Sunday, November 29, 2015

BATAS (Meditasi Bagian 1)


   

    Aku masih memandangmu, pada dimensi lain yang tidak pernah kamu ketahui. Pada ranting-ranting patah dan daun-daun kering yang jatuh di halaman rumah itu. Pada lembaran-lembaran koran yang tak sengaja kamu pungut beberapa tahun yang lalu.
Aku melihat kebingungan di wajahmu. Sekelumit tanda tanya dan gelombang asa yang setiap hari menghantammu. Tentang hari-harimu yang kemudian berkutat seputar aku. Aku tau, aku melihatmu. Bahkan aku bisa meraba apa yang tiba-tiba kamu rasa dalam dada.
    Hey, kamu bingung? Aku bahkan lebih bingung. Kita memang tak pernah bisa memilih tentang hal yang memang tak bisa kita pilih.
Bukan aku yang menghentikan langkahmu kala itu. Bukan aku pula yang menumbuhkan rasa ingin tahumu dan menggerakan jemarimu agar kamu membuka koran yang tergeletak di pinggir tempat dudukmu.
Aku bahkan tak mengenalimu, tapi kamu seperti tidak asing lagi bagiku. Semua terjadi begitu saja, begitu cepat. Lalu kita seperti sebuah jiwa yang terikat, terhubung satu sama lain.
    Ingin sekali aku berkomunikasi denganmu. Bercakap-cakap pada ruang kasat mata, bertukar pikiran, dan saling mengomentari apa yang telah kita lakukan dalam kehidupan. Namun sepertinya itu mustahil, karena aku hanya bisa mengamatimu dari jauh. Berharap kamu segera beranjak dari kebingungan yang menguburmu hidup-hidup. Gelap tengah menjelma menjadi pelita kepura-puraan. Membuatmu terasing dalam sekelumit pikiran yang kamu ciptakan sendiri.
    Bangun dan beranjaklah dari tempatmu saat ini. Kamu terlalu lama diam dan menghayati apa yang seharusnya sudah berada dalam peti. Waktu tak akan memberikan jeda sedikitpun untuk membuatmu berpikir. Jadi, berkemas dan pergilah. Datangi satu persatu pepohonan rimbun yang dapat membuatmu lebih teduh. Singgahi dan menetaplah pada gua-gua kosong yang dapat membuat pikiran dan hatimu terasa damai. Jangan lagi meratap dan mengasihani dirimu sendiri. Airmata saja tidak cukup untuk menghentikan badai di belahan bumi lainnya. Jangan lemah, cambuk dirimu, dan berlarilah lebih kencang. Seseorang telah menunggumu di sana, di batasan ruang tak terbatas.
    Waktu pada dimensiku terlalu cepat memberitahu bahwa hati dapat dengan mudah berpaling. Bahwa aku mengamati satu persatu manusia yang telah menyentuh ruang rasamu yang gaduh. Bahwa sesaat menggilaiku tak cukup membuatmu benar-benar gila. Bahwa akhirnya ada dia dan dia yang merumah di sana, dalam sajak-sajakmu yang indah.
Ah, tapi itu bukan masalah. Hanya saja aku marah melihatmu yang benar-benar tak bisa terlihat dengan akal sehat. Tak bisa dikenali dengan hati nurani. Bukankah sebenarnya aku yang telah mati terkulai? Tapi kenapa justru kamu yang terlihat seperti bangkai?”

