Langit berduka di balik celah jendela. Mata yang mengintip mereka yang tengah berpesta pora. Mata yang lalu menghujami hati dengan perihnya yang lirih.
Mereka tertawa seakan menandai harapanku yang masih berupa angan-angan.
Si hitam itu, ibarat kelas dimana takhta tengah dimahkotai. Seperti jubah sombongnya yang selalu menengadah ke atas dan berkata tentang kemenangan.
Ayahnya adalah raja. Dia merangkul dan memeluk anaknya dengan hati dan materi, sedang ayahku entah apa. Mungkin dia hanya pujangga kata-kata yang seringkali berkata dusta dan berperangai otoriter seperti prajurit militer.
Hingga cuplikan-cuplikan masa kecil itu lambat laun membentuk bendungan airmata, dia masih saja berjalan tegap dengan senjata dan perintah-perintah. Memerah hati tanpa imbalan apa-apa. Menebar janji, tapi mengingkari. Merangkul sinis, lalu melukai.
Aku lelah, jadi biarkan saja aku melihatmu seperti pecahan-pecahan kaca yang tak utuh, yang hanya bisa dipakai untuk membunuh, bukan untuk bercermin atau berkata “aamiin”.

No comments:
Post a Comment