Thursday, May 13, 2021

Ranah Pengasingan

 


    Ada barisan kalimat penyemangat hadir ketika takbir memekik di atas lintasan kefitrahan. Namanya menyapa diantara pesan-pesan yang tertunda. Dia mengingat tugasnya laksana lebah yang tak lupa membuat madu. Manis, dan jadilah pagi ini aku tahu bahwa namanya masih aku utarakan dalam rindu.


    Tepat pukul satu malam, dia masih bercengkrama dengan abjad-abjad yang menari di atas keyboard, sedang aku tengah bersitegang dalam mimpi yang tak kunjung bertegur sapa.

Aku memikirkannya, mengingatnya dalam selaksa semesta yang enggan berterus terang.

Dia, yang namanya bahkan telah dipahat pada jari manis milik orang lain. Dia yang bahkan telah memangku kupu-kupu kecil sebagai mahkota dari istana. Aku memandangnya dari jauh, seperti sang pengagum lukisan yang tak mampu memilikinya hanya dengan ungkapan kasih sayang.


    Dari parfum itu, kupu-kupu menari ibarat tarian bola salju. Wanginya mengendap dalam labirin kerinduan. Kidung suaranya bersemayam pada ranah pengasingan yang aku namakan hati. Indah, resah, dan terus terngiang-ngiang apa yang tak bisa dimiliki oleh diri. Not-not balok yang tak bisa aku baca hanya dengan menerka-nerka. Dia misteri hidup yang belum bisa aku simpulkan hanya dengan satu sapaan biasa.


    Andai saja dia tahu apa yang mengebu-gebu dalam kalbu. Getaran yang melaju pada frekuensi yang tak bisa didengarkan. Andai saja dia mengerti, apa yang terbayang-bayang dalam ingatan. Teduh-teduh yang bernaung di bawah langit hujan. Simpul senyum yang tak pernah bisa aku ajak pulang. Cincin ikatan yang tak pernah bisa aku pisahkan lagi. Dan bahtera bahagia yang tak akan bisa dibagi dua.


    Aku mencarinya pada dunia kasat mata yang mereka katakan “dunia maya”. Namanya tak banyak terpampang di sana. Fotonya ibarat sampul buku pada novel misteri yang penuh teka-teki. Dia tak banyak bercerita. Dialah tanda tanya yang tak bisa aku utarakan langsung kepadanya. Ah, aku masih saja mengingatnya dalam balutan rasa bertemakan rahasia.


    Kapan kemarau bisa berpendar dimusim semi? Menelurkan wajah baru dari daun-daun gugur yang tak bisa bercerita panjang. Aku ingin mengenalnya. Mendengar lebih jauh apa yang hilir mudik di dalam isi kepalanya. Aku ingin suaranya menggema bak senandung rindu yang kini menggenggam ranah kupu-kupu. Aku ingin dia. Ombak rasa yang masih membentur karang tanda tanya. Aku ingin namanya. Abjad-abjad halus yang aku pajang di atas dinding kerinduan. Aku ingin sapanya. Beberapa baris kalimat tanya, bukan tentang pekerjaan atau tugas-tugas yang menjadi batas kedekatan. 

Aku ingin dia bertanya tentang pagi yang abadi atau tentang senja yang membuatku jatuh cinta. Aku ingin mengenalnya lebih jauh, seperti sunyi yang kini terasa utuh.

Bulir-bulir harapan seperti yang ia sematkan pada malam di ujung titik penantian.

Aku menunggunya bercerita panjang lebar. Tentang dia, tentang dunianya dan tentang rasa yang ia pikir tak lebih berharga dibandingkan dengan logika dan hitungan matematika.

Aku jatuh cinta..

Sekali lagi, pada harapan yang membuatku putus asa.

Wednesday, May 12, 2021

Piao Liang

 



Senja kembali bercerita tentang rasa. Tentang wewangian yang lalu tumbuh menjadi frasa. Bait-bait rahasia yang dihadirkan dari ingatan berjam-jam yang tak akan bisa teralihkan.

Ada apa? Wanginya seakan menjadi pupuk yang menumbuhkan bunga-bunga. Suaranya ibarat laksa yang tengah aku nikmati di angkasa. Indah, merdu dan tulus itu lantas mengakar pada haluan pikiran yang tidak bisa beralih selain daripadanya.


