![]() | |
| Ultah ke 20 di Panti Asuhan Darussalam. Potongan kue pertama untuk sahabatku Rina |
Indriani, itulah nama
lengkap yang diberikan orangtua kepadaku. Sedari kecil, keluarga dan
sahabat-sahabat terdekat memanggilku dengan sebutan Indi, hal ini dikarenakan
aku tidak bisa menyebut huruf “R” dengan jelas alias cadel, oleh karena itu
hingga sekarang banyak orang yang memanggilku Indi bukan Indri dan aku lebih
senang dengan panggilan itu.
Ibu bilang, waktu kecil aku senang
sekali wudlu. Saat itu aku tengah berusia tiga tahun dan aku pun tak tau punya
kebiasaan itu. Ibu dengan bangganya menceritakan hal itu kepada kakek buyutku. Dan
kakek buyut selalu mengatakan “Mudah-mudahan jadi anak yang sholehah” seraya
mengaminkan hal itu.
Sekarang usiaku sudah
24 tahun. Tidak terasa. Rasanya baru kemarin sore aku masuk SMP, lalu pacaran
untuk pertama kalinya dengan Franky. Lucu rasanya mengingat itu. Kita selalu
curhat dalam satu diary yang sama dan
setiap hari kita bergiliran untuk mengisinya.
Rasanya baru kemarin kakakku mengetahui
buku harian itu lalu memberitahukan kepada semua orang seraya senyum-senyum
tanda menggoda, rasanya jadi meriang dan deg-degan setengah mati, bagaimana
tidak, di sana banyak kata-kata romantis yang berlebihan dari dua orang yang
sedang merasakan cinta monyet.
Rasanya baru kemarin aku mengenakan
seragam putih abu-abu dan masa itu adalah masa di mana aku banyak menghabiskan
waktu untuk bermain. Oya di masa itu pula, pulsaku sangat boros karena itu
musimnya PDKT dengan lawan jenis. Lucu juga, aku berkenalan dengan mahasiswa
UGM jurusan Geologi, lalu kita janjian bertemu di Unpad. Ada-ada saja. Tapi
itulah masanya. Setiap fase mempunyai cerita tersendiri, tapi satu hal yang
sering aku dengar dari orang-orang sekitarku dan bahkan guruku tentang aku “Outstanding”.
Entahlah, tapi yang pasti, aku selalu menjalani segala hal dengan optimal,
meskipun aku tidak mengharuskan mendapatkan hasil yang optimal pula, namun aku
akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai targetku.
Keluarga
bilang, aku anak yang paling keras kepala dan susah diatur, maka dari itu aku
menjadi anak yang mempunyai kebebasan lebih dibandingkan kakak dan adikku. Aku
beralasan bahwa untuk sukses, kita tidak selamanya bisa menjadi seorang
penurut. Aku selalu berkeyakinan bahwa keputusan yang aku ambil adalah mutlak
apa yang aku inginkan dan aku telah mengetahui konsekuensinya sehingga aku
harus bertanggungjawab penuh.
Aku orang yang rumit dan selalu berani
mengambil resiko. Berbeda dengan kakak dan adikku, perjalanan hidupku itu
berfluktuatif dan tidak pernah flat.
Aku tidak takut mengambil resiko selama aku mempunyai kesiapan diri yang matang
dan keyakinan untuk menghadapi itu.
Dari
kecil hingga dewasa, aku tidak suka terikat dengan aturan. Masa kecilku, aku
tergolong anak yang nakal, namun prestasiku selalu menonjol. Semasa SD, aku
selalu mengolok-olokan anak yang nilainya jelek atau anak yang pemalu dan tidak
bisa bergaul. Di keluarga pun demikian, jika ada kakek-kakek yang membeli tahu
ke pabrik kakekku, aku selalu mengolok-olokinya “Si hitam” seraya memukulnya
dengan sapu lidi.
Semasa kecil, aku tidak pernah bermain boneka,
akan tetapi aku menyukai mainan anak laki-laki, begitupun dengan pakaian dan
sifatku. Aku mengoleksi sepatu boots
sejak berusia lima tahun dan saat itu aku sangat nakal, namun satu hal, aku
sangat menyayangi binatang. Aku masih ingat ketika ada kucing mati di pasar,
aku bawa dan aku masukan ke dalam kardus dan sesampainya di rumah, aku meminta
tukang kebun untuk menguburnya.
Ketika SD, aku bercita-cita menjadi
seorang guru, maka dari itu, ketika berkumpul dengan sepupu, aku selalu
berperan menjadi figur seorang guru dan mengajari mereka. Sejak itu pula
keluarga percaya denganku karena aku serius untuk meningkatkan prestasi belajar.
Aku
merupakan perempuan yang tidak bisa terikat dengan sebuah sistem dan aku justru
mempunyai inovasi tersendiri untuk mengubah aturan yang ada, namun dari situlah
aku dihargai oleh orang karena tampil “beda” dan memiliki ciri khas tersendiri.
Semasa kuliah, penampilanku nyentrik dan
terkesan tomboy. Rambutku panjang karena aku malas ke salon. Aku orang yang
cuek dan aku tidak suka dandan. Aku suka berpetualang tanpa rasa takut. Dari
SMP, aku dan teman-teman sering mengunjungi rumah-rumah tua peninggalan Belanda
dan bermain jelangkung di sana. Dan terakhir, aku berani pergi ke Sungai
Cikandang seorang diri.
Sedari kecil hingga sekarang, aku sering
melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang menurut orang lain sulit dan dengan
bahasa tingkat tinggi. Aku senang dengan itu, karena menurut dosenku, sebuah
pertanyaan juga menggambarkan kualitas intelektualitas kita.
Kata
orang, aku cerdas dan berprestasi, namun tidak demikian dengan urusan cinta.
Aku belum bisa memanage perasaan yang
muncul dalam diriku dan mempengaruhi segala aspek dalam hidup. Seperti halnya
sebulan ini, aku drop dan kesehatanku
menurun, lebih dari itu kesehatan psikologis terganggu. Beberapa minggu, aku
tidak masuk mata kuliah akuntansi biaya 2 dan manajemen pemasaran 2, namun
alhamdulilah, tadi ketika UTS, dosen akuntansi biaya 2 mengatakan bahwa
jawabanku benar semua, nilai akhirnya balance,
sedangkan yang lain masih ada yang salah. Aku bersyukur masih diberikan otak
yang mampu berpikir meskipun dalam keadaan terpuruk. Aku bersyukur karena
diberikan IQ yang tinggi padahal aku tukang tidur. Aku bersyukur untuk itu.
Meskipun hingga saat ini aku masih drop,
tapi setidaknya aku punya Allah. Semoga Dia tidak pernah meninggalkanku
sebagaimana orang-orang yang selama ini aku cintai telah pergi. Sedih, senang,
kecewa dan bahagia biarlah berbaur menjadi satu kenangan indah. Aku mungkin
belum lulus untuk ujian yang dinamakan dengan “perasaan dan kehilangan”, tapi
setidaknya, aku belajar untuk move on
lebih cepat dari yang sebelumnya.
Jujur, hampir satu bulan ini aku merasa
sendirian, kesepian dan terus menerus menumpahkan air mata, pola makanku tidak
teratur dan tidurpun terganggu, sehingga aku hampir saja terkena bulimia nervosa jika terus menerus
begini, namun entahlah, kapan keadaan kembali normal, aku tidak tau. Aku tengah
belajar memimpin diriku agar kelak aku tidak rapuh lagi mengahadapi kenyataan
bahwa aku telah kehilangan.

No comments:
Post a Comment