Saturday, November 19, 2016

Melayat Luka


Menjadi lupa, ketika lagu-lagu berlalu lalang ditelinga.
Dan kehambaran bertengger pada alinea-alinea yang ditulis tanpa isi.
Bahkan dingin ini, kini hanya serupa embun dikaca yang tak mampu menggigil pada nyerinya luka.
Diamku ibarat kenangan yang dipaksa bungkam tanpa ada lagi cerita.

Sungguh, tak ada bahasa yang mampu berkata-kata pada jalanan rahasia.
Dan bahkan tak ada  yang mengetahui, dimana kesedihan itu bersembunyi.

Melelahkan, sungguh begitu lelah..
Melihat cuplikan-cuplikan tragedi dari drama air mata.
Dan mereka bahkan berlalu begitu saja,
Seperti angin sepoi-sepoi yang membunuh dengan kelembutan.

Dan malam kini semakin pucat
Nyalinya bahkan menjadi bias
Hingga ku lihat dia bersembunyi di bawah tiang lampu-lampu kota
Begitu samar..
Hingga tak ada yang mampu mengenali antara ujud nyata dan bayangan.

Menjadi lupa,
Hening telah memilih diam sebagai tanda pengakhiran.

Berlalu,
Begitu samar dan asing..
Seperti tinta yang memudar pada kertas yang menguning,
Kering..

























No comments:

Post a Comment