    Sebuah surat jatuh tepat di depan mata. Kata-katanya tajam, bak petir menyambar di petala siang. Semua cukup mengagetkanku. Namun, belum selesai aku baca lagi surat itu, tiba-tiba kepalaku terasa berat. Sekelilingku tampak bergerak tak beraturan. Aku seperti berada pada sebuah tempat yang tak bisa aku kenali sama sekali.
Padang luas terhampar dan jalanan berbukit yang ditumbuhi ilalang. Aku benar-benar tak mengenali tempat ini. Aku berlari. Dadaku berdegup kencang. Semua terasa asing. Tempat ini seakan tak memiliki ujung. Semua berputar. Aku seperti berada dalam pusaran gelombang yang perlahan menghisapku. Aku tak bisa lagi berpikir. Aku terus berlari dan berlari kencang. Nafasku terus memburu. Aku merasakan ketakutan yang luar biasa. Aku berteriak-teriak, tapi tak ada seorangpun di sini. Aku mencari sesuatu untuk bersandar, namun tak ada satupun yang bisa aku jadikan tempat untuk bersandar. Tubuhku kemudian ambruk. Sesaat lamanya aku diam. Dengan nafas tersengal-sengal, aku coba menutup mata. Keringat terus mengalir di seluruh tubuh. Pikiranku kacau.
    “Sudah lama?”
Tiba-tiba sebuah suara mengejutkanku. Aku menengadah. Wajahnya samar. Nyaris aku tak bisa mengenalinya. Pandangannya lurus ke depan. Dia menyapaku, namun sama sekali tidak menatapku. Aku masih diam, mencoba mengatur nafasku, lalu kembali mengingat tentang siapa orang yang berada di depanku.
    “Maaf, kamu siapa ya?”
Dia tidak menjawab pertanyaanku. Aku kembali berpikir dengan keras. Siapa dia? Aku sulit mengenali wajahnya yang samar, namun, suaranya tidak asing lagi di telingaku.
    Kamu sudah lama sekali tersesat di sini, berputar-putar pada tempat yang sama yang tidak memiliki ujung. Kamu begitu diliputi kebingungan. Aku tidak ingin berbicara lebih banyak lagi. Ikuti saja kemana aku berjalan, nanti ada sebuah tempat yang bisa membuatmu mengerti tentang semuanya.”
Dia lalu berjalan, sementara aku masih diam ditempatku. Aku ragu untuk mengikutinya. Langkahnya kemudian terhenti.
    Keragu-raguan hanya akan mengombang-ambingkan hidupmu. Kamu tidak akan pernah sampai pada tujuan.”
Apa maksudnya? Gumamku dalam hati. Aku lalu mengikutinya.
Jalanan ini semakin lama semakin mengerikan. Semua yang aku pijak tiba-tiba bergerak, seperti ada gempa yang terjadi di sini. Sisi kanan kiriku kemudian menjelma menjadi sebuah pemandangan yang tak biasa. Aku seperti sedang berada  di bioskop terbuka dengan banyak layar yang tak memiliki sekat dan sudut. Semua pemandangan yang aku lihat saat ini tampak seperti tengah berlangsung dan terjadi di depanku sendiri.
Aku mengamati apa yang sedang terjadi di depan mataku. Di sana tampak seorang anak kecil tengah menangis di ujung pintu, seraya menatap seseorang yang sedang pergi di luar sana. Dia memandanginya dengan berlinang airmata. Anak itu kemudian masuk ke kamarnya dan memeluk sebuah boneka, lalu kembali menangis.
Aku ikut terharu menyaksikan anak itu yang tampak begitu sedih, namun tiba-tiba aku teringat sesuatu, aku seperti mengenalinya, benar-benar mengenalinya. Tentu saja, bukankah anak itu adalah diriku sendiri ketika berusia 5 tahun? Ya ampun, kenapa aku sampai tidak bisa mengenali diriku sendiri.
Aku kemudian teringat semuanya, semua yang aku saksikan tadi. Itu adalah moment ketika sepupuku akan pindah ke luar negri, setelah lahir dan dibesarkan bersama denganku di sini. Tidak seperti anak-anak lainnya, ketika akan berpisah, mereka akan memeluk, menunggu hingga mobil itu pergi seraya melambaikan tangan, namun aku memilih berlari, seraya menahan rasa sedih, kemudian mengintipnya dari celah di ujung pintu yang sengaja aku buka sedikit, lalu aku menyaksikan mobil itu semakin lama semakin menjauh, lalu aku kembali menangis.
