Friday, November 27, 2015

JAWABAN



Sebaris kata-kata menguap, menelanjangi langit yang masih berseru dengan sombongnya. Angin dan debu yang berseteru di penghujung kemarau, embun dan salju yang saling meneriaki berlari menembus batasan gurun.
Aku terhenyak, menatap lurus dalam diamku. Termangu mengingat cuplikan-cuplikan beringas yang meradang bak oase, hantaman-hantaman tuduhan yang merongrong gudang kata-kata.
“Apa mauku? Mauku apa?”
Sayup terngiang ujaran tanya pada konteks huruf-huruf maya, namun berdengung dalam gema dan pita suara yang aku hafal getarnya. Apalagi? Apa yang harus aku tuliskan?
Kobaran api dan serbuan serdadu menyerang dalam gelap mata. Bulir-bulir air dipelipisnya dan sayatan-sayatan terarah pada pangkal dada.
Apa lagi? Apa yang kau bisa?
Pejamkan, lihat lukanya. Raba, rasa nyerinya.
Lalu apa? Apalagi yang harus aku baca selain tanda seru dan tanda tanya? Selain kata demi kata pelebur rasa cinta.
Berulang-ulang, cuplikan itu tak bisa hilang. Kengerian telah merenggut sebagian malam tatkala mata rapat terpejam. Berjalan terseok-seok, menyusuri lorong hatimu yang penuh tikungan, penuh tipuan.
Apa lagi? Apa yang kau bisa?  
Pada sepetak ingatan yang telah ditumbuhi rumput-rumput liar, marahku menggantung. Mengantongi jerami-jemari kering dan benang kusut yang tak sempat kau urai, kau luruskan.
Jarumku patah, tepat disaat sulaman itu hampir utuh.
Fatamorgana dan pantulan dari kado manis itu. Riak dan gaduh kebohongan yang menunggangi guratan halus diwajahmu. Lalu apa? Bahkan asap pun bisa mengendus apa yang kau hunus.
Sebilah pedang pada titik akhir aku berjuang.
    Sebongkah kebekuan tengah merongrong gurat gelisahmu. Menyerbuku pada hantaman kedua setelah aku terhempas pada dimensi tanpa riuh gaduh manusia.
Bisakah sedikit saja kau lihat celah terbuka  di ujung kamarmu? Pada setiap inchi yang aku hafal betul di mana letaknya, apa warnanya, bagaimana baunya.
Pada kasurmu yang masih aku ingat apa gambar dan warna spreinya, pada dinding-dinding kamar yang aku tau di mana letak tembok rapuhnya, pada lemari bajumu yang pernah aku rapikan satu persatu, pada meja belajarmu, tempat buku dan tas berserakan, pada meja riasmu tempat barang-barang kecilku kau simpan tak beraturan, pada kamar mandi itu, tempat aku mematung bisu tatkala ayahmu berteriak-teriak penuh ketegangan, dan pada semua sudut rumahmu yang pernah aku catat dalam ingatan.
Tapi mungkin sebuah “renovasi” telah mengubah segalanya. Entah dimana dan bagaiman lagi bentuknya, letaknya.
Datanglah, sebelum renovasi kamarku!”
Kata-kata itu, sepenggal kata-kata yang kelak jadi penjagal bagi kepalaku. Kibaran bendera yang kau tancapkan di halaman depan hatiku. Mengobarkan lagi bara rindu yang sekian lama aku runtuhkan.
Ah, tapi nyatanya itulah fatamorgana. Harapan-harapan kosong yang kau kira tak ada dampaknya. Padahal gerakan kecil sayap kupu-kupu saja bisa menciptakan badai tornado, lalu mengapa kau mengira aku masih baik-baik saja setelah harapan-harapan palsu itu semakin menampakkan wujud aslinya, tipuannya.
Lamat-lamat ingatan itu melumatku. Mengurai setiap partikel terkecilnya hingga menjadi atom. Lalu aku memungutnya, membacanya satu persatu.
Di sana banyak rasa tersimpan, ada kenangan  mengembara, ada marah memerah, dan ada setitik rindu mengharu biru. Namun, tak ada yang sama rata pada semua takaran rasa itu.
Lalu mataku kembali tertuju pada kalimat sumbang di barisan pertama kotak masuk di emailku, “Sekali lagi aku tanya, mau kamu apa?”.

    Sebab tak ada yang benar-benar selesai dalam hidup apabila kau menggantungkannya. Membiarkan benang kusut itu tampak benar-benar kusut pada sulaman yang hampir rampung.
Bahkan untuk puisi-puisi yang tak pernah diberi judul, yang tercampakan begitu saja, padahal bahasanya indah.
Mauku ada di kepalamu, jawabanku ada di hati nuranimu. Sebab tak semua pertanyaan butuh jawaban. Sebab tak ada yang benar-benar tepat membahasakan apa yang tak bisa dibahasakan.
Sebab aku harus terus berjalan,meski katamu tak ada yang benar-benar bisa membalikkan keadaan. Maka, balikanlah lidahmu, putar bola matamu, dan diamlah sesaat.
Hidupkan ruang itu, bersoraklah, cicipi rasanya..
Kau tau jawabannya..

No comments:

Post a Comment