Monday, July 29, 2013

Juli 2009 VS Juli 2013

-->

Awal bulan Juli 2009, di Panti Asuhan Darussalam. Aku dan anak-anak Manajemen mengadakan bakti sosial ke sana seraya merayakan ulang tahunku. Yang selalu aku ingat adalah, ketika aku memberikan potongan kue pertama kepadanya. Dia tampak bahagia, begitupun denganku. Hingga acara selesai dan aku tiba di rumah, dia kemudian mengirimkan sms kepadaku,
Dari dulu, aku ga suka kue tart, tapi tadi entah kenapa aku suka sekali, rasanya enak, mungkin karena kamu yang menyuapinya. Thanks ya sahabatku, aku bahagia.”


Pertengahan Juli 2009, setelah aku dan dia pulang mengahadiri resepsi pernikahan Mba Ida, kakak kelas kami, kita lalu berencana pergi ke kebun binatang berdua.
Setibanya di sana, penjaga kebun binatang itu mengira kita sudah janjian dengan pacar masing-masing yang telah menunggu di dalam, padahal dugaan itu salah, karena aku memang benar-benar pergi berdua.
Sore hari di Kebun Binatang Bandung memang terasa lain dan itu pengalaman pertamaku datang berdua ke sana dan sore hari pula. Banyak orang berpacaran dan hal itu membuatku terasa kikuk. Kita lalu foto-foto di sana, dan menjelang malam, kita makan berdua tidak jauh dari situ.
Anak-anak kosan merasa heran ketika kita pulang larut malam, padahal aku dan dia hanya pergi ke resepsi pernikahan. Kita lalu tersenyum dan tidak menceritakan bahwa kita pergi ke kebun binatang berdua. Anak-anak kosan lalu memintaku membeli makanan ke luar dan kita pun pergi berdua dan berniat makan kepiting. Sesampainya di kosan, anak-anak tampak kesal karena kita terlalu lama ke luar, kita pun cekikikan karena mereka tidak tahu bahwa kita telah makan kepiting tanpa mereka.
Aku kembali menatap sahabatku dan merasakan sebuah kebahagiaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Dia pun tersenyum, kita lalu berpegangan tangan lalu terlelap. Damai rasanya dan aku berharap akan selalu seperti ini. Selalu, selamanya.


            Malam itu di Purwakarta. Akhir bulan juli 2009, dia tampak sumringah. Kita berjalan beriringan ketika tiba di Kota itu. Cukup lama, setelah turun dari bis dan angkot, lalu berjalan melewati pasar tradisional, aku tiba juga di rumahnya. Rumahnya tampak sepi, hanya ada ayah dan ibunya, serta burung kakatua dan ikan hias di aquarium. Setelah menyapa sebentar, aku langsung mandi karena udara cukup panas. Dia kemudian menyiapkan makanan dan duduk disampingku. Kita bercanda dan aku disuapi buah melon olehnya. Suasana malam itu begitu hangat. Aku selalu nyaman berada didekatnya. Kita lalu memperlihatkan handphone masing-masing satu sama lain, lalu membuka kotak masuknya. Aku terkejut karena sms di hp dia hampir penuh dengan sms dariku, begitupun denganku, dia juga terkejut karena kotak masuk di hpku juga hampir semuanya berisi pesan dari dia.
Aku ga pernah hapus sms-sms dari kamu.”
Ujarnya seraya tersenyum. Aku senang bukan main. Banyak kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang aku rasakan dengan sahabatku yang satu ini, Entah apa namanya, tapi dia pernah mengatakan satu hal yang membuatku merasa istimewa dalam hidupnya.
Aku merasakan hal yang lebih indah daripada jatuh cinta, itu aku rasakan semenjak bersahabat dengan kamu.”
Itu kata-kata yang tidak akan pernah aku lupakan sampai kapanpun.
Malam semakin larut, kita berbaring seraya menatap langit-langit kamar dan mendengarkan suara percikan air dari aqurium yang berada di samping jendela. Hening. Ada sesuatu yang menggelitik dalam dada, terasa menyejukkan, menggelitik dan begitu membuncah, mungkin itu yang dinamakan kasih sayang.
Dia kemudian tertidur, aku menatapnya yang tampak kelelahan. Dia tiba-tiba memelukku. Itu pelukan pertama yang aku rasakan ketika dewasa. Rasanya damai, aku pun memeluknya. Kita tidur berhadapan dan saling memeluk. Itu salah satu moment yang akan selalu aku ingat hingga kini, sebuah ketenangan dalam hidup, berada dalam pelukannya.
Keesokan harinya, kita berangkat ke pasar minggu, di sana ada sebuah danau yang ramai dikunjungi oleh penduduk, tapi aku lupa nama danaunya. Hari itu juga merupakan hari terakhir pameran, oleh karena itu, kita banyak membeli makanan di sana. Aku pergi dengan dia dan kakaknya. Setelah membeli beberapa bungkus makanan, kakak iparnya kemudian datang menjemput dan membawa tiga orang anak kecil yang tidak lain adalah keponakannya. Kita lalu pergi ke Curug Cijalu.
Sepanjang jalan, suasana begitu hangat karena kehadiran anak-anak itu. Aku dan dia duduk di belakang, namun kita saling berjauhan karena keponakan-keponakannya duduk diantara aku dan dia. Aku masih ingat lagu yang diputar kala itu. Aku lalu menatap ke luar jendela dan tersenyum kecil. Aku bahagia.
Dia selalu memegang erat tanganku ketika kita mulai mendaki bukit untuk tiba di Curug Cijalu. Cukup jauh memang dan ada beberapa air terjun kecil sebelum itu yang kita lewati. Jalanannya terjal, namun pemandangannya begitu indah, karena banyak perkebunan teh dan pepohonan yang masih rindang yang mengelilingi tempat itu.
Tiba di Curug Cijalu, aku terkesima melihatnya, begitu indah dan udaranyapun terasa dingin. Kita lalu foto-foto di sana. Dia kemudian menyuapiku buah lengkeng, lalu kita pun difoto berdua. Dia tampak ceria dan aku senang melihatnya.
Menjelang sore, kita pulang. Kita membeli kaos yang sama yang gambarnya monyet. Lucu memang, tapi kita menikmatinya. Kita lalu makan disebuah restoran tidak jauh dari situ. Seperti biasa, ketika ditanyakan pesan minum apa, aku sudah menebak bahwa dia akan memesan jus jambu merah dan dia pun sudah tau kesukaanku, jus strawberry.
Selesai makan, kita memutuskan untuk pulang ke rumahnya.
Esok harinya kita pun pulang ke Bandung. Ibunya membuatkan kue untukku. Aku berpamitan dengan keluarganya.
Di dalam bis, kita masih bercanda dan berfose berdua. Wajahnya masih tampak kelelahan. Kita lalu berpisah sesampainya di Pasteur. Dia melambaikan tangan, lalu hp ku berbunyi, tanda ada sms masuk.
Aku bahagia, aku bakal kangen kamu banget.”
Aku tersenyum membaca sms dari dia.
Aku juga sama, thanks ya untuk semuanya. Aku sayang kamu sahabatku.”
Tak lama setelah aku membalas sms dari dia, dia pun membalas lagi,
Sama-sama, hati-hati dijalan, salam buat keluarga, aku juga sayang kamu. Aku ga pernah sebahagia ini dalam hidup.”
Aku menitikkan airmata membacanya. Sekali lagi aku ingin berteriak bahwa aku bahagia, sangat bahagia. Terimakasih Tuhan, bulan ini terasa begitu istimewa untukku. Terimakasih, aku bahagia.


