Aku adalah bagian dari kisah tersembunyi. Endapan yang tak bisa kau perlihatkan sebagai kepingan lain dari hati. Kau berjalan dengan alur skenario terbaik dari sebuah sandiwara. Berjalan bergandengan dengan sangat terus terang di bawah cahaya. Kau memeluknya dan menikamku dengan tarian ikatan yang serupa kepura-puraan.
Di depan mataku, rasa runtuh berhamburan di balik kelopak mata. Mengaburkan pandangan dan tanda tanya besar akan rasa sayang.
Satu hati tak pernah cukup untukmu dapat memeluk purnama di bawah gulita malam. Aku adalah bagian pelengkap dari sebuah ketiadaan. Resah yang seringkali kau sangkal mati-matian di depan ribuan pasang mata.
Kau berjalan dengannya, dengannya, dengan mereka, dan dengan setiap barisan nama yang kau urutkan pada buku harianmu. Aku hanyalah pemeran pengganti dari nama-nama yang kau coret kali ini. Aku adalah selimut bagi sepi yang kadang-kadang menghampiri. Aku tidak berarti.
Kadang-kadang malam menyuguhiku dengan sepotong sapaan rindu. Harapan yang tak pernah aku ketahui kapan akan beranjak dari buncahan-buncahan kesemuan. Sepotong rindu yang aku kira berlian ditengah gurun ketandusan, namun ternyata rindu itu hanyalah kata-kata pemanis dari sang pemain peran.
Aku lelah melihat hujan dan mendapati mimpiku telah jatuh dan tenggelam. Cita-cita yang seakan menjadi antrian panjang dari lorong ketakutan.
Aku ingin mendengar sapaan dari langit dan menikmati alunannya hingga badai terasa senyap dan baik-baik saja.
Pergi atau kembalilah! Hati bukan tempat jual beli atau bahkan loket tiket kereta api. Rasa bukanlah butiran nasi yang bisa kau bagi-bagi sesuai porsi. Kita tak bisa beramai-ramai berjalan di atas altar untuk mengucapkan janji suci. Sebuah ikatan bukanlah pasar yang ramai akan hiruk pikuk orang. Kau tak bisa mengumpulkan banyak cinta pada satu wadah yang telah sesak oleh airmata. Kau tak bisa menempatkanku di sana. Rumahku bukanlah lorong-lorong kumuh tempat nafsu dengan suka rela berpesta pora. Rumahku bukan pula rumah-rumah kardus yang bisa kau gunakan sekali lalu kau buang. Tidak! Aku bukan bagian dari nama-nama yang kau tuliskan di buku itu!
Pergi dan habiskan malam panjang itu dalam gemerlapmu yang penuh dengan riuh ricuh! Aku adalah bagian dari hening. Penyendiri yang tengah memecahkan teka-teki rasamu yang gaduh. Kau pemain terhebat dari riak air yang tengah melawan arus. Gerakmu berbisa, tapi aku terbiasa! Pergilah.. dan pilih setiap hati yang kau anggap bisa dibeli dengan kemolekan diri. Pilih mereka yang terbiasa berjejer rapi untuk dipilih. Aku bukan pilihan, bukan pula dagangan yang dengan sukarela menyerahkan diri saat dibeli. Aku pamit.. jaga diri baik-baik!
