Saturday, November 3, 2018

BAHAGIA





    Dalam seminggu, banyak hal telah berubah. Kehadirannya ibarat kejutan yang tiba-tiba datang ditengah peliknya suasana hati. Hari-hari pun lalu menjadi candu yang kerapkali merengkuh sisa-sisa waktu. Kita ibarat magnet yang tak bisa dipisahkan setiap harinya. Dan inilah hal lain yang baru aku ketahui dari rasa, selain hubungan jarak jauh yang seringkali membunuh rindu oleh peluh dan ketidakpastian.

    Dia adalah senyuman, karena didekatnya aku tak pernah berhenti berbahagia. Dia juga adalah roller coaster yang kerapkali membuat perasaanku naik turun tak karuan. Sisi misteriusnya adalah hal terbaik yang dia miliki saat ini. Saat didekatnya, aku seperti melihat seorang pelawak yang tak pernah murung sedikitpun, tapi saat dia tak ada, hatiku diliputi banyak prasangka karena dia tak seperti kebanyakan orang yang bisa memberikan kabar setiap saat. Rindu dan cemburu adalah alasan ketika dia berada jauh di sampingku.

    Hingga kemudian masalalunya terungkap dan itu bukan dari mulutnya sendiri, sungguh mulanya dunia terasa runtuh, tapi sekali lagi, sisi polos dan tangguhnya mampu membuat dunia terpana. Kisahnya mampu membuat wajah bercucuran airmata, tapi dia bersikeras bahwa dia bahagia.

    Mengenalnya hingga kemudian menjadi bagian dari hidupnya adalah hal yang tak pernah terpikir sebelumnya. Sungguh, dia adalah kebahagiaan-kebahagiaan yang membuat rasa lapar hilang, rasa kantuk lenyap dan setiap harinya tubuh seperti kelebihan energi.
Terimakasih Tuhan, kali ini aku benar-benar bahagia. Sungguh bahagia.

Thursday, November 1, 2018

PATAH


    November dan teka-teki yang menggantung di atas petala pagi. Dari matanya, ada ruang rahasia yang tak ingin ia bagi pada selembar daun jatuh yang berharap digenapi.
Hatinya lalu menjadi dingin, seakan beku oleh lembaran-lembaran lain yang tak sengaja diperlihatkan angin di tepian muara senja.

    Siapa dia? Dan kali ini malam berseteru dengan gaduh yang ia senandungkan tanpa mampu diucapkan. Matanya adalah misteri, senyumnya adalah tragedi dan kata-katanya adalah kunci menuju kalimat-kalimat tak terungkap yang ia kubur di bawah ruang kekosongan.

    Dalam satu etalase itu, tak ada yang bisa aku lihat darinya dengan mata terbuka. Dia adalah lapisan-lapisan yang tak bisa aku kenali di mana nuraninya sesungguhnya bersembunyi.
Dan hatiku lalu jatuh, sedang aku tak tahu di mana sebenarnya ia jatuh, sebab dia adalah teka-teki yang tak bisa aku tebak sekali lagi.

    Kini, sunyi mengendapkan namanya berulang-ulang dalam rasa nyeri. Namanya adalah primadona yang ada pada setiap pasang mata yang memandang, sedang aku terlanjur menamainya keindahan, kesetiaan. Tapi, sekali lagi, dia hanyalah bagian dari skenario misteri yang tak bisa aku mainkan di atas panggung kebohongan. Aku ingin mengenalnya di balik layar, dimana topeng itu dilepaskan, dan dia berterus terang tentang siapa dia sebenarnya.

    Dia adalah babak dimana permainan menjadi semakin sulit. Babak dimana angin meruntuhkan harapan dan harapan bertanya-tanya tentang apa itu kejujuran.
Dia adalah puncak musim gugur yang hadir di pertengahan musim semi. Dan hatiku dia tempatkan diruang penampungan sampai ia bisa melihat fajar dengan mata terbuka tanpa ada lagi rasa takut terbakar oleh sinarnya yang berpijar.

    Menggenapinya adalah pertarungan dengan rasa yang tak habis-habis terkikis, entah oleh prasangka, cemburu atau rindu yang hanya mampu tergeletak di balik gambar-gambar masalalu.

    Dia kini tinggal di balik genggaman tangan, terlihat, terasa, teraba. Dan jemari telah menggenapinya dalam janji, namun semua yang tampak ini hanyalah kerangnya, hanyalah cangkangnya. Dan kerangnya tak pernah terbuka, tak pernah memperlihatkan mutiaranya. Tak pernah ada, benar-benar tak ada.

Lalu ada yang patah lebih dini kali ini. Patah dalam pelukan, patah dalam pengabaian, patah dalam kebohongan.