Friday, November 2, 2012

Tentang Waktu, Kesempatan dan Kematian

          Kesadaran.. seringkali aku mendengar kata itu terselip diantara kalimat permintaan maaf diakhir sebuah pertengkaran. Mungkinkah itu adalah babak dimana orang akan ingat pada bisikan murni hati nuraninya? Entahlah, yang pasti ada hal yang lebih penting yang aku pikirkan setelahnya, yaitu tentang waktu dan kesempatan.



         Berbicara tentang waktu, kita selalu diingatkan bahwa hidup itu singkat dan seharusnyalah kita hidup dengan sebaik-baiknya. Adakalanya kita terlalu angkuh ketika berhadapan dengan waktu, seakan-akan kita mampu untuk menjinakkannya kapan saja, padahal nyatanya, waktu selalu membayangi kita dengan satu hal yang sangat jelas didepan mata, yaitu kematian.

          Ada sedikit hal yang ingin aku ceritakan tentang kematian. Ya, sedikit saja.. tentang rasa rindu yang tak akan pernah ada habisnya ketika kita ditinggalkan oleh orang-orang yang kita cintai. Dan tentang kesempatan? Kesempatan memang tak pernah datang dua kali. Kalau saja kesempatan itu masih ada, maka aku ingin sekali menyelesaikan satu babak yang memang belum sempat diakhiri, atau bahkan sebuah kesempatan yang belum dimulai sama sekali. Ada  surat yang ingin aku tulis untuk hatiku yang selalu ketakutan tatkala malam datang dan teringat akan kematian. Satu surat.. surat untuk angin.. kematian.


          "Aku lelah dengan bayang-bayang hitammu yang mengikat, membuntuti kemanapun aku melangkah.. seperti siluet tak berbentuk yang siap menerkamku kapanpun itu.. Gelap, kenapa kau teramat gelap mencekam?? Membuat imajiku terpenjara tatkala menatap mentari yang hampir tenggelam setiap senja datang. Aku takut tersudut sendiri tanpa cahaya kedamaian, aku takut kelak menemuimu seorang diri dalam kepenatan.. aku takut.. sangat takut. Aku bukan pengecut yang takut melihat dunia dari sudut pandang kehinaan.. aku tak takut melihat gejolak api dari petarung kesempatan, aku tak takut.. tak pernah takut.. tapi tentang kematian?? Aku diam.. tak ada kalimat yang tepat tatkala aku dihadapkan pada kematian.. abstrak.. kosong.. cukuplah airmataku menjadi saksi ketika dengan sekejap, mereka yang terkasih dalam hati terenggut olehnya.. cukup.. ribuan puisi tak mampu mendeskripsikan bagaimana pahitnya berpisah tanpa kalimat dan pesan perpisahan.. cukup.. cukup.. cukup.. aku masih tak kuat.. lelapkan aku sesaat saja.. dalam ketenangan.. dalam sunyi senyap kedamaian.. itu saja titik"


          Surat singkat?? ya, biarlah esok melanjutkannya tatkala waktu berbicara dalam sorot mata lain yang aku rindukan.. kapanpun itu, aku akan menunggunya.. SOSOK


No comments:

Post a Comment