Menyeduh yang tak bisa diseduh lagi,
Seperti ampas kopi.
Seperti baunya yang masih melekat,
Seperti hitamnya yang tetap pekat.
Kadang-kadang hujan berjatuhan terbalik, ke atas langit.
Membasahai apa yang sulit untuk dibasahi.
Menumbuhkan akar yang tak pernah tumbuh lagi.
Seperti seekor kupu-kupu yang termenung tadi malam,
Membasahi lagi dedak yang tertinggal di dalam gelas-gelas lama.
Bisakah diseduh lagi?
Kalau memang tak pernah bisa, kenapa dedak mesti tertinggal di sana?
Menyisakan sesuatu yang lebih pekat daripada hitamnya.
Kenapa menatap dedak seperti menatap bayangan-bayangan yang kerap bergentayangan?
Banyak kata “kenapa” bergumul bersama ampas yang tak bisa lagi "menetas".
Seperti “sisa” yang masih saja menjadi “sisa”.
Kenapa?
No comments:
Post a Comment