Wednesday, July 31, 2013

Garut

-->
            Garut merupakan salah satu tempatku berpetualang dan mengukir kenangan. 2010, Pertama kali aku menginjakkan kaki di sana bukan untuk berwisata, melainkan menjadi seorang pembicara dalam seminar kewirausahaan yang dilaksanakan di STT.Garut.
Berangkat dari rasa percaya diri dan pengalaman yang dimilki, aku lantas menawarkan kerjasama dengan STT.Garut untuk mengadakan seminar. Aku tidak berangkat sendiri, melainkan dengan salah satu staf dari Commonwhealth Insurance untuk mengisi acara. Setibanya di sana, aku sedikit kaget karena peserta yang hadir sekitar tiga ratus orang mahasiswa, kemudian ada dosen, dekan dan bahkan rektor. Awalnya ada rasa nervous ketika aku yang harus menjadi pembicara yang pertama sebelum pembicara dari Commonwhealth, namun aku dapat mencairkan suasana dengan modal percaya diri yang aku miliki, serta guyonan sederhana yang aku lakukan terhadap audience. Aku menjelaskan beberapa hal yang penting ketika akan memulai untuk usaha, terutama keberanian, rasa percaya diri dan dapat mengambil resiko. Aku juga menceritakan pengalamanku menjadi seorang entepreneur yang dimulai sejak bangku sekolah dasar. Selain motivasi-motivasi yang tidak lain merupakan pengalaman pribadi, aku juga menjelaskan materi tentang pasar modal dan trading valuta asing yang banyak diminati para pelaku bisnis. Audience sangat antusias mendengar penjelasanku, terutama ketika aku menawarkan konsultasi gratis untuk mereka yang ingin memulai usaha atau mencoba bisnis pada  valuta asing dan komoditi. Banyak pertanyaan yang mereka lontarkan ketika aku selesai menjelaskan tentang materi. Senang rasanya karena respon di sini positif terhadap materi yang aku bawakan.
Usai seminar, aku di undang makan bersama oleh bagian akademiknya. Mereka mengungkapkan rasa terimakasih karena telah menyemangati para mahasiswa. Aku juga dinilai mempunyai rasa keberanian yang tinggi untuk menjadi seorang pembicara dalam seminar, padahal  usiaku masih 20 tahun, oleh karena itu, mereka memberikan piagam penghargaan kepadaku. Aku bahkan ditawari untuk mengajar di sana apabila telah lulus kuliah dan juga ada tawaran S2 gratis bagi para dosen yang ingin melanjutkan pendidikannya, baik di Bandung, maupun di Jakarta sebagai bentuk peningkatan kualitas para pengajar yang tidak lain adalah asset penting bagi sebuah lembaga pendidikan.
Menyenangkan ternyata, menjadi seorang pembicara dan dapat membagi pengalaman kita kepada orang lain adalah suatu hal yang luar biasa dan membuat kita ketagihan, serta termotivasi untuk melakukan hal yang sama dengan lebih baik lagi.
            Awal 2011, aku kembali menginjakkan kaki di Kota Garut, kali ini juga bukan untuk berwisata, melainkan untuk menjadi narasumber di salah satu radio di sana.
Nervous?? Tentu, meskipun ini bukan pertama kali aku menjadi narasumber di radio, karena aku telah beberapa kali siaran di beberapa radio di Bandung, namun kali ini lain, karena aku berada di Garut dan dengan materi yang berbeda, yaitu sebagai seorang penulis, bukan entepreneur.
Beberapa orang pendengar kemudian menelphone dan mengajukan pertanyaan. Lumayan banyak dan responnya positif. Aku senang sekali. Dan satu hal, kali ini aku berangkat ke Garut seorang diri dan pulang sekitar pukul tujuh malam.
            Februari 2012, Aku tak pernah menyangka bahwa aku akan ke Kota Garut seorang diri dan itu pun merupakan daerah pelosok yang jauh dari Kota. Sungai Cikandang, di daerah Pakenjeng, Garut Selatan, merupakan salah satu tempat paling menantang untuk melakukan arung jeram. Bermodal rasa ingin tau dan terbilang nekat, aku berangkat ke sana seorang diri setelah menghubungi salah seorang teman yang ternyata tinggal di daerah itu.
Aku berangkat dari Rancaekek dengan kendaraan umum, dan turun di Tarogong, kemudian naik angkot dan disambung dengan elf, hingga tiba di pangkalan ojek sebelum sungai Cikandang, temanku Sulton menjemputku. Aku tiba menjelang magrib dan jalanan agak licin karena hujan. Awalnya aku ragu untuk dibonceng olehnya, karena jalanannya menanjak, terjal, licin dan curam, sangat berbahaya. Kita beberapa kali jatuh karena barang bawaanku cukup banyak dan menurut temannya, Sulton baru pertama kali belajar motor di daerah  ini dan dia juga pertama kali pula membonceng seorang perempuan.