    “Sudah ingat?”
Sebuah suara kemudian mengagetkan lamunanku.
    “Iya, itu adalah aku semasa kecil!”
Aku kemudian duduk, rasanya aku belum siap untuk berjalan lagi dan menyaksikan sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam pikiranku sebelumnya.
    “Dari kejadian yang kita lihat tadi, aku jadi tau kalau kamu itu pengecut dan selalu melarikan diri! Kamu tidak bisa menerima kenyataan yang ada di depan matamu! Kamu ingin semuanya berjalan sesuai dengan keinginan kamu sendiri, padahal tidak selamanya hidup berjalan seperti yang kita mau. Kita harus selalu siap, bahkan ketika kita tidak memiliki persiapan apapun!”
Aku beranjak dan merasa geram dengan kata-katanya. Mana bisa dia menyimpulkan sesuatu yang tampak sederhana dengan sebuah pernyataan yang begitu kompleks, padahal yang terjadi adalah hal yang sangat wajar yang dialami oleh seorang anak kecil ketika berpisah dengan teman bermainnya.
    “Aku tidak sependapat dengan pernyataan tadi! Mana bisa kamu menyimpulkan bahwa aku seorang pengecut dan selalu melarikan diri, padahal itu hanyalah sebuah kejadian biasa, itupun terjadi dimasa kana-kanak. Kamu terlalu cepat menyimpulkan. Aku tidak terima dengan pernyataanmu!”
Dia menolehku sesaat, lalu pandangannya kembali lurus ke depan. Orang ini tampak datar, tanpa ekspresi dan terkesan dingin. Dia lalu menunjuk sesuatu, tepat pada sebuah pemandangan baru yang ada di sebelah kiriku.
    “Lihat dan jangan berkata-kata lagi, karena masih ada beberapa lagi yang harus kamu saksikan! Jika sudah selesai semua, nanti kamu pun dapat menyimpulkan sendiri!”
Aku kemudian melihat sebuah cuplikan, seperti cuplikan film yang tengah di putar. Kejadian kali terjadi ketika perpisahan saat aku SMP. Tanpa harus melihatnya lagi, semua bayangan itu kemudian terlintas di dalam kepala. Aku masih ingat bahwa saat itu pertama kali aku memiliki pacar, padahal aku menyukai sahabatnya. Diam-diam aku mencari informasi apapun tentang dia melalu pacarku, pun dia, dia juga menanyakan apapun tentangku melalui sahabatnya. Aku membeli apapun yang sama dengan dia, dari mulai pulpen, sepatu, dll. Lalu ketika akan tidur, aku selalu mengkhayalkannya dan aku begitu bahagia dengan hal-hal kecil seperti ini. Hingga tiba pada hari perpisahan, aku mendapati dia terbujur kaku di depanku sendiri. Sebuah motor telah menyeretnya, dan membuat hidupnya harus berakhir saat itu juga. Aku tertegun sesaat, lalu kemudian berlari, menjauh dari keramaian dan mengunci rapat kesedihanku sendiri.
    “Pengecut!”
Aku terhenyak mendengar kata pengecut itu sekali lagi. Aku lantas menatap tajam ke arah suara itu. Hatiku masih campur aduk karena harus mengingat kembali kejadian yang selama ini aku kubur dalam-dalam, namun tiba-tiba aku dikatakan pengecut. Ini benar-benar pernyataan yang tidak tepat.
    “Apa maksudmu? Aku benar-benar sedih saat itu, tapi kamu katakan aku pengecut? Pengecut apanya ya? Aku rasa semua orang yang sangat terpukul juga akan melakukan hal yang sama denganku!”
Dia kemudian tertawa, menatapku sesaat, lalu berpaling.
    “Bukankah hingga detik ini kamu selalu menyela dan membela diri? Pernahkah merenung sesaat dan mencerna semuanya? Kamu pengecut, benar-benar pengecut!”
Aku sudah tidak tahan dengan kata-kata yang dia lontarkan. Aku kemudian berjalan ke arahnya dengan rasa marah, namun tiba-tiba tangannya memberikan isyarat agar aku berhenti.
    “Ada apa? Kenapa menyuruhku berhenti?”
    “Diam! Dan dengarkan suara itu!”
Tiba-tiba aku mendengarkan sebuah suara yang berulang-ulang, dengan rintihan yang sama, sepertinya orang itu berbicara seraya menangis. Terdengar suaranya terputus-putus.
