Saturday, October 29, 2022

OKTOBER 2022

 



    Dan air kemudian menjadi sunyi yang diterbangkan oleh semilir angin. Pada rintikannya dihari kesepuluh bulan sepuluh, resah lalu mengudara pada bias harapan yang terkotak-kotak diujung bilangan senja.

Ada yang berdebat disela kisruh malam. Ego yang lalu merangkak menjadi cerita baru pada akhir hitungan bulan. Tarian jarum jam dan angka-angka dikalender yang selalu bermuram durja, seperti putus asa akan hari esok yang dipenuhi sarang laba-laba.


    Dan siluet tidak akan pernah bertanya lagi tentang apa dan kenapa. Tentang “bagaimana” yang seakan terpenjara pada batasan norma-norma. Tentang “diam” yang seakan menjadi makhluk bisu yang tidak bisa bergerak maju. Tentang kata “perempuan” yang seringkali diharuskan “ayu” dan penurut.


    Namun, air kemudian meruntuhkan semua aturan itu. Sebab hidup terlalu keras bilamana kita diharuskan bertarung dengan mendayu-dayu. Sebab dunia terlalu licik bilamana kita harus tunduk dan diam pada aturan-aturan yang mengekang sayap-sayap kebebasan perempuan. Sebab hierarki kini tidak bisa berdiri dengan dua kaki. Semua tumpang tindih pada keadilan yang tidak bisa lagi berlaku adil.


    Aku tidak ingin menyimpan lagi tisyu disakuku dan mengamini betapa banyak air mata yang kelak turun di atas pipi. Aku akan berhenti mempersiapkan kesedihan yang aku ciptakan sendiri sebagai perisai diri. Sebab ternyata setiap hari adalah keajaiban yang kerap bersembunyi di balik rasa syukur. Sebab hari ini adalah anugerah terbaik dari momentum kebahagiaan yang belum tentu datang esok hari. 


    Sebab hanya “Dia” yang senantiasa ada dimanapun kita berada. Sebab hanya “Dia” yang selalu hadir disaat kita berada pada titik nadir. Sebab hanya “Dia” yang masih memberikan nyawa disaat kita berada dipuncak rasa putus asa. Lalu, kenapa kita bisa lupa dan terus berpura-pura?

Untuk hanya bersandar kepada-Nya, bukan kepada makhluk-Nya.

Saturday, July 23, 2022

Kado Termanis 2022 (Anggrek dan Melati)

 


    Dua bunga tumbuh di pekarangan rumah yang baru saja diterjang badai, Anggrek dan Melati. Dua bunga yang datang pada saat bersamaan, mengisi ruang kosong yang sudah mulai tertutup debu. Bunga-bunga yang mekar di saat dedaunan menjadi layu dan mati kekeringan. Bunga yang kemudian menjadi penghidup jiwa, namun ada pula yang lalu menjadi luka lain pada senja yang masih berselimut duka.


    Kepada Anggrek, aku ingin bercerita tentang kehilangan. Tentang rasa yang tidak bisa dihapus begitu saja ketika kita salah menggoreskannya. Tentang makna sebuah keberadaan yang tidak bisa digantikan oleh ego yang kemudian menghilangkan arti kasih sayang. Tentang kata “bersuara” yang tidak akan pernah sama dengan kata “diam”. Tentang arti sebuah “ kehadiran” yang kerap berbeda dengan arti “kehilangan”.

    Anggrek adalah kado termanis di Bulan Ramadhan yang tidak akan pernah bisa dilupakan. Ketegarannya adalah akar dari harapan yang lalu membuatku bisa berdiri lagi dengan tegak ketika dilanda rasa putus asa. Kelembutannya adalah kasih yang menopang sepiku akan beban masalalu. Dan perhatiannya adalah nyawa yang membuatku kembali hidup dari mati suri panjang yang melumpuhkan semua mimpi dan harapan.

    Namun, kemudian Anggrek pun hilang, sebab lelahnya telah berakhir pada kata maaf yang dia selesaikan seusai lebaran. Selesai, tapi rindunya masih saja tertinggal di batas senja, menyisakan tanda tanya akan kata “Apa kabar? Dan selamat malam”.

     Anggrek, bunga paling tegar yang tidak akan pernah kompromi ketika dia dilukai. Dia akan pergi dan tidak akan menengok lagi.


    Sedang Melati adalah kata “Ikhlas” yang tidak bisa aku pahami selama ini. Tentang malaikat tak bersayap yang menyuruhmu untuk bangkit ketika kamu tidak bisa berdiri lagi. Dia adalah pijaran api yang kemudian hadir untuk membakar kembali semangatku. Menampar putus asa itu dengan pedang kata-kata yang kerap menghunus jiwa. Melati ibarat sutra yang begitu lembut, namun caranya merangkul jiwa-jiwa yang terkapar tak berdaya ibarat pahlawan yang datang tiba-tiba dimedan perang. Menyelamatkan apa yang seharusnya diselamatkan dengan ketegasan, dengan tidak memberikanmu kesempatan untuk membrikan alasan.

Melati yang kemudian mengingatkanku akan tujuan hidup, tentang perjalanan yang harus segera diselesaikan. Dan tentang mencintai diri sendiri melebihi mencintai orang lain.

Melati yang masih bertahan ketika aku tidak memiliki apa-apa untuk bisa dibanggakan. Melati yang masih percaya bahwa aku bisa bangkit dan menggapai mimpi setinggi langit.