    Aku ingin membaca kembali kalimat-kalimat yang dikirimnya setiap malam. Untaian baku yang tak lain adalah teks-teks biasa yang aku anggap bahagia. Sunyinya, sepi yang dia utarakan dalam rangkulan pengorbanan, kini tengah menjadi pahlawan dalam gejolak rindu yang dianggap tabu oleh waktu.


    Mungkin terlalu dini jika aku melukiskan bagaimana bersinarnya labirin rindu itu. Sketsa dari babak baru yang tak ingin aku ulangi lagi. Kenapa “wangi” lantas berkuasa pada akar rasa yang mereka anggap tak biasa? Kenapa “wangi” lalu menjadi duri pada keindahan yang hanya bisa dinikmati sendiri? Kenapa “wangi” menjadi teka-teki bagi rahasia yang tak bisa diutarakan dengan bahasa ketertarikan? Kenapa “wangi” menjadi batas bagi apa yang tengah dirasakan hati dengan realita yang harus dihadapi? Kenapa “wangi” harus tercium lebih dini?


    Malam tak akan bisa  mengumbar abjad-abjad yang bergejolak di kepala. Seperti sunyi yang enggan menjadi “ekspedisi” bagi nyanyian hati yang ingin sampai kepada matahari.

Diamnya, sinyal yang tak bisa aku baca di depan layar kaca. Kenapa seperti ini? Kenapa lelah menyala-nyala, namun bahagia?


    Ah, andai ada lagi teks-teks yang bisa aku baca di depan layar. Tarian indah dari jemarinya yang tengah memandangku dari kaca jendela maya. Atau barangkali ada lagi waktu di mana kita bisa saling bertukar rindu. Saling menyapa lewat getaran yang tak akan pernah bisa diutarakan. 


    Malam bercengkrama lebih lama dari biasanya. Ada penantian tersemat pada barisan “menunggu” yang masih diam ditempatnya. Sapaan belum terlihat diantara ratusan notif whatsapp di handphone ku. Dia mungkin tengah berjibaku dalam alunan takbir yang membuat jiwa pilu. Atau mungkin dia tengah memandangi waktu tanpa ada sedikitpun rindu. Entahlah, sebab yang pasti, kini dia tengah menjadi candu di kepalaku. Feromon bahagia yang ingin segera aku lepaskan ke udara. Aku tak ingin lagi sampai ke jurang itu. Sebab rasa kadang-kadang siap memangsa dengan bisa yang bertopengkan kata “cinta”. Aku tak ingin sia-sia.

Tuhan, beri aku peta sebagai petunjuk jalan! 

Aku tidak ingin lagi dibutakan!

   


Tuesday, May 11, 2021

BEBAN

 


    Ada yang harus aku pertanggung jawabkan kepada waktu. Kepada siluet yang nyaring menggiring kunang-kunang untuk tidak bercahaya. Aku terlahir dari gemuruh perjuangan. Keringat yang aku peras setiap malam adalah jembatan di mana aku bisa bertahan hingga hari ini. Namun, kadang-kadang melodi mengiris kewarasanku. Mengusik sedikit rasa tenang yang lalu mengundang tangis. Aku lelah.


    Kalau saja aku tahu bagaimana alur skenario itu, maka aku akan bersiap untuk segala jalan yang akan membuatku tergelincir. Aku akan sangat berhati-hati. Tapi, aku hanyalah wayang yang tengah dimainkan oleh Sang Dalang. Aku tidak tahu apa-apa.


    Kau tahu, ada resah yang seringkali menyelinap tatkala mimpi baru saja aku genapi. Layang-layang yang aku harapkan terbang tinggi, lalu jatuh sebelum bisa menggapai pelangi.

Selalu seperti itu. Jurang-jurang yang tak pernah mau bungkam dalam setiap teriakannya. Ombak yang tak pernah lelah menghantam karang harapan. Semua pertahanan itu lalu runtuh dalam beban yang tak bisa lagi aku topang.


    Dalam gelombang kesombongan aku pernah berdiri menggenapi hari. Menghitung kemungkinan-kemungkinan yang aku sematkan dalam catatan pengharapan. Langit aku lihat sedekat jarak pandang dan sekecil genggaman, tapi nyatanya keberingasan itu telah melahap birunya langit yang penuh dengan gejolak ketidakpuasan.


