Pada
kemarau panjang yang hujan.
Ada
hasrat yang tertinggal dikerah baju yang lusuh. Gejolaknya membakar sepenggal
dari rasa yang berapi-api. Pantaskah pergi bilamana gemuruh di dada tengah
terasuki sukma?? Pantaskah pergi tatkala hati tengah mekar di taman asmara??
Pantaskah berjalan meninggalkan tanpa sepucuk surat kenangan penghibur lara??
Seperti
ketika panas membakar bumi yang gerimis di kening pagi, seperti itu pula
bilamana rindu harus mati tatkala cinta baru saja menepi.
Kemarin,
aku masih berada di balik punggungmu. Mengeja bahasa dungu dalam bisu.
Kemarin,
masih ku lihat kau di sana dalam nafsu, terengah-engah membakar jala rindu.
Kemarin,
kau dan aku berpetualang melingkari pusara jalang.
Melumat
bentangan demi bentangan gugusan bintang.
Kemarin
kau telanjangi hati yang terbagi.
Menghunus
batinnya yang meronta pada cinta.
Seperti
ketika pada senja kita menari dalam dosa.
Menjamahi
setiap rasa dalam degup dada yang terlena.
Kemarin,
seperti katamu aku duduk diantara penantian.
Menunggu
waktu yang bergulir menetaskan gurat takdir.
Kemarin,
seperti katamu bersabarlah dalam sangkar tanpa lelah,
Karena
esok kita akan berjumpa jua…
Itu
katamu, maka aku menunggu di balik pintu
rindu.
Mengibaskan
tirai pada gelisah yang tergadai.
Namun,
sia-sia aku mematung sendiri di tepian pesisir janji.
Kau
tak pulang, hilang terbang lantas memutuskan tali.
Bulan
ini kemarau datang, namun hujan.
Merenda
kisah pada bait kenangan.
Pulanglah,
bilamana memang cintamu setegar karang,
Sekeras
auman serigala yang garang..
Pulanglah,
niscaya bunga layu itu akan sumringah..
Pulanglah,
hibur hatinya yang gundah..
Sulam
jiwanya yang terbelah..
Meski
hanya sekedar jumpa..
Pulanglah,
Aku
lelah..
Tlah
lama terbaring lemah mengais pasrah..
Kalah..
Pulanglah..

No comments:
Post a Comment