Friday, April 5, 2019

TENTANG AKU DAN E***IN





    Tadi pagi, ketika aku sedang menghapus beberapa file di HP, tanpa sengaja aku melihat kiriman-kiriman video di whatsapp yang pernah dia kirim ketika merekam pengalaman di Pantai Pangandaran dan Pantai Madasari. Aku bahkan lupa pernah menerima video darinya, padahal selama di pantai, dia yang paling banyak merekam dengan Hpnya, sedangkan aku kurang begitu suka mengabadikan video alam tanpa ada objek manusianya, karena menurutku kehadiran makhluk hidup dalam sebuah rekaman itu penting, agar kita bisa mengetahui “rasa” apa yang tengah disampaikan oleh video itu, misal video seseorang yang tengah menatap laut tanpa ada ekspresi apapun, maka kita bisa menebak apakah dia tengah melamun dan bersedih atau tengah mengingat kenangan tentang seseorang atau sesuatu. Tapi, lepas dari semua pendapatku itu, perasaanku ketika menemukan video darinya saat ini sungguh berkesan, karena tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini aku sudah kehilangan orang itu, sehingga video yang aku temukan bisa sedikit menghibur rasa kehilanganku.
Dan kali ini aku ingin menceritakan sekelumit tentang dia selama aku mengenalnya, terutama hal positifnya yang jarang aku ceritakan dan sedikit sekali yang orang-orang tahu tentang dia.
https://www.indrianimonica.com/2019/04/salah-jalan.html



    Berawal dari salah satu Organisasi UMKM di Jawa Barat, aku mulai mengenalnya. Mulanya aku tidak begitu dekat dengan dia, karena dia pun mulai hadir ketika rapat Organisasi ini sudah dilakukan beberapa kali.
Pertama kali melihat dia di acara Ekahan cucunya Ibu Elin di Kota Baru Parahyangan, dia tampak begitu berbeda, karena dia adalah satu-satunya orang yang datang mengenakan rok pendek dan dia datang bersama Pak A, sedangkan aku datang dengan T Linda. Dia adalah pribadi yang ramah dan murah senyum, namun sedikit tertutup. Badannya tinggi, meskipun lebih tinggi aku, namun dibandingkan dengan teman-teman lain, dia jauh lebih tinggi. Kulitnya kuning langsat, khas wanita tionghoa, dan badannya langsing.





    Awal mula dia ikut rapat, dia tidak terlalu banyak bicara dan kadang tidak suka berbaur. Tapi, lama kelamaan dia bisa beradaptasi juga dan bisa berkontribusi bagi Organisasi ini. Hingga pada satu kesempatan, tanpa sengaja aku memboncengnya, dari situ aku mulai sedikit demi sedikit mengenal dan dekat dengan dia.



    Dia adalah orang yang penuh dengan rencana, ambisius, tapi humoris. Ciri khasnya yang lain adalah dia cadel, sama sepertiku. Dia selalu menarik mengenakan apapun yang dipakainya. Dia tidak terlalu memusingkan penampilan, tapi minatnya dibidang fashion sungguh tinggi, karena dia suka men-design, menggambar dan menjahit, padahal latar belakang pendidikannya adalah dokter gigi.







    Kita memiliki keyakinan yang berbeda. Dia memeluk agama kristen protestan, sama seperti Ibunya, berbeda dengan neneknya yang masih menganut kepercayaan Konghucu. Sedangkan agamaku adalah islam.
Tapi, perbedaan keyakinan ini tidak mempengaruhi apapun, malah dia seringkali menemani aku shalat di Masjid. Bahkan ketika suatu hari aku terpaksa menginap di rumahnya, karena ibunya khawatir aku pulang malam, aku bisa merasakan toleransi beragama di sana. Ibunya menyiapkan kerudung untukku shalat. Ibunya sungguh sangat baik dan perhatian. Dia ramah dan menganggapku seperti anaknya sendiri. Dia memasak air untukku mandi, mengupas anggur untuk aku makan, mengeringkan rambutku setelah dikeramas, membuatkan sarapan dan terakhir memberi kain untuk ibuku.
Ibunya adalah seorang kristen yang taat. Setiap pagi bahkan dia sering memutar ceramah tentang agamanya dan hari-harinya tak pernah luput dari hal-hal yang berbau agama.




    Dia adalah seorang anak tunggal. Dia juga sangat menyukai kucing, hingga dirumahnya ada 10 ekor kucing yang dia pelihara dan salah satu nama kucingnya yang aku ingat adalah Elip. Aku tidak ingat nama-nama kucingnya yang lain.
Dia juga menyayangi kucing liar yang terdampar dijalanan. Pernah suatu ketika kita menemukan kucing sekarat setelah ditabrak orang lain, lalu kita berhenti dan dia memeriksa kucing itu, namun sayang kucingnya tidak bisa diselamatkan.
Aku juga menyayangi semua hewan, termasuk kucing, namun aku takut jika harus kontak langsung dengan kucing, misal mengelus atau menggendongnya, aku tidak bisa.