    Ajari aku untuk berdamai dengan beban. Dengan apa yang aku rasa berat untuk dipikul. Ajari aku mengerti, bahwa kelak aku akan berdiri diantara barisan sinar-sinar matahari.

Ajari aku untuk paham bahwa akan ada rembulan yang bisa aku ajak pulang. Aku tidak ingin menyerah pada titik ini. 


    Kepada doa yang tak pernah bisa aku khianati, semoga ia terus mengalir tanpa henti, Menjembatani lirih yang aku harap bisa berdamai dengan kisruhnya hati. Aku masih ingin berjuang pada detik-detik yang mereka sebut penghabisan. Aku masih ingin bergerilya pada teka-teki yang tak bisa aku pecahkan. Aku tak ingin kalah dalam dugaan, atau bahkan lemah dalam prediksi mulut-mulut kemunafikan. Sebab aku tidak dilahirkan untuk menjadi pecundang atau pemenang bayangan, tapi aku dilahirkan untuk menang dalam mencintai proses. Mencintai apa yang telah aku lakukan untuk mencapai garis finish. Aku menghargai alur itu. Aku mencatat setiap tetes keringat yang bisa aku lakukan hingga sampai pada titik yang mereka anggap sulit. 


    Aku bahagia telah melewati babak-babak yang dulu tak pernah bisa aku tebak.

Terimakasih untuk hari ini. Aku tidak ingin ada rasa takut lagi. Sebab Tuhan adalah Dalang terbaik yang tak pernah salah dalam memainkan wayang-wayangn-Nya. 

Yakin dan percayalah, maka kau akan mendapatkan kado termanis dari-Nya. Hadiah dari iman dan buah dari kesabaran, yaitu KEAJAIBAN!



Sunday, May 9, 2021

Bazar Ramadhan



    Halo pembaca, maafkan aku baru menulis lagi blog, maklum, pada bulan April dan Mei aku sungguh sangat sibuk, sehingga tidak ada waktu untuk menulis.

Pada bulan Mei, aku memenangkan tender di salah satu anak perusahaan milik Bank Sentral di Indonesia. Tender ini juga sungguh tidak mudah karena aku harus bersaing dengan konveksi besar yang telah menjadi vendor di perusahaan tersebut.


    Ketika pengerjaan orderan sedang berjalan, aku diminta oleh Direkturnya untuk mengadakan bazar UMKM di sana dan aku menuruti kemauannya. Jadilah aku sangat sibuk sekali mengurus beberapa pekerjaan secara bersamaan, mulai dari mengerjakan orderan seragam dan sepatu dalam jumlah banyak, menjadi ketua pelaksana, serta mengurus beberapa pekerjaan ditoko dan asuransi.


    Pelaksanaan bazar yang mendadak dan tidak didukung oleh beberapa karyawan di perusahaan tersebut, membuat aku merasakan banyak kendala saat akan melaksanakan bazar. Dimulai dari mendapatkn ijin dari satgas covid 19 dan juga kepolisian, tapi akhirnya semua ijin bisa aku dapatkan tanpa keluar uang sepeserpun.


    Bazar berlangsung selama 7 hari dan banyak sekali cerita di dalamnya, ketika aku dan panitia harus berjuang untuk kelangsungan bazar. Tempat berlangsungnya bazar merupakan salah satu kawasan menengah ke atas, sehingga masyarakat menengah ke bawah merasa segan untuk datang. Sebelumnya aku tidak mengetahui tentang hal ini, tapi aku baru mengetahuinya dari polisi sekitar.


    Kemarin adalah hari penutupan dan alhamdulilah semua berjalan dengan lancar. Dan dihari penutupan, hadir pula ibunda dari almarhumah Nike Ardilla.

Bazar memang telah berakhir, tapi besok aku masih harus menguruskan beberapa hal yang belum selesai, salah satunya adalah tentang dana sponsorship dari Bank Sentral yang masih tertunda dan besok aku berencana ke sana untuk meminta kepastiannya.

Alhamdulilah, aku sangat bersyukur dan berterimakasih kepada Allah SWT yang telah memberi banyak kemudahan, orangtua yang selalu mendukung, panitia dan empat pegawai baruku yang sangat gesit dan saling mendukung untuk kesuksesan acara. Semoga besok aku mendapatkan kabar gembira dari Bank Indonesia. Aamiin YRA.

