Thursday, August 1, 2013

Kemarau Hujan


Pada kemarau panjang yang hujan.

Ada hasrat yang tertinggal dikerah baju yang lusuh. Gejolaknya membakar sepenggal dari rasa yang berapi-api. Pantaskah pergi bilamana gemuruh di dada tengah terasuki sukma?? Pantaskah pergi tatkala hati tengah mekar di taman asmara?? Pantaskah berjalan meninggalkan tanpa sepucuk surat kenangan penghibur lara??
Seperti ketika panas membakar bumi yang gerimis di kening pagi, seperti itu pula bilamana rindu harus mati tatkala cinta baru saja menepi.

Kemarin, aku masih berada di balik punggungmu. Mengeja bahasa dungu dalam bisu.
Kemarin, masih ku lihat kau di sana dalam nafsu, terengah-engah membakar jala rindu.
Kemarin, kau dan aku berpetualang melingkari pusara jalang.
Melumat bentangan demi bentangan gugusan bintang.

Kemarin kau telanjangi hati yang terbagi.
Menghunus batinnya yang meronta pada cinta.
Seperti ketika pada senja kita menari dalam dosa.
Menjamahi setiap rasa dalam degup dada yang terlena.

Kemarin, seperti katamu aku duduk diantara penantian.
Menunggu waktu yang bergulir menetaskan gurat takdir.
Kemarin, seperti katamu bersabarlah dalam sangkar tanpa lelah,
Karena esok kita akan berjumpa jua…
Itu katamu, maka aku menunggu di balik  pintu rindu.
Mengibaskan tirai pada gelisah yang tergadai.
Namun, sia-sia aku mematung sendiri di tepian pesisir janji.
Kau tak pulang, hilang terbang lantas memutuskan tali.

Bulan ini kemarau datang, namun hujan.
Merenda kisah pada bait kenangan.

Pulanglah, bilamana memang cintamu setegar karang,
Sekeras auman serigala yang garang..

Pulanglah, niscaya bunga layu itu akan sumringah..
Pulanglah, hibur hatinya yang gundah..
Sulam jiwanya yang terbelah..
Meski hanya sekedar jumpa..
Pulanglah,
Aku lelah..
Tlah lama terbaring lemah mengais pasrah..
Kalah..

Pulanglah..




No comments:

Post a Comment