“Elang!!”
Betapa terkejutnya aku saat membuka mata dan melihat seseorang yang telah lama pergi dari hidupku tiba-tiba ada di sampingku. Belum cukup aku terkejut melihatnya, aku harus dikagetkan juga oleh keadaan di sekelilingku yang kini telah berubah. Sekarang aku berada dalam sebuah perahu di tengah-tengah sebuah danau. Suasananya begitu hening. Aku begitu menyukainya. Danau adalah tempat yang paling aku cari ketika hati begitu gelisah dan tak tentu arah. Lalu mataku kembali menatap padanya yang sekarang duduk di sebelahku. Dia begitu pucat, wajahnya terlihat sedih dan pandangannya masih tertuju pada danau yang ada di depan matanya.
“Elang, kamu pucat sekali! Aku bener-bener ga percaya bisa melihat kamu lagi. Aku kangen sama kamu. Tiga tahun lalu bagai mimpi buruk buatku. Apa kamu tau? Setelah kamu pergi, aku nulis nama kamu dimanapun. Aku pesan makam yang sama di sebelahmu. Aku menamai apapun yang aku berikan dengan mengatas namakan kamu. Apa kamu tau? Waktu itu aku sudah tidak bisa berpikir lagi. Aku ga tau lagi bagaimana cara menghubungi kamu. Aku ga tau bagaimana caranya menumpahkan rasa rinduku itu. Elang, aku benar-benar sedih.”
Tak terasa pipiku kini sudah berlinang airmata. Kerinduan yang selama ini aku bendung akhirnya tumpah ruah. Betapa tidak, tiga tahun yang lalu aku jatuh cinta pada sosok yang telah tiada. Merindukan dia, hingga aku lupa untuk memikirkan apapun selain kerinduan itu sendiri. Saat itu, aku begitu pesimis karena tidak tau bagaimana caranya agar bisa terhubung dengan dia. Namun, kini dia bisa terlihat begitu nyata di depan mataku sendiri. Betapa bahagianya aku, namun dia masih bisu. Tak ada tanda-tanda apapun bahwa dia akan berbicara dan menoleh kepadaku.
“Elang, kenapa kamu cuma diam? Apa kamu ga ingin menanggapi apapun yang aku katakan tadi? Oya, bukankah dua surat yang aku temukan beberapa saat yang lalu itu darimu? Bukankah kamu selalu mengamatiku? Tapi, kenapa sekarang kamu diam saja?”
Belum sempat aku menunggu dia bicara, tiba-tiba langit berubah menjadi mendung, lalu hujan turun dengan deras. Petir tampak menyambar-nyambar ke arahku. Dengan panik, aku peluk kedua lututku dan aku tundukkan pandanganku. Cuaca semakin buruk, sedangkan aku tidak tau harus berteduh di mana. Perahu tanpa dayung ini sekarang terasa terombang-ambing di tengah danau. Aku lalu menoleh ke arah Elang. Dia masih diam dan tidak bergerak sama sekali. Seharusnya ekspresinya tidak begitu ketika menghadapi cuaca yang tiba-tiba berubah, namun dia tampak mematung dan mengabaikan keberadaanku yang sedari tadi berbicara dengannya.
“Aneh sekali!”
Gumamku dalam hati. Pandanganku kemudian lurus ke depan. Aku berusaha mencerna semua yang sedang terjadi padaku.
“Apa aku sudah mati? Rasanya semua yang aku alami begitu tidak masuk akal. Dimana aku sekarang ini? Rasanya ingin cepat-cepat pulang.”
Aku bertanya pada diriku sendiri, lalu tertegun cukup lama di bawah naungan langit mendung dan guyuran air hujan. Kemudian aku mencoba menoleh lagi ke arah Elang, berharap dia mau berbicara kepadaku. Namun, betapa terkejutnya aku, ketika baru saja menoleh, Elang tiba-tiba melompat ke arah danau dan tenggelam di sana.
“Elaaaaang!!!!”
Aku berdiri dengan rasa panik, lalu melihat-lihat ke sekelilingku, berharap ada orang di sana.
“Tolong!!! Apa ada orang di sini?? Temanku baru saja tenggelam. Tolong!!!”
Aku berteriak sekeras-kerasnya dan berharap ada yang bisa menolong Elang. Namun, tak ada siapapun di sini. Aku kemudian tertunduk lemas. Aku menangis sejadinya. Baru saja aku bisa melihat orang yang selama ini aku harapkan kedatangannya, namun dengan seketika menghilang begitu saja, rasanya sangat tidak adil.
