Berjam-jam sudah aku bertanya,
“Ada apakah ini??”
Resah seakan menyelimuti jarum waktu yang berkelana di atas selubung rasa.
Matanya, suaranya, senyumnya kulihat dimana-mana.
“Gila, kenapa begini??”
“Siapa dia?”
Bahkan seringkali kita lari terbirit-birit saat tak sengaja beradu pandang.
Menjauh adalah caraku meredam kisruh.
Entah dengannya..
Tapi, tiba-tiba sapanya muncul ibarat sinar rembulan ditengah pekat malam..
Ku tatap lekat-lekat apa yang masih tak bisa kupercayai.
Dan lalu ada yang berdesir, ibarat riak-riak kecil pada air yang tengah diam.
“Secepat inikah?”
Bahkan angin tertawa terpingkal-pingkal kali ini, lalu ia memperingatkan,
“Hati-hati dengan rasa yang terlalu dini!!”
Ya, aku tau..
Aku lantas menepis apa yang tengah mekar di atas senyuman iblis.
“Iblis?”
Angin bertanya kebingungan.
“Ya, iblis. Bukankah iblis memang selalu begitu? Memberi umpan kebahagiaan semu, untuk membakar kita hidup-hidup?”
Aku lalu semakin takut. Takut tatkala jatuh pada rasa yang berlari kencang tak beraturan, ibarat kuda liar, tak bisa dikendalikan.
Tapi, ditengah ketakutan itu, “kebetulan-kebetulan” menghampiriku secara perlahan.
Dan “kebetulan-kebetulan” lalu memaksaku untuk mengenal siapa dia.
Ah, dan kini aku semakin ingin tau apa yang tengah ia tutupi dan sembunyikan.
“Siapa dia??”
“Kenapa dia tersenyum begitu menyejukkan??”
Tapi tak jarang diapun diam ibarat sebongkah es penuh kedinginan..
Lalu kita saling mengenal..
Begitu cepat ibarat jembatan keterhubungan..
“Akut!”
Ah, tapi lagi-lagi aku harus menepisnya,
Menepis rasa-rasa yang terlanjur menggurita.
Dia,
“Siapa dia??”
Dia dan dua kepala lain di sampingnya.
Aku berbalik,
Lalu tertawa terkikik.
“Ini kilas balik!”
Ibarat cerita yang sama, ujian yang berulang-ulang.
Dan kali ini aku harus menang!!
“Racun Dunia!!!”
Mendengarnya bergema, aku tak bisa lagi berkata-kata.
“Ini cinta??”

No comments:
Post a Comment