    Dia adalah seseorang yang dominan dengan otak kiri, meskipun tak bisa dipungkiri bahwa dia juga pecinta seni. Dia kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi di salah satu Universitas Negeri di Bandung. Ibunya sempat bercerita bahwa sebenarnya dia ingin anaknya masuk farmasi, agar suatu saat dia bisa membuka apotek, namun anaknya lebih memilih kedokteran Gigi.
Karena dia dominan dengan otak kiri, maka pekerjaan dan karier baginya adalah nomor satu. Dia jarang sekali memikirkan tentang perasaan-perasaan yang tidak perlu. Dia tidak memusingkan soal hal-hal yang berkaitan dengan perasaan. Yang ada dalam pikirannya hanya tentang untung rugi atau soal sukses atau tidak, beres atau tidak pekerjaannya. Dia bahkan bisa lupa dengan orang-orang terdekatnya ketika dia sedang mengerjakan sesuatu. Dia bahkan bisa dengan mudah meninggalkan teman-teman dekat jika teman-teman itu sudah tidak menguntungkan baginya. Dan hal ini sangat kontras denganku. Bisa diakui, dia memang pribadi yang tegas dan mengutamakan logika, tapi menurutku tidak selamanya hidup bisa begitu. Aku tahu kalau aku adalah pribadi yang tidak bisa tegas dan tidak bisa mengambil keputusan dengan cepat. Aku juga orang yang dominan dengan otak kanan dan perasaan begitu sangat penting bagiku. Perasaan untukku bisa mempengaruh segala hal, termasuk karier dan pendidikan, tapi satu hal yang pasti, aku menghargai orang-orang sekitarku. Aku tidak pernah dekat dengan orang hanya ketika kita perlu dengan mereka. Bagiku, hidup bukan hanya soal untung dan rugi, bukan hanya soal berapa kita harus menerima lebih banyak dan bagaimana caranya. Dalam pikirannya yang terbesit hanya soal uang, bagaimana cara mendapatkan uang lebih banyak bahkan dengan menghalalkan segala cara. Ini sangat bertolak belakang denganku. Perasaan orang lain baginya tidak penting, jika memang orang itu sudah tidak ada manfaatnya lagi, maka dia akan dengan mudah meninggalkan orang itu. Aku tahu memang ini bukanlah hal positif menurutku, namun entah menurut orang-orang yang memiliki pemikiran yang sama dengan dia, bisa jadi mereka berpikir hal ini positif karena bisa membuat mereka cepat kaya dan sukses secara duniawi.


    Selama aku mengenalnya, kita sering kali kuliner ke mana-mana. Dia suka makan dan jalan-jalan, tapi dia tidak suka nonton ke bioskop dan kurang begitu suka membaca buku, terutama novel. Namun yang aku hargai darinya, dia selalu antusias membaca tulisanku dan memberikan komentar-komentarnya untuk itu. Seperti puisi-puisi yang aku buat saat di masjid ketika dia menggambar, dia memuji dan menyukainya. Dalam hal ini aku mengapresiasi dia karena dia bisa menghargai karya seni orang lain.
Dan kembali ke masalah kuliner, dari semua tempat yang kita kunjungi, ada beberapa tempat yang menjadi tempat favorit bagi kita karena ada beberapa menu kesukaan kita di sana. Yang pertama adalah Sambal Khas Karmila (ada beberapa cabang, tapi kita paling sering mampir di cabang yang berada di Cihapit), yang paling kita suka di sini adalah nasi pedasnya yang khas dan ayam gepreknya (aku suka ayam geprek sambal matah, sedangkan dia ayam geprek telor asin dan mozarella). Yang kedua adalah Karnivor yang berada di Jl RE Martadinata. Makanan yang paling sering kita pesan di sini hingga kita nambah berkali-kali adalah poutine (kentang goreng yang ditaburi saus keju dan lelehan mozarella). Yang ketiga adalah Rumah Makan Taiwan di Lembang. Rumah makan ini mengambil konsep chinese, namun menunya semua khas sunda, tapi semua masakannya enak-enak, gurih dan harganya murah. Yang paling sering kita pesan di sini adalah nasi bakarnya yang enak dan gurih. Dan yang terakhir adalah Chinese Food didaerah Mekarwangi Cibaduyut, makanan yang paling sering kita pesan di sini adalah kailan dua musim.
Sebetulnya banyak sekali tempat makan yang sudah kita datangi, tapi keempat tempat tadi yang paling sering dikunjungi, bahkan kadang hampir setiap hari dan kita memesan menu yang sama berulang-ulang.


