Dari kejauhan, aku melihat seseorang tengah berjalan ke arahku. Dia tampak begitu samar, dengan sebuah payung di tangannya, dia masih berjalan. Wajahnya belum terlihat dengan jelas. Dia berjalan terus ke arahku, hingga perlahan aku bisa melihat senyumannya yang begitu manis. Dia semakin mendekat, namun yang membuatku heran adalah ketika dia berjalan di atas danau. Dia seperti melayang, kakinya tidak basah sama sekali dan dia tidak tenggelam. Dia sekarang berdiri di depanku. Beberapa saat lamanya kita diam. Aku tidak ingin tersenyum sedikitpun kepadanya. Aku masih diliputi rasa marah yang menyala-nyala. Aku merindukan dia, tapi aku juga sangat membencinya. Aku mencoba berpaling dari hadapan dia, namun sebuah suara seakan hendak menghentikan itu.
“Apakah kamu akan melarikan diri lagi?? Bukankah selama ini kamu sangat ingin bertemu dengan dia? Bukankah seharusnya kamu berbicara dengannya?? Bukankah dia adalah Jingga yang selama ini kamu hidupkan dalam hatimu, padahal dia telah membuatmu terluka berkali-kali, bukan begitu? Lantas apa yang membuatmu diam? Pengecut!”
Suara itu lagi. Aku berusaha mencari-cari sumber suara itu, namun tak ada siapapun lagi selain aku dan Jingga.
“Hey siapapun kamu, aku ga mengharapkan kehadiran orang ini. Aku masih sangat marah dengannya, benar-benar marah dan tidak ingin melihatnya lagi. Apa kamu tau? Kamu cuma bisa berkomentar tanpa melakukan apapun!! Aku sudah muak dengan semuanya!”
Emosiku mulai naik dan aku berusaha berpaling dari hadapan Jingga. Aku masih mengatur nafasku yang naik turun. Darahku terasa mendidih dan sangat ingin menamparnya, namun aku tahan, karena aku yakin, ini semua hanyalah halusinasi. Aku yakin, aku tengah tersesat dalam mimpi dan pikiranku sendiri. Jadi, aku berusaha untuk diam dan tidak ingin masuk terlalu jauh dalam permainan ini.
“Bicaralah, dan keluarkan semua yang membuatmu emosi. Dia ada di depanmu sekarang, jadi, bicaralah. Ungkapkan semua. Jangan berpikir lagi bahwa semua ini adalah halusinasi atau mimpi. Bicaralah dan utarakan semuanya kepada dia!”
Benarkah ini bukan halusinasi atau mimpi? Gumamku dalam hati, namun aku masih ragu untuk membalikkan badan, melihat Jingga dan berbicara padanya. Aku mulai berpikir dan menimbang-nimbang, hingga akhirnya aku beranikan diri untuk melihat dia. Aku pikir, mungkin ini saatnya marah di depan dia langsung.
“Jingga…”
Lidahku kemudian kelu, melihat dia yang masih tersenyum di depanku.
“Apa kamu gila senyum-senyum begitu?”
Tiba-tiba kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku, karena aku merasa heran melihat dia yang tidak seperti biasanya. Bahkan setelah mendengar kata-kata aku barusan, dia masih senyum-senyum tidak jelas.
“Dengar, coba fokus pada apa yang ingin kamu katakan dan jangan mengomentari apapun lagi tentang sikap dia saat ini!”
Sebuah suara tanpa manusia kembali mengkritik dan memerintahku dengan cukup arogan. Seenaknya saja dia, siapa dia? Gerutuku. Tapi, aku mencoba mengikuti perintahnya. Aku berusaha menatap binar matanya dan mulai bicara.