            3 Juli 2013,
Ya udah kita putus, bye.”
Singkat, padat dan jelas. Itu pesan singkat yang aku terima setelah kita bertengkar cukup lama ketika aku baru saja selesai mengikuti bazar.
Kita sudah hampir delapan kali putus-nyambung dan seringkali aku yang memutuskan dia. Tapi kali ini lain, dia yang membuat keputusan, padahal usia hubungan kita baru saja berumur satu tahun, tanggal 19 Juni kemarin, namun kali ini kita harus berpisah. Aku shock dan sulit menerima kenyataan bahwa aku telah kehilangan.
            14 Juli 2013,
Dia tidak jadi datang ke Bandung, padahal hal ini sudah direncanakan cukup lama. Sakit rasanya. Hari ini aku pun tidak masuk kuliah dan mengurung diri di kamar. Tidak ada perayaan apa-apa, padahal setiap tahun aku ke panti asuhan. Tapi kali ini aku hanya berbaring dan menangis. Kecewa.
Malam harinya dia mengirimkan pesan agar aku membaca blognya. Aku terharu membacanya dan mengetahui bahwa dia masih menyayangiku. Itu saja, selebihnya dia tidak pernah mengubah keputusannya untuk putus denganku.
26 Juli 2013,
Aku menyerah. Aku belajar ikhlas untuk melepaskannya, walaupun terasa begitu sakit dan menyesakkan. Itu yang aku katakana kepadanya.
Setelah itu, nomornya tidak aktif dan bbmnya pun juga sama. Tidak ada kabar hingga sekarang. Dia pernah mengatakan bahwa hpnya terjatuh ke dalam closet, dan sudah dipastikan bahwa hpnya rusak. Kemarin adalah hari terakhir aku melihat twitter dia. Dia masih update dan tampak lebih ceria. Sedih rasanya, lalu aku memutuskan untuk menonaktifkan akun twitterku yang terakhir. Selesai?? Tidak, hingga kini, aku masih berharap agar dia kembali, tapi aku tidak mau mengatakannya dan aku rasa itu tidak perlu. Aku berusaha untuk memulai hidup baru, tanpa cinta atau apapun yang berkaitan dengan perasaan. Cukup rasanya bulan Juli 2013 ini aku mendapatkan kado istimewa berupa kesedihan yang berkepanjangan. Cukup, semoga hal ini dapat mendewasakanku. Tapi aku tak bisa membohongi hati bahwa aku sangat merindukan dia. Aku ingin dia menghubungiku, aku ingin bertemu lagi dengannya, karena aku mencintai dia.

Hanya cinta yang bisa
Menaklukkan dendam
Hanya kasih sayang tulus
Yang mampu menyentuh
Hanya cinta yang bisa
Mendamaikan benci
Hanya kasih sayang tulus
Yang mampu menembus
Ruang dan waktu


            Bulan Juli memang unik bagiku. Penuh warna, penuh rasa. Ada kebahagiaan, ada pula kesedihan. Ada dia dan ada kamu. Tapi apapun itu, intinya adalah bahwa kita harus selalu siap dengan apapun yang akan terjadi di depan kita, baik senang maupun sedih. Dan yang pasti adalah bahwa hanya Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kita sedetik pun. Dia merupakan  Dzat paling setia yang mencintai kita. Jadi jangan menangis, ingatlah firman-Nya:
“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.”
(QS. Ali ‘Imron: 173)

No comments:

Post a Comment