Ada senyuman dari atas langit, setelah kaki berhenti pada sudut terakhir jalanan kelam perempuan-perempuan yang menari tanpa pakaian.
Daun-daun dan hujan bercerita pada kardus-kardus bekas yang terhempas tanpa nilai dan harga diri.
Dan mata-mata itu, mata yang tak bisa melihat matahari dengan jelas. Mata yang hanya terbuka seperti tertidur. Mata yang tanpa kelopak mata. Mata yang hanya melihat api yang tengah bertelanjang dada.
Dia adalah “penjaja” tanpa bayaran. Pemelihara nama-nama tanpa ikatan. Penyulut batang rokok tanpa ia hisap sedikitpun. Dia telah memulai “kiamatnya” sendiri. Bersenang-senang tatkala dirinya diinjak-injak dijalanan.
Berakhirlah, seperti daun yang tengah memulai hujan. Seperti caranya berjalan dengan baju-baju transparan. Seperti ribuan pasang mata berbinar-binar melihatnya dengan tatapan melecehkan.
Apa maunya? Apa yang ia pikirkan?
Karena tidak selamanya “sampah” bisa untuk didaur ulang.
Seringkali kau menyalakan lilin di bawah guyuran hujan dan berharap bisa mengusir kegelapan!
Kau kira air dan api bisa bersekutu?
Kau kira bunga-bunga mekar itu sama dengan bunga layu?
Kau kira aku sudah tertipu?
