Awal bulan Juli 2009,
di Panti Asuhan Darussalam. Aku dan anak-anak Manajemen mengadakan bakti sosial
ke sana seraya merayakan ulang tahunku. Yang selalu aku ingat adalah, ketika
aku memberikan potongan kue pertama kepadanya. Dia tampak bahagia, begitupun
denganku. Hingga acara selesai dan aku tiba di rumah, dia kemudian mengirimkan
sms kepadaku,
“Dari dulu, aku ga suka kue tart, tapi tadi entah kenapa aku suka
sekali, rasanya enak, mungkin karena kamu yang menyuapinya. Thanks ya
sahabatku, aku bahagia.”
Pertengahan Juli 2009,
setelah aku dan dia pulang mengahadiri resepsi pernikahan Mba Ida, kakak kelas
kami, kita lalu berencana pergi ke kebun binatang berdua.
Setibanya di sana, penjaga kebun
binatang itu mengira kita sudah janjian dengan pacar masing-masing yang telah
menunggu di dalam, padahal dugaan itu salah, karena aku memang benar-benar
pergi berdua.
Sore hari di Kebun Binatang Bandung
memang terasa lain dan itu pengalaman pertamaku datang berdua ke sana dan sore
hari pula. Banyak orang berpacaran dan hal itu membuatku terasa kikuk. Kita
lalu foto-foto di sana, dan menjelang malam, kita makan berdua tidak jauh dari
situ.
Anak-anak kosan merasa heran ketika kita
pulang larut malam, padahal aku dan dia hanya pergi ke resepsi pernikahan. Kita
lalu tersenyum dan tidak menceritakan bahwa kita pergi ke kebun binatang
berdua. Anak-anak kosan lalu memintaku membeli makanan ke luar dan kita pun
pergi berdua dan berniat makan kepiting. Sesampainya di kosan, anak-anak tampak
kesal karena kita terlalu lama ke luar, kita pun cekikikan karena mereka tidak
tahu bahwa kita telah makan kepiting tanpa mereka.
Aku kembali menatap
sahabatku dan merasakan sebuah kebahagiaan yang belum pernah aku rasakan
sebelumnya. Dia pun tersenyum, kita lalu berpegangan tangan lalu terlelap. Damai
rasanya dan aku berharap akan selalu seperti ini. Selalu, selamanya.
Malam
itu di Purwakarta. Akhir bulan juli 2009, dia tampak sumringah. Kita berjalan
beriringan ketika tiba di Kota itu. Cukup lama, setelah turun dari bis dan
angkot, lalu berjalan melewati pasar tradisional, aku tiba juga di rumahnya.
Rumahnya tampak sepi, hanya ada ayah dan ibunya, serta burung kakatua dan ikan
hias di aquarium. Setelah menyapa sebentar, aku langsung mandi karena udara
cukup panas. Dia kemudian menyiapkan makanan dan duduk disampingku. Kita
bercanda dan aku disuapi buah melon olehnya. Suasana malam itu begitu hangat.
Aku selalu nyaman berada didekatnya. Kita lalu memperlihatkan handphone masing-masing satu sama lain,
lalu membuka kotak masuknya. Aku terkejut karena sms di hp dia hampir penuh
dengan sms dariku, begitupun denganku, dia juga terkejut karena kotak masuk di
hpku juga hampir semuanya berisi pesan dari dia.
“Aku
ga pernah hapus sms-sms dari kamu.”
Ujarnya seraya tersenyum. Aku senang bukan
main. Banyak kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang aku rasakan dengan sahabatku
yang satu ini, Entah apa namanya, tapi dia pernah mengatakan satu hal yang
membuatku merasa istimewa dalam hidupnya.
“Aku
merasakan hal yang lebih indah daripada jatuh cinta, itu aku rasakan semenjak bersahabat
dengan kamu.”
Itu kata-kata yang tidak akan pernah aku
lupakan sampai kapanpun.
Malam semakin larut, kita berbaring
seraya menatap langit-langit kamar dan mendengarkan suara percikan air dari
aqurium yang berada di samping jendela. Hening. Ada sesuatu yang menggelitik
dalam dada, terasa menyejukkan, menggelitik dan begitu membuncah, mungkin itu
yang dinamakan kasih sayang.
Dia kemudian tertidur, aku menatapnya
yang tampak kelelahan. Dia tiba-tiba memelukku. Itu pelukan pertama yang aku
rasakan ketika dewasa. Rasanya damai, aku pun memeluknya. Kita tidur berhadapan
dan saling memeluk. Itu salah satu moment
yang akan selalu aku ingat hingga kini, sebuah ketenangan dalam hidup, berada
dalam pelukannya.
Keesokan harinya, kita berangkat ke
pasar minggu, di sana ada sebuah danau yang ramai dikunjungi oleh penduduk,
tapi aku lupa nama danaunya. Hari itu juga merupakan hari terakhir pameran,
oleh karena itu, kita banyak membeli makanan di sana. Aku pergi dengan dia dan
kakaknya. Setelah membeli beberapa bungkus makanan, kakak iparnya kemudian
datang menjemput dan membawa tiga orang anak kecil yang tidak lain adalah
keponakannya. Kita lalu pergi ke Curug Cijalu.
Sepanjang jalan, suasana begitu hangat
karena kehadiran anak-anak itu. Aku dan dia duduk di belakang, namun kita
saling berjauhan karena keponakan-keponakannya duduk diantara aku dan dia. Aku
masih ingat lagu yang diputar kala itu.
Aku lalu menatap ke luar jendela dan tersenyum kecil. Aku bahagia.
