Dan air kemudian menjadi sunyi yang diterbangkan oleh semilir angin. Pada rintikannya dihari kesepuluh bulan sepuluh, resah lalu mengudara pada bias harapan yang terkotak-kotak diujung bilangan senja.
Ada yang berdebat disela kisruh malam. Ego yang lalu merangkak menjadi cerita baru pada akhir hitungan bulan. Tarian jarum jam dan angka-angka dikalender yang selalu bermuram durja, seperti putus asa akan hari esok yang dipenuhi sarang laba-laba.
Dan siluet tidak akan pernah bertanya lagi tentang apa dan kenapa. Tentang “bagaimana” yang seakan terpenjara pada batasan norma-norma. Tentang “diam” yang seakan menjadi makhluk bisu yang tidak bisa bergerak maju. Tentang kata “perempuan” yang seringkali diharuskan “ayu” dan penurut.
Namun, air kemudian meruntuhkan semua aturan itu. Sebab hidup terlalu keras bilamana kita diharuskan bertarung dengan mendayu-dayu. Sebab dunia terlalu licik bilamana kita harus tunduk dan diam pada aturan-aturan yang mengekang sayap-sayap kebebasan perempuan. Sebab hierarki kini tidak bisa berdiri dengan dua kaki. Semua tumpang tindih pada keadilan yang tidak bisa lagi berlaku adil.
Aku tidak ingin menyimpan lagi tisyu disakuku dan mengamini betapa banyak air mata yang kelak turun di atas pipi. Aku akan berhenti mempersiapkan kesedihan yang aku ciptakan sendiri sebagai perisai diri. Sebab ternyata setiap hari adalah keajaiban yang kerap bersembunyi di balik rasa syukur. Sebab hari ini adalah anugerah terbaik dari momentum kebahagiaan yang belum tentu datang esok hari.
Sebab hanya “Dia” yang senantiasa ada dimanapun kita berada. Sebab hanya “Dia” yang selalu hadir disaat kita berada pada titik nadir. Sebab hanya “Dia” yang masih memberikan nyawa disaat kita berada dipuncak rasa putus asa. Lalu, kenapa kita bisa lupa dan terus berpura-pura?
Untuk hanya bersandar kepada-Nya, bukan kepada makhluk-Nya.
.jpeg)