Dia memanggilku biru. Sudah
satu tahun lebih aku mengenalnya. Banyak kata-kata indah yang dia uraikan
untukku selama ini. Banyak airmata yang dia tumpahkan untuk menyayangiku dengan
tulus. Aku tau, aku belum tentu bisa ada diposisi seperti yang pernah dia
lakoni, mencintai orang lain yang tidak mencintainya, namun dia tulus berkorban
apapun agar orang yang dicintainya bahagia.
Aku mengagumi kebaikannya selama ini.
Aku ingin menyematkan kata “malaikat” untuk dia. Aku ingin sekali suatu saat
memberikan kejutan yang membuatnya tersenyum bahagia. Aku simpati kepadanya.
Hati
memang tak pernah bisa diajak kompromi, padahal jika logika yang turut berperan
dalam hal ini, mungkin seharusnya aku memilih dia, karena selama ini aku selalu
bersandar kepadanya, susah ataupun senang, dia selalu ada dibelakangku,
membantuku dengan sukarela. Dia adalah malaikat. Malaikat yang rela melihat
orang yang dicintainya tergila-gila kepada orang lain, namun dia dengan setia
masih berada di sana, dia adalah sebuah kedamaian, ketenangan hidup dan
ketulusan.
Pernah suatu ketika, pacarku bermasalah
dengan ibunya karena “rahasianya” terbongkar. Dia lalu tidak bisa dihubungi
selama beberapa hari. Aku lalu khawatir, lalu meminta tolong kepadanya untuk
menghubunginya melalui nomor rumahnya, dan dia mau. Luar biasa, dia tak pernah
meminta timbal balik apapun agar aku mencintainya, dia hanya selalu berbuat dan
berbuat agar aku mampu tersenyum lagi.
Dia
merupakan satu-satunya tempatku berkeluh kesah ketika aku bertengkar dengan
pacarku. Dia dengan sabarnya selalu mendengarkan dan mengurangi bebanku. Dia
adalah orang yang sangat berperan selama satu tahun ini. Ketika aku sakit dan
tidak ingin minum obat, dia sampai berniat mengirimkan obat untukku, bahkan
ketika aku mengikuti kompetisi di Bank Indonesia, dialah orang yang bekerja
dibalik layar dan membantuku. Dia sangat baik.
Ketika itu aku tengah mengajar dan pulsa
modemku habis. Aku harus menyelesaikan tulisan mengenai ide bisnis yang aku
beri judul “Minuman Fermentasi Kacang Kedelai” dan dia yang memberikan referensi
tentang kandungan gizi kacang kedelai, mesin yang dibutuhkan,dll.
Setelah itu, dia masih sama. Bahkan,
ketika pesanan susu kedelaiku basi dan tidak mendapat ganti rugi, dialah
satu-satunya orang yang empati kepadaku dengan tindakan yang nyata, dia
langsung meminjamkan uang. Dan malam sebelumnya, dia sibuk meminta bantuan
temannya yang merupakan anak IT untuk membantu mengerjakan tugas pacarku. Dia
tahu bahwa aku tengah sibuk menyiapkan pesanan untuk esok harinya, namun
pacarku tetap harus menyelesaikan tugas itu. Maka dari itu, dia dengan ikhlas
membantu mengerjakan tugas membuat flowchart,
meskipun pada akhirnya tidak selesai. Tapi kita sudah berusaha.
Dia
memanggilku biru. Entah berapa banyak hal yang telah dia perbuat untukku, namun
aku heran kenapa rasa cinta itu tidak tumbuh juga. Hingga pada suatu titik, dia
mungkin lelah dan bosan dengan perasaannya, dia menghilang sesaat. Jujur, aku
begitu kehilangan.
Tapi tak lama, dia masih sama, di sana,
meskipun dengan perasaan yang berbeda, namun dia tetap ada, mendengarkan setiap
keluh kesahku. Hingga kini, aku tau dia masih peduli, meskipun perasaannya kini
telah netral, tapi aku ingin sekali mengucapkan banyak terimakasih kepadanya.
Kita belum pernah bertemu sekalipun, tapi sebuah keprcayaan telah terbangun
begitu saja. Aku tau, hingga detik ini pun aku tidak mencintainya, namun aku
ingin mengatakan satu hal kepadanya,
“Seharusnya
aku mencintaimu, tetapi cinta telah memilih jalannya sendiri, sehingga aku
lebih memilih dia. Aku hanya bisa begini saja. Menjadi sahabat atau saudaramu,
tapi aku sungguh berterimakasih. Terimakasih banyak, malaikatku, tetaplah
sematkan kata “biru” untukku.””

No comments:
Post a Comment