Saturday, December 12, 2020

Selendang Pertaubatan


   


           Sekelabat cahaya melintas di depan mata. Ada sejuk menyusup ke dalam dada. Lantunan yang masih saja menyibukkan mulut dalam menyebut asma-Nya. Hening seakan menjadi jembatan rasa dalam mengenal apa itu “ada”. Sepertiga malam tanpa riuh ricuh gaduh manusia yang selalu sibuk akan sandiwara dunia, seolah mengenalkan kepadaku apa itu hakikat hidup yang sebenarnya. Perjalanan dimana dosa kemudian bermuara pada titik-titik pertaubatan dan harapan kemudian lahir kembali dari rahim pengampunan.


          Dia adalah ketenangan. Obat gelisah ketika jiwa tak mampu lagi mengenal apa itu bahagia. Dia adalah penawar ketika perjalanan hidup terasa begitu pahit. Dia merangkul dengan hangat, ketika tak ada satu orangpun mampu menyelimuti dinginnya malam yang penuh dengan kecurangan.


          Kau tahu apa itu ketiadaan? Ujung dari jendela hiruk pikuk dunia yang kau anggap "selamanya”. Duri yang menyesakkan rasa tenang, ketika kelak kau sadar bahwa apa yang kini kau perjuangkan, kelak akan tertimbun oleh tanah. Uang yang kau anggap malaikat kebahagiaan hanyalah lembaran-lembaran kertas pemicu pertengkaran. Dunia telah memabukkan para petualang yang lupa jalan pulang. Seperti keadilan yang kemudian terbengkalai pada  baju para pemuas nafsu.


          Aku tengah mengingat lagi tentang siapa itu “diri”. Tragedi ketika hati terjerembab pada babak yang tidak pernah Dia setujui. Waktu yang aku gulirkan pada tempat-tempat sampah yang tak pernah berfaedah. Lari dari satu nyala lilin untuk kemudian membakar diri pada kobaran api. Aku telah membiarkan “tiket neraka” mempersembahkan lahannya dengan sukarela.


          Aku masih berada di persimpangan. Dalam tangis-tangis yang hanya bisa diterjemahkan oleh-Nya dalam kalimat-kalimat rintihan dan permohonan. 

Perjalanan panjang di mana rindu kemudian tahu dimana nurani seharusnya bersimpuh pilu.


          Tuhan bangunkan kesadaranku dari dongeng lama tentang tarian para putri raja. Sadarkan aku dari bendungan airmata yang aku kumpulkan tatkala aku berkenalan dengan asmara. Bangunkan aku! Seperti Kau membangunkanku ketika sedih tak mampu lagi menembus garis waktu. Biarkan aku masuk dan melebur bersama aliran rindu. Aku ingin mengenal-Mu!