Oya, satu lagi, saat aku mengerjakan tender dari perusahaan tadi, Direkturnya sempat meminta aku mengirim CV dan memintaku untuk menjadi karyawan di sana, tapi untuk menjadi karyawan tetap, aku harus mempertimbangkannya lagi, karena prinsipku adalah lebih baik menjadi kepala ular daripada ekor naga. Menjadi pemilik bisnis jauh lebih menyenangkan dibandingkan menjadi karyawan. Itulah prinsip yang aku pegang selama ini.


    Terimakasih juga untuk sekretarisku yang sangat cekatan. Dia sangat smart, maklum, kuliahnya saja sudah S3 di salah satu Universitas Katolik di Kota Bandung, tapi dia sangat rendah hati dan mau membantuku. Dan empat karyawanku yang juga berlatar belakang pendidikan sarjana, aku juga sangat berterimakasih karena mau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kasar di lapangan.


    Harapanku sekarang adalah aku ingin Allah menuntunku ke Jalan yang benar. Menghilangkan perasaan-perasaan yang tidak perlu jikalau perasaan itu muncul lagi. Dan terakhir, aku ingin segera menerima uang satu millyar yang sudah aku tunggu hingga detik ini. Semoga Allah mengabulkannya. Aamiin Ya Rabbal Alamin. 























Thursday, March 25, 2021

Perjalanan di Bulan Maret

 


Bulan Maret 2021 memiliki banyak cerita tentang pertaubatan, ujian, kesabaran dan kemenangan. Berawal dari keinginan aku dan ibu untuk bertemu seorang ustadzah ternama yang tidak pernah mau menerima ampelop, sebut saja namanya Ibu K. Mulanya aku mendengar nama beliau dari pamanku ketika sepupuku kabur dari rumah, lalu Ibu K bilang 

“ga usah khawatir, nanti juga pulang lagi”

Dan beberapa bulan setelah itu, sepupuku pulang sendiri.

Tanteku yang cerewet kepada suami juga diceramahi habis-habisan oleh Ibu K untuk berubah, padahal tanteku tidak berbicara apapun tentang dirinya di depan Ibu K. Yang menarik dari Ibu K adalah setiap yang datang bertamu kepadanya akan diceramahi terlebih dahulu dan diberikan ilmu untuk yakin kepada Allah, untuk membersihkan diri dan taubat terlebih dahulu kepada-Nya agar setiap doa yang kita panjatkan dikabulkan. Dan kejadian terakhir yang sangat berkesan menurutku adalah saat seorang penjual nasi kuning berkunjung ke sana dan hendak memberikan uang, dia menolaknya dan Ibu K tahu bahwa itu uang pinjaman dari rentenir, sontak penjual nasi kuning itu malu dan membawa lagi uangnya.

Ibu K terkenal sangat baik dan tidak pernah mau menerima apapun dari tamu dan pasien yang berkunjung. Dia malah sering menyumbang kepada anak yatim dan orang yang membutuhkan. Secara materi, dia terbilang cukup kaya karena memiliki toko besi dan material bangunan, sehingga dia tidak mau menyusahkan setiap tamu yang datang ke rumahnya. Malah setiap tamu yang datang diberikan dua botol air gratis yang dia beri doa.


    Setelah mendengar banyak cerita tentang Ibu K, aku dan ibu kemudian datang ke sana. Alangkah terkejutnya saat bertemu dengan beliau karena ibuku tiba-tiba menangis tanpa sebab dan menurut Ibu K, ibu telah lama menyimpan tekanan batin dalam hidup. Ibu K juga tahu bahwa ayahku galak. Tak hanya di situ, banyak rahasia yang aku sembunyikan yang diketahui oleh Ibu K. Ibu K kemudian menyuruhku untuk taubatan nasuha, tanpa mengulangi dosa-dosa dimasalalu. Dia kemudian membimbing aku dan ibu untuk ikhlas dan tawakal berharap dan bergantung kepada Allah. Ibu K sangat salut dengan kesabaran dan perjuangan Ibu.

Semenjak itu, aku merasakan sebuah fase baru dalam hidup, ketika aku sadar bahwa selama ini aku seringkali mengkhianati Allah, tapi aku juga selalu merengek kepada-Nya agar doaku cepat-cepat dikabulkan. Sungguh aku sangat tidak tahu malu.