Banyak hal yang terjadi selama di sana, namun tak perlu aku ceritakan dengan detail. Intinya, aku menemukan banyak saudara baru, baik dari warga setempat yang sangat welcome, juga dari para ustadz dan santri salah satu pesantren di sana. Dan peristiwa paling penting yang aku alami adalah ketika aku turun ke Sungai Cikandang seorang diri keesokan harinya. Aku berjalan kaki dari Desa Neglasari dan aku tidak tersesat, padahal aku tidak hafal jalan, bahkan aku berjalan melalui jalan yang berbeda, bukan jalan sewaktu Sulton menjemputku.
Sungai Cikandang sangat indah, airnya deras, udaranya sejuk dan bebatuannya cantik. Banyak pepohonan rindang dan hijau disekelilingnya. Arusnya memang sangat liar, namun itulah hal yang menantang bagi semua orang.
Aku betah beralama-lama di sana, kalau saja sungai itu tidak berbahaya dan teman-temanku tidak mencariku karena khawatir, aku mungkin masih berdiam diri di situ dan menikmati pemandangan yang sangat amazing menurutku.
Aku sempat shalat dzuhur juga di atas batu, rasanya menakjubkan, beratapkan langit biru, beralaskan batu-batu, di depan mata adalah sungai indah yang mengalir, dan terdengar pula suara burung-burung yang hilir mudik. Luar biasa rasanya, hingga aku menciptakan sebuah sajak di sungai itu.
            Maret 2012, sehari setelah kakekku meninggal, aku harus kembali ke daerah pakenjeng, dekat sungai Cikandang atas permintaan Ustadz Surachman, pemilik pesantern, menurutnya, ada seorang Kiayi di daerah Pameungpeuk yang ingin bertemu.
Dengan kondisi fisik masih lelah, karena beberapa hari tidak tidur, aku berangkat ke sana seorang diri. Rahmat menjemputku setibanya di sana. Hari itu hujan. Bajuku basah kuyup, namun bukannya istirahat, tapi kita melanjutkan perjalanan menuju Pameungpeuk, tidak jauh dari Pantai Santolo dan itu hal tergila yang pernah aku lakukan karena aku tidak istirahat sama sekali, mulai ketika kakekku meninggal, lalu berangkat dari Rancaekek ke Garut Kota, kemudian lanjut ke Desa Neglasari dan berangkat lagi dengan menggunakan motor ke Pameungpeuk. Yang paling menyiksa itu jalanannya yang terjal dan curam karena merupakan daerah pegunungan, selain itu gelap pula. Kita tiba pukul dua belas malam dan menginap di rumah teman Ustadz Surachman sebelum esok harinya ke rumah Kiayi.
Setelah esok harinya berkunjung ke rumah Kiayi, aku diajak ke Pantai Santolo. Luar biasa, aku langsung jatuh cinta dengan pantai ini. Langitnya biru, pasir putih, ombak besar, karang-karang indah yang berjejer di pesisir. Menakjubkan. Aku terkesima dengan Pantai Santolo, apalagi jika kita datang bersama orang yang kita cintai, mungkin rasanya lebih dari sekedar indah, hehe.
Menjelang sore, kita pulang. Aku menginap di rumah Ustad Surachman bersama Imas yang tidak lain adalah pacar Sulton, setelah sebelumnya aku jatuh dari motor yang dikendarai Rahmat. Dia tampak sangat kaget ketika motor tiba-tiba jatuh ke pinggir. Kepalaku terbentur dan tangan serta kaki Rahmat berdarah. Itu pengalaman pertamaku jatuh dari motor dan lumayan pusing juga. Imas kemudian mengompres kening dan pundakku. Dia sangat baik, usia dia dan Sulton lebih tua satu tahun dariku, namun mereka memanggilku teteh. Sudah dua kali pula ketika berkunjung ke sini, Imas yang mencuci bajuku, padahal aku tidak memintanya.
Aku pulang ke Bandung setelah berpamitan dengan warga di sana. Alangkah baiknya mereka, karena aku pulang membawa oleh-oleh yang mereka berikan, ada kelapa muda sebanyak satu karung, opak,dll. Aku sungguh berterimakasih kepada warga di desa ini yang ramah, aku juga tidak akan pernah melupakan kegiatan mandi langsung dipancuran, karena rasanya segar dan membuat badan jadi rilex. Tapi, lebih dari itu, aku bahagia karena mempunyai banyak saudara baru ditempat asing yang baru aku pijak.
            Juli 2013, aku berencana KKN semester depan, mungkin bulan Agustus akhir atau Maret. Seperti rencana awal, aku ingin KKN di Perusahaan Susu Kedelai, karena aku juga ingin belajar lebih banyak tentang susu kedelai untuk meningkatkan usahaku. Mulanya aku kira perusahaan itu terdapat di Bandung atau Tangerang, namun kemarin setelah bertanya kepada salah seorang yang tahu perusahaan tersebut, ternyata perusahaan yang bersangkutan berada di Garut.
Luar biasa, lagi-lagi Garut. Sepertinya aku berjodoh dengan Kota ini. Garut juga telah membuatku jatuh cinta dengan beberapa hal yang dimilikinya, terutama alamnya.

            Kotaku kota tua,
            Tidak seperti kotamu yang muda..     
            Bentangan alam dari gunung perkasa..
            Laut nan biru lukisan samudra..
           
            Garutku, Garut Padjadjaran…
            Ada Santolo, Cikandang dan Sancang..
            Tempat jantungku melanglang berpetualang,
            Hilang..

No comments:

Post a Comment