Dia selalu memegang erat tanganku ketika
kita mulai mendaki bukit untuk tiba di Curug Cijalu. Cukup jauh memang dan ada
beberapa air terjun kecil sebelum itu yang kita lewati. Jalanannya terjal,
namun pemandangannya begitu indah, karena banyak perkebunan teh dan pepohonan
yang masih rindang yang mengelilingi tempat itu.
Tiba di Curug Cijalu, aku terkesima
melihatnya, begitu indah dan udaranyapun terasa dingin. Kita lalu foto-foto di
sana. Dia kemudian menyuapiku buah lengkeng, lalu kita pun difoto berdua. Dia
tampak ceria dan aku senang melihatnya.
Menjelang sore, kita pulang. Kita
membeli kaos yang sama yang gambarnya monyet. Lucu memang, tapi kita menikmatinya.
Kita lalu makan disebuah restoran tidak jauh dari situ. Seperti biasa, ketika
ditanyakan pesan minum apa, aku sudah menebak bahwa dia akan memesan jus jambu
merah dan dia pun sudah tau kesukaanku, jus strawberry.
Selesai makan, kita memutuskan untuk
pulang ke rumahnya.
Esok harinya kita pun pulang ke Bandung.
Ibunya membuatkan kue untukku. Aku berpamitan dengan keluarganya.
Di dalam bis, kita masih bercanda dan
berfose berdua. Wajahnya masih tampak kelelahan. Kita lalu berpisah sesampainya
di Pasteur. Dia melambaikan tangan, lalu hp ku berbunyi, tanda ada sms masuk.
“Aku
bahagia, aku bakal kangen kamu banget.”
Aku tersenyum membaca sms dari dia.
“Aku
juga sama, thanks ya untuk semuanya. Aku sayang kamu sahabatku.”
Tak lama setelah aku membalas sms dari
dia, dia pun membalas lagi,
“Sama-sama,
hati-hati dijalan, salam buat keluarga, aku juga sayang kamu. Aku ga pernah
sebahagia ini dalam hidup.”
Aku menitikkan airmata
membacanya. Sekali lagi aku ingin berteriak bahwa aku bahagia, sangat bahagia.
Terimakasih Tuhan, bulan ini terasa begitu istimewa untukku. Terimakasih, aku
bahagia.
3
Juli 2013,
“Ya
udah kita putus, bye.”
Singkat, padat dan jelas. Itu pesan
singkat yang aku terima setelah kita bertengkar cukup lama ketika aku baru saja
selesai mengikuti bazar.
Kita sudah hampir delapan kali
putus-nyambung dan seringkali aku yang memutuskan dia. Tapi kali ini lain, dia
yang membuat keputusan, padahal usia hubungan kita baru saja berumur satu tahun,
tanggal 19 Juni kemarin, namun kali ini kita harus berpisah. Aku shock dan sulit menerima kenyataan bahwa
aku telah kehilangan.
14
Juli 2013,
Dia tidak jadi datang ke Bandung,
padahal hal ini sudah direncanakan cukup lama. Sakit rasanya. Hari ini aku pun
tidak masuk kuliah dan mengurung diri di kamar. Tidak ada perayaan apa-apa,
padahal setiap tahun aku ke panti asuhan. Tapi kali ini aku hanya berbaring dan
menangis. Kecewa.
Malam harinya dia mengirimkan pesan agar
aku membaca blognya. Aku terharu membacanya dan mengetahui bahwa dia masih
menyayangiku. Itu saja, selebihnya dia tidak pernah mengubah keputusannya untuk
putus denganku.
26 Juli 2013,
Aku menyerah. Aku belajar ikhlas untuk
melepaskannya, walaupun terasa begitu sakit dan menyesakkan. Itu yang aku katakana
kepadanya.
Setelah itu, nomornya tidak aktif dan bbmnya pun juga sama. Tidak ada kabar
hingga sekarang. Dia pernah mengatakan bahwa hpnya terjatuh ke dalam closet, dan sudah dipastikan bahwa hpnya
rusak. Kemarin adalah hari terakhir aku melihat twitter dia. Dia masih update dan tampak lebih ceria. Sedih
rasanya, lalu aku memutuskan untuk menonaktifkan akun twitterku yang terakhir.
Selesai?? Tidak, hingga kini, aku masih berharap agar dia kembali, tapi aku
tidak mau mengatakannya dan aku rasa itu tidak perlu. Aku berusaha untuk
memulai hidup baru, tanpa cinta atau apapun yang berkaitan dengan perasaan.
Cukup rasanya bulan Juli 2013 ini aku mendapatkan kado istimewa berupa
kesedihan yang berkepanjangan. Cukup, semoga hal ini dapat mendewasakanku. Tapi
aku tak bisa membohongi hati bahwa aku sangat merindukan dia. Aku ingin dia
menghubungiku, aku ingin bertemu lagi dengannya, karena aku mencintai dia.
Hanya cinta yang bisa
Menaklukkan dendam
Hanya kasih sayang tulus
Yang mampu menyentuh
Hanya cinta yang bisa
Mendamaikan benci
Hanya kasih sayang tulus
Yang mampu menembus
Ruang dan waktu
Bulan
Juli memang unik bagiku. Penuh warna, penuh rasa. Ada kebahagiaan, ada pula kesedihan.
Ada dia dan ada kamu. Tapi apapun itu, intinya adalah bahwa kita harus selalu
siap dengan apapun yang akan terjadi di depan kita, baik senang maupun sedih.
Dan yang pasti adalah bahwa hanya Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kita
sedetik pun. Dia merupakan Dzat paling
setia yang mencintai kita. Jadi jangan menangis, ingatlah firman-Nya:
“Cukuplah Allah menjadi Penolong
kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”
(QS. Ali ‘Imron: 173)


No comments:
Post a Comment