Aku ingin kau mengingatku sebagai mata. Mata tempat kau mengenali semua yang ingin kau ketahui. Mata di mana kita pernah saling berpapasan dan mengingat satu sama lain. Mata tempatku dan tempatmu menyimpan kerinduan yang tak terelakkan. Mata, tempat kita tak bicara dan hanya memendam rasa, “Cinta”.
Berkali-kali aku tahu bahwa mata pernah menyembunyikanmu pada titik yang cukup jauh dari penglihatanku dan aku tak bisa menemukanmu kala itu. Kita pernah terpisah begitu jauh dan kau tau itu, hanya saja, lagi-lagi aku bisa menemukanmu, mengendap pada satu-satunya yang aku miliki, “Hati”.
Kini, aku begitu menginginkan kau melihat mataku yang begitu menyimpan kisruh. Mata yang menurut mereka tersirat sesuatu yang begitu menyakitkan, “Kehilangan”.
Ini mataku, dan ingatlah aku ketika kau melihat matamu sendiri di depan cermin itu.
Aku adalah bagian dari apa yang kau lihat dan kau adalah tempat di mana aku dapat bebas untuk melihat. Kita saling melihat, tanpa jarak pandang dan tanpa sudut-sudut yang menikung, karena kita “Saling berhadapan”.
Lalu, kenapa kita tak juga saling bicara? Apa karena kita adalah dua pasang mata yang hanya mampu untuk melihat tanpa ada kata-kata sedikitpun?
Tapi, mungkinkah kita dapat saling melihat pada jarak yang sejauh ini? Bukankah bicara akan lebih memungkinkan dibandingkan saling melihat dari kejauhan?
Ah, sudahlah.. mungkin selamanya kau akan mengenangku sebagai mata. Mata yang dapat menguntitmu kemana-mana, kapan saja!
No comments:
Post a Comment