    “Aku ingin mati saja! Aku ingin mati saja! Aku ga siap kehilangan! Aku benar-benar sayang dia!”
    “Aku benci dia! Dia pembohong! Aku benci mereka berdua! Dia pengkhianat! Aku ingin mati rasanya!”
Suara itu! Itu suaraku sendiri. Lalu sekelilingku tiba-tiba berubah menjadi diriku sendiri. Di sana ada yang sedang menangis, ada yang sedang marah, ada yang tertawa, ada yang sedang bertengkar, hingga kemudian semua menghilang dan keadaan menjadi gelap. Aku panik. Aku kemudian mencari-cari orang yang sedari tadi bersamaku.
    “Hey kamu! Siapapun kamu yang tadi nemenin aku, kamu di mana? Aku ga bisa melihat apapun. Aku takut gelap. Kamu dimana???”
Hening. Tak ada suara apapun, bahkan suara desau angin dan langkah kaki pun tak terdengar sama sekali. Aku sendirian di tempat asing dan gelap seperti ini. Aku terus berlari meski tak tau arah. Jantungku berdegup kencang dan nafasku tersengal-sengal tak beraturan. Aku menangis sejadinya. Jika ini mimpi, aku ingin segera terbangun. Aku benar-benar ketakutan.
Dalam keadaan panik yang tidak berkesudahan, aku mencoba berhenti dan duduk dengan tenang. Dengan mata terpejam, aku mencoba mengatur nafas dan mengatakan pada diriku sendiri bahwa semua akan baik-baik saja. Aku belum berani membuka mata, karena takut kalau-kalau semua masih gelap. Aku mencoba berbaur dengan ritme nafas dan detak jantung di tubuhku. Aku hayati setiap udara yang masuk dan keluar. Aku rasakan aliran darah yang tengah dipompa oleh jantung. Aku rasakan setiap tetes keringat yang keluar dari pori-pori kulit. Lalu sebuah ketenangan tercipta begitu saja dalam diriku. Aku begitu menikmatinya dan tidak ingin segera beranjak dari keadaan ini.
Sesaat lamanya aku diam, tiba-tiba terdengar suara kicauan burung dan suara air mengalir. Udara tiba-tiba terasa begitu sejuk. Aku ingin segera membuka mata, namun aku masih ragu. Mungkinkah sekelilingku telah berubah? Ataukah semua masih terasa gelap? Entahlah. Lalu aku beranikan diri untuk membuka mata pelan-pelan, sangat pelan, hingga samar-samar aku melihat semuanya hijau.
    Sebuah pemandangan yang begitu kontras kini aku lihat di depan mata. Pepohonan hijau yang rimbun, arak-arakan awan putih, lalu lalang burung dan kupu-kupu, air terjun dan aliran sungai yang mengalir.
    “Indah, benar-benar indah!”
Aku tersenyum takjub, seraya berputar-putar tak percaya melihat sekelilingku yang kini telah berubah.
    “Indah bukan?”
Suara itu lagi. Aku begitu ingin memarahinya, karena dia menghilang di saat aku benar-benar panik dan ketakutan.
    “Aku tidak pernah menghilang, namun kamu sendiri yang membinasakanku ketika kamu memilih kegelapan. Bukankah kamu sangat ketakutan? Tapi kenapa pada situasi yang lain, saat kamu perlahan meninggalkan sudut gelap itu, kamu justru meratapi dan merindukan kegelapan? Bukankah dirimu begitu yakin ketika berlari dan ingin segera beranjak dari sana? Lantas, apa yang terjadi? Siapa sebenarnya kamu?  Yang mana dirimu? Apa yang kamu mau?”
Kata-katanya seperti membangunkan diriku yang selama ini tertidur cukup lama. Aku tertegun. Aku pejamkan kembali mataku. Aku rasakan dengan seksama semua suara yang terdengar di sekelilingku. Aku merenung cukup lama. Aku berpikir. Aku menangis. Sesaat lamanya pikiran dan hatiku terasa kacau dan berkecamuk.
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu jatuh tepat di atas kepalaku. Aku buka mataku, dan aku mengambilnya. Ternyata sebuah surat, tapi surat dari siapa. Aku menoleh ke belakang, namun orang tadi sudah tidak berdiri di sana. Kali ini aku kembali sendirian dengan sebuah surat di tanganku. Perlahan aku membuka surat itu dan membacanya.
   