    Dalam proses taubatan nasuha, ada banyak ujian yang kemudian datang, salah satunya adalah beberapa nomor kontak aku masih dihubungi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang telah mencemarkan nama baikku. Mereka mendapatkan nomor kontakku ketika handphone, dompet dan flashdiskku hilang saat kemalingan. Betapa sakitnya aku karena harus menanggung malu dan aku juga harus menjelaskan kepada teman dan keluarga yang sebagian besar telah dihubungi oleh orang itu. Tapi, aku kemudian mencoba bersabar dan ikhlas untuk bisa menerima ujian ini.


    Tanggal 19 Maret juga bertepatan dengan haul 26 tahun kepergian Nike Ardilla. Dan aku menyiapkan 70 bingkisan berisi Al Quran terjemahan, masker, konektor dan tasbih. Kenapa aku pilih Al Quran terjemahan dan bukan Buku Yasin? Karena selama ini masih banyak masyarakat yang tidak mempunyai Al Quran terjemahan, sehingga mereka tidak mengetahui apa saja yang telah di sampaikan Allah di dalam Al Quran yang wajib dijalankan oleh manusia, sedangkan buku Yasin, hamper setiap orang memilikinya. Dan alhamdulilah, banyak masyarakat yang merasa bahagia dan bersyukur saat bisa membaca Al Quran terjemahan, karena memang selama ini tidak memilikinya. Karena hal inilah, aku ingin sekali membeli Al Quran terjemahan yang banyak untuk disumbangkan ke pelosok-pelosok atau kepada siapa saja yang belum memilikinya.


    Di bulan Maret ini juga aku memenangkan lomba menulis cerpen misteri dan cerpen tersebut sudah dicetak dalam sebuah buku kumpulan cerpen. Aku juga khatam Al Quran di bulan ini, bertepatan saat haul 26 Nike Ardilla.

Dan di bulan Maret ini, aku dipercaya untuk menyediakan seragam, sepatu dan perlengkapan satpam oleh dosenku yang menjabat sebagai direktur utama di salah satu perusahaan outsourching di Kota Bandung. 


    Perjalanan yang sangat tidak mudah ketika aku menghubungi dosenku pertama kalinya untuk menawarkan sepatu volley import. Dia yang merupakan mantan seorang polisi dengan pangkat kombes dan kini menjadi seorang direktur utama adalah dosenku dahulu yang sudah aku anggap sebagai orangtua sendiri. Usianya sudah mau menginjak angka sembilan, namun ia masih sehat dan semangat dalam bekerja. Aku kemudian disuruh ke kantornya dengan membawa produk buatanku. Dan hari itu aku membawa satu mobil barang yang berisi sepatu, tas kulit dan pembalut kain.


    Sesampainya di sana, dosenku membeli satu tas kulit dan dua sepatu slip on. Dia kemudian berniat memborong sepatuku untuk dia jual dikoperasinya, namun salah satu karyawannya menyarankan agar dosenku lebih memilih untuk membeli seragam dan sepatu satpam terlebih dahulu karena hal itu lebih dibutuhkan. Karena saran karyawannya tersebut, dosenku kemudian memesan seragam dan sepatu satpam kepadaku. Tapi, tidak berhenti sampai di situ, karyawan laki-laki itu seakan mempersulit sekali langkahku. Dia tidak langsung membuatkan surat order, tapi dia ingin melihat contoh seragam dan sepatunya terlebih dahulu. Dia kemudian akan datang ke toko sepatuku sore harinya. Tapi, setelah aku menunggunya, dia tidak jadi datang pada hari itu.


    Aku sempat merasa ada sebuah kejanggalan, ketika karyawan laki-laki itu mengatakan di depan dosenku bahwa pesanan di vendor sebelumnya tidak memakai DP, akan tetapi barang di bayar ketika telah selesai dikerjakan, namun saat malam harinya, dia menelponku kembali dan mengatakan bahwa pembayaran seragam biasanya kredit selama satu sampai dua bulan. Dia bahkan menyarankan agar aku mempertimbangkannya kembali. Mendengar hal itu, aku kemudian menghubungi dosenku dan mempertanyakan kebenarannya. Dosenku lalu mengatakan bahwa pembayaran kontan. Dia bahkan menyuruhku untuk mengirimkan sample ketika beliau ada di kantor. 


