Sunday, July 28, 2013

INDRIANI


Ultah ke 20 di Panti Asuhan Darussalam. Potongan kue pertama untuk sahabatku Rina

Indriani, itulah nama lengkap yang diberikan orangtua kepadaku. Sedari kecil, keluarga dan sahabat-sahabat terdekat memanggilku dengan sebutan Indi, hal ini dikarenakan aku tidak bisa menyebut huruf “R” dengan jelas alias cadel, oleh karena itu hingga sekarang banyak orang yang memanggilku Indi bukan Indri dan aku lebih senang dengan panggilan itu.
Ibu bilang, waktu kecil aku senang sekali wudlu. Saat itu aku tengah berusia tiga tahun dan aku pun tak tau punya kebiasaan itu. Ibu dengan bangganya menceritakan hal itu kepada kakek buyutku. Dan kakek buyut selalu mengatakan “Mudah-mudahan jadi anak yang sholehah” seraya mengaminkan hal itu.
Sekarang usiaku sudah 24 tahun. Tidak terasa. Rasanya baru kemarin sore aku masuk SMP, lalu pacaran untuk pertama kalinya dengan Franky. Lucu rasanya mengingat itu. Kita selalu curhat dalam satu diary yang sama dan setiap hari kita bergiliran untuk mengisinya.
Rasanya baru kemarin kakakku mengetahui buku harian itu lalu memberitahukan kepada semua orang seraya senyum-senyum tanda menggoda, rasanya jadi meriang dan deg-degan setengah mati, bagaimana tidak, di sana banyak kata-kata romantis yang berlebihan dari dua orang yang sedang merasakan cinta monyet.
Rasanya baru kemarin aku mengenakan seragam putih abu-abu dan masa itu adalah masa di mana aku banyak menghabiskan waktu untuk bermain. Oya di masa itu pula, pulsaku sangat boros karena itu musimnya PDKT dengan lawan jenis. Lucu juga, aku berkenalan dengan mahasiswa UGM jurusan Geologi, lalu kita janjian bertemu di Unpad. Ada-ada saja. Tapi itulah masanya. Setiap fase mempunyai cerita tersendiri, tapi satu hal yang sering aku dengar dari orang-orang sekitarku dan bahkan guruku tentang aku “Outstanding”. Entahlah, tapi yang pasti, aku selalu menjalani segala hal dengan optimal, meskipun aku tidak mengharuskan mendapatkan hasil yang optimal pula, namun aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai targetku.
            Keluarga bilang, aku anak yang paling keras kepala dan susah diatur, maka dari itu aku menjadi anak yang mempunyai kebebasan lebih dibandingkan kakak dan adikku. Aku beralasan bahwa untuk sukses, kita tidak selamanya bisa menjadi seorang penurut. Aku selalu berkeyakinan bahwa keputusan yang aku ambil adalah mutlak apa yang aku inginkan dan aku telah mengetahui konsekuensinya sehingga aku harus bertanggungjawab penuh.
Aku orang yang rumit dan selalu berani mengambil resiko. Berbeda dengan kakak dan adikku, perjalanan hidupku itu berfluktuatif dan tidak pernah flat. Aku tidak takut mengambil resiko selama aku mempunyai kesiapan diri yang matang dan keyakinan untuk menghadapi itu.
            Dari kecil hingga dewasa, aku tidak suka terikat dengan aturan. Masa kecilku, aku tergolong anak yang nakal, namun prestasiku selalu menonjol. Semasa SD, aku selalu mengolok-olokan anak yang nilainya jelek atau anak yang pemalu dan tidak bisa bergaul. Di keluarga pun demikian, jika ada kakek-kakek yang membeli tahu ke pabrik kakekku, aku selalu mengolok-olokinya “Si hitam” seraya memukulnya dengan sapu lidi.
Semasa kecil, aku tidak pernah bermain boneka, akan tetapi aku menyukai mainan anak laki-laki, begitupun dengan pakaian dan sifatku. Aku mengoleksi sepatu boots sejak berusia lima tahun dan saat itu aku sangat nakal, namun satu hal, aku sangat menyayangi binatang. Aku masih ingat ketika ada kucing mati di pasar, aku bawa dan aku masukan ke dalam kardus dan sesampainya di rumah, aku meminta tukang kebun untuk menguburnya.
Ketika SD, aku bercita-cita menjadi seorang guru, maka dari itu, ketika berkumpul dengan sepupu, aku selalu berperan menjadi figur seorang guru dan mengajari mereka. Sejak itu pula keluarga percaya denganku karena aku serius untuk meningkatkan prestasi belajar.
            Aku merupakan perempuan yang tidak bisa terikat dengan sebuah sistem dan aku justru mempunyai inovasi tersendiri untuk mengubah aturan yang ada, namun dari situlah aku dihargai oleh orang karena tampil “beda” dan memiliki ciri khas tersendiri.
Semasa kuliah, penampilanku nyentrik dan terkesan tomboy. Rambutku panjang karena aku malas ke salon. Aku orang yang cuek dan aku tidak suka dandan. Aku suka berpetualang tanpa rasa takut. Dari SMP, aku dan teman-teman sering mengunjungi rumah-rumah tua peninggalan Belanda dan bermain jelangkung di sana. Dan terakhir, aku berani pergi ke Sungai Cikandang seorang diri.
Sedari kecil hingga sekarang, aku sering melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang menurut orang lain sulit dan dengan bahasa tingkat tinggi. Aku senang dengan itu, karena menurut dosenku, sebuah pertanyaan juga menggambarkan kualitas intelektualitas kita.
            Kata orang, aku cerdas dan berprestasi, namun tidak demikian dengan urusan cinta. Aku belum bisa memanage perasaan yang muncul dalam diriku dan mempengaruhi segala aspek dalam hidup. Seperti halnya sebulan ini, aku drop dan kesehatanku menurun, lebih dari itu kesehatan psikologis terganggu. Beberapa minggu, aku tidak masuk mata kuliah akuntansi biaya 2 dan manajemen pemasaran 2, namun alhamdulilah, tadi ketika UTS, dosen akuntansi biaya 2 mengatakan bahwa jawabanku benar semua, nilai akhirnya balance, sedangkan yang lain masih ada yang salah. Aku bersyukur masih diberikan otak yang mampu berpikir meskipun dalam keadaan terpuruk. Aku bersyukur karena diberikan IQ yang tinggi padahal aku tukang tidur. Aku bersyukur untuk itu. Meskipun hingga saat ini aku masih drop, tapi setidaknya aku punya Allah. Semoga Dia tidak pernah meninggalkanku sebagaimana orang-orang yang selama ini aku cintai telah pergi. Sedih, senang, kecewa dan bahagia biarlah berbaur menjadi satu kenangan indah. Aku mungkin belum lulus untuk ujian yang dinamakan dengan “perasaan dan kehilangan”, tapi setidaknya, aku belajar untuk move on lebih cepat dari yang sebelumnya.
Jujur, hampir satu bulan ini aku merasa sendirian, kesepian dan terus menerus menumpahkan air mata, pola makanku tidak teratur dan tidurpun terganggu, sehingga aku hampir saja terkena bulimia nervosa jika terus menerus begini, namun entahlah, kapan keadaan kembali normal, aku tidak tau. Aku tengah belajar memimpin diriku agar kelak aku tidak rapuh lagi mengahadapi kenyataan bahwa aku telah kehilangan.

No comments:

Post a Comment