    Dalam kebingungan yang sama, aku masih mengamatimu dari jauh. Benarkah telah  sejauh ini kamu tersesat? Bahkan untuk mengenali hati nuranimu sendiri, apakah sesulit itu? Bukankah sedari tadi kamu tengah bercengkrama dengan dirimu sendiri? Tapi kenapa kamu masih bertanya-tanya tentangnya, tentang bisikan-bisikan nurani yang selama ini sering kamu abaikan?
    Bahkan dalam mimpi sekalipun, kamu masih bisa mengalami mimpi. Lantas mengapa kamu masih berputa-putar pada tempat yang sama dan bertanya-tanya tentang kebingunganmu sendiri?
    Ada panas dalam api dan ada sejuk dalam air. Bukankah kita tak akan benar-benar tau jika hanya melihatnya? Bukankah kita tidak akan benar-benar mengerti jika tidak merasakannya?
    Kita adalah bagian dari partikel semesta yang tengah mencari tau segala sesuatu yang tidak benar-benar ingin kita ketahui. Namun, dalam proses pencarian itu, kadang kita justru lupa bahwa kita tengah mencari.
    Kenali, coba pahami. Bukan lautan bila tak ada ombak. Bukan kehidupan bila tak ada riak. Tak ada yang selamanya seiring dan sejalan bilamana kita masih terasing dalam gemerlap.
Berjalanlah, jangan berlari, karena jalanan licin tak selamanya memiliki garis tepi. Ada jurang, namun ada juga tebing. Kamu selamanya akan terbuang, jika masih terombang-ambing.

