terlihat dengan begitu jelas. Hal ini dilatarbelakangi oleh kesenjangan sosial antara orang cina dan penduduk asli Indonesia, terutama dibidang Ekonomi. Hal itulah yang kemudian dijadikan alasan mereka membenci orang cina. Menurut mereka, sikap orang cina yang semena-mena, licik, pelit, dll sangat merugikan orang-orang Indonesia asli. Kebencian ini kemudian berimbas pada demo besar-besaran terhadap Ahok karena penistaan agama, disamping dia seorang cina dan beragama kristen.

    Hingga masuk pada pemilihan Gubernur Jawa Barat pada tahun 2018 dan pemilihan presiden pada tahun 2019, orang-orang islam garis keras, masih menganggap partai tertentu paling islami, sehingga mereka wajib memilih calon yang partai itu usung. Seperti ketika pemilihan Gubernur, mereka banyak membujuk untuk memilih calon yang kelak akan mendukung Prabowo, sedangkan aku malah memilih Ridwan Kamil yang menurut mereka justru akan menguntungkan Jokowi kelak. Aku tidak suka sikap mereka yang begitu. Menganggap diri paling islami dan paling benar dimata Tuhan. Selain memilih Pak RK, saat itu juga aku menjadi saksi untuk calon Gubernur tersebut hingga akhirnya menang.

    Berlanjut pada pemilihan presiden, para pendukung Prabowo banyak sekali yang menyebut Jokowi anti islam, Jokowi pro Cina,dll dan banyak sekali kejelekan-kejelekan yang belum terbukti sama sekali. Lebih mirisnya, mereka selalu membawa-bawa agama, padahal Pak Jokowi sendiri orang islam dan wakilnya juga islam, tapi mereka menganggap partai dan pasangan lain lebih islami dan lebih benar dibanding Pak Jokowi.
Aku sangat geram dengan Pilpres kali ini, bagaimana tidak, setelah banyak tuduhan-tuduhan negati, fitnah dan terakhir deklarasi kemenangan padahal KPU belum memutuskan, aku semakin tidak suka dengan sikap pasangan itu. Apakah Prabowo sangat berambisi sekali sampai harus bersikap seperti saat ini? Dan apakah sikap orang-orang islam garis keras dibelakangnya yang ngotot mendirikan khilafah dan negara islam masih dengan sombongnya menganggap mereka paling islami dan benar dimata Tuhan? Padahal keimanan seseorang hanya Allah yang tahu.

    Karena aku memang mendukung Jokowi, 2018 aku masuk Organisasi Jokowi Mania dan ditunjuk menjadi sekjen, meskipun kemudian aku tidak melanjutkannya karena terlalu banyak kegiatan, maka pada tahun ini, aku dan orangtuaku jelas memilih beliau. Kami bahkan sangat kagum juga dengan Ahok, terlepas dari kasus penistaan agama yang dia lakukan, karena menurut kami, kinerja Ahok sebagai Gubernur sudah sangat baik. Mulanya aku adalah fans dari Anies Baswedan ketika masih aktif dalam Organisasi Indonesia Mengajar, tapi ketika beliau mencalonkan diri menjadi Gubernur dan membawa isu agama dan ras dalam kampanyenya, maka aku mulai tidak suka dengannya.

    Jokowi dan Ahok adalah sebuah fenomena baru dalam pemerintahan Indonesia. Meskipun Ahok kemudian berakhir dalam Jeruji besi dan Jokowi kini diserang oleh fitnah dan keganasan tuduhan-tuduhan, tapi aku yakin bahwa Allah tidak tidur. Dia akan selalu melindungi orang-orang yang berada dalam jalan yang benar. Dan masalah siapa yang akan dilantik menjadi presiden, itu sudah menjadi takdir dari-Nya yang harus bisa diterima dengan lapang dada. Dan satu hal lagi, semoga sentimen anti cina sudah tidak terjadi lagi di negara majemuk ini, karena apapun ras dan agama kita, kita adalah bangsa Indonesia, sebuah negara dengan rakyat yang beraneka ragam. Kita juga harus ingat bahwa dihadapan Tuhan kita semua sama, karena yang membedakan hanya ketakwaannya saja. Dan kita tidak pernah tahu apakah kita sudah benar-benar bertakwa dan diterima di sisi-Nya atau tidak, wallahuallam, jadi jangan merasa diri paling beriman.

*Sambil mendengarkan lagu Ari Lasso, Lirih.





No comments:

Post a Comment