Ritme itu tengah berselancar, menghentak-hentakkan gelombangnya pada setiap sel yang dia lalui tanpa batas. Aku terhenyak, tertegun, lalu hanyut pada dimensi yang tak bisa aku namai. Seperti memasuki lorong abu-abu tanpa hiruk pikuk dan kebisingan manusia. Seperti sedang berjalan pada piringan hitam yang tengah berputar. Seperti tengah mengamati, seperti tengah menonton, seperti tengah mengenang, seperti tengah menyatu dengan alam yang penuh elemen-elemen kehidupan. Riak air, kicauan burung, dan melodi-melodi lainnya seakan tengah menjembatani aku untuk mengetuk “roh” yang tengah tertidur. Semua yang masih terekam, suara, wajah, gerak dan setiap cuplikan yang sempat bersemayam. Bukan ratapan, tak ada tangisan, bukan pula kerinduan, namun semua menjadi hening. Kosong, tapi penuh. Sepi, namun gaduh. Lalu ritme itu membuatku bernafas pada keteraturan. Seperti kedamaian yang menyayat, menyentuh gerak jiwa.
Masih pada cuplikan hitam putih dikepalaku. Lalu hati menuntunku pada dentuman rasa. Sebuah keterasingan yang aku bangun pada memori yang pernah aku jalani. Dan aku tak ingin segera beranjak. Ritme-ritme itu semakin gencar membuka ribuan kenangan. Menyelami sedikit demi sedikit kejadian, mengingatnya, menghidupkannya, lalu kita bercengkrama pada masa yang tanpa dimensi waktu.
Semua terasa berputar. Seakan aku tengah mati sesaat dari keramaian. Bahkan pada cuplikan-cuplikan yang aku putar dikepalaku, aku tengah berjalan sendiri. Bumi seakan tengah memberikan energi terkuatnya pada roh yang baru saja terbangun. Jiwaku menghayati, sedang alam masih mengamati. Ragaku tak bergerak, masih tak beranjak, padahal roh tengah mengambil tempatnya pada setiap titik yang dia kunjungi.
Aku dan keakuan yang dihidupkan kembali. Membiarkan mati apa yang seharusnya mati. Sedang sudut-sudut lainnya masih ku biarkan tersudut pada bangunan yang tak pernah selesai dibangun. Biarkan alam yang melukis keindahannya sendiri. Biarkan gerimis dan hujan meneduhkan mata yang terbakar emosi. Aku ingin teduh. Aku rindu hening. Aku ingin berjalan tanpa hiruk pikuk manusia, tanpa modernisasi.
Biarkan aku tetap terpejam, dan mengenali apa yang seharusnya aku kenali. Gelap adalah caraku menguji sejauh mana mata dapat melihat apa yang tak terlihat. Mengenali setiap sudut dan tikungan, meski semua buram dan curam. Aku tengah melihat jarak pada setiap batas yang tak terbatas. Pada setiap ucap yang akhirnya tak terucap. Pada setiap hati yang akhirnya berhati-hati. Pada setiap mata yang tak memiliki bola mata.
Hingga awan menurunkan hujan, dan panas bumi mulai menguap. Semua lalu menjadi genting. Pikiran-pikiran yang lantas berkecamuk. Malam yang tak tenang dan kesedihan yang tak tau akan rasa sedih. Hingga kemudian sekelilingku menjadi gaduh, sedang dadaku bergemuruh.
Tapi ritme itu masih berselancar. Mendobrak pintu besar pada lonjakan emosi yang tak terkendali. Lantas semua runtuh. Menyisakan pondasi yang pernah aku bangun penuh mimpi.
Mereka tertawa, mereka berlari, mereka meninggalkan. Sementara aku masih mengeja lara. Membakar satu persatu sampah yang berserakan di kepala. Masih pada suara yang sama, pada ritme yang aku putar berulang-ulang. Lalu aku benar-benar tak bisa terbangun lagi.
Hingga aku sampai pada titik dari putaran batas bumi, lantas aku benar-benar bisa melihatnya, mengenalinya. Dan semua terlihat dengan begitu jelas, tanpa ambigu dan rancu, tanpa apa dan mengapa. Aku bisa melihatnya dari dekat, benar-benar melihatnya.
Dia yang kemudian aku tandai. Dia yang kemudian aku kenali. Dan dia yang akhirnya aku namai “DIRIKU SENDIRI”.

No comments:
Post a Comment