Masih saja begini.. Aku
lupa jalan pulang. Berputar pada lingkaran tanpa ujung. Pada rona merah mana
hatiku mampu berdebar-debar?? Melukiskan
ujung gelisahku yang lupa akan kata-kata.
Masih saja begini..
menua dalam bias senja, sementara yang lain telah berlari mengejar titian
mimpi..
Kadang sulit..
menyalakan lilin sedang tak ada secercah api di sini. Dan aku lupa, dimana
rumah jiwaku berada..
Berjalan saja..
kubiarkan begini adanya.. bersorak sorai, namun aku tak mendengar. Kurasakan
sepi.. menatap bias-bias yang memapah beriringan, bergandengan tangan.
Aku berjalan dengan
caraku.. dalam etalase terisolasi yang aku asingkan di sini tanpa keramahan.
Jangan mengusikku..
biarkan aku terkunci sendiri.. menyesapi sedikit memori yang membekas dalam
hati..
Lurus saja.. teruskan
jalanku.. aku tak peduli. Jangan biarkan aku berbalik, atau biarkan aku
melirik.. kanan atau kiri, sama saja.. aku masih begini.
Aku masih
berputar-putar, sementara kalian telah ke luar lebih jauh.. berlari lebih cepat
dari syairku yang lambat.
Aku masih menikmati
bait-demi bait yang aku ciptakan sendiri.. terkungkung dalam memori puisiku
yang berarti..
Aku pun sama.. aku
punya mimpi..
Seperti kemarin, kau,
aku dan kita.. tertawa bersama-sama di sana.
Tapi kini, ku lihat tak
ada siapapun di sana.. waktu yang telah mengubah segalanya.. meski hanya aku
yang masih tertinggal sendiri.
Lupa, biar saja
terlupa.. kenanglah aku.. sebagai kenangan.. sebab aku punya duniaku yang
lain.. pada cerita-cerita roman diri yang tertambat dalam sajak malam..
Begini saja.. masih
saja begini.. ini aku, duniaku, beberapa bait syair pilu akan
ketertinggalanku..
Sebab pilihan telah
memilih..
Jalan ini yang
terpilih..
Begini saja.. ini aku..
ini pilihanku..
Entah denganmu..
siapapun kamu..
Urus saja duniamu..
Aku tak mau tau...

No comments:
Post a Comment