Hari ini aku kehilangan
kata-kata. Semuanya kosong, sepertinya semua kosakata berlarian dari otakku,
sepertinya semua rasa satu persatu pergi dari hati. Hanya lewat mimpi, aku tau
apa yang aku mau, hanya lewat mimpi aku dapat membahasakan rindu. Namun, dalam
mimpi pun aku masih berlarian, entah apa yang aku cari, entah siapa yang ingin
aku temui, aku hanya berlari dan berlari, seraya merasakan sesak dalam jiwa,
karena aku tak menemukannya.
Aku tau, ada sedikit rasa yang masih
tertinggal di sini, dia selalu berteriak dan meronta. Aku tau, aku masih
memenjarakannya dalam ruang penat tanpa udara, hingga dia terengah-engah hampir
mati. Aku tau, ada bagian itu, dalam diriku, dalam hatiku. Dia meminta
kebebasan untuk hidup sebebas-bebasnya, dan melalui mimpilah, aku tau suara
kesakitannya, suara tangisannya yang mengharu-biru, dan suara nuraninya yang
tengah terbuai rindu.
Ada
sebagian yang tak aku mengerti tentang mimpi. Isyarat ataupun bukan, tapi semua
masih menyisakan pertanyaan, karena hingga detik ini dalam mimpi pun, kita tak
pernah bertemu, berpapasan, padahal aku tau aku tengah mencarimu, begitu ingin
menemuimu, tapi kita tak dapat berkompromi dengan waktu. Mimpi terlalu singkat
untukku dapat mengutarakan apa yang aku mau, padahal mimpi adalah jembatan
penghubung agar kita dapat mengungkapkan rasa. Jarak bukanlah halangan dalam
mimpi, yang dapat memisahkan kita seperti detik ini. Aku ingin sekali menemuimu
dalam mimpi, agar aku bebas mengatakan padamu bahwa aku rindu.
Detik
ini seperti ada yang pergi, berhamburan menjauh meninggalkanku seorang diri.
Dalam sepi, aku masih menyimpan sebuah bingkisan yang terbungkus rapi. Mengenangnya
disetiap sudut sepi, menanti.
Aku kehilangan rasa, kehilangan warna.
Semuanya hambar, semuanya sama, buta. Sepertinya yang aku rasa masih tentang
kita, sepertinya yang berwana masih tentang cinta, namun aku salah, kini tak
ada lagi rasa, tak ada pula warna, yang ada hanya sisa dari cahaya redup yang
masih menyala dalam gua, mungkin itulah cerita.
Cukup
mungkin, aku memang harus tidur untuk selamanya. Menghidupkan kembali tonggak
rapuh tentang jati diri. Aku ingin bermimpi, tolong, jangan biarkan sepi
mengajakku kembali, aku tak mau sendiri.
Mimpi Selamanya-Drive
Aku terlanjur, ku terlanjur sayang
Menyayangimu
Sayang mengapa
Bukan hanya aku yang merindukanmu
Selalu.. terbagi..
Mungkin kau bukan yang bisa ku miliki
Selamanya
Mungkin kau hanya menjadi mimpi
Selamanya
Aku sendiri, ku sendiri lagi dan memikirkanmu
Mungkin saja kau bukan, bukanlah yang ku tunggu
Selama ini dihati.. dijiwa..
Menyayangimu
Sayang mengapa
Bukan hanya aku yang merindukanmu
Selalu.. terbagi..
Mungkin kau bukan yang bisa ku miliki
Selamanya
Mungkin kau hanya menjadi mimpi
Selamanya
Aku sendiri, ku sendiri lagi dan memikirkanmu
Mungkin saja kau bukan, bukanlah yang ku tunggu
Selama ini dihati.. dijiwa..

No comments:
Post a Comment