    Mulanya, aku hanya akan memberikan contoh bahan untuk seragam dan contoh sepatu jadi, namun karyawan dosenku secara tiba-tiba meminta contoh seragam jadi dalam waktu singkat. Aku lalu mengiyakan karena sudah sangat kesal dengan karyawan itu.

Sesuai hari yang dijanjikan, aku datang lagi ke kantor dosenku dengan membawa sample. Dan alangkah terkejutnya aku, karena sesampainya di sana, aku disuruh membuat surat penawaran terlebih dahulu dengan menggunakan CV atau badan hukum lainnya. 

Dikarenakan aku tidak memiliki CV, dosenku merekomendasikan agar aku membuat CV dinotaris kenalannya. Dengan berat hati, hari itu aku langsung mendatangi notaris yang dia maksud dengan membawa kembali sample yang telah aku bawa.


    Sore harinya, aku kembali ke kantor dosenku dengan memperlihatkan kwitansi dari notaris. Setelah melihatnya, sample seragam (tiga seragam satpam, PDH, PDL dan Safari) dan sepatu dariku (dua PDH pria dan dua PDH Wanita) kemudian diterima oleh mereka. Salah satu karyawannya lalu memberikan list seragam yang harus dibuat dalam waktu seminggu dan list tersebut tidak dibuat resmi dalam surat PO, karena dia masih menunggu surat penawaran resmi dariku di bawah bendera CV.


    Nama CV ku mulanya adalah CV KUN FAYAKUN, namun nama tersebut sudah ada yang menggunakan, sehingga namanya diganti menjadi CV INDRIANI SUKSES. Aku berharap nama tersebut bisa menjadi doa bagiku dan bagi kemajuan usahaku.

Seminggu kemudian, saat aku mengantarkan orderan yang sudah jadi, semuanya DITOLAK!

Alasannya adalah seragam yang aku buat ada dua warna, yang satu coklat muda dan yang satu coklat agak tua, padahal dari awal dosenku tidak mempermasalahkannya, dan dia bilang asal berwarna cokelat, tapi karyawan yang dari awal selalu menghalang-halangi yang dengan tegas menolak seragam aku. Aku kemudian pulang dengan penuh rasa sedih dan kecewa. Semua sample yang sudah aku kirim juga aku bawa pulang. Aku diberikan waktu satu minggu oleh mereka untuk membuat baru seragam baru dengan warna yang sama.


    Sore harinya setelah seragamku ditolak, aku menghubungi dosenku dan mengatakan bahwa aku mundur saja, karena sudah banyak modal yang keluar dan aku juga tidak tahu seragam yang sudah jadi akan dikemanakan. Dosenku lalu mengatakan bahwa nanti dia akan mengurusnya.

Keesokan harinya, HRD perusahaan tersebut menghubungiku. Aku lalu menjelaskan kepadanya tentang semua unek-unek dan kerugian aku selama ini, sehingga aku memilih mundur. Aku juga menjelaskan kepadanya bahwa aku merasa salah satu karyawan laki-laki di sana terus menghalang-halangiku. HRD tersebut tidak banyak berkata-kata dan dia lebih banyak membela temannya.


    Setelah kejadian itu, aku merasa sedih dan stress, namun keluarga terus mendukungku untuk tidak putus asa. Aku bahkan menawarkan seragam yang sudah ada kepada teman-temanku dan mereka saling membantu untuk menawarkan.

Aku juga menghubungi dosenku kembali dan menawarkan seragam tersebut dengan potongan harga. Aku lalu membuat surat penawaran baru dengan nama CV baruku. Dosenku berjanji membantu, namun sampai keesokan harinya masih belum ada kabar.


    Dan kemarin, aku dan orangtua memutuskan untuk memberikan semua barang tersebut ke perusahaan milik dosenku, karena kita merasa dipermainkan dan dirugikan. Akhirnya kemarin aku membawa semuanya dan memberikannya, meskipun hari itu dosenku sedang tidak masuk karena sakit. Pulang dari kantor dosenku, aku dan ibu datang ke kantor notaris untuk tanda tangan. Selesai dari notaris, kita lalu pulang. Ibu aku terus menasehati aku untuk ikhlas dan menerima semua kejadian ini. Aku mengiyaknnya. Di tengah perjalanan, dosenku lalu menelphone, dia lalu mengatakan bahwa dia sedang sakit. Dia lalu berjanji akan membayar seragam dan sepatu yang sudah aku kirimkan hari ini memakai uang pribadinya dan dia akan menjualnya secara kredit di koperasi.

