Pagi dan harapan-harapan besar yang kemudian lenyap. Dan maaf kemudian menjadi pemanis diantara bibir mentari yang baru saja membakar bumi. Maaf yang dirangkai dengan duri-duri yang mereka katakan ujian. Maaf yang mereka bilang indah karena tumbuh diantara lahan kesabaran. Ikhlas dan judul-judul lain yang mengaburkan wajah kekecewaan.
Mereka dan kata-katanya yang indah. Mereka dengan maaf yang lalu menyudahi babak dari harapan yang melambung tinggi. Mereka dan gambar-gambar yang kemudian hilang seakan tak pernah diperlihatkan sebelumnya.
Dan lagi-lagi, sabar adalah penawar yang mereka anggap dapat meredakan duka.
Aku tak pernah memintanya, apapun itu yang orang-orang hidupkan di balik katalog harapannya. Aku tak pernah meminta, namun mereka menyodorkannya. Mereka hadapkan aku pada pilihan-pilihan yang hanya perlu aku amini. Dan aku tak perlu bersusah payah merengkuh apa yang mereka hadapkan di depan mata. Aku hanya perlu menunggu dan dengan ajaib mereka menghadirkannya secepat kilat, untuk kemudian aku miliki, aku namai, dan kemudian aku jawab dengan “terimakasih”.
Dan harapan tumbuh lebih cepat dari kata-kata manis yang menumbuhkan duri. Pagi, siang dan malam, angan-angan melambung seakan tengah menerjemahkan mimpi yang baru saja menjadi babak dari hari lain yang akan segera ditemui.
Mereka bilang tutup matamu dan tunggu saja, karena mereka akan memberikan apa yang kau mau. Mereka seperti Jin dalam lampu ajaib yang ditemukan oleh Aladdin dan Jin itu hanya menanyakan apa permintaan Aladdin yang akan diwujudkan oleh Sang Jin.
Dan semua orang tahu bahwa apapun yang diminta oleh Aladdin, maka Jin itu mengabulkannya. Lalu apa jadinya jika Jin itu hanya bermulut besar? Hanya memberikan harapan dan kemudian meruntuhkannya karena sesuatu terjadi di luar rencananya?
Maaf kemudian menjadi jalan terakhir untuk menjembatani harapan dan kekecewaan. Maaf kemudian menjadi mawar diantara duri-durinya yang menjadi pembuka untuk mengatakan tentang sabar dan ujian. Maaf kemudian menjadi penutup dari barisan panjang kata-kata yang membuncah dalam dada, namun tak pernah jadi nyata.
Seringkali maaf mereka anggap selesai. Seringkali maaf menjadi bunga paling indah yang mereka kira tak berduri.
Dan kali ini aku harus berjuang kembali, seorang diri dengan bekal maaf dan nasehat tentang sabar dan ikhlas yang akhirnya lepas, tak terbalas.

No comments:
Post a Comment