“Jingga, mulanya aku menganggapmu biasa. Aku pikir, hatiku tidak akan pernah terbuka lagi ketika aku tengah terkungkung dalam kerinduanku terhadap dia yang sudah tiada. Tapi, waktu kemudian mengungkap rahasianya, hingga kemudian diam-diam aku mulai merasakan buncahan bahagia yang akhirnya mengisi hari-hariku. Aku kemudian menggilaimu dan jatuh cinta padamu. Dan seperti yang kamu ketahui, ini pertama kalinya untukku. Bukankah seharusnya kamu merasa istimewa? Rasa yang aku rasakan sebelum ini sangat berbeda sama sekali, maka dari itu dengan yakin, aku mengatakan bahwa kamu cinta pertamaku. Pasang surut hubungan kita, tidak melunturkan perasaanku terhadapmu. Aku masih mempertahankanmu. Hingga pada satu titik, kita berpisah karena kamu begitu merindukan Tuhan, aku lalu melepasmu. Aku begitu percaya padamu. Namun apa? Setelah itu, kamu datang lagi dan memberikan harapan-harapan, hingga buncahan-buncahan bahagia di hatiku mulai mengambil tempatnya kembali. Aku jatuh cinta lagi padamu untuk kesekian kali. Tapi, sebuah badai akhirnya meluluh lantakan kepercayaanku padamu. Kehadiran dia, akhirnya membuatku mengerti bahwa cinta itu omong kosong. Kemarahanku setelah itu cukup tak terkendali dan hingga detik ini, aku menganggapmu sebagai sebuah mimpi buruk. Aku menyesal, sangat menyesal karena telah salah menjatuhkan hati. Bahwa tiga tahun bersamamu hanyalah bingkisan kosong yang diciptakan dengan penuh rasa nyeri dan sakit hati. Jingga, sebaiknya kau pergi dan tak usah kembali. Aku benar-benar benci!”
Dengan rasa marah, aku berpaling dari hadapannya. Tak ada komentar apapun dari dia. Aku kemudian menoleh lagi ke belakang, dan seperti biasa, dia sudah raib dari sana. Hal seperti ini sudah tidak asing lagi untukku. Aku lalu merebahkan badanku di atas perahu dan mencoba menutup mata. Hujan mulai reda dan aku merasa begitu kelelahan. Aku mencoba membuka mata dan menatap langit yang tampak luas di atasku. Tiba-tiba aku melihat arak-arakan awan itu berubah menjadi rangkaian kalimat-kalimat. Aku mengamatinya dengan seksama. Seperti sebuah surat. Menakjubkan sekali, sekumpulan kalimat yang aku lihat di atas langit. Aku berusaha membaca kalimat-kalimat itu, walau sesaat terasa begitu menyulitkan, namun akhirnya aku bisa membacanya.
Pada hujan yang kedua, kita tidak berhak lagi untuk meracik rasa. Bukankah seharusnya kamu sudah memiliki rasa yang utuh untuk kemudian di tempatkan pada dinding-dinding hatimu yang mulai mendingin karena kekosongan?
Apa maksudnya? Aku berpikir keras mencerna kata-kata yang baru saja aku baca, namun aku masih tidak mengerti. Hingga kemudian awan-awan itu membentuk sebuah pusaran, mataku terbelalak melihatnya, lalu hatiku diliputi perasaan takut, takut kalau-kalau akan terjadi badai. Kemudian ada sesuatu yang muncul dari pusaran itu dan tampak akan jatuh menghantamkku. Dengan cepat aku menutup kedua mata dengan tangan dan bergerak menyamping.
“BRUUUUK!!!!”
Sesuatu itu jatuh tepat di sampingku, namun aku masih belum berani membuka mata. Sesaat lamanya aku biarkan mata ini terpejam. Keringat terasa mengalir di seluruh tubuh dan jantungku berdekup sangat kencang. Aku tak bisa memperkirakan, benda apakah yang berada di sebelahku. Yang terlintas dalam pikiranku hanyalah bayangan-bayangan negatif yang mengerikan. Aku berusaha menghapus bayangan-bayangan yang aku ciptakan sendiri, namun aku belum berani membuka mata dan menoleh kesamping. Tubuhku tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh. Rasanya perahu tempatku berbaring sekarang terasa datar dan lembut.
“Pasir pantai?”
Aku terkejut ketika mataku mulai terbuka dan melihat danau dan perahu itu sudah tidak ada. Kini tinggalah aku tengah berbaring di sebuah pantai. Aku masih belum mempunyai nyali untuk mencari tau tentang benda apakah yang tadi jatuh di sampingku, padahal aku hanya tinggal menolehnya, maka rasa penasaranku akan hilang saat itu juga. Tapi, sepertinya lebih baik aku tidak harus tau. Itu mungkin bisa membuatku jauh lebih tenang.
“Hey!”
Sebuah suara terdengar di belakangku, sontak aku sangat terkejut dan bukannya menoleh, tapi aku berdiri dan dengan cepat berlari.
“Hey tunggu!! Biruuuu!!!”
