Ada yang sejuk diantara kantuk yang bergelayut mengamini dzikir airmata dan sajak-sajak penyesalan yang berkidung tanpa kata-kata.
Rima, irama dan baitnya serupa syair yang baru saja terbangun dari tidur panjang akan pemujaan-pemujaannya pada nafsu liar yang berkedokkan rasa dan nama-nama lain yang mereka sebut cinta.
Dalam nafas-Nya, ada haluan yang mengetuk-ngetuk lembut, membelai dengan kalimat ketulusan, merangkul tanpa beban dan memaafkan tanpa ada sedikitpun dendam.
Pada alinea baru itu, kadang-kadang iman serupa gelombang yang tak bisa ditebak arusnya. Tak bisa dipastikan frekuensinya. Di dasar ataupun di atas, kadang iman terombang-ambing mengutuk-ngutuk rasa, meskipun lebih banyak ia memujanya tanpa syarat.
Rasa ibarat candu yang kerap membuainya hingga tertidur pulas dan lupa jalan pulang. Rasa yang kemudian mengerucut menjadi pemujaan yang tanpa sadar melemparkannya pada kehampaan tanpa garis waktu.
Dan entah akan sampai di titik mana iman bisa bersikukuh dengan tekadnya berjuang diantara kobaran cahaya subuh. Berjalan dan bertindak hanya untuk patuh pada apa yang Dia perintahkan, bukan pada apa yang dirinya inginkan.
Dan entah pada episode mana drama dari pertentangan itu bisa diakhiri. Fase dimana iman dan nafsu bisa menemukan titik temu. Titik yang mengawali kata sepakat untuk kemudian melenyapkan salah satu diantara keduanya dan menyuburkan yang lainnya. Titik dimana diri mulai menamai sosoknya sebagai hamba atau menamainya sebagai ahli neraka.
Kadang-kadang ketulusan tidak perlu iming-iming kesenangan atau ancaman hukuman dan ketakutan. Seperti syurga atau neraka yang kerapkali menjadi pemanis diantara peliknya dorongan syahwat yang berkali-kali lepas kendali.
Ibarat mentari yang menyinari bumi tanpa henti atau oksigen yang hilir mudik mempertahankan nafas seseorang. Mereka terus menerus bekerja sesuai perintah-Nya, tanpa ada satupun yang berharap tentang syurga atau takut akan neraka.
Dan diantara subuh yang baru saja terbuka, nafsu tak bisa lagi berkelakar menyesakkan dada. Nafsu tak bisa lagi memenjarakannya pada ruang tanpa kepastian akan rasa bahagia. Nafsu yang baru saja menjadi bagian dari masalalu, sedang ketaatan pelan-pelan mulai menjadi tujuan hidup.
Subuh ini,
Dan fajar segera menyingkap tabir dluha sebentar lagi.
Apa yang sesak dalam dada?
Apa yang kau panjatkan diantara airmata?
Sesalmu akan dosa atau candumu tentang nafsu?
Dia tahu, apa yang bergejolak dalam debaran..
Dia pun tahu, apa yang sejuk dalam iman..
Apapun itu,
Amini yang kini tengah menguasai hati
Dan hadang “lalai” yang baru saja pergi.
Bawa saja iman dan ketaatan sebagai perisai diri.
Tangkap gelombangnya dan catat frekuensinya!
Dan kau akan tau rasanya hidup kali ini,
Sekali lagi..

No comments:
Post a Comment