Friday, July 28, 2017

RESONANSI WARNA





  1. MOTIVASI

Kita adalah yin dan yang
Kesatuan yang bergerak memutar
Jiwa yang tidak benar-benar putih
Juga tidak benar-benar hitam..
   
    Sebuah sajak tentang Yin dan Yang terus saya baca berulang-ulang, dihayati dalam hening dengan mata terpejam, dalam diam.
Kadang-kadang diam adalah cara terbaik untuk bisa mengenali konflik dalam diri. Untuk mengenali penghakiman yang tengah terjadi pada diri sendiri. Untuk mengenali di titik mana kita harus mulai bangkit, berlari pergi, dan mengejar mimpi.

Dalam situasi hati yang remang-remang itu, tiba-tiba saya melihat sebuah cahaya yang menyusup dengan begitu halus, seperti sebuah tangan yang menggapai-gapai dengan lembut dan menarik saya ke atas untuk bisa membuka mata dan melihat bahwa matahari akan segera terbit. Dia, Yuliana Sangkono (Pembicara “Sharing and Caring” Life Care di Hotel Vio).

“Hidup itu jangan seperti ANGIN, kita harus punya PRINSIP!”

Kalimat itu ibarat petir di siang bolong, membangunkan saya yang selama ini selalu berteriak-teriak tentang pentingnya antusiasme. Namun, ternyata antusias saja tidak cukup. Ya, dan saya sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh Ibu Yuli bahwa kita harus memiliki prinsip.  
Saya lalu flashback dan menemukan fakta bahwa selama ini diri saya nyaris seperti angin, berhembus kemana saja tanpa ada tujuan yang jelas, mudah goyah, gampang terbawa arus, tidak tegas dan bergerak tergantung mood, bukan menerapkan sebuah keteraturan.

    “Kunci sukses adalah pergi  ke luar rumah dan temui orang sebanyak-banyaknya. Tidak ada kerja keras tanpa hasil. Dan kerja keras akan terasa begitu indah ketika kita selalu bersemangat. Semangat itu paling penting dalam hidup. Jika kita sedang tidak bersemangat, maka kita harus mencari sosok mentor yang dapat membuat kita bersemangat kembali.”

Aktivitas, itu adalah kunci yang seringkali diberitahukan oleh para senior ketika ditanya bagaimana caranya untuk mendapatkan nasabah, dan ternyata itu pula yang dikatakan oleh ibu Yuli, meskipun ada hal menarik lainnya yang Ibu Yuli tambahkan untuk dapat sukses. Dia mengatakan bahwa semangat itu sangat penting, karena semangat bisa menggerakkan kaki kita untuk pergi ke luar rumah dan mulai beraktivitas. Dan kalimat “tidak ada kerja keras tanpa hasil” menyadarkan saya bahwa saya harus terus beraktivitas dan mencintai prosesnya, karena kita tidak pernah tau pada babak ke berapa kita akan dapat menuai hasil. Ibarat ketika kita tengah mengocok sebuah dadu, kita tidak bisa memastikan, angka berapa yang akan ke luar.

    “Hati, pikiran dan perkataan itu harus selaras, maka kita akan dapat mewujudakan sesuatu yang kita impikan selama ini.”
Yuliana Sangkono

***

  1. MAKSIMAL (Mengeluarkan ide-ide dan Mengatasi rasa malu)

Commonwealth Life bagi saya bukan hanya sebuah tempat yang menggerakkan saya untuk mencari nasabah dan mendapatkan komisi, tapi lebih dari itu,  Commonwealth Life adalah sekolah kehidupan yang menyadarkan saya bahwa masih banyak warna dalam hidup yang bisa saya gunakan untuk melukis sebuah impian, bukan hanya sekedar warna hitam dan putih.

25 years Anniversary (Celebrate The Colors of Life)

Ada sesuatu yang menggebu-gebu saat saya mendengar informasi untuk membuat video ucapan ulang tahun dari Pa Yudi, meskipun informasi tersebut begitu mendadak, namun saya tidak bisa tenang ketika ide-ide yang muncul tiba-tiba tidak bisa dilaksanakan. Bermula dari ide untuk gila-gilaan di pasar minggu yang begitu banyak orang, dengan konsep tertentu dan saya mengajak teman-teman saya, namun mereka ragu-ragu dan akhirnya menolak, hanya karena sebuah kata “MALU”.
Namun, saya tidak menyerah begitu saja. Saya akhirnya mengubah konsep awal dan membuat video yang sederhana, lalu setelah itu saya kirim ke grup. Selesai, dan saya merasa lega setelah ide-ide ke luar di kepala. Masalah malu, itu urusan kedua.

Malam harinya, saya masih kebingungan untuk mencari dresscode yang berwarna-warni, karena saya sadar, saya tidak menyukai baju-baju yang berwarna cerah. Akhirnya hari itu saya putuskan untuk tidak ke mana-mana. Hingga esok harinya, ide gila muncul tiba-tiba dan saya memakai semua property warna-warni yang saya miliki yang tidak pernah dipakai selama ini. Selesai, lagi-lagi rasanya lega dan masalah malu, itu urusan kedua.


    “Kita hanya perlu membayangkan bahwa semua orang yang hadir itu sama. Sama rupa, sama starata, sama-sama menyukai kita, hingga akhirnya rasa percaya diri muncul dan mengikis sedikit demi sedikit rasa malu yang selama ini kita pelihara.”
   