Titik. Lalu kepalaku kembali berputar dan hati kembali menghayati. Kemudian sekelilingku terasa meleleh dan pudar pelan-pelan. Lalu dengan cepat, aku memejamkan mata, kembali mengatur nafas dan berpikir bahwa semua akan baik-baik saja.

Bersambung

Friday, November 27, 2015

LAMENT (RELAX MELODIES)





    Ritme itu tengah berselancar, menghentak-hentakkan gelombangnya pada setiap sel yang dia lalui tanpa batas. Aku terhenyak, tertegun, lalu hanyut pada dimensi yang tak bisa aku namai. Seperti memasuki lorong abu-abu tanpa hiruk pikuk dan kebisingan manusia. Seperti sedang berjalan pada piringan hitam yang tengah berputar. Seperti tengah mengamati, seperti tengah menonton, seperti tengah mengenang, seperti tengah menyatu dengan alam yang penuh elemen-elemen kehidupan. Riak air, kicauan burung, dan melodi-melodi lainnya seakan tengah menjembatani aku untuk mengetuk “roh” yang tengah tertidur. Semua yang masih terekam, suara, wajah, gerak dan setiap cuplikan yang sempat bersemayam. Bukan ratapan, tak ada tangisan, bukan pula kerinduan, namun semua menjadi hening. Kosong, tapi penuh. Sepi, namun gaduh. Lalu ritme itu membuatku bernafas pada keteraturan. Seperti kedamaian yang menyayat, menyentuh gerak jiwa.
    Masih pada cuplikan hitam putih dikepalaku. Lalu hati menuntunku pada dentuman rasa. Sebuah keterasingan yang aku bangun pada memori yang pernah aku jalani. Dan aku tak ingin segera beranjak. Ritme-ritme itu semakin gencar membuka ribuan kenangan. Menyelami sedikit demi sedikit kejadian, mengingatnya, menghidupkannya, lalu kita bercengkrama pada masa yang tanpa dimensi waktu.
Semua terasa berputar. Seakan aku tengah mati sesaat dari keramaian. Bahkan pada cuplikan-cuplikan yang aku putar dikepalaku, aku tengah berjalan sendiri. Bumi seakan tengah memberikan energi terkuatnya pada roh yang baru saja terbangun. Jiwaku menghayati, sedang alam masih mengamati. Ragaku tak bergerak, masih tak beranjak, padahal roh tengah mengambil tempatnya pada setiap titik yang dia kunjungi.
    Aku dan keakuan yang dihidupkan kembali. Membiarkan mati apa yang seharusnya mati. Sedang sudut-sudut lainnya masih ku biarkan tersudut pada bangunan yang tak pernah selesai dibangun. Biarkan alam yang melukis keindahannya sendiri. Biarkan gerimis dan hujan meneduhkan mata yang terbakar emosi. Aku ingin teduh. Aku rindu hening. Aku ingin berjalan tanpa hiruk pikuk manusia, tanpa modernisasi.
Biarkan aku tetap terpejam, dan mengenali apa yang seharusnya aku kenali. Gelap adalah caraku menguji sejauh mana mata dapat melihat apa yang tak terlihat. Mengenali setiap sudut dan tikungan, meski semua buram dan curam. Aku tengah melihat jarak pada setiap batas yang tak terbatas. Pada setiap ucap yang akhirnya tak terucap. Pada setiap hati yang akhirnya berhati-hati. Pada setiap mata yang tak memiliki bola mata.
    Hingga awan menurunkan hujan, dan panas bumi mulai menguap. Semua lalu menjadi genting. Pikiran-pikiran yang lantas berkecamuk. Malam yang tak tenang dan kesedihan yang tak tau akan rasa sedih. Hingga kemudian sekelilingku menjadi gaduh, sedang dadaku bergemuruh.
Tapi ritme itu masih berselancar. Mendobrak pintu besar pada lonjakan emosi yang tak terkendali. Lantas semua runtuh. Menyisakan pondasi yang pernah aku bangun penuh mimpi.
    Mereka tertawa, mereka berlari, mereka meninggalkan. Sementara aku masih mengeja lara. Membakar satu persatu sampah yang berserakan di kepala. Masih pada suara yang sama, pada ritme yang aku putar berulang-ulang. Lalu aku benar-benar tak bisa terbangun lagi.
Hingga aku sampai pada titik dari putaran batas bumi, lantas aku benar-benar bisa melihatnya, mengenalinya. Dan semua terlihat dengan begitu jelas, tanpa ambigu dan rancu, tanpa apa dan mengapa. Aku bisa melihatnya dari dekat, benar-benar melihatnya.
Dia yang kemudian aku tandai. Dia yang kemudian aku kenali. Dan dia yang akhirnya aku namai “DIRIKU SENDIRI”.