Mendengar hal tersebut, aku dan ibu merasa bersyukur, meskipun kita tidak mau berharap banyak karena kita sudah mengikhlaskannya. Aku juga tidak pernah tahu, kapan dia akan membayarnya, jadi aku tidak mau berangan-angan.


    Karena kejadian ini, ada perusahaan lain yang berdomisili di Sukabumi meminta sample seragam satpam baru dan jika cocok, mereka akan memesan kepadaku. 

Dan karena kejadian ini pula, aku jadi memiliki CV dan alhamdulilah hari ini aku mendapat link baju hazmat murah yang sudah dibeli oleh kakak temanku yang bisa aku tawarkan dengan menggunakan nama CV ke rumah sakit- rumah sakit yang ada di Bandung.


    Alhmdulilah, ternyata dalam setiap ujian, ada kejutan indah yang sedang dipersiapkan Allah untuk kita. Terimakasih Ya Allah, semoga aku senantiasa bisa bersyukur, bersabar, bertawakal dan ikhlas atas semua ketentuan-Mu yang terjadi dalam hidupku. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

















Wednesday, February 24, 2021

Teman di Batas Senja

 


    Beberapa minggu ini, tepatnya satu minggu di bulan Februari, aku mendapatkan seorang teman dengan latar belakang seorang psikolog dan desainer. Mulanya aku banyak bertanya kepadanya tentang masalah psikologi, sehingga aku menceritakan banyak hal kepadanya, termasuk tentang keluarga dan beberapa pengalaman hidup yang menyakitkan di masalalu.

Dia kemudian menganalisis kasusku dari sudut pandang ilmu psikologi dan memberikan saran yang cukup membantu aku untuk bisa memperbaiki kesehatan mental yang selama ini terlanjur sakit dan terluka.


    Menurut analisisnya, aku seharusnya menyembuhkan dulu perihal trauma di masalalu sebelum masuk ke jenjang pernikahan, karena jika kita masih membawa trauma hingga masuk ke pernikahan, maka pengalaman pahit itu akan terulang lagi, misalnya kita adalah seorang anak korban KDRT, maka jika bayangan-bayangan KDRT masih membekas dalam benak, maka kelak kita akan kembali menjadi korban KDRT dalam pernikahan.


    Selain membahas tentang trauma masalalu, dia juga sangat antusias dan terbuka membahas tentang orientasi seksual, LGBT dan masalah-masalah yang berkaitan dengan psikologi. Dia sangat smart, wawasannya luas dan dia adalah pendengar yang baik.


    Selain seorang psikolog, dia juga adalah seorang desainer. Sungguh asyik bisa berteman dengan orang yang membawa dampak positif bagi hidup kita. Dia bahkan mau mempromosikan salah satu produk aku, yaitu pembalut kain. Aku sangat berterimakasih bahwa dia sangat bersahabat dan saling memberikan keuntungan satu sama lain. Semoga hubungan pertemanan kita bisa terus berlanjut dan terus memberikan efek yang positif, baik bagi diri sendiri, maupun bagi bisnis kita masing-masing.


    Terimakasih Anas, alhamdulilah karena masukannya, aku berusaha untuk menjaga kesehatan mentalku sekarang. Dan alhamdulilah juga, setelah aku posting pembalut kain yang dia endorse, hari ini sudah banyak pembeli-pembeli baru yang mulai memakai pembalut kain.


    “Terkadang bukan siapa yang berjalan bersamamu, tapi siapa yang membantumu untuk bisa berjalan. Bukan siapa yang menggandengmu, tapi siapa yang menopangmu.”










Wednesday, February 3, 2021

KEMATIAN

 




    Selasa, tanggal 2 Februari 2020 tiba-tiba aku mendapat kabar bahwa Pak Adam meninggal dunia. Aku kaget bukan main, karena baru kemarin aku chatting dengan Pa Adam saat beliau sakit dan berniat menggalang dana. Pak Adam meninggal pada pukul 22.00, setelah pulang dari Rumah sakit Salamun Bandung karena penyakit jantung dan paru-paru yang dideritanya.


