Senja menjadi kusut mengingat pelangi tak lagi nampak selepas hujan. Dan bayangan-bayangan kelabu yang jatuh di atas kelopak mata menjadi awal dari Januari yang menguning lebih cepat.
Ketika yang nyata menjadi fana oleh waktu dan yang bias lalu menjadi begitu jelas. Aku tengah menukik bentuk lain dari sebuah kesadaran. Realitas rindu yang memutar di balik awan.
Lagi-lagi ini adalah soal hujan yang turun tidak tepat waktu. Tentang rintikannya yang menjadikan basah sunyi mengendap di balik remang-remang cahaya malam.
Ada yang sendiri, menyendiri diantara banyak kehilangan. Mengurai helai demi helai kenangan. Dan tertegun memahat resahnya pada kalimat-kalimat pengandaian.
Kau adalah kegelisahan. Bahasa-bahasa lain dari tarian hujan yang telah tercampakkan. Mengubur lelah dan peluhnya pada ilalang yang tak paham akan kata “hilang”. Kau adalah lukisan pada sepertiga malam yang kabur menjadi embun di atas keraguan.
Aku tengah menaruh senja pada gelas purnama. Menamakan dirinya genangan yang bercahaya. Aku suka bulan, cahaya samar yang tidak memiliki suhu. Aku suka redup, seperti kamar temaram tempat manusia mengubur rahasianya. Aku suka berlabuh, pada hitamnya tinta tanpa warna. Sebab monokrom kadang lebih hangat daripada warna yang penuh sandiwara.
Kau tahu apa itu memiliki? Sebuah kata yang menjadi batas bagi apa yang telihat oleh mata, namun tidak bagi hati. Sebab hati terlalu rumit untuk memiliki batas dari rasa yang tidak pernah mengenal kata cukup. Sudahkah bahagia cukup memiliki tempatnya sendiri? Pada status yang tercatat pada pada selembar kertas yang membatasi kata bebas. Sudahkah bahagia mengikuti prosedur yang seharusnya? Atau mungkin dia pernah tidak seirama? Tidak mudah, maka bicaralah!
Kali ini aku hanya ingin menulis, bukan untuk siapa-siapa dan bukan untuk apa-apa. Hanya saja benang waktu tengah terurai dari jahitannya. Membuat mataku terbelalak dan ingin sedikit bercengkrama dengan pinangan-pinangan rasa yang masih berahasia. Entahlah, hanya saja jubah malam tengah merasuki jiwa sang penyair yang telah lama tidur dari rasa sakitnya. Dan kini ia ingin sebentar saja berpesta, mengingat luka dan kenangan-kenangan tentang perjalanan dari airmata. Itu saja!