    Dan terakhir adalah masalah warna dan baju kesukaan. Dia adalah pecinta warna biru. Ketika dia mengenalku pertama kali, dia mengira aku menyukai warna biru, karena dia melihat motor, helm dan jas hujanku berwarna biru. Padahal sebetulnya aku bukan pecinta warna biru. Kadang aku juga bingung dengan warna yang aku sukai dan sepertinya aku menyukai warna tertentu dengan fleksibel. Contohnya, tahun 2012, aku masih menyukai warna ungu, sama seperti mantanku yang di Jakarta. Lalu 2013 sampai 2014, aku suka warna putih dan juga warna maroon. Semua kaosku nyaris berwarna putih pada tahun ini. Lalu ketika orang yang suka denganku, suka warna biru dan memanggilku biru, aku jadi secara tidak langsung banyak mengoleksi barang-barang dengan warna biru sampai sekarang, meskipun sekarang aku lebih suka warna hitam, karena berat badanku tidak sekurus dulu, sehingga ketika memakai warna hitam, badan akan terlihat lebih kecil, selain itu warna hitam tidak mudah kotor dan bisa dipadu padankan dengan warna apapun. Karena kecintaanku terhadap warna hitam inilah, aku menamai toko dan merk sepatu aku sekarang dengan nama “Black Androgynis”.
Sedangkan untuk masalah baju, dia paling jarang terlihat memakai kaos. Dia hanya mengenakan kaos jika sedang berada di rumah. Dia paling suka memakai atasan wanita (entah apa namanya) dan rok pendek atau celana pendek. Dan dia juga paling jarang memakai jaket, sedingin apapun udara, sehingga ketika kita harus jalan bareng, aku selalu membawa jaket untuknya, selain helm, karena sebetulnya dia tidak tahan dengan dingin dan tangannya sering berkeringat dingin, tapi dia paling malas membawa jaket.
Sedangkan aku, aku paling suka memakai kaos, karena menurutku kaos adalah baju paling nyaman dan santai untuk dipakai. Dari jaman kuliah hingga kerja, aku bahkan kadang melanggar aturan karena memakai kaos, padahal seharusnya kemeja (saat ujian atau saat kerja) atau kaos berkerah. Dan aku juga sangat suka memakai jaket. Jaket adalah salah satu barang yang paling aku sukai dan paling banyak aku beli selain sepatu.
Terakhir masalah sepatu, dia jarang terlihat memakai sepatu, dia lebih suka sandal wedges atau sepatu flat, sedangkan aku, sejak sering naik motor, aku jarang memakai sandal, aku paling sering memakai boots biasa atau safety boots, selain nyaman, anti air, juga aman. Hal ini terbukti ketika aku digigit ular King Cobra di Rumah Makan Am***a yang di dekat Kawaluyaan, gigitan ular itu tidak menembus kulitku karena aku memakai safety boots, sehingga bisa ular itu hanya melekat di sepatuku.







    Bercerita tentang dia, memang aku bisa menjelaskannya panjang lebar. Namun, semakin aku menjelaskan tentang dia dan kenangan yang pernah dilewati dengannya, membuat rasa kehilanganku semakin terasa. Bagaimana tidak, hampir enam bulan kita beraktivitas bersama-sama. Setiap hari bertemu, bahkan aku yang memboncengnya, dll
Dari keterbiasaan yang tiba-tiba berubah itulah kemudian rasa kehilangan muncul. Mungkin ini hanya proses dimana aku harus mulai membiasakan diri tanpa kehadiran orang itu, sama seperti ketika aku belum mengenalnya. Akan tetapi, diakui atau tidak, rasa sedih itu selalu datang, terutama ketika harus pergi ke toko baruku, dimana aku membuka toko di mall itu juga karena info darinya. Lalu ketika ke kantor, dia juga sering aku ajak ke kantor, bahkan hanya untuk sekedar menemaniku meeting. Atau jika aku ke tempat-tempat lain, bahkan rumah sakit, selalu ada kenangan dengannya. Karena hal inilah, proses membiasakan diri tanpa dia juga sangat sulit, meskipun aku selalu ditemani sahabat-sahabatku yang lain, tapi ternyata tidak bisa mengobati rasa rinduku dengannya.

Karena manusia adalah makhluk yang unik. Manusia memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda, sehingga ketika kita harus kehilangan satu manusia, maka yang lainnya tidak bisa menggantikannya. Mereka hanya bisa mengisi kekosongan dengan karakternya yang lain, bukan “mengganti”, karena setiap orang memiliki tempatnya masing-masing dihati kita, tempat yang tidak bisa digeser atau diubah hanya karena kosong. Dan bagi orang yang baru datang, dia hanya bisa ditempatkan ditempat baru dalam hati, bukan ditempat orang lain yang terlihat sepi, yang baru saja  ditinggal pergi.



















"Akhirnya kau hilang. Kau meninggalkan aku — dan kenangan kini satu-satunya masa depan yang tersisa."
-Aan Mansyur


No comments:

Post a Comment