“Lukisan adalah Kerinduan yang panjang.” (Shin Yoon Bok)
Debur ombak malam itu tampak beringas. Hingar bingar derunya yang bergelut di bawah naungan malam tanpa bintang masih bercengkrama dengan desau angin dan nyanyian kelabu tanpa temaram cahaya rembulan. Aku terpaku, pun dia yang menatap punggungku lamat-lamat tak jauh dari tepian. Lurus, tak ada batas, tiada jarak. Bumi seakan terhampar pada bentangan yang tanpa titik. Malam itu begitu hitam, tak ada sedikitpun cahaya melintas menerangi raungan ruang yang bergema tanpa makna. Namun, sekelabat warna putih tampak menggulung berkejaran di hamparan kelam. Ombak, dia yang menciptakan warna putih di sepanjang gelap ini. Indah, rasanya ingin berlama-lama di sini, tanpa suara, tanpa kata-kata.
“Mau main air?”
Tiba-tiba sebuah suara membuyarkan lamunanku. Dia menjulurkan tangannya seraya tersenyum.
“Biasanya aku ga pernah main air kalau di pantai. Aku alergi sama air laut. Sekarang aja cuma kaki yang basah, tapi udah gatel!”
Tatapanku masih lurus, namun kosong. Sepertinya ada ruang yang mengawang-ngawang tanpa isi, hampa.
“Makannya sekarang nyoba yang ga biasa. Ayo!”
Dia menarik tanganku hingga berjalan ke tengah pantai. Aku dan dia lalu berlarian ketika ombak bergulung-gulung seperti akan menghantam kita. Kita tertawa renyah. Sesederhana itu, dia mengubah sikap dinginku yang sedari tadi beku menjadi cair.
“Yah celana aku basah deh. Jangan ke tengah lagi ya. Kamu sih tinggi, jadi ga basah!”
Dia menggerutu seraya melihat celananya yang sudah basah hingga paha. Aku tertawa melihatnya, lalu aku berjalan lagi menuju ombak itu.
“Ga apa-apa, tanggung juga kan udah basah, ayo!”
Kita lalu berjalan ke tengah, lalu secepat kilat berlarian demi menghindari ombak, hingga suara tawa memecah keheningan laut malam itu. Bahagia, kita bahagia. Ya, sesederhana itu.
“Biasanya aku ga pernah ke pantai sampe malem begini. Apalagi main air sampe ke tengah kaya tadi. Ini pertama kalinya, tapi aku ga takut sama sekali!”
Dia memulai pembicaraan ketika kita sedang berjalan pulang.
“Oya?”
“Iya, entah kenapa malem ini aku ga takut sama sekali. Aku seneng maen air kaya tadi. Biasanya aku berenang sampai ke bendera itu! Tapi kalau malem kaya gini aku ga berani!”
Dia lalu menunjuk bendera yang agak jauh dari tepian. Bendera itu tampak berkibar-kibar di tengah lautan luas yang terhampar.
“Aku juga seneng dan ini pertama kali juga buat aku, main di pantai selarut ini.”
Kita tertawa lagi, seraya berjalan dengan celana basah dan tanpa alas kaki. Bahagia, ya sesederhana itu aku mengatakannya bahwa aku bahagia. Dia memegang tanganku, kita berjalan beriringan, pulang.
Dalam keremangan, tiba-tiba semua bayangan itu satu persatu berdatangan. Seperti potongan-potongan puzzle yang berhamburan di dalam isi kepala, lalu berselancar pada lautan tanpa batas di dasar hati. Merumah di sana dan sesekali membuncah-buncah meletupkan rasa, entah rindu, marah, benci, atau rasa-rasa lain yang tanpa nama, entahlah.
“Jam setengah tiga rupanya.”
Aku bergumam ketika melihat jam dinding di kamarku. Rupanya aku tadi bermimpi. Tapi rasanya begitu nyata. Mungkin aku merindukannya. Ya, sepertinya begitu. Aku lalu mengambil selembar kertas kosong, lalu mulai menulis:
Biru, masihkah laut itu berwarna biru? Seperti biru yang kau sematkan pada namaku. Biru tempat samudera membentangkan hamparan dan biru di mana langit mencuatkan naungannya. Biru tempat kupu-kupu berterbangan dan buncahan-buncahan rasa memekik keindahan.
Kau mungkin lelah, menunggu jendela ini terbuka. Menunggu satu persatu pesawat kertas itu terbang berhamburan. Menelusuri lorong-lorong panjang tempatku memahat hati.
Bukankah kau telah bersabar? Berjalan tertatih-tatih. Kau selami lautan, kau daki tebing-tebing curam, kau susuri jalanan terjal, dan kau pertaruhkan waktu pada jarak yang panjang. Kau menungguku, bukan begitu?
Kau telah bersabar pada hitungan yang tak bisa aku hitung. Menungguku tatkala hati masih beku. Menghibur gundah dan keluh kesahku ketika rasa masih bersarang pada dia yang aku namai cinta. Bukankah butuh waktu yang lama hingga kau sampai pada titik ini? Titik di mana aku mulai mengubah arah dan menoleh barisan pelangi yang selama ini aku punggungi.
Sayang, ada badai di hatiku. Aku resah. Tiba-tiba rindu ini merumah, bukan padanya, bukan seperti biasanya. Rindu yang tiba-tiba termaktub padamu, pada namamu. Bias-bias pagi yang samar dipenghujung subuh itu dan rona-rona cerah terpancar pada tarian riang wajahmu yang membingkai simpul senyuman. Aku merindukannya, benar-benar rindu.
Oh badai, mengamuklah… Dan hantam aku yang masih mematung di palung waktu. Bayangan itu terus terbayang-bayang. Kadang muncul, kadang tenggelam. Kadang biru, kadang jingga. Biarkan mereka hilang, tergerus cahaya mata yang berkunang-kunang. Biarkan aku kembali berjalan, walau sesaat gaduh. Tapi, mengertilah.. Jendelaku masih basah, semalaman kantuk mengalah. Lalu, masihkah kau tetap bungkam? Atau kau akan mengikuti jejaknya yang menghilang? Raib pada jalanan berlumpur keberingasan, pengkhianatanan.
Sayang, putarlah waktu, lalu berlarilah. Bukankah kau telah menyia-nyiakannya? Menabuh genderang perang tatkala jendela itu terbuka lebar. Kau malah beranjak dan meninggalkannya.
Kau tukar hatimu dengan belukar usang tempat amarah menghunus rasa sayang. Kau gembalakan riak kepalamu yang masih berputar-putar. Kau mengorbankannya, mengorbankan kesempatan yang dengan sekejap mata menghampirimu, ada di depanmu. Kau mengabaikannya, mengakhirinya, lalu selesai. Secepat itu.
Biru, sematkan lagi kata itu dalam namaku. Aku tengah berkecamuk dengan rindu. Sapalah! Merumahlah! dan basuh amarahmu!
Ada api dalam sakuku, ada resah dalam gelisahku. Lama kau picingkan arah tak dinyana. Menyelaraskan doa agar aku berpisah dengannya, lalu kau selinapkan rasa-rasa lainnya. Kau terbangkan aku dalam kepakan sayap kupu-kupu. Kau ketuk rumah tertutupku. Kau selami ruang hampa itu.
Kita berpacu..
Sesaat berseteru..
Lalu kau membunuhku..
Biru,
Masihkah kau memanggilku biru??
Aku rindu..