JAWABAN



Sebaris kata-kata menguap, menelanjangi langit yang masih berseru dengan sombongnya. Angin dan debu yang berseteru di penghujung kemarau, embun dan salju yang saling meneriaki berlari menembus batasan gurun.
Aku terhenyak, menatap lurus dalam diamku. Termangu mengingat cuplikan-cuplikan beringas yang meradang bak oase, hantaman-hantaman tuduhan yang merongrong gudang kata-kata.
“Apa mauku? Mauku apa?”
Sayup terngiang ujaran tanya pada konteks huruf-huruf maya, namun berdengung dalam gema dan pita suara yang aku hafal getarnya. Apalagi? Apa yang harus aku tuliskan?
Kobaran api dan serbuan serdadu menyerang dalam gelap mata. Bulir-bulir air dipelipisnya dan sayatan-sayatan terarah pada pangkal dada.
Apa lagi? Apa yang kau bisa?
Pejamkan, lihat lukanya. Raba, rasa nyerinya.
Lalu apa? Apalagi yang harus aku baca selain tanda seru dan tanda tanya? Selain kata demi kata pelebur rasa cinta.
Berulang-ulang, cuplikan itu tak bisa hilang. Kengerian telah merenggut sebagian malam tatkala mata rapat terpejam. Berjalan terseok-seok, menyusuri lorong hatimu yang penuh tikungan, penuh tipuan.
Apa lagi? Apa yang kau bisa?  
Pada sepetak ingatan yang telah ditumbuhi rumput-rumput liar, marahku menggantung. Mengantongi jerami-jemari kering dan benang kusut yang tak sempat kau urai, kau luruskan.
Jarumku patah, tepat disaat sulaman itu hampir utuh.
Fatamorgana dan pantulan dari kado manis itu. Riak dan gaduh kebohongan yang menunggangi guratan halus diwajahmu. Lalu apa? Bahkan asap pun bisa mengendus apa yang kau hunus.
Sebilah pedang pada titik akhir aku berjuang.
    Sebongkah kebekuan tengah merongrong gurat gelisahmu. Menyerbuku pada hantaman kedua setelah aku terhempas pada dimensi tanpa riuh gaduh manusia.
Bisakah sedikit saja kau lihat celah terbuka  di ujung kamarmu? Pada setiap inchi yang aku hafal betul di mana letaknya, apa warnanya, bagaimana baunya.
Pada kasurmu yang masih aku ingat apa gambar dan warna spreinya, pada dinding-dinding kamar yang aku tau di mana letak tembok rapuhnya, pada lemari bajumu yang pernah aku rapikan satu persatu, pada meja belajarmu, tempat buku dan tas berserakan, pada meja riasmu tempat barang-barang kecilku kau simpan tak beraturan, pada kamar mandi itu, tempat aku mematung bisu tatkala ayahmu berteriak-teriak penuh ketegangan, dan pada semua sudut rumahmu yang pernah aku catat dalam ingatan.
Tapi mungkin sebuah “renovasi” telah mengubah segalanya. Entah dimana dan bagaiman lagi bentuknya, letaknya.
Datanglah, sebelum renovasi kamarku!”
Kata-kata itu, sepenggal kata-kata yang kelak jadi penjagal bagi kepalaku. Kibaran bendera yang kau tancapkan di halaman depan hatiku. Mengobarkan lagi bara rindu yang sekian lama aku runtuhkan.
Ah, tapi nyatanya itulah fatamorgana. Harapan-harapan kosong yang kau kira tak ada dampaknya. Padahal gerakan kecil sayap kupu-kupu saja bisa menciptakan badai tornado, lalu mengapa kau mengira aku masih baik-baik saja setelah harapan-harapan palsu itu semakin menampakkan wujud aslinya, tipuannya.
Lamat-lamat ingatan itu melumatku. Mengurai setiap partikel terkecilnya hingga menjadi atom. Lalu aku memungutnya, membacanya satu persatu.
Di sana banyak rasa tersimpan, ada kenangan  mengembara, ada marah memerah, dan ada setitik rindu mengharu biru. Namun, tak ada yang sama rata pada semua takaran rasa itu.
Lalu mataku kembali tertuju pada kalimat sumbang di barisan pertama kotak masuk di emailku, “Sekali lagi aku tanya, mau kamu apa?”.

    Sebab tak ada yang benar-benar selesai dalam hidup apabila kau menggantungkannya. Membiarkan benang kusut itu tampak benar-benar kusut pada sulaman yang hampir rampung.
Bahkan untuk puisi-puisi yang tak pernah diberi judul, yang tercampakan begitu saja, padahal bahasanya indah.
Mauku ada di kepalamu, jawabanku ada di hati nuranimu. Sebab tak semua pertanyaan butuh jawaban. Sebab tak ada yang benar-benar tepat membahasakan apa yang tak bisa dibahasakan.
Sebab aku harus terus berjalan,meski katamu tak ada yang benar-benar bisa membalikkan keadaan. Maka, balikanlah lidahmu, putar bola matamu, dan diamlah sesaat.
Hidupkan ruang itu, bersoraklah, cicipi rasanya..
Kau tau jawabannya..