    Dua kado terindah ditahun ini seakan menjadi bekal bagi jalan terjal yang harus aku lalui dengan hati-hati. Dua jiwa penyemangat yang membuatku sadar tentang waktu yang terus bergerak maju. Dua jiwa yang memberiku kesadaran untuk menghargai diri sendiri, untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang aku miliki saat ini.

Dua jiwa, Anggrek dan Melati, meskipun Anggrek sudah tidak ada komunikasi lagi, tapi aku masih merasakan doanya yang tulus hingga detik ini. Bukankah doa adalah kasih paling murni untuk menyayangi satu sama lain tanpa berharap untuk memiliki?


    Terimakasih Anggrek untuk kenangan manis yang masih aku bingkai rapi sebagai pondasi untuk melangkah maju dan menjadi yang terbaik. Terimakasih untuk pelajaran hidup yang membuatku paham bahwa hidup memang sebuah medan perang tempat kita berjuang habis-habisan untuk menjadi seorang pemenang dan bukan pecundang. Terimakasih untuk sebuah pelukan hangat yang membuatku percaya bahwa aku bisa menghadapi semuanya. Terimakasih, semoga suatu hari kita bisa bertemu lagi.


    Untuk Melati, aku juga ingin mengucapkan terimakasih untuk semua kebaikan dan kepercayaannya selama ini. Untuk kesabarannya menuntunku agar bisa berubah. Terimakasih untuk percaya bahwa “kura-kura” itu bisa mencapai garis finish jika mau berusaha dengan lebih keras dan fokus dalam mencapai tujuan. Terimakasih masih membimbingku hingga detik ini. Mendengarkan aku bercerita tentang hal-hal yang mungkin sudah muak kamu dengar. Terimakasih untuk setiap pengorbanan yang belum bisa aku balas satupun. Terimakasih banyak, semoga aku bisa membalas pengorbananmu dengan kata “sukses” yang bisa aku capai tahun ini. Aamiin.


    Dan aku ingin bertanya sekali lagi kepada senja yang telah membuatku banyak berubah dengan kehadiran Anggrek dan Melati. Bagaimana cara mencintai diri sendiri? Apakah ketika aku merasa bahagia ketika bisa berkorban untuk orang lain, itu bisa dikatakan aku telah mencintai diri sendiri? Atau malah aku sedang menyiksa diri sendiri?


    Juli terindah bagi Melati, Aku dan Anggrek yang lahir dibulan ini. Semoga hal-hal indah bisa hadir untuk kita semua dibulan ini. Semoga perjuangan kita berbuah keajaiban berkat tangan-tangan Tuhan yang tidak bisa kita lupakan. Semoga kasih itu masih menjadi penawar bagi duka yang masih bersarang pada marah dan penyesalan. Semoga kita bisa terus bercengkrama dalam doa dan dalam kebaikan-kebaikan yang diiringi ketulusan. Dan semoga Tuhan kembali mempertemukan apa yang bagi manusia sulit untuk dipertemukan.


Monday, January 10, 2022

Benang Waktu

 


Senja menjadi kusut mengingat pelangi tak lagi nampak selepas hujan. Dan bayangan-bayangan kelabu yang jatuh di atas kelopak mata menjadi awal dari Januari yang menguning lebih cepat.


    Ketika yang nyata menjadi fana oleh waktu dan yang bias lalu menjadi begitu jelas. Aku tengah menukik bentuk lain dari sebuah kesadaran. Realitas rindu yang memutar di balik awan.

Lagi-lagi ini adalah soal hujan yang turun tidak tepat waktu. Tentang rintikannya yang menjadikan basah sunyi mengendap di balik remang-remang cahaya malam.


    Ada yang sendiri, menyendiri diantara banyak kehilangan. Mengurai helai demi helai kenangan. Dan tertegun memahat resahnya pada kalimat-kalimat pengandaian.


    Kau adalah kegelisahan. Bahasa-bahasa lain dari tarian hujan yang telah tercampakkan. Mengubur lelah dan peluhnya pada ilalang yang tak paham akan kata “hilang”. Kau adalah lukisan pada sepertiga malam yang kabur menjadi embun di atas keraguan.


    Aku tengah menaruh senja pada gelas purnama. Menamakan dirinya genangan yang bercahaya. Aku suka bulan, cahaya samar yang tidak memiliki suhu. Aku suka redup, seperti kamar temaram tempat manusia mengubur rahasianya. Aku suka berlabuh, pada hitamnya tinta tanpa warna. Sebab monokrom kadang lebih hangat daripada warna yang penuh sandiwara.


    Kau tahu apa itu memiliki? Sebuah kata yang menjadi batas bagi apa yang telihat oleh mata, namun tidak bagi hati. Sebab hati terlalu rumit untuk memiliki batas dari rasa yang tidak pernah mengenal kata cukup. Sudahkah bahagia cukup memiliki tempatnya sendiri? Pada status yang tercatat pada pada selembar kertas yang membatasi kata bebas. Sudahkah bahagia mengikuti prosedur yang seharusnya? Atau mungkin dia pernah tidak seirama? Tidak mudah, maka bicaralah!


    Kali ini aku hanya ingin menulis, bukan untuk siapa-siapa dan bukan untuk apa-apa. Hanya saja benang waktu tengah terurai dari jahitannya. Membuat mataku terbelalak dan ingin sedikit bercengkrama dengan pinangan-pinangan rasa yang masih berahasia. Entahlah, hanya saja jubah malam tengah merasuki jiwa sang penyair yang telah lama tidur dari rasa sakitnya. Dan kini ia ingin sebentar saja berpesta, mengingat luka dan kenangan-kenangan tentang perjalanan dari airmata. Itu saja!