Saturday, April 13, 2019

DUPLIKASI WAKTU





    Kapan waktu bisa beristirahat dengan sukarela? Dan membiarkan ketakutan hidup dalam dimensinya yang lain. Seperti khayalan yang kerapkali menduplikat dirinya sendiri dan memenjarakan dunia nyata dari wajah yang tak ingin ia jumpai pada setiap pagi.


    Jam berapa sekarang? Lihat tarian jam itu. Mungkin kini aku masih terjaga pada ruang dimana waktu masih bersikukuh berjalan pada putarannya dan tak pernah memberikan jeda pada rasa cemas untuk menghela nafasnya beberapa menit saja.
Ambil jam tanganmu dan ikuti aku pada dunia yang tak ada sekat dan batas di dalamnya!
Aku ingin beristirahat di sana tanpa ada siluet ketakutan itu.
Bergegaslah!
Aku akan segera menunjukannya.
   
    Dan diantara dimensi itu, ada ruang dimana aku bisa berjalan dengan tenang. Berjalan pada babak-babak yang aku ciptakan sendiri dengan wajah-wajah yang aku inginkan selama ini. Dan setiap episode menyimpan ceritanya sendiri. Cerita yang fasih aku tuturkan seperti dongeng yang berulangkali dibacakan sebelum tidur. Seperti rangkaian drama yang sengaja aku mainkan di atas pentas khayalanku tanpa ada yang protes atau mengubah alurnya sedikitpun.


    Aku ingin hidup di sana, di mana waktu mulai terbiasa menduplikasi dirinya untuk membuat waktu lain yang bisa berhenti sesaat atau berbalik arah dan memperbaiki apa yang salah di sana.
Aku ingin waktu dengan wajah yang berbeda yang bisa mengajakku berwisata pada dimensi yang mereka katakan dusta.
Aku ingin menjelajah pada wilayah yang orang-orang katakan salah.
Aku ingin menduplikat diriku dan membuat hari lain tanpa adanya waktu.
Aku ingin mengubah masalalu.


    Tak ada sesal pada hari di mana matahari berulangkali mengucapkan selamat pagi. Tak ada gelisah di mana pahatan itu lambat laun berubah menjadi darah. Tak ada yang marah pada rangkaian kisah yang mereka katakan sejarah.

    Hanya saja kali ini aku sudah begitu lelah, namun beban-beban itu masih saja merangkul jiwa lemah yang kerapkali terbangun sebagai bagian dari masalah.
Sedang dunia tengah bertepuk tangan dengan gaya hedonismenya di balik topeng-topeng wajah susah. Dan mereka masih saja membohongi dirinya sendiri dengan sangat hati-hati. Mereka mengira bahagia bisa dibeli dengan puisi atau setumpuk prestasi. Mereka menganggap kasih sayang bisa ditukar dengan uang atau barang-barang. Dan kali ini mereka menang, karena memang bahagia dan kasih sayang mulai terbiasa dengan materi yang membuatnya semakin lupa diri.


    Dan pada dimensi waktu lain yang mereka anggap keliru, aku ingin menghidupkan kembali diri menjadi perisai yang tak lagi berseteru dengan rindu. Aku ingin berpisah dengan ketakutan itu dan melepas resah yang seringkali berulah dan marah.


    Jadi, ijinkan kali ini aku menduplikasi waktu dan menghilangkan diriku sendiri. Aku ingin menjadi cahaya dan berbahagia diantara pusara doa dimana mereka berkata-kata dengan tetesan airmata. Ijinkan aku tinggal diantara kenangan yang mulai mereka rindukan sebagai rintihan kehilangan.
Ijinkan aku berbahagia sekali saja!
Tanpa beban..
Tanpa ketakutan...


No comments:

Post a Comment