    Ada cerita hari di balik kematian Pak Adam yang baru aku ketahui pada sore harinya. Pak Adam ternyata pulang dari rumah sakit karena teringat anak satu-satunya Rahesa yang dikhawatirkan tidak bisa makan. Lalu, setelah pulang dalam kondisi masih sakit dan kencing berdarah, Pak Adam justru harus puasa menahan lapar seharian hingga meninggal dunia dalam kondisi kelaparan. Pak Adam meninggalkan anak semata wayangnya yang sudah tidak memiliki ibu, sehingga dia kini menjadi anak yatim piatu. Selain itu, hal menyedihkan lainnya adalah keluarga jauh dari almarhum tidak ada yang datang satu pun kecuali adik dari almarhum ibunya.


    Rahesa kini hidup sendiri dengan beban kesedihan dan kesendirian yang harus dipikulnya. Aku sudah menawarkan agar Rahesa tinggal di Panti Penghafal Al Quran milik Pak Mustaqim, namun untuk saat ini Rahesa masih ingin menyendiri dulu dan pergi ke luar kota. Dia akan memikirkan tawaran aku setelah kesedihannya sedikit terhapus.


    Aku mengenal Pak Adam pada tahun 2018 saat bergabung dengan organisasi AHINDO Jawa Barat dan kebetulan aku juga terpilih menjadi ketua pelaksana bazar UMKM di Cibaduyut. Sejak saat itu, aku banyak mengetahui tentang kehidupan almarhum. Hingga pada tahun 2019, Pak Adam menitipkan tas-tas milik almarhummah istrinya untuk aku jual ditoko sepatuku dan setiap terjual, aku mentransfer uangnya ke rekening milik Pak Adam.


    Kehidupan Pak Adam setelah di PHK oleh PT DI dan ditinggal mati istrinya memang sangat mengkhawatirkan, namun beliau tidak pernah mengeluh. Dan terakhir aku mengetahui info dari Bu Elin bahwa Pak Adam sampai menjual piring untuk biaya hidup sehari-hari. Bahkan ketika Pak Adam jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit, Pak Adam harus bergelut dengan handphone miliknya untuk bisa menggalang dana. Tidak ada satupun keluarga yang menemaninya, kecuali anaknya Rahesa yang belum mandiri. Dan di hari Pak Adam keluar dari rumah sakit, aku tidak tahu sama sekali. Yang tahu Pak Adam sudah pulang adalah salah satu kerabat Gubernur yang dimintai pertolongan untuk menyampaikan permintaan bantuan biaya rumah sakit kepada Gubernur.


    Kisah Pak Adam yang Aku posting di status whatsapp cukup menyita keprihatinan dan kesedihan dari teman-temanku yang bahkan tidak mengenal Pak Adam. Teman-temanku bahkan dengan sukarela mau menyumbang untuk Rahesa. Semua temanku sampai kaget, kenapa tetangganya bisa membiarkan orang kelaparan hingga meninggal dunia. Ini yang sangat disayangkan, seharusnya sebagai tetangga bisa lebih peduli kepada tetangganya yang sedang sakit.


    Kini, Rahesa harus terbiasa hidup tanpa kehadiran kedua orangtuanya. Ayah yang biasa mengantar jemputnya sekolah sekarang sudah tidak ada lagi. Dia harus menghibur diri tanpa ada satupun keluarga dari orangtuanya yang peduli. Meskipun begitu, aku dan teman-teman ayahnya sangat peduli terhadap Rahesa. Semoga dia bisa tabah, kuat dan tegar mengahadapi situasi ini. Dia harus bangkit untuk mencapai cita-citanya dan menjadi anak sholeh agar bisa mendoakan kedua orangtuanya yang kini telah tiada.


    Bagi teman-teman yang ingin menyumbang atau membeli tas-tas Pak Adam yang masih tersisa, boleh langsung menghubungi saya atau mentransfer langsung ke rekening BNI Syariah milik almarhum, 0834847460 atas nama Adam Permasa. Semoga doa dan kebaikan teman-teman dibalas oleh Allah SWT, aamiin Ya Rabbal Alamin.














Sumbangan dari Dedi padahal tidak kenal Pa Adam


Sumbangan dari Dewi padahal tidak kenal Pa Adam

Sumbangan dari Asha padahal tidak kenal Pa Adam