Dan benar saja, hari itu saya bisa mengalahkan rasa malu. Saya juga bisa membuktikan bahwa tidak ada orang yang memiliki kepribadain introvert mutlak 100%, karena kuncinya terletak pada mau atau tidaknya kita berubah. Tidak lebih.

Dan hal kedua yang saya dapat dihari itu adalah memang benar bahwa “Tidak ada kerja keras tanpa hasil”. Saya akhirnya mendapatkan hadiah dari dari apa yang saya lakukan secara optimal. Dan diantara ketiga hadiah itu, ada sebuah buku yang begitu berharga, “Aktifkan Rasa Syukur – Profit, Sukses, Kebahagiaan Terus Mengejar Anda”.

    “… jangan mencemaskan hasil tindakan Anda - berikan saja perhatian pada tindakan itu sendiri. Hasilnya akan datang dengan sendirinya. Ini adalah praktik spiritual yang sangat berkuasa.”
Eckhart Tolle.
    “Kamu dilahirkan dengan sayap. Mengapa kamu lebih suka merangkak menjalani hidup?”
Rumi

  1. SHOW and Tell (Ibu Yani dan Bpk Fari)

Saya begitu tertarik dengan pelajaran di kelas FLC kali ini, bagaimana tidak, “Show and Tell” seperti sebuah ide baru untuk bisa melakukan persentasi dengan cara yang begitu unik. Sebuah keunikan di mana kita tidak harus menjelaskan sesuatu dengan cara yang begitu kaku, seperti ketika harus menjelaskan tentang company profile yang biasanya tidak begitu menarik perhatian calon nasabah dan sangat terdengar membosankan, namun kali ini cara menjelaskannya begitu berbeda dari cara-cara lama. Point-point penting dalam show and tell diantaranya adalah:

  1. Perlihatkan gambar
  2. Buka mindset pendengar
  3. Sentuh emosinya
  4. Buat pendengar berpikir
  5. Buat pertanyaan untuk pendengar (bukan pernyataan, agar tidak terlihat menggurui dan agar lebih komunikatif, serta mengetahui apa yang ada dipikiran pendengar).

Contoh show and tell yang saya lakukan di depan kelas adalah dengan memperlihatkan gambar dua orang anak dengan latar belakang yang berbeda, kaya dan miskin. Saya menamainya Andine dan Jessica.

Seperti sebuah puisi yang saya bacakan penuh emosi dan kesedihan, saya ceritakan kesedihan Andien yang tidak bisa hidup seperti Jessica. Ruangan kelas mendadak hening dan semua peserta seperti menghayati apa yang dirasakan oleh Andien, seorang anak yang tidak mampu mengenyam pendidikan dan kehidupan yang berkecukupan, layaknya Jessica.

Ini adalah cara baru yang membuat semangat saya untuk beraktivitas dan melakukan penjualan muncul kembali dan saya sudah tidak sabar untuk memulainya.

  1. TOUCH and FEEL

Saya tidak peduli siapa yang ada dihadapan saya, kaya atau miskin, memiliki pangkat atau tidak. Saya tidak peduli, karena saya ingin mencoba.

    Di depan seorang direktur utama yang memiliki karyawan lebih dari 800 orang dan seorang pensiunan kepolisian dengan pangkat tinggi, Saya menjelaskan kisah nyata tentang pasangan suami istri yang menghabiskan masa tuanya dengan sangat menyedihkan, padahal ketika mereka masih produktif, anak-anaknya rutin berkunjung dan terkadang tinggal bersama mereka, namun ketika usaha pasangan itu terhenti, dan pasangan suami istri tersebut mulai diserang penyakit, anak-anaknya tidak peduli dan tidak pernah mengunjungi mereka.

    “Penghayatan, intonasi, ekspresi wajah, jeda dan pemilihan kata-kata yang tepat ternyata mampu menyentuh emosi lawan bicara kita.”

    Touch and feel, sentuh dan rasakan. Tidak ada aturan baku bagaimana cara untuk bisa menyentuh emosi seseorang. Semua hanya tentang bagaimana cara paling nyaman bagi kita untuk bisa menjiwai segala sesuatu. Untuk membuat apa yang keluar dari mulut kita beresonansi dengan hati dan pikiran sehingga langsung bisa dirasakan oleh orang yang berada di hadapan kita.

    “Karma biasa mengundang saya menyaksikan pentasnya. Tapi kali ini saya ingin menutup mata. Biarkan suara orkestra menuntun saya pada cerita apa yang sedang bermain. Setiap not menyimpan tragedinya masing-masing. Kau siap?”
Lia Basrie

Baca kembali dua kalimat terakhir sajak di atas, garis bawahi, lalu hayati, maka kita akan tahu bahwa untuk menyentuh sesuatu, tidak hanya dibutuhkan kata-kata dan kalimat yang dikatakan tepat oleh logika, karena ternyata suara yang tanpa kata-kata, bahkan not-not yang tidak semua orang bisa membacanya, bisa memiliki suatu getaran yang mampu menggerakkan segala sesuatu yang berada disekelilingnya.

    “…Biarkan suara orkestra menuntun saya pada cerita apa yang sedang bermain. Setiap not menyimpan tragedinya masing-masing. Kau siap?”

***













   

No comments:

Post a Comment