Tuesday, July 30, 2013

Seharusnya Aku Mencintaimu



Dia memanggilku biru. Sudah satu tahun lebih aku mengenalnya. Banyak kata-kata indah yang dia uraikan untukku selama ini. Banyak airmata yang dia tumpahkan untuk menyayangiku dengan tulus. Aku tau, aku belum tentu bisa ada diposisi seperti yang pernah dia lakoni, mencintai orang lain yang tidak mencintainya, namun dia tulus berkorban apapun agar orang yang dicintainya bahagia.
Aku mengagumi kebaikannya selama ini. Aku ingin menyematkan kata “malaikat” untuk dia. Aku ingin sekali suatu saat memberikan kejutan yang membuatnya tersenyum bahagia. Aku simpati kepadanya.
            Hati memang tak pernah bisa diajak kompromi, padahal jika logika yang turut berperan dalam hal ini, mungkin seharusnya aku memilih dia, karena selama ini aku selalu bersandar kepadanya, susah ataupun senang, dia selalu ada dibelakangku, membantuku dengan sukarela. Dia adalah malaikat. Malaikat yang rela melihat orang yang dicintainya tergila-gila kepada orang lain, namun dia dengan setia masih berada di sana, dia adalah sebuah kedamaian, ketenangan hidup dan ketulusan.
Pernah suatu ketika, pacarku bermasalah dengan ibunya karena “rahasianya” terbongkar. Dia lalu tidak bisa dihubungi selama beberapa hari. Aku lalu khawatir, lalu meminta tolong kepadanya untuk menghubunginya melalui nomor rumahnya, dan dia mau. Luar biasa, dia tak pernah meminta timbal balik apapun agar aku mencintainya, dia hanya selalu berbuat dan berbuat agar aku mampu tersenyum lagi.
            Dia merupakan satu-satunya tempatku berkeluh kesah ketika aku bertengkar dengan pacarku. Dia dengan sabarnya selalu mendengarkan dan mengurangi bebanku. Dia adalah orang yang sangat berperan selama satu tahun ini. Ketika aku sakit dan tidak ingin minum obat, dia sampai berniat mengirimkan obat untukku, bahkan ketika aku mengikuti kompetisi di Bank Indonesia, dialah orang yang bekerja dibalik layar dan membantuku. Dia sangat baik.
Ketika itu aku tengah mengajar dan pulsa modemku habis. Aku harus menyelesaikan tulisan mengenai ide bisnis yang aku beri judul “Minuman Fermentasi Kacang Kedelai” dan dia yang memberikan referensi tentang kandungan gizi kacang kedelai, mesin yang dibutuhkan,dll.
Setelah itu, dia masih sama. Bahkan, ketika pesanan susu kedelaiku basi dan tidak mendapat ganti rugi, dialah satu-satunya orang yang empati kepadaku dengan tindakan yang nyata, dia langsung meminjamkan uang. Dan malam sebelumnya, dia sibuk meminta bantuan temannya yang merupakan anak IT untuk membantu mengerjakan tugas pacarku. Dia tahu bahwa aku tengah sibuk menyiapkan pesanan untuk esok harinya, namun pacarku tetap harus menyelesaikan tugas itu. Maka dari itu, dia dengan ikhlas membantu mengerjakan tugas membuat flowchart, meskipun pada akhirnya tidak selesai. Tapi kita sudah berusaha.
            Dia memanggilku biru. Entah berapa banyak hal yang telah dia perbuat untukku, namun aku heran kenapa rasa cinta itu tidak tumbuh juga. Hingga pada suatu titik, dia mungkin lelah dan bosan dengan perasaannya, dia menghilang sesaat. Jujur, aku begitu kehilangan.
Tapi tak lama, dia masih sama, di sana, meskipun dengan perasaan yang berbeda, namun dia tetap ada, mendengarkan setiap keluh kesahku. Hingga kini, aku tau dia masih peduli, meskipun perasaannya kini telah netral, tapi aku ingin sekali mengucapkan banyak terimakasih kepadanya. Kita belum pernah bertemu sekalipun, tapi sebuah keprcayaan telah terbangun begitu saja. Aku tau, hingga detik ini pun aku tidak mencintainya, namun aku ingin mengatakan satu hal kepadanya,
Seharusnya aku mencintaimu, tetapi cinta telah memilih jalannya sendiri, sehingga aku lebih memilih dia. Aku hanya bisa begini saja. Menjadi sahabat atau saudaramu, tapi aku sungguh berterimakasih. Terimakasih banyak, malaikatku, tetaplah sematkan kata “biru” untukku.””

No comments:

Post a Comment