Langkahku terhenti ketika mendengar kata “Biru” terlontar dari mulut orang itu. Aku tidak lantas menoleh dia saat itu juga, namun aku kembali mengingat kenangan pahit dan manis aku dengan dia.
Dia memanggilku Biru. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar untuknya menungguku tatkala aku masih bersama Jingga. Bukan, sepertinya bukan menunggu, tapi dia hanya ingin menemani hari-hariku agar bisa tetap tersenyum dan menjaga hatiku agar selalu bisa “baik-baik saja”, namun dibalik semua itu, aku tau bahwa hatinya pun tengah berselisih. Bahwa pertemanan saja tidak cukup untuk membuat buncahan-buncahan dalam dadanya reda. Bahwa akhirnya aku pun tau bahwa cinta tak berkutat tentang kerelaan atau tentang sesuatu yang mereka katakan ketulusan, sebab pada akhirnya cinta hanyalah cinta, yang berharap akan rasa dan asa yang sama.
Tapi satu hal, aku tak habis pikir dengan apa yang berkecamuk dalam hati dan pikirannya. Dia terlalu sering bercinta dengan pikirannya sendiri. Mencoba bergelut dengan dugaan dan sangkaan yang ia kira selalu benar. Bukankah dia lebih penakut daripada seorang anak kecil yang tengah tersesat dalam kegelapan? Dia bahkan rela mengorbankan seseorang demi keegoisan yang ia bangun dan ciptakan. Padahal sudah jelas, dia sendiri yang menumbuhkan rasa-rasa itu untuk akhirnya mencampakannya. Aku kira, dia lebih pengecut dari seseorang yang sedang berlari dari medan perang. Dia diliputi oleh rasa takut, padahal dialah dalang dari semua ketakutan-ketakutan yang selama ini ia ciptakan sendiri.
Aku tidak ingin menoleh ke belakang. Masih terlintas dalam pikiranku, ketika akhirnya dia bisa mendapatkan semua yang selama ini dia angan-angankan, namun dia justru berlari. Dia bahkan tidak peduli dengan apapun di sekelilingnya. Yang dia pikirkan hanya dirinya sendiri.
Aku terus berjalan tanpa keraguan, padahal ingin sekali aku melontarkan banyak pertanyaan kepadanya, tapi aku masih sangat terluka dengan kenangan terakhir yang dia ukir.
Airmataku deras mengalir. Aku putuskan untuk terus berjalan dan tidak mempedulikan apapun lagi.
“Biruuuuu!!!!!”
Dia terus memanggilku, hingga kadang membuat hatiku goyah dan begitu ingin berbalik dan mengeluarkan semua isi hatiku seperti yang aku lakukan terhadap Elang ataupun Jingga. Tapi, rasanya tak ada lagi yang harus aku ungkapkan untuk seorang pengecut seperti dia. Bahkan hatinya terlalu keras dan beku untuk sekedar minta maaf atau memaafkan.
Kali ini aku putuskan untuk berlari, bukan lagi berjalan. Aku tidak ingin diperdayakan lagi oleh mereka yang hanya datang dan pergi sesuka hatinya.
“Biruuuuu!!! Tunggu!!!”
***
Lantas untuk apa terus menerus memanggilku, sedang kau hanya berdiri dan diam di situ. Kini, aku tidak sedang berjalan, tapi berlari. Seharusnya kau bisa lebih cepat mengejarku dan menghentikan langkahku. Tapi, kau begitu pengecut.
Senyaman itukah berada di sana? Pada lingkaran yang sengaja kau ciptakan sebagai batas agar kau tidak ke luar dari padanya. Kau terus meneriakiku, merindukanku, tapi kau tak ingin ikut berjalan, apalagi berlari. Diam adalah caramu untuk bisa menghentikan badai. Bahwa menyelamatkan dirimu saja sudah cukup membuat hatimu merasa damai.
Debur ombak, desau angin dan bisikan pasir di pesisir sudah cukup membuatku berlari kali ini. Aku tidak ingin menyakiti diriku lagi. Jadi bebaskan aku. Keluarkan aku dari hingar bingar egoismu yang masih berkecamuk. Kejar atau tinggalkan. Jangan memanggilku, sedang kau masih diam di tempatmu. Aku tak akan lagi berbalik, karena aku tengah berlari, bukan berjalan. Jadi, sekali lagi aku katakan, kejar atau tinggalkan! Itu pilihan!
Bersambung

No comments:
Post a Comment