Saturday, August 3, 2013

Mimpi




Hari ini aku kehilangan kata-kata. Semuanya kosong, sepertinya semua kosakata berlarian dari otakku, sepertinya semua rasa satu persatu pergi dari hati. Hanya lewat mimpi, aku tau apa yang aku mau, hanya lewat mimpi aku dapat membahasakan rindu. Namun, dalam mimpi pun aku masih berlarian, entah apa yang aku cari, entah siapa yang ingin aku temui, aku hanya berlari dan berlari, seraya merasakan sesak dalam jiwa, karena aku tak menemukannya.
Aku tau, ada sedikit rasa yang masih tertinggal di sini, dia selalu berteriak dan meronta. Aku tau, aku masih memenjarakannya dalam ruang penat tanpa udara, hingga dia terengah-engah hampir mati. Aku tau, ada bagian itu, dalam diriku, dalam hatiku. Dia meminta kebebasan untuk hidup sebebas-bebasnya, dan melalui mimpilah, aku tau suara kesakitannya, suara tangisannya yang mengharu-biru, dan suara nuraninya yang tengah terbuai rindu.
            Ada sebagian yang tak aku mengerti tentang mimpi. Isyarat ataupun bukan, tapi semua masih menyisakan pertanyaan, karena hingga detik ini dalam mimpi pun, kita tak pernah bertemu, berpapasan, padahal aku tau aku tengah mencarimu, begitu ingin menemuimu, tapi kita tak dapat berkompromi dengan waktu. Mimpi terlalu singkat untukku dapat mengutarakan apa yang aku mau, padahal mimpi adalah jembatan penghubung agar kita dapat mengungkapkan rasa. Jarak bukanlah halangan dalam mimpi, yang dapat memisahkan kita seperti detik ini. Aku ingin sekali menemuimu dalam mimpi, agar aku bebas mengatakan padamu bahwa aku rindu.
            Detik ini seperti ada yang pergi, berhamburan menjauh meninggalkanku seorang diri. Dalam sepi, aku masih menyimpan sebuah bingkisan yang terbungkus rapi. Mengenangnya disetiap sudut sepi, menanti.
Aku kehilangan rasa, kehilangan warna. Semuanya hambar, semuanya sama, buta. Sepertinya yang aku rasa masih tentang kita, sepertinya yang berwana masih tentang cinta, namun aku salah, kini tak ada lagi rasa, tak ada pula warna, yang ada hanya sisa dari cahaya redup yang masih menyala dalam gua, mungkin itulah cerita.
            Cukup mungkin, aku memang harus tidur untuk selamanya. Menghidupkan kembali tonggak rapuh tentang jati diri. Aku ingin bermimpi, tolong, jangan biarkan sepi mengajakku kembali, aku tak mau sendiri.

 
Mimpi Selamanya-Drive

Aku terlanjur, ku terlanjur sayang
Menyayangimu
Sayang mengapa
Bukan hanya aku yang merindukanmu
Selalu.. terbagi..

Mungkin kau bukan yang bisa ku miliki
Selamanya
Mungkin kau hanya menjadi mimpi
Selamanya

Aku sendiri, ku sendiri lagi dan memikirkanmu
Mungkin saja kau bukan, bukanlah yang ku tunggu
Selama ini dihati.. dijiwa